Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 7



Luna sudah mengganti pakaiannya dan berjalan lagi di sebelah Radith yang fokus dengan ponselnya. Sejak lelaki itu jadi bos besar, lelaki itu sering menerima telpon bahkan saat di luar jam kerjanya. Luna yang sudah paham posisi seperti ini hanya diam saja dan meneruskan langkahnya sambil mencari sesuatu yang ingin dia beli.


Gadis itu menggeret Radith ke arah kedai Es krim yang berlogokan BR, gadis itu ingin membeli Es krim yang ada di sana. Radith seperti anak sapi yang menurut saja ditarik Luna kemanapun sementara fokusnya masih pada seseorang yang ada di seberang sana. Mereka mengantre es krim dan Luna membelikan Radith sesuai yang diinginkan lelaki itu.


Mereka menikmati es krim tersebut sampai Radith menyelesaikan panggilannya. Lelaki itu langsung fokus pada es krimnya, entah kapan terakhir kali dia bisa menikmati waktu seperti ini. Biasanya saat luang, dia hanya menggunakannya untuk tidur, mungkin Radith harus berterima kasih pada Luna yang sudah memaksanya keluar dari 'kandang'.


" Lo mau gak kalau gue ajak nonton film? Katanya ada yang bagus, gue belum sempat nonton," ujar Luna dengan was –was, Radith menatap gadis itu dengan menyuapkan satu sendok penuh es krim ke dalam mulutnya, lalu mengecap es krim itu sampai habis sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Luna.


" Kalau gue nolak, emang Lo bakal berhenti bujukin gue?" tanya Radith dengan nada menyindir, Luna langsung menyengir dan menggeleng, tentu dia akan memaksa Radith sampai lelaki itu mau menuruti permintaannya. Radith sendiri hanya pasrah dan menganggukkan kepalanya, sembari berharap agar Darrel lekas menyelesaikan urusan bisnisnya dan kembali ke Indonesia.


Bukan masalah Luna, lelaki itu hanya takut tidak bisa mengendalikan perasaannya. Bagaimanapun kisahnya dan Luna sudah berakhir, dan dia sendiri yang membuat akhir bagi mereka sampai seperti ini. Menyesal pun tak ada gunanya, mungkin memang begini yang dinamakan tak jodoh. Meski nyatanya gadis itu tetap berkeliaran di sisinya, membuat hatinya yang ingin padam terus bergejolak.


Mungkin ini bedanya lelaki dan perempuan. Saat perempuan benar – benar jatuh cinta, mereka akan lebih menonjolkan perasaannya, membuat gadis itu terkesan terlalu terobsesi membuat orang yang mereka cinta 'notice' terhadap perasaan mereka. Sementara kaum lelaki justru sebaliknya, mereka tak akan agresif, namun menunjukkan cinta mereka dengan tindakan langsung.


Luna mengambil ponselnya dan memesan tiket secara online agar mereka tak perlu repot mengantre. Gadis itu langsung berdiri saat eskrimnya sudah habis dan tiket nonton bioskop sudah di tangan. Gadis itu mengajak Radith untuk beranjak dan Radith hanya menurut saja. Mereka berjalan menuju bioskop diiringi tatapan dari orang sekitar.


" Halo Bang? Luna lagi di Mall nih sama Radith. Hah? Lah kok gak ngabarin Luna sih bang? Ya udah Luna pulang sekarang deh." Radith memperhatikan Luna yang tampak kesal setelah menerima panggilan, gadis itu langsung berbalik dari arah sebelumnya, membuat Radith bertanya dalam hati apa yang membuat Luna sekesal itu.


" Bang Jordan pulang ke Indonesia sama kak Key," ujar Luna yang seakan mengerti isi pikiran Radith, membuat lelaki itu membulatkan mulutnya dan mengangguk paham. Lelaki itu masih sering salah fokus saat Luna menyebut nama 'Key'. Seharusnya gadis itu menyebut 'Keyla' atau 'Keysha', teman Luna atau istri bang Jordan.


" Terus kenapa Lo kesal gitu deh? Bukannya Lo tadi bilang mereka gak ada waktu? Bagus dong kalau pulang?" tanya Radith dengan heran melihat ekspresi Luna. Padahal tadi gadis itu sendiri yang mengeluh kesepian. Luna memberikan ponselnya dan membiarkan Radith membaca pesan yang dikirimkan oleh Jordan, membuat Radith mengerti apa yang membuat Luna kesal.


