Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 61



" Apa hari ini aku ada jadwal? Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Luna saat melihat Leo sudah ada di depan rumahnya. Bahkan Luna belum mandi dan dia juga tak mengingat memiliki jadwal apapun hari ini. Leo menggelengkan kepalanya dengan senyum sungkn, membuat Luna menjadi bingung dan menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu.


" Jadwal selanjutnya kita akan melakukan pemotretan outdoor, tapi bukan karna itu aku datang ke tempat ini. Aku ingin mengajakmu pergi jalan – jalan, itupun jika kau tidak merasa keberatan," ujar Leo yang membuat Luna terdiam, gadis itu menatap penampilannya yang sama sekali tak terlihat pantas untuk bepergian, hal itu disadari oleh Leo.


" Kau boleh bersiap – siap terlebih dahulu, aku akan menunggumu di sini," ujar Leo yang membuat Luna membuka mulutnya.


" Di sini? Mengapa tidak di dalam saja? Bahkan di sini tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk duduk," ujar Luna yang membuat Leo menggelengkan kepalanya,.


" Kau dari Indonesia bukan? Aku tahu sedikit budaya di sana. Aku tak akan masuk karna penghuni rumah ini hanya wanita. Aku hanya tak ingin membuatmu tak nyaman," ujar Leo yang membuat Luna kembali dibuat terkejut. Apakah pria di hadapannya ini sudah pernah ke Indonesia? Atau lelaki itu sengaja belajar saat dia bertemu dengan Luna?


" Tak perlu memikirkan banyak hal. Banyak orang Indonesia yang tidak berpikiran bahwa hal itu adalah buruk. Selama kau tidak melakukan sesuatu yang salah, tidak masalah kau ada di luar atau di dalam. Ayolah masuk dulu ke rumahku, tidak akan ada masalah," ujar Luna yang membuat Leo mengangguk dan tersenyum.


Lelaki itu duduk manis di sofa sementara Luna ijin untuk bersiap. Banyak yang harus gadis itu siapkan, namun dia memilih barang yang penting saja seperti power bank, ponsel dan dompet. Dia tak tahu Leo akan membawanya kemana, namun jika dilihat dari pakaian Leo, mereka bukan ingin pergi ke tempat yang formal.


Luna akhirnya selesai bersaip setengah jam kemudian. Waktu bersiap paling singkat yang pernah Luna lakukan selama hidupnya. Gadis itu memakai sepatu putih dan tas selempangnya. Leo tersenyum melihat penampilan Luna. Sudah hampir satu bulan Luna bekerja bersamanya, pesona gadis itu tak pernah luntur sedikitpun.


" Sebenarnya aku belum tahu akan mengajakmu kemana, apakah ada tempat yang ingin kau tuju?" tanya Leo yang membuat Luna berpikir. Dia tak banyak tahu nama tempat yang ada di negara ini, namun dia mengingat satu tempat yang akan membuatnya rileks, dia sangat ingin pergi ke tempat itu namun sampai saat ini dia tak bisa pergi ke sana.


" Aku pernah menonton reality show grub favoritku, itu ada di namsan tower, kita harus memakai kereta gantung untuk sampai di tempat itu. apakah tempat itu jauh dari sini?" tanya Luna yang membuat Leo berpikir. Tempat itu cukup jauh dari posisi mereka, tapi bukan mustahil mereka pergi ke tempat itu.


" Kita bisa ke sana. Aku memarkir mobilku di depan gang, kita bisa pergi ke tempat itu menggunakan mobil. Apa kau setuju?" tanya Leo yang membuat Luna mngangguk senang. Mereka langsung berdiri dari tempat mereka dan hendak pergi, namun Lira tiba – tiba keluar dari kamarnya dan menatap Luna dengan terkejut.


