Hopeless

Hopeless
Chapter 165



" Abang, Luna bener – bener bingung bang, kaki Luna lebih sering kesemutan sekarang," ujar Luna yang mengadu pada Jordan lewat panggilan Video yang mereka lakukan. Jordan menyatukan alisnya dan menatap Luna dengan bingung. Tampak di belakang Jordan ada Danesya yang juga ikut mendengarkan mereka meski gadis itu fokus pada majalah yang dibacanya.


" Sejak kapan kaki kamu sering ksemutan gitu? Dulu kamu gak pernah kayak gini kan?" tanya Jordan yang diangguki oleh Luna. Gadis itu mengangguk lesu dan menampakkan wajah sedihnya. Tampak sekali gadis itu frustasi dengan keadaannya sendiri, bahkan rasa kesemutan itu belakangan juga dia rasakan sampai ke tangan dan bahkan ke telinganya.


" Gak tahau juga bang, mungkin satu bulan terakhir ini, sejak eemm, sejak Luna sama kak Darrel kehujanan, terus Luna lihat kak Darrel mimisan, kayaknya mulai itu deh bang Luna sering kesemutan," ujar Luna dengan wajah serius sambil mengingat – ingat sejak kapan dia mengalami itu semua. Ah, Luna bahkan sempat melupakan kasus mimisannya Darrel.


" Darrel mimisan? Kok kamu baru kasih tahu abang? Kok Darrel gak kasih tahu abang? Wah pelanggaran kalian ini, udah mulai gak jujur sama abang hmm?" tanya Jordan seperti ayah yang memergoki anaknya berbohong. Luna memicingkan matanya dan menatap Jordan dengan tatapan protes.


" Gak ada perlunya Luna cerita semua ke abang, apalagi kak Darrel, emang kak Darrel siapany abang? Kan belum resmi jadi adik ipar. Jangan terlalu mengekang kak Darrel bang," ujar Luna dengan galak dan membela Darrel. Sepeetinya memang keterlaluan jika apapun yang dilakukan Darrel harus lapor pada Jordan, sama saja melepaskan kebebasan Darrel setarus persen.


" Kamu gak akan ngerti apa yang terjadi, kamu gak tahu apapun, kasih tahu Darrel buat telpon abang sekarang, kalau gak abang bakal terpaksa lakuin semua. Bilang itu ke dia," ujar Jordan yang tiba – tiba kehilangan moodnya dan bersikap dingin pada Luna. Bahkan gadis itu sendiri terkejut dengan perubahasn sikap Jordan.


" Kalau Luna gak tahu apa – apa tuh kasih tahu Luna biar Luna tahu dan paham. Kenapa kalian seakan nyembunyiin sesuatu dari Luna? Luna juga berhak tahu karna Luna yang udah buat kalian kenal, kenapa Luna yang disampingkan di sini?" Tanya Luna dengan sedih, Jordan kira gadis itu akan menangis, nyatanya gadis itu hanya menarik napas panjang, dan mengangguk.


"' Lunapaham, urusan laki – laki kan? Ya udah, Luna gak akan kepo atau nanya apapun lagi, Luna bakal bilang ke Kak Darrel. Salam buat papa sama Danes," ujar Luna tersenyum kecut dan langsung mematikan sambungan telpon meski dia melihat wajah Jordan berubah Drastis sebelum dia menutup panggilannya. Gadis itu segera mencari nomor Darrel setelah itu.


" Halo kak Darrel, kak Darrel sibuk gak?" tanya Luna setelah lelaki itu menjawab panggilannya. Entah mengapa hati Luna terasa nano – nano untuk saat ini. Di satu sisi dia tak bisa menolak perintah Jordan, namun di sisi lain dia merasa ada situasi yang sangat janggal.


" Tadinya sih mau sibuk, tapi karna kamu nelpon gak jadi sibuk, kenapa? Kamu kangen aku? mau aku datengin ke rumah sekarang?" tanya Darrel dengan manis, yang tanpa sadar membuat Luna tersenyum, entah sejak kapan Darrel selalu bersikap imut dan menjjikan seperti ini di hadapan Luna.


" Bang Jordan bilang kamu harus telpon dia sekarang, dia titip pesen, kalau kamu gak telpon dia sekarang, dia bakal ngelakuin hal itu dengan terpaksa. Luna gak tahu hal apa, kayaknya kak Darrel udah langsung paham kalau Luna bilang ini, tebakan Luna bener kan?" tanya Luna yang tak dijawab oleh Darrel.


" Lun, matiin dulu ya, aku mau ngomong sama bang Jordan dulu, gak papa kan?" tanya Darrel tanpa menanggapi pertanyaan Luna, membuat Luna menyimpulkan sendiri jawaban itu dalam benaknya. Luna mengiyakan permintaan Darrel dan langsung menutup panggilan mereka agar Darrel dapat menelpon Jordan, entah apa yang dilakukannya.


*


*


" Kenapa lo gak cerita apapun ke gue masalah Lo mimisan?" tanya Jordan yang membuat Darrel mematung seketika. Untuk pertama kali setelah sekian lama, Jordan meminta Darrel menelponnya memakai internet dan memakai video call untuk melihat wajah lelaki itu.


" Kenapa lo gak bisa jawab? Lo gila ya? Gue udah iya in semua yang lo mau, gue udah lakuin semua yang terbaik buat kalian semua, bahkan gue harus bayar denda yang sebegitu banyak karna