
Luna dan Radith berjalan menyusuri Danau yang tak asing lagi bagi Luna. Gadis itu sudah beberapa kali ke tempat ini, meski kali ini bersama orang yang berbeda.
" Radith, katanya mau beli gula kapas, kenapa malah kesini?" tanya Luna yang bingung dengan Radith yang malah berjalan santai sambil menikmati suasana senja di danau tersebut.
" Ini jalan pintas biar cepat sampai, Lo pikir sampai ke taman kota itu dekat?" tanya Radith yang mulai sebal karena Luna rewel.
" lah tadi gue kan udah bilang naik motor aja, Lo nya aja yang susah di bilangin, nyebelin banget sih," ujar Luna dengan sebal dan menghentakkan langkah kakinya dengan keras.
Radith menghela napas dan mengurut keningnya yang tiba tiba merasa pening. Mana mungkin mereka naik motor sampai ke kota sementara Luna tidak memakai helm dan bahkan Radith tak memiliki SIM? Otak gadis itu tertinggal dimana sih?
" Gue tuh mau sekalian cerita ," ujar Radith yang mencoba mengalihkan perhatian Luna.
" Apa? Kenapa? Cerita apa? Sini sini Luna siap menjadi pendengar yang baik," ujar Luna antusias sampai menghadap ke arah Radith dan berjalan mundur. Membuat lelaki itu gemas dan memutar tubuh Luna agar berjalan dengan benar.
Luna menyebelahi Radith dan menunggu lelaki itu membuka suara, namun Radith hanya diam dan memandang air danau ysng tampak tenang.
" Katanya mau cerita! " sergah Luna pada Radith, padahal lelaki itu sudah mengambil napas untuk bicara. Akhirnya lelaki itu membuang lagi napasnya untuk menenangka emosinya.
" Dulu, gue pernah ke tempat ini bareng temen - temen gue," ujar Radith membuka suara, Luna langsung diam dan menyimak apa yang akan dikatakan Radith.
" Sebenernya gue udah feeling gak mau ikut, tapi karna mereka maksa, yaudah deh gue ikut aja sama mereka," ujar Radith sambil memasukkan tangannya ke kantong celana.
" Lo mau tahu gak apa yang gue lihat di danau ini?" tanya Radith yangvmenghadap Luna, membuat gadis itu berpikir sejenak dan melihat sekitar.
" Air? Lampu? Pohon?" tebak Luna sambil menyebutkan apa yang dia lihat di tempat ini.
" Cewek yang gue suka ditembak sama orang lain," potong Radith yang tak ingin terpengaruh dengan tebakan Luna yang sebenernya membuat kesal.
Luna yang mendengar hal itu reflek menutup mulutnya, ikut merasakan apa yang Radith rasakan. Rasanya pasti sakit sekali, sesakit Luna yang mengetahui kabar Radith memiliki kekasih.
" Terus Lo gimana?" tanya Luna yang malah semakin penasaran dengan kisah Radith.
" Gue diem lah, mau gimana lagi memang? Gue terlalu pengecut buat datengin mereka," ujar Radith dengan wajah yang miris, lelaki itu tampak tersenyum miring sambil menundukkan kepalanya.
" Terus jawaban cewek itu apa?" tanya Luna dengan wajah sedikit tegang, seperti menonton kisah melankolis yang akan menguras air mata sewaktu - waktu.
" Gue gak tahu, gue langsung pergi kesana, dan gak lama Blenda kambuh. Kami langsung bawa Blenda ke rumah sakit dan gue gak kepikiran hal itu lagi," ujar Radith dengan santai sambil melirik Luna.
" Tunggu. Lo suka sama orang lain padahal Lo udah pacaran sama Blenda? " tanya Luna yang baru menyadari hal itu.
" Hahaha, gue sama Blenda gak pernah resmi pacaran. Dia itu sahabat gue dari bayi, makanya udah biasa main ke rumah gue. Sekarang dia lagi butuh gue, dia jadi prioritas gue," ujar Radith yang tidak berbohong sama sekali.
