
" Kita mau kemana lagi? Luna mau ke tempat wahana – wahana gitu dong, Luna mau pergi ke sana," ujar Luna dengan semangat. Danesya tampak tak setuju dengan ide Luna, gadis itu merasa kasihan pada Keysha yang pasti sudah lelah, gadis itu tak boleh banyak berjalan tan tak boleh kelelahan. Hal itu pasti akan mempengaruhi kondisi jabang bayi yang dia gendong.
" Ah, gue tahu, mending kita ke London Eye aja, itu kayak biang lala gitu, kita bisa lihat seluruh kota London dari sana. Pasti seru deh, lagian kak Key kan gak boleh capek – capek, kasihan dia," ujar Danesya yang membuat Luna berpikir lalu meyetujui ide tersebut, Luna berjalan kluar dari tempat itu sambil menggandeng Keysha dengan erat.
" Ya udah yang penting mah jalan – jalan. Ayo kita ke sana. Eh tapi bukannya bagusnya kalau malam ya? Kan bisa lihat pemandangan sekitar gitu kalau malam, banyak lampunya," ujar Luna yang membuat Danesya mengerutkan keningnya dengan bingung. Dia menatap ke arah Keysha yang mengedikkan bahunya.
" iya sih, tapi kalau siang juga gak kalah bagus kok, London itu tetap bagus mau siang atau malam," ujar Danesya yang membuat Luna menganggukkan kepalanya dan membulatkan mulutnya. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu segera.
Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke tempat itu, mereka turun dari mobil dan segera mengantre. Luna melongo melihat Antrean yang sangat panjang, namun Antrean ternyata cukup cepat karna dalam satu sangkar itu diisi oleh lima orang. Mereka masuk ke dalam sangkar itu setelah cukup lama mengantre.
(sumber gambar dari Google)
Lamanya mengantre itu seakan terbayar lunas saat mereka masuk dan melihat seluruh kota London yang indah dari atas sana. Luna bahkan tak henti – hentinya mengucap kagum pada pemandangan yang dilihatnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menunjuk jalan yang tadi dia lewati untuk sampai ke tempat ini.
" Gimana? Bagus kan yang gue rekomendasikan? Gue gak pernah pilih tempat yang jelek kan?" tanya Danesya dengan tenang agar tak menganggu pengunjung yang berada satu sangkar dengan mereka. Luna mengangguk setuju dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk memotret apapun yang dia lihat. Luna juga memotret Danesya dan Key yang tak kalah takjub dengan tempat ini.
Ini bukan pertama kali mereka naik ke biang lala raksasa ini dan menatap kota yang sudah menjadi rumah mereka selama bertahun – tahun. Meski Danesya masih berstatus warga negara Indonesia, dia tak bisa memungkiri dia lebih terbiasa tinggal di tempat ini dibanding negara asalnya.
Gadis itu lebih memilih untuk terus memperpanjang visa yang dia punya. Hal itu pula yang membuatnya bekerja sebagai model meski dia tak perlu melakukannya jika demi uang. Gadis itu hanya mencari pekerjaan agar bisa tinggal dengan visa bekerja. Gadis itu terkadang berpikir untuk berpindah warga negara, namun dia masih mempertimbangkan banyak hal.
" Lo mikir apaan sih? Kayak yang berat banget gitu pikiran Lo?" tanya Luna yang menyadari kegelisahan saudara kembarnya itu. Danesya menggelengkan kepalanya dan kembali tertawa – tawa bersama Luna dan Keysha. Mereka berada di dalam sana selama tiga puluh menit sampai mereka benar – benar sampai ke tempat semula dan turun dari wahana itu.
" Karna udah sampai sini dan gue males pulang tapi kasihan sama kak Key, mending kita piknik aja yuk, kita nyari taman gitu," ujar Danesya yang disetujui oleh kedua orang yang pergi bersamanya. Gadis itu merasa seperti seorang Ibu yang mmbawa kedua anaknya pergi berlibur hingga kedua orang itu hanya menurut apapun yang Danesya katakan.
Danesya langsung meminta supir untuk membawa mereka ke Queen Mary Garden, dimana tempat itu terkenal karna romantis dan sangat menyegarkan bagi mereka yang ingin bersantai. Luna duduk tenang di kursinya dan melihat ponselnya dimana Darrel masih belum mengangkat panggilan darinya. Entah apa yang lelaki itu lakukan saat ini Adel ingin tahu.
" Pacar kamu itu orang sibuk, kan kak Key udah pernah bilang kalau kamu memutuskan buat sama dia, kamu harus siap sama konsekuensi ini, kamu bakal jadi kayak kak Key, kemana – mana ngintilin Danesya biar gak kesepian, tapi percaya deh, mereka pasti setia," ujar Keysha yang membuat Luna menengok.
" Kenapa kak Key percaya sekali mereka bakal setia? Mereka bisa aja kan punya cewek lain gitu," ujar Luna yang membuat Key menggelengkan kepalanya dengan yakin. Danesya yang tak mengerti apa yang mereka katakan hanya diam dan menunggu mereka sampai ke tempat tujuan.