" Bang Jordan tuh otoriternya gak berubah, padahal udah punya istri loh. Masak iya gue dikasih waktu setengah jam buat pulang, pakai ngancam gitu, gak etis banget," ujar Luna yang mempercepat langkah kakinya, karna dia tahu nyaris mustahil untuk sampai ke rumahnya dalam waktu setengah jam pada jam padat seperti ini.


" Lo bisa ngebut kan Dith? Ngebut ya? Lemari koleksi gue taruhannya nih Dith," ujar Luna memelas, Radith hanya berdehem dan ikut melangkah dnegan cepat, kasihan juga pada Luna jika ancaman Jordan benar – benar terjadi, karna yang Radith tahu, Jordan tak pernah mengingkari perkataannya.


*


*


Luna berlari menuju ruang tamu utama, di sana sudah ada Jordan dan Key yang duduk tenang dengan Jordan yang terus melihat ke arah arlojinya. Luna terengah, dan Jordan tersenyum puas karna Luna bisa datang tepat waktu, untung saja Radith bisa diajak kerja sama dan benar – benar mengebut.


" Untung aja Lo gak nabrak, Lo pasti tadi ngebut banget kan Dith?" Tanya Jordan saat Radith masuk ke luar itu, Radith tersenyum bangga mendengar pujian yang ditujukan untuknya.


" Apaan, tadi dia lewat kampung – kampung, terus nabrak ayam bang, gak tahu deh tuh ayam jadi almarhum atau engga, Lo harus balik ke sana Dith, tanggung jawab kalau tuh ayam mati," ujar Luna sambil memegang dadanya, gadis itu takut jika dia akan bermimpi buruk karna ayam tersebut.


" Iya besok gue datang ke TPU setempat buat cek ada kuburan baru atas nama ayam atau enggak. Puas kan Lo?" tanya Radith yang langsung berjalan mendekat dan duduk di sofa panjang itu. Namun Key langsung menutup hidungnya dan mendorong Radith sampai jatuh dari Sofa, hal itu tentu membuat Luna melotot kaget.


" Kenapa? Kamu mual lagi?" tanya Jordan mengelus kepala Key. Luna makin bingung dengan situasi ini, gadis itu masih menunggu saja Jordan mengatakan maksud dan tujuannya.


Sejak lelaki itu menikah, Jordan sangat jarang kembali ke rumah ini, jika pun mereka kembali ke Indonesia, mereka akan pergi ke rumah mereka sendiri dan sekali main ke rumah ini dalam beberapa bulan. Tentu ada hal lain yang membuat Jordan langsung pergi ke tempat ini setelah mendarat di Indonesia.


" Dia bau banget, aku gak mau dia ada di dekat sini," ujar Key menunjuk ke arah Radith dengan kesal. Radith yang ditunjuk langsung menunjuk dirinya sendiri, Luna bahkan masih melongo. Bahkan Radith selalu wangi apapun yang dilakukan. Lelaki itu memiliki wangi alami meski tak memakai parfume.


" Key hamil."


" HAH?!" Luna langsung berteriak kaget, namun sesaat kemudian gadis itu berbinar dan berlari untuk memeluk kakak iparnya itu. Setelah empat tahun, akhirnya mereka dikaruniani anak. Hal itu tentu membuat Luna turut bahagia, dia tak henti mengucapkan selamat dan bahkan mengelus perut wanita itu meski masih rata.


" Nah, karna kata dokter kandungannya lemah dan dia gak boleh banyak bepergian ke luar negeri dulu. Sedangkan abang gak bisa tinggalin dia sendiri di rumah ini, jadi abang mau dia tinggal sementara di sini. Kamu mau kan?" tanya Jordan pada Luna, tanpa ragu gadis itu mengangguk, tentu dia senang jika Key tinggal di sini untuk menemaninya.


" Selamat ya kak, bang, kalian akhirnya punya baby setelah penantian panjang. Walau sibuk masih sempat aja program anak," ujar Radith yang sedikit bercanda, meski lelaki itu tak berani mendekat karna takut Key akan mual lagi. Jordan terkekeh dan mengangguk, menerima ucapan selamat sekaligus ejekan yang diucapkan oleh Radith.