" Jadi, Lo sayang banget ya sama Blenda? " tanya Luna sedikit lirih, takut akan jawaban Radith.
" Jelaslah, sayang banget," ujar Radith tanpa berpikir lama.
Perkataan Radith menusuk relung hati Luna yang paling dalam. Luna langsung merasa sesak karena pernyataan Radith, ternyata memang dari awal Luna bukan pilihan bagi Radith.
" Gue bersyukur Lo lemah otak," ujar Radith lirih sambil melangkah lebar dan meninggalkan Luna sendiri dalam kebingungan.
Luna tidak mendengar apa yang dikatakan Radith. Gadis itu hanya menganggap Radith bergumam tidak jelas dan memilih untuk mengabaikan gumaman itu.
Langkah mereka terus melaju menyusuri senja menuju taman kota untuk mencari apa yang Luna inginkan. Entah beruntung atau malang, Luna menghabiskan satu malam lagi bersama Radith.
Luna berharap kali ini tak ada hal buruk yang akan terjadi, karena biasanya setiap dia baru saja merasa bahagia, hal buruk terjadi bertubi - tubi hingga membuatnya frustasi sendiri.
*
Gadis itu berjalan menuju gerbang depan, merasa sedikit aneh karena beberapa orang tampak memandangnya dan berbisik, namun Luna mencoba untuk mengabaikan hal itu.
Entah perasaannya saja atau bagaimana, orang yang berpapasan dengan Luna selalu menghindar dan memandangnya jijik, membuat Luna semakin lama semakin risih karena hal itu.
Kecurigaan Luna memuncak dan terbukti saat segerombolan orang berkumpul di depan gerbang belakang dan semua orang itu menatap Luna dari atas sampai bawah.
" Nah, ini dia guys, pelakor STM Taruna ysng terkenal dan hits."
Luna tersentak mendengar sambutan itu, bahkan kini orang lain terang terangan mencibirnya dan menertawainya.
" Kalian tahu kan status gue sama Darrel, tapi dengan gak tau malunya dia malah mencoba ngerebut Darrel dari gue, uuhh, gak punya malu banget ya guys."
Ya, orang itu Monica. Gadis itu makin menjadi - jadi dengan tingkahnya, Luna masih mencoba diam dan menunggu apa yang akan Monica lakukan.
Gadis itu tampak mendekati Luna berjalan dengan tangan yang mengapit ketiak, memandang Luna sinis padahal Luna masih lebih tinggi dari gadis itu hingga gadis itu mendongak untuk menatap Luna.
Meski tau reputasi gadis itu, Luna tidak merasa takut sama sekali. Gadis itu diam, menunggu momen yang tepat untuk membalas mengingat status Monica yang masih kakak kelasnya ( yah, setidaknya Luna masih tahu etika)
" Lo lihat, ini cincin di jari manis gue, dia bahkan udah ngakuin gue. Lo bisa kan sadar diri dikit bua jauhin dia? Gue udah pernah bilang baik baik sama Lo, tapi ternyata gak mempan buat Lo."
Luna berusaha rileks dan berusaha melemaskan tangannya agar tidak mengepal dan menimbulkan masalah baru.
" Lo kan banyak skandal, kenapa harus rebut tunangan Orang? Lo kan bisa pilih satu. Dasar Lacur!"
Great. Gadis itu memancing emosi Luna yang sudah dia tahan sekuat tenaga. Panggilan tak pantas yang keluar dari mulut gadis itu membuat Luna mendidih seketika.
" Lacur? Lo gak ngaca mbak? " tanya Luna tanpa tata krama lagi. Bahkan Luna sengaja memanggil orang itu 'mbak' dan bukan 'kak'
" Gue skandal? Kayaknya dilihat dari pakaian orang juga tahu siapa yang sering buat skandal di sekolah ini."
" Pilih satu, iya mbak, gue bisa aja pilih satu karna gue laku, gak perlu ngemis ke cowok buat suka sama gue, apalagi ngakuin cowok itu tunangan gue. Gue sih gak sekampungan itu."
Monica tersentak mendengar balasan Luna yang sama sekali tidak dia sangka. Dia kira Luna hanya mampu diam dan terima saja namun ternyata gadis itu melawannya dengan telak.