" Gimana mereka mau punya cewek lain Lun, mereka urus satu cewek aja udah gak bisa, udah keteteran gitu. Mending kamu mikir positif aja, pasti dia bakal ada waktu kalau momennya tepat, berharap apa kamu sama CEO perusahaan besar? Ya kan? Lebih baik kita sambil nunggu, kita belanja, jalan – jalan dan menghibur diri kita sendiri," ujar Keysha yang diangguki oleh Luna, gadis itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Keysha.
" Nah guys, kita udah sampai nih, tempatnya sejuk banget, asli," ujar Danesya yang juga terkejut. Dia baru pertama kali datang ke tempat ini, dia hanya melihat melalui internet bagaimana penampakan tempat ini, dia tak menyangka ternyata tempatnya sangat indah dan memanjakan mata. Cocok didatangi oleh mereka yang ingin healing dari kehidupan sehari – hari.
( Sumber gambar dari Google)
" Wah, selama di London, kak Key selalu aja perginya ke tempat – tempat kayak museum, terus jembatan London, yang ada wahana – wahananya, kak Key gak pernah ke taman gini, ternyata enak banget buat ngilangin suntuk," ujar Ky yang menghirup udara segar itu dalam – dalam.
" Udah deh, pokoknya kalau masalah wisata, kalian tanya aja sama Nesya, Nesya siap membantu dan tentu saja tempatnya gak akan mengcewakan. Nesya kan super model di sini, sering photo shot dan tahu tempat – tempat yang bagus," ujar Danesya dengan sombongnya.
" Hiliih, paling kamu juga tahu dari google kan? Kalau gak kamu kemarin udah lihat di youtube – youtube gitu biar hari ini kayak tourguide profesional, iya kan iya kan?" tanya Keysha sambil menoel hidung Danesya. Gadis itu terkekeh dan mengangguk, mengakui bahwa semua yang dikatakan Keysha itu benar.
Namun dugaan Luna salah. Karna tak lama kemudian seorang pria yang tak asing untuk Luna akhirnya masuk ke dalam restoran itu dan duduk di sebelah Danesya. Luna langsung memandang Danesya dengan tatapan bertanya, namun Danesya malah balik menatap Luna dengan wajah bingungnya.
" Lo ada apa sama dia? Katanya Lo gak akan suka ataupun berhubungan sama dia? Katanya Lo Cuma temenan dan bantu dia buat berubah, buat bisa punya kerjaan sendiri?" tanya Luna dengan tajam. Kini dia bertindak dengan tegas karna ini masalah kelanjutkan hidup saudara kembarnya, meski Danesya adalah kakak, dia juga harus melindungi gadis itu.
" Itu kan dulu, udah bertahun – tahun yang lalu Lun dan selama itu juga Roy banyak berubah, dia banyak bantu gue dan banyak bikin gue membuka mata tentang dunia ini. Kami saling bantu biar jadi pribadi yang lebih baik lagi," ujar Nesya yang membuat Luna mencium aroma tak enak dari keduanya. Roy tak mengatakan apapun, dia takut akan salah bicara.
" Maksudnya apa nih? Lo udah suka gitu sama dia? Dan Lo di sini minta restu gue biar kalian bisa pacaran?" tanya Luna yang dijawab gelengan kepala oleh Danesya, Luna kembali diam setelah melihat jawaban Danesya yang tak sesuai dugaannya.
" Gue gak butuh restu dari Lo buat pacaran sama dia, apalagi papa udah setuju gue nikah sama dia. Gue Cuma mau kasih tahu ke kalian kalau gue dan Roy udah memutuskan buat nikah, kami Cuma memberi tahu loh, gak minta restu kalian," ujar Nesya yang membuat Luna merasa tak terima.
" Gak bisa gitu dong, gue kan saudara kembar Lo, gue berhak buat ngedukung atau menolak keputusan yang menurut gue gak akan baik buat Lo," ujar Luna sambil menatap ke arah Roy, Nesya tampak tak terima dengan perlakuan Luna, gadis itu bahkan hendak mengatakan sesuatu, namun Roy menahan tangannya.
" Alasan Lo bilang sesuatu yang buruk sama Nesya itu apa? Dan apa hal yang buruk itu?" tanya Roy yang membuat Luna menatapnya dengan sinis lalu kembali menatap Nesya dengan gelengan kepala. Jika itu hanya berteman, Luna sangat setuju, namun jika menikah, Luna tak bisa merestuinya.
" Lo tahu dia udah pernah nyaris bunuh Radith, dia bahkan nyaris bunuh Lo Nes. Dia kasar dan gak bisa ngendaliin emosinya, Lo yakin mau jadiin dia suami? Kalau dia KDRT sama Lo gimana?" tanya Luna yang masih menggunakan nada pelan karna dia takut mnjadi pusat perhatian oleh pengunjung lain. Danesya menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Roy di depan Luna.