" Mungkin beberapa hari atau minggu atau bahkan bulan, Key bakal ngerepotin kalian, tapi abang mohon kalian bisa turutin apa mau dia ya, abang gak mau anak abang nanti ileran," ujar Jordan yang membuat Key merengut, gadis itu langsung terisak, membuat Luna terkejut.


" Key emang lagi baperan, bawaan bayi katanya. Cuma abang suka aja kalau lihat dia nangis gitu karna dibercandain sama abang, hitung – hitung obat kangen sebelum abang bakal LDR sama dia. Sayang, aku bercanda, jangan nangis, kamu mau beli apa deh? Nanti diturutin semua sama nih dua anak," ujar Jordan seenaknya, membuat Luna terdiam.


" Kamu jahat, aku benci kamu, hiks, hiks, hiks," ujar Key sambil terisak, membuat Jordan gemas dan langsung memeluk wanitanya dengan penuh kasih sayang. Dia memang sengaja membuat Key naik turun dalam emosinya, mungkin karna hal speerti ini pertama kali dalam hidup Jordan. Key yang dingin menangis bombai karna hal sepele, lucu sekali.


" Iya aku jahat iya, sini pukul aku sini, tapi gak boleh benci, nanti debaynya benci sama aku juga gimana dong?" tanya Jordan dengan imut, membuat Radith meringis jijik ,bahkan lelaki itu sampai merinding menyaksikan dialog seperti itu di hadapannya.


Radith pamit untuk pulang sebelum dia mual melihat adegan yang ada di hadapannya, namun Luna malah mengikuti Radith sampai luar, tak mau menjadi obat nyamuk yang melihat mereka bermesraan. Gadis itu memilih untuk mengikuti Radith sampai ke mobilnya. Radith melihat ke arah Luna dan bertanya untuk apa gadis itu mengikutinya.


" Dith, gue malah jadi takut kalau nanti kak Key kenapa – napa sama gue karna gue ceroboh, gimana ya Dith?" tanya Luna yang membuat Radith menatap Luna dengan aneh. Luna hanya bertugas menemani wanita itu, mengapa Luna sangat merasa takut akan hal itu?


" Ya udah ambil sisi positifnya aja deh ya, Lo jadi belajar buat gak ceroboh lagi setelah ini, Lo bisa sedikit lebih bertanggung jawab. Taruhannya nyawa orang loh, orangnya belum lahir lagi. Hayoloh," ujar Radith yang malah mendapat ide untuk membuat Luna sedikit berubah. Mungkin memang dengan cara ini Luna bisa belajar untuk bertanggung jawab.


" Iya juga sih, ngelihat kak Key ada hamil gitu, gue jadi ngebayangin kalau gue hamil, apa gue bakal jadi cengeng kayak gitu ya?" tanya Luna dengan nada serius, Radith mengedikkan bahu sebagai jawaban. Memiliki pacar saja tidak, bagaimana dia bisa membayangkan gadis lain sedang mengandung? Pikirannya malah jadi melambung jauh.


" Kalau kak Darrel pulang gue mau minta dia cepet nikahin gue ah, gue mau ngerasain kalau hamil gue jadi cengeng atau engga," ujar Luna dengan mata yang berbinar, sepertinya gadis itu sangat tertarik dengan topik kehamilan ini, apalagi dia menyadari sebentar lagi dia akan menjadi aunty, membuatnya ingin memiliki anaknya sendiri.


" Lo gak harus nunggu hamil sih, sekarang juga Lo udah cengeng. Gue balik ya, mau tidur, besok gue sibuk," ujar Radith dengan depat dan langsung masuk ke dalam mobilnya dengan cepat tanpa menunggu Luna menjawab. Sepertinya lelaki itu sangat lelah, atau mungkin tak nyaman karna Luna membicarakan hal ini? Entahlah.


" Mau telpon kak Darrel ah," ujar Luna yang langsung mengeluarkan ponselnya dan berjalan ke teras untuk duduk di sana. Gadis itu langsung mengirim pesan pada Darrel, gadis itu meminta Darrel untuk menelponnya jika dia tak sibuk. Siapa sangka, lelaki itu langsung menelpon Luna saat pesan itu terkirim, membuat Luna memekik senang karnanya.