" Lo bilang apa tadi? Ngerebut tunangan Lo? Lo kalik yang sok sok an ngakuin tunangan gue."
Meski Luna tahu perkataannya tidak akan menjadi baik di kemudian hari, Luna sudah muak dan rasanya panas dikatain seperti tadi. Persetan dengan dirinya besok, yang jelas dia ingin mengubur gadis dihadapannya saat ini.
" Lo.. Lo.." Monica bahkan sampai tidak bisa menjawab perkataan Luna. Sementara mereka yang menyaksikan hanya menerka apa maksud dari perkataan Luna.
" Lo gak percaya? Kenapa gak tanya orangnya langsung? Gue telponin dia sekarang," ujar Luna tanpa takut dan mengambil ponselnya.
Semua orang disana kembali dibuat bingung dan penasaran. Jika maksud Luna adalah Darrel, Luna cukup dengan membuat Darrel menjawab panggilannya karna siapapun yang menghubungi Darrel akan diblokir oleh lelaki itu.
Luna sengaja menyetel mode load speaker agar semua orang disana bisa mendengar, panggilan tersambung dan kemudian diangkat oleh orang di seberang sana.
" Halo, kak Darrel lagi dimana?" tanya Luna dengan tenang. Monica bahkan tak berani menjawab apa apa lagi, gadis itu berharap Luna hanya menipu mereka.
" Di ruang OSIS, tumben telpon?"
Terdengar bisik bisik di sekitar mereka, Monica tak sanggup lagi mengatakan apapun, mereka semua mulai mencibir Monica yang ternyata berhalusinasi tinggi, beberapa juga masih tidak menyangka Luna lah orang yang menjadi tunangan Darrel
" Kok ramai? Kamu dimana?" tanya Darrel dengan nada khawatir.
" Depan Gerbang, bisa kesini sebentar gak kak?" tanya Luna yang masih tersenyum sinis menatap Monica yang kini takut menatap matanya.
" Oke dua menit," ujar Darrel yang kemudian Luna langsung menutup panggilan tanpa menjawabnya. Monica hendak mundur, namun bahunya dipegang oleh seseorang.
" Eh kak, awas jatuh kalau mundur mundur, Kalau kakak gak salah, gak usah mundur kak," ujar Orang itu dengan tersenyum remeh. Dia kira Monica sangat hebat dan menakutkan, gadis itu selalu bertindak sesukanya, kini dia memiliki kesempatan untuk membully Monica dengan bebasnya.
Tak lama Darrel datang dan mereka semua langsung membuka jalan dengan tatapan tak percaya dan tatapan kagum. Mereka masih tak percaya Darrel sungguh datang ke tempat itu.
Luna tersenyum melihat Darrel mendekat, sementara Monica sudah tidak berani mengangkat kepalanya lagi.
" Kenapa sih?" Tanya Darrel yang heran melihat Luna, Luna hanya meliriknya dan memegang tangan Darrel lalu mengangkatnya.
Beberapa orang tercekat kaget melihat perlakuan Luna kepada Darrel, lebih kaget lagi karna Darrel tak menolak perlakuan Luna, padahal biasanya lelaki itu menolak jika dipegang oleh perempuan.
" Lihat, di tangan kak Darrel memang ada cincin, dan di tangan kak Monica juga ada cincin, tapi apakah itu cincin yang sama?"
Seseorang yang tadi memegang pundak Monica mengangkat paksa tangan kiri Monica, dan orang disana mengamati kedua cincin yang bersemat di jari manis keduanya.
Lalu Luna langsung mengeluarkan kalungnya dan menyebelahkan bandul cincin miliknya dengan cincin milik Darrel. Mereka semua langsung heboh dan bergunjing ria karena cincin keduanya tampak sama.
Luna melepaskan tangan Darrel sementara gadis di depannya melepaskan tangan Monica, Monica yang sudah merasa sangat malu langsung menerobos barisan di belakangnya dan pergi begitu saja diiringi sorak sorai dari siswa lain yang dan disana.