" Sejak kapan Lo dekat sama nih orang? Lo harusnya ingat dia baru aja hadir di hidup Lo. Kenapa Lo gak kapok sih? Kalau Lo diculik dan diapa apain sama dia gimana? Lo mau kemana sama dia?" tanya Lira yang membuat Luna menutup matanya. Lira sangat berisik dan membuatnya pusing.


" Jadi ini yang dirasain orang di sekitar gue kalau gue lagi berisik. Kuping gue aja dengung banget nih, apalagi mereka yang dnegar gue diap hari coba?" desis Luna yang membuat Lira melebarkan matanya. Luna langsung tersenyum dan meminta damai pada gadis itu. Luna langsung menjelaskan apa yang terjadi dan kemana dia pergi.


" Gue masih gak bisa percaya sama nih orang, kenapa Lo percaya banget sih sama dia?" tanya Lira yang membuat Luna memutar bola matanya. Bahkan Leo sangat sopan dan selalu memperlakukannya dengan baik, Lira tak perlu khawatir dengannya. Namun tetap saja Lira merasa curiga dengan Leo. Leo pun menjadi tak enak kepada Lira.


" Aku tak tahu apa yang kau rencanakan dan apa yang kau inginkan dari Lunetta. Namun jika dia terluka, aku tak segan membalaskan berkali – kali lipat padamu. Apa kau mengerti?" tanya Lira dalam bahasa Korea yang meembuat Leo terkejut, namun lelaki itu menganggukkan kepalanya pelan, wajahnya masih tegang, membuat Luna merasa bingung karna hanya dia yang tak mengerti.


" Lo gak ngomong aneh – aneh kan sama dia? Gak uah bikin dia takut. Lo ngomong apa sampai dia tegang kayak gitu?" tanya Luna dengan galaknya. Lira mengedikkan bahunya dan beranjak dari tempat itu, meninggalkan Luna dan Leo yang masih terdiam di tempatnya.


" Gwenchana-yo?" ( apa kau baik baik saja?) tanya Luna yang membuat Leo tersadar dan menatap Luna. Lelaki itu tersenyum, dan menganggukkan kepala. Dia segera mengajak Luna untuk keluar dari rumahnya agar mereka bisa segera berangkat ke tempat yang Luna inginkan.


Tak bisa dipungkiri Luna sangat bahagia, ini pertama kalinya dia pergi berwisata ke tempat yang cukup jauh. Apalagi Lira ak ikut bersamanya saat ini, gadis itu sedang sangat sibuk, entah apa yang dilakukannya. Luna pun curiga, namun dia tak mau bgitu mencampuri urusan Lira karna Lira hanyalah seorang teman yang dipilih papanya untuk menjadi penerjemah sekaligus temannya saat berada di negara ini.


Jika dibanding dengan Adel, Key dan Lucy, kedekatan Luna dan Lira tak ada apa – apanya. Bahkan mereka tak banyak berbicara hal yang mendalam satu sama lain, mereka lebih cenderung mengobrol ringan saat mereka pergi berdua dan sibuk dengan urusan masing – masing saat mereka sudah sampai di rumah.


Kembali pada Luna yang sudah tak sabar untuk menaiki mobil gantung di daerah ini. Leo mencari tempat parkir dan mereka segera turun dari mobil, meski bukan hari minggu atau hari libur, tempat ini sangat ramai pengunjung. Mereka semua ingin melihat indahnya kota ini dari atas.


" Apa saja yang ingin kau lakukan di tempat ini?" tanya Leo saat mereka sudah mengantre untuk tiket. Luna langsung menatap Leo dengan senyum lebarnya, dia sudah tahu apa saja yang akan mereka lakukan, ini saatnya dia 'balas dendam' atas waktu 'sibuk'nya sampai dia tak bisa mengunjungi tempat ini.


