Hopeless

Hopeless
Rahasia Beni



Sesuai janji, dua hari kemudian Beni baru menunjukkan wajahnya di depan pintu rumah Kinan. Mereka sudah sepakat bahwa malam ini akan pergi ke rumah Beni. Kinan akan dikenalkan kepada orang tuanya.


"Sudah siap?" Beni bertanya begitu Kinan muncul dengan menggunakan celana jeans juga kemeja.


"Siap tidak siap. Bagaimana nanti jika orang tua Abang tidak menyukai Kinan?"


"Tidak usah mikir macam-macam dulu."


"Kinan gugup, sumpah."


"Ada Abang. Nanti kita akan sama-sama di sana."


Ucapan Beni tidak lantas membuatnya tenang, tapi ia tidak punya alasan untuk menolak ajakan kekasihnya itu.


Sepanjang perjalanan, Kinan belajar merangkai kata untuk menyapa keluarga Beni. Dari yang ia dengar dari temannya, Novi, keluarga Beni keluarga yang cukup ramah. Semoga saja memang begitu.


Lima belas menit dalam perjalanan, akhirnya motor Beni berhenti di depan sebuah rumah berpagar. Jantung Kinan semakin berpacu, menduga-duga apakah rumah besar itu adalah rumah orang tua Beni. Nyalinya semakin ciut mengetahui Beni berasal dari keluarga terpandang.


"Kita sudah sampai," Beni menurunkan kickstand, menunggu Kinan turun baru ia turun.


"Oh, yang mana rumahnya?" Entah apa yang diharapkan Kinan, karena sejauh mata memandang, rumah di komplek itu hampir sama semua.


"Kita ke sana sebentar. Abang ada pekerjaan sedikit." Beni menggandeng tangan Kinan menuju rumah yang ada di depan rumah berpagar tersebut. Di halamannya ada beberapa motor yang parkir. Rumah itu pintunya terbuka, memperlihatkan beberapa orang yang sedang beraktifitas di tengah meja yang membentuk bundaran. Ada dua orang wanita dan enam pria. Semuanya terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Selamat malam,"


Mendengar suara Beni, semua serempak menoleh dan kemudian mengangguk hormat.


"Rudi, Faisal, dan Donni belum datang?" Beni bertanya sambil memendarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sosok yang ia cari.


"Belum, Ben," sahut salah satu dari delapan orang yang ada di sana. "Mungkin sebentar lagi." Laki-laki itu menatap Kinan dengan heran. Ya, semua yang ada di sana menatap Kinan penuh penasaran.


"Aku butuh laporan akhir bulan secepatnya. Jam berapa nanti bisa kuperiksa?"


"Jam 11, bisa, Bang?" kali ini yang berbicara adalah seorang wanita.


Beni melirik jam tangannya, "Hmm, sekarang masih jam setengah delapan. Oke, nanti antar ke rumah." Setelah memberikan perintah, Beni kembali menuntun Kinan untuk keluar.


"Mereka sedang apa? Banyak duit berserakan di atas meja." Akhirnya Kinan bertanya karena penasaran.


"Ini usaha keluarga Abang." Beni menunjuk ke arah spanduk yang berdiri di halaman.


"Koperasi simpan pinjam Abadi?" Kinan membaca apa yang tertulis di sana.


"Ya," Beni menganggukkan kepala.


"Rentenir?" Kinan bertanya dengan polosnya. Dulu saat mendiang Ibunya hidup, sering kali Ibunya terpaksa meminjam demi makan juga bayar ongkos sekolah dan SPP mereka. Jika tidak memiliki uang untuk membayar angsurannya, Ibunya kerap sembunyi di balik pintu kamar dan Kinan bertugas untuk berbohong.


Beni tertawa mendengar celetukan Kinan seraya mengacak rambutnya dengan gemas. "Beda dong, Sayang. Abang ada izin usahanya. Tuh, tertulis di sana." Beni menunjuk spanduk. "Persenan kita juga sedikit, tujuh sampai sepuluh persen." Beni menjelaskan dan ia tahu bahwa Kinan tidak mengerti penjelasannya sama sekali dilihat dari kebingungan di wajah kekasihnya itu.


"Jadi kamu juga kerjanya mengutip-ngutip uang, begitu?"


"Bukan, Abang kerja di Bank swasta. Cuma, usaha keluarga Abang, Abang juga yang menangani. Abang harus memeriksa laporan mereka setiap hari dan pembukuan di akhir bulan."


Akhirnya Kinan tahu apa pekerjaan pria yang ia pacari selama dua tahun. Pegawai Bank! Percaya atau tidak, Kinan dan Nuri mempunyai cita-cita yang sama, ingin menjadi pegawai bank.


Beberapa hari ini banyak rahasia Beni yang terkuak, tentang mantannya Rima yang ternyata dulunya adalah mantan pegawai di usaha mereka. Tentang pekerjaan Beni. Apakah masih ada rahasia yang disembunyikan pria itu? Hati Kinan menjawab, ada.


"Ada lagi yang ingin Sayang tanyakan sebelum kita masuk ke rumah Abang." Beni menunjuk rumah berpagar besi itu. Jantung Kinan kembali memompa lebih cepat.


"Siapa saja yang ada di dalam?"


"Ayah, Ibu, dan mungkin Abang juga kakak ipar. Kalau kebetulan mereka datang berkunjung."


"Oh, Abang kamu ada yang sudah menikah?"


"Ya, Hendri, perwira."


Kejutan lagi! Beni memiliki Abang seorang tentara.


"Baru menikah tujuh bulan lalu."