" Udah bertahun tahun berlalu Lun. Lo pikir gue diam aja masalah kondisi dia? Kami bahkan udah berkonsultasi sama ahlinya dan dia udah diterapi Lun. Dia udah berubah dan gak seperti dulu lagi, dan satu lagi, Lo gak berhak bilang hal kayak gitu, dari awal gue udah bilang, gue gak butuh restu dari Lo," ujar Danesya yang membuat Luna terkejut.
" Gue ngerti kenapa Lo kayak gini dan kenapa Lo takut Danesya sama gue ke langkah yang lebih serius lagi, gue mohon kasih gue kesempatan buat buktiin ke Lo dan semua orang kalau gue bisa jadi kayak yang kalian mau dan gue gak akan nyakitin Danesya," ujar Roy yang meembuat Luna terdiam.
" Apa Lo bisa pegang omongan Lo itu? kalau gue tahu Lo nyakitin Danesya, apa yang Lo mau gue lakuin buat ngebalasnya?" tanya Luna dengan galak. Roy tersenyum melihat Luna yang begitu serius tentang masalah ini.
" Bahkan tanpa Lo lakuin sesuatu, bokap Lo udah pasti bunuh gue kalau gue nyakitin Danesya yang udah berstatus istri gue, Lo tenang aja, Lo boleh dan gue ijinkan lakuin apapun kalau sampai gue sakitin dia," ujar Roy yang membuat Danesya terharu.
Luna menatap kedua mata lelaki itu, mencari kejujuran di sana. Luna duduk di kursinya kembali dan menghela napasnya saat mendapati bahwa lelaki itu berkata jujur. Semoga saja lelaki itu bisa memegang omongannya sampai kapanpun dan tak menyakiti saudara kembarnya sama sekali. Meski perilaku burukny asudah berakhir, yang namanya gangguan mental kan bisa kambuh sewaktu – waktu.
" Ya udah kalau gitu. Lunetta Azura Wilkinson selaku adik kembar beda beberapa menit dari Danesya Azura Wilkinson menyatakan merestui kalian untuk menikah. Semoga kalian bahagia dunia akhirat dan dikasih anak banyak biar anak – anak kita nanti bisa tanding voli," ujar Luna dengan senyum yang merekah. Membuat Danesya menjadi heran.
" Sebenernya gue sama kak Darrel juga mau nikah dalam waktu dekat ini. Nih cincinnya, nah kebetulan kalian juga mau nikah, gue ada ide brilian buat kita," ujar Luna yang dijawab dengan alis terangkat oleh Danesya, gadis itu ingin tahu ide gila apa lagi yang ada di kepala Luna.
" Kenapa gak kita nikah masal aja? Kita nikahnya duet gitu, kan enak, toh jadi hemat biaya kan?" tanya Luna dengan wajah yang merekah seakan itu adalah ide terbaik yang ada di dunia ini. Danesya, Roy bahkan Keysha sampai melongo mendengar ide itu. benar kan? Luna selalu memiliki ide gila dan seringkali tak masuk akal.
" Bapak Lo, Bapak Gue, Bapak bang Jordan. Tuan besar Wilkinson pemilik utama Wilkin's coorp gak akan bangkrut hanya dengan mengadakan pesta pernikahan dua kali Lun. Kenapa Lo kayak takut Bapak kita bakal bangkrut sih?" tanya Danesya dengan gemas, Luna langsung terdiam dengan bibir yang sudah dimajukan. Gadis itu masih merasa idenya sudah bagus dan bisa dilakukan.
" Ya kan penghematan biaya. Meriah juga kalau yang nikah langsung dua gitu. Uangnya bisa buat hal lain kan? Kalau gak suka kenapa marah – marah sih," ujar Luna dengan baper. Danesya hendak menjawab, namun tangannya ditahan oleh Roy agar tak menimbulkan kerusuhan di restoran ini. Danesya hanya menurut dan langsung diam
Gadis itu tiba – tiba teringat sesuatu, dia membisikkan pada Roy dan Roy tamapk terkejut beberapa saat sebelum akhirnya lelaki itu menganggukan kepala seakan memberi persetujuan pada gadis itu. Danesya mengangguk sekali lagi dan meminta perhatian dari kedua orang yang ada di depannya.
" Selain masalah pernikahan, sebenarnya Nesya juga mau menyampaikan sesuatu dan ini butuh banget saran dari kalian. Sebenarnya Nesya mau pindah kewarganegaraan. Menurut kalian gimana? Nesya udah baca – baca syaratnya dan Nesya udah belajar, jadi kalau masalah tes atau apapun itu Nesya udah yakin bisa. Menurut kalian?" tanya Nesya dengan takut – takut.
Luna langsung terkejut dan menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Nesya masih diam dan menunggu jawaban Luna.
" Kenapa semua orang pingin pindah kewarganegaraan sih?" tanya Luna dengan pelan karena heran. Gadis itu kembali menatap Danesya yang menunjukkan wajah bingungnya juga.