Darrel memandang Lunetta dengan tatapan tak suka, lalu menggandeng tangan gadis itu dan mengajak Luna untuk segera pergi dari sana. Darrel mengajak Luna masuk ke dalam mobil yang sudah terdapat pak Jono di kursi Supir.
" Kamu kenapa kayak tadi? Kok malah jadi Bully Monica? " tanya Darrel dengan pelan, tak ingin membuat Luna tertekan atau terkejut padanya.
" Hiks, hiks, hiks, aku takut kak."
Darrel tentu kaget saat Luna menangis, tadi gadis itu tampsk garang dan penuh amarah, bagaimana mungkin dia langsung menangis seperti ini saat berdua saja dengan Darrel?
" Kenapa? Cerita sama aku," ujar Darrel yag membawa Luna mendekat dan mengusap wajah Luna yang sudah berair.
" Waktu pulang tiba - tiba tadi aku dicegat sama Kak Monica, dia bilang aku yang gak bener ke semua orang itu, mereka semua percaya kak," ujar Luna secara acak, membuat Darrel malah bingung dengan ucapan Luna.
" Coba cerita pelan pelan, jangan nangis dulu," ujar Darrel dengan lembut dan memberi ketenangan pada Luna.
Luna memang selalu merasa nyaman dan tenang bila sudah berada di dekat Darrel. Gadis itu menatap Darrel dan menarik napasnya panjang.
Gadis itu mulai menceritakan awal dia keluar kelas sampai dicegat ke gerbang dengan semua perkataan menyakitkan yang dilontarkan oleh Monica.
" Aku gak terima kak dipanggil Lacur. Aku udah tahan waktu dia nuduh nuduh kayak gitu, tapi kalau aku dipanggil pakai panggilan sekasar itu, aku gak terima kak."
" Iyah, iyah, aku paham. Udah, kamu gak usah nangis lagi, terus kenapa kamu takut? Tadi aja kamu berani ngebabat habis dia sampai kayak gitu," ujar Darrel yang merapihkan rambut Luna.
" Aku takut dia laporin yang macem macem ke sekolah kak, aku gak berani ngadepin papa atau bang Jordan kalau sampai ada kasus," ujar Luna menggelengkan kepalanya dengan takut.
" Tenang, ada aku. Gak akan ada hal buruk terjadi kalau kamu cerita ke aku, aku bakal berusaha buat lindungin kamu. Kamu percaya kan sama aku?" tanya Darrel pada Luna. Gadia itu mengangguk meski masih menangis.
" Kamu gak salah, kamu gak perlu takut, aku bakal belain kamu kalau sampai dia berani macem - macem," ujar Darrel dengan yakin dan mengelus kepala Luna dengan lembut.
" Udah nangisnya, ingusnya tuh lho kemana - mana," ujar Darrel memasang ekspresi jijik dan menjauh dari Luna. Gadis itu langsunh memukul Darrel dengan kesal, membuat Darrel tertawa karena ekspresi dan respon yang ditunjukkan Luna.
" Eemm, kamu udah gak marah sama aku kan?" Tanya Darrel dengan wajah yang menggoda.
" Masih lah! Karna kak Darrel yah Luna harus kayak gini," ujar Luna dengan sengit sambil menatap Darrel galak.
" Yah, padahal aku udah siapin dua tiket taman bermain, tapi karna kamu marah aku kasih ke Angga ada deh," ujar Darrel mengeluarkan dua tiket dengan wajah kecewa.
" Deal, pokoknya Kak Darrel harus traktir Luna gula kapas sama semua yang ada disana juga," ujar Luna dengan memajukan bibirnya. Membuat Darrel tak tahan dan menarik bibir itu sampai wajah Luna juga ikut maju.
" Gemas abang dek, jadi pengen sun," ujar Darrek dengan wajah gemasnya.
Luna hanya memukul mukul wajah hingga pundak Darrel, ingin mengomeli namun bibirnya masih dikunci oleh lelaki itu.
"Hahaha, Jalan pak," ujar Darrel sambil tertawa lepas saat melihat wajah Luna yang tampak tersiksa