" Aku ingin napak tilas dengan apapun yang dilakukan oleh idolaku di tempat ini. Aku ingin menaiki mobil gantung, aku ingin makan kentang ulir yang di dalamnya terdapat sosis, aku juga ingin memasang gembok dan aku ingin melihat kota seoul dari puncak menara," ujar Luna yang membuat Leo melongo, gadis itu sudah sangat tahu apa saja yang ada di tempat ini.


" Kau sangat keren, apa kau sudah pernah ke tempat ini sebelumnya? Kenapa kau sudah tahu apa saja yang ada di tempat ini? Aku bahkan tak tahu hal itu," ujar Leo yang membuat Luna tertawa.


" Aku sudah mengatakan kalau aku hanya ingin melakukan apa yang idolaku lakukan. Mereka tampaak bahagia di video yang aku tonton, aku juga ingin melakukannya. Sebenarnya aku tak tahu apa saja yang ada di tempat ini, namun aku ingin pergi ke tempat yang mereka datangi di masa lalu," ujar Luna yang membuat Leo mengangguk paham.


" Arraseo, kita akan lakukan apapun yang kau inginkan untuk hari ini. Kita tak memiliki jadwal padat untuk beberapa waktu ke depan," ujar Leo yang membuat Luna mengerutkan keningnya, bahkan dia sudah melihat kertas jadwal Leo dan kertas itu dipenuhi oleh tulisan korea beserta tanggal, bukankah itu jadwal kegiatan untuk Leo?


" Aku sudah meminta temanku untuk menggantikan jadwalku, aku akan kosong untuk beberapa hari ke depan. Sebenarnya aku berencana mengajakmu untuk berlibur ke Jepang, di sana sangat indah dan menyegarkan, namun aku rasa akan terlalu jauh untuk kita pergi ke sana bersama," ujar Leo yang membuat Luna berbinar.


" Oke, lain kali kita akan pergi ke Jepang, mungkin kita bisa melakukan pemotretan di sana juga. Aku akan mengatur jadwalnya. Sekarang mari kita nikmati waktu di tempat ini," ujar Leo yang membuat Luna mengangguk semangat. Mereka masuk ke dalam mobil gantung dan Luna langsung mencari posisi di ujung.


" Wah, pemandangan yang sangat indah. Aku sudah menontonnya dari Video, namun menyaksikan langsung ternyata jauh lebih indah dari yan gaku bayangkan," ujar Luna yang membuat Leo tersenyum lega, dia hanya ingin sedikit lebih dekat dengan Luna dan dia berhasil melakukannya, Luna merasa bahagia dan gadis itu terus tersenyum.




( Mobil Gantung Namsan Tower, pemandangan kota Seoul dari dalam kereta gantung)


" Aku juga baru pertama kali menaiki ini, ternyata sangat indah," ujar Leo yang langsung memegang kamera yang dia bawa dan mengarahkan kamera itu untuk menangkap gambar pemandangan di sana. Leo juga mengarahkan kamera ke arah Luna dan tersenyum puas dengan hasilnya. Bahkan Luna tak berpose, namun hasilnya tetap saja bagus.


Mereka turun dari mobil gantung dan berjaan – jalan di tempat itu. Leo mengambil banyak gambar pemandangan yang ada di sana, sementara Luna hanya membiarkan dirinya rileks dan menghirup udara bersih di tempat itu berkali – kali. Tujuannya pergi ke negara ini hanya untuk menyegarkan pikirannya, dan inilah saat yang dia tunggu.


" Apa kau mau mencari kentang ulir? Sepertinya sudah tak ada menjual di tempat ini. Kapan kau melihat video itu?" tanya Leo yang membuat Luna berpikir, dia mengingat kapan pertama kali dia menyukai grub idol tersebut.


" Aku menonton Video itu saat tahun 2018, tapi video itu dibuat dan rilis tahun 2013 sampai tahun 2014. Sekarang sudah tahun 2020, pasti sudah banyak yang berubah," ujar Luna yang membuat Leo membuka mulutnya. Dia kira Luna menonton Video baru makanya Luna sangat menginginkannya, ternyata video yang Luna tonton sudah sangat lama.