"Oh. Terus?"


"Terus?"


"Oh, Ryan, dia di Singapore, kerja pelayaran. Belum menikah."


Di malam hari, di hembusan angin yang harusnya terasa menyejukkan, Kinan merasakan tubuhnya berkeringat. Apa yang akan dikatakan orang tua Beni nanti kepadanya. Dia hanya putri dari seorang pengangguran. Bukan dari keluarga kaya yang harmonis.


"Oh." Kinan kehilangan kata-kata untuk berkomentar.


"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Beni mengusap keringat di dahinya. Melihat hal itu, Kinan mengernyitkan dahi. Ia baru menyadari jika Beni terlihat gugup dan sedikit panik. Artinya memang ada rahasia lain.


"Apa ada yang ingin Abang katakan lagi?"


"Hah? Eh?" Beni mengusap tengkuknya. "Sayang..." Beni tiba-tiba menggenggam kedua tangan Kinan, menatap kedua mata gadis itu dengan sayu, lekat dan seksama. "Kamu sayang Abang?"


Kinan semakin mengerutkan dahi. Ada apa dengan pertanyaan yang menuntut penegasan ini?


"Sayang," sahut Kinan ringan.


"Janji tidak akan meninggalkan Abang?"


"Ya kalau Abang tidak macam-macam."


"Abang tidak akan selingkuh, tidak akan berpaling dari kamu. Abang akan selalu ada untuk kamu, tapi Kinan juga harus berjanji tidak akan pernah meninggalkan Abang apa pun yang terjadi."


Meski meragu, Kinan menganggukkan kepala. Baginya yang penting tidak ada pelakor. Ia mungkin tidak akan sanggup bersabar seperti ibunya.


"Abang pegang janji kamu."


Kinan kembali menganggukkan kepala.


"Sebelumnya Abang mau minta maaf yang sebesar-besarnya. Banyak hal yang Abang sembunyikan dari Sayang. Jujur, satu tahun terkahir ini menjadi beban yang sangat berat. Bagaimana caranya harus jujur sama Sayang. Dan hari ini, semua rahasia itu akan tersingkap. Kinan sudah janji sama Abang dan Abang berharap Kinan memegang janji Kinan."


Kinan semakin takut untuk masuk ke rumah Beni, tapi ia juga diserang rasa penasaran yang begitu mendalam. Ada rahasia apa di balik pagar besi ini. Sungguh Kinan tidak bisa menebaknya.


"Ayo, kita masuk." Lagi, Beni mengusap keringat di dahi. Saat tangannya menggenggam tangan Kinan, telapak tangan pria itu juga terasa dingin.


Perlahan, Beni menggeser pintu pagar. Kinan disambut halaman yang cukup luas yang dipenuhi berbagai bunga. Ada tiga motor yang parkir di sana. Salah satunya motor F50 milik Beni yang dulu.


Gukk. Gukk..


"Arghh!!" Kinan berteriak kaget dan spontan memeluk Beni dengan erat begitu mendengar kicauan anjing.


"I-itu gukguk? suara kukung?


"Namanya Pedro. Baru lahiran."


"Pedro nama gukguk betina?"


"Hanya betina yang bisa lahiran, Sayang."


"Kok rumah kamu ada kukungnya?"


"Yuk, masuk." Beni mempersilakan Kinan masuk dari pintu samping. "Kamu duduk dulu di sini. Abang lihat Ayah sama Ibu dulu apa masih sibuk."


Kinan menganggukkan kepala. Tidak ada siapa-siapa di sana. Sepertinya saudara Beni juga tidak ada datang hari ini. Kinan memendarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sepertinya ia sedang berada di ruang keluarga. Ada kulkas, televisi, juga bangku santai. Lemari yang penuh dengan buku, juga beberapa foto masa kecil anak laki-laki. Ketiganya terlihat sangat mirip hingga Kinan tidak bisa menebak dimana Beni-nya diantara ketiga anak laki-laki tersebut. Kinan tidak berani beranjak dari tempatnya karena merasa sungkan dan asing dengan rumah Beni.


Lima belas menit berlalu, Beni tidak kunjung muncul juga. Kenapa lama sekali? Membuat Kinan semakin gugup. Kinan mengeluarkan ponsel, mengisi waktunya dengan bermain game, berharap gugupnya bisa menghilang. Nyatanya, jantungnya terus saja berpacu semakin tidak terkendali.


"Yang..."


Suara Beni membuatnya berjengkit dan refleks berdiri.


"Y-ya.."


"Abang minta maaf." Suaranya lesu, lemas, lunglai tidak bergairah.


"Minta maaf untuk apa? Ini sudah kedua kalinya Abang minta maaf tanpa Kinan tahu salahnya apa."


"Bentar lagi Sayang juga tahu," ucapnya penuh sesal. "Ibu dan Ayah sudah menunggu, ayo."


Kinan beranjak dari kursinya, Beni kembali membuka pintu yang menunjukkan ruang utama dari rumah tersebut. Kinan berusaha menghilangkan kegugupannya, memaksa kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Dan saat ia mengangkat kepala dengan senyum yang dengan susah payah ia ciptakan, senyum itu seketika menghilang, wajahnya berubah menjadi pucat. Dunianya seolah berputar dan jungkir balik.


Di sana, tidak jauh darinya. Duduk kedua orang tua Beni yang menatapnya dengan ekspresi datar. Tapi bukan hal itu yang membuat pijakan kakinya hancur, melainkan foto seorang pria berambut gondrong yang sedang menggendong anak kambing dengan tanda salib di sebelahnya. A-apa arti dari semua ini?