" Astaga! Kak Darrel berantakan banget," ujar Luna yang melihat wajah Darrel sangat berantakan, rambutnya acak – acakan, bahkan dasi sudah terlepas dari kerahnya. Darrel memaksakan senyumnya dan tertawa ringan menjawab keterkejutan Luna, namun tak membuat Luna tenang, sebaliknya, gadis itu tambah khawatir dengan kondisi Darrel.


" Gimana hari kak Darrel? Ada yang mau diceritain ke Luna?" tanya Luna dengan lembut, membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya dan memandang Luna dengan kaget. Lelaki itu langsung tersenyum lebar mendengar Luna yang begitu manis, biasanya Luna langsung bercerita sepanjang rel kereta saat mereka melakukan video Call, karna Darrel selalu rindu suara gadis itu.


" Kamu diajarin siapa buat kayak gitu? Manis banget sih?" tanya Darrel dengan geli, membuat Luna merasa malu karna tingkahnya sangat ketara. Gadis itu mengedikkan bahunya dan memilih untuk menanyakan hal yang sama agar Darrel berhenti menanyakan hal itu. Darrel mengusap wajahnya dan menyemprotnya dengan cairan vitamin C agar wajahnya lebih segar.


" Ada musuh dalam selimut bawa kabur aset penting perusahaan. Kamu tahu? Aku ditegor langsung sama papa kamu, diomelin aku Lun dan dikasih waktu lima hari buat beresin semua, makanya aku gak ada waktu buat hubungin kamu, maaf ya," ujar Darrel dengan wajah yang menyesal. Luna jadi tertegun mendengar hal itu.


Benar kata Radith, selama ini Luna hanya berpikir dialah yang sangat membutuhkan Darrel hingga gadis itu selalu mengoceh tentang hidupnya pada lelaki itu. Luna tak tahu jika Darrel memikul beban yang snagat berat dan lelaki itu masih mau mendengar keluh kesah Luna tanpa ada seseorang yang membantunya berbagi beban.


" Luna gak bisa bantu kak Darrel, Luna jadi ngerasa gak berguna jadi pacar kak Darrel. Kak Darrel semangat ya, apapun yang terjadi, kesehatan kak Darrel yang paling penting, kalau sakit kan susah, Luna jauh jenguknya," ujar Luna dengan sedih, membuat Darrel kembali terkekeh.


" Aku gak mungkin sakit, kan aku tahu di Indonesia ada yang lagi nunggu aku buat pulang. Haah, andai kamu udah jadi istri aku ya Lun, kamu kan bakal ikut aku kemanapun aku pergi, jadi aku gak perlu nahan rindu. Dari semua yang aku alami, paling berat itu waktu aku kangen kamu Lun."


" Kok Kak Darrel jadi mellow gitu sih? Ya udah makanya kak Darrel lekas selesaiin kerjaannya dan pulang, nanti main sama Luna kemanapun yang kak Darrel mau, semangat! Luna tahu kak Darrel kan cerdas, jadi kak Darrel pasti ketemu solusinya kurang dari lima hari," ujar Luna dengan riang, setidaknya hal itulah yang bisa dilakukan Luna saat ini.


" Iyah, aku bakal selesaiin ini, aku udah dapat petunjuk, Cuma orangnya licin banget. Aku tetep bakal minta bantuan papa kamu sih, tunggu aku aja, habis masalah ini selesai, aku bakal pulang ke Indonesia," ujar Darrel yang membuat Luna menjerit senang.


" LUNA, KE SINI!" Teriakan dari dalam rumah membuat Luna berdecak, gadis itu menatap Darrel sedih, membuat Darrel ikut menjadi sedih.


" Siapa di rumah?" tanya lelaki itu karna Luna hany diam.


" Kalau kak Darrel ke Indonesia, Luna bakal ceritain semua, Luna tutup dulu ya, takut makin teriak – teriak bang Jordannya," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel.


" Love you," ujar Darrel dengan senyum manisnya, membuat Luna tersipu dan langsung merasakan pipinya memanas. Sudah enam tahun, namun Luna masih tak biasa dengan dua kata itu.


" Gak dijawab nih? Biar aku semangat kerja loh ini," ujar Darrel menggoda Luna. Luna bimbang untuk menjawab pertanyaan itu atau tidak, namun akhirnya Luna menjawab pelan.


" Love you too."


Dan langsung mematikan sambungan telpon tersebut.