" Okay, kita akan mencarinya dulu, tapi apa tidak apa jika kita tak menemukannya?" tanya Leo yang diangguki oleh Luna. Gadis itu sudah cukup puas dengan bisa datang ke tempat ini, dia juga ingin memiliki kesan dengan menulis gembok dan merekatkan gembok itu ke tiang yang ada di sana.


" Sepertinya memang sudah tidak ada yang menjual makanan itu, lebih baik kita langsung pergi ke puncak menara untuk melihat Seoul? Atau kau mau memasang gembok dulu?" tanya Leo yang membuat Luna memilih melihat dari puncak. Menurut Video yang dia lihat, mereka hanya memerlukan sedikit waktu untuk melakukan hal itu. Luna sangat bersemangat sampai mereka berada di atas menara.


" Ah, bagaimana aku baru menyadari kota ini sangat indah? Pasti akan sangat baik jika kita pergi ke tempat ini di malam hari," ujar Leo yang disetujui oleh Luna, mereka segera melakukan apa yang ingin mereka lakukan di tempat itu dan Luna segera menuju pohon gembok yang sangat terkenal di tempat ini.



" Wah, bahkan tembok dan pagar, semua sudah diisi dengan gembok, sangat indah. Yeppo," ujar Luna yang membuat Leo tersenyum. Lelaki itu mengajak Luna untuk masuk ke sebuah toko yang ada di sana dan memilih gembok yang akan mereka tulis dan mereka pasang di tempat itu.


" Apakah ada sebuah nama yang akan kau tulis di gembok itu? Siapa yang menjadi orang beruntung itu?" tanya Leo dengan iseng. Luna terdiam dan dia mengambil spidol yang disediakan dan menulis inisial nama di gembok itu. Luna tersenyum menilhat hasil karyanya.


" Siapa yang kau tulis? Mengapa kau tampak bahagia sekali?" tanya Leo penasaran dan mencoba mengintip hasil karya Luna.


" Rahasia, kau tak boleh tahu," ujar Luna yang trsenyum manis dan menyembunyikan gembok miliknya. Luna membawa gembok itu dan meminta Leo berpisah darinya, dia memasang gembok itu di salah satu pagar yang ada di sana dan tersenyum.


" Semoga semua selalu terkunci di sana. Selama gembok ini tak disingkirkan, semoga semua akan lekas membaik," ujar Luna yang langsung berdiri dan pergi dari sana. Gadis itu menghampiri Leo yang juga memasang gembok yang dia tulis.


" Setelah ini kita mau kemana? Eh tapi lebih baik kita makan dulu, aku tahu restoran yang enak yang ada di sini," ujar Leo yang diangguki oleh Luna. Mereka segera pergi dari tempat itu. Mmebiarkan kenangan mereka tetap abadi selama tembok dan pohon yang ada di sini masih berdiri.


" Luna bahagia hari ini, terimakasih sudah mengajak Luna pergi ke tempat indah seperti ini. Sebenarnya Luna mau ke tempat lain seperti di video itu, tapi Luna rasa sudah cukup," ujar Luna yang membuat Leo ikut mengangguk lega.


Luna menepuk jidatnya saat mencari sesuatu di dalam tasnya, dia menengok ke arah Leo dengan tatapan yang bingung.


" We need to go home now, I've forget bring My medicine. That's very important for me." Perkataan Luna tentu membuat Leo mengernyitkan kepalanya.


" Medicine? Why do you need some Medicine? Are you sick?" tanya Leo dengan panik.


" Gwenchana, I just need my medicine, please go home quickly, Jaebal." Leo pun mengangguk dan menambah kecepatan agar mereka bisa segera sampai di rumah Luna.


' Mengapa gadis ini sangat takut? Apa yang diderita oleh gadis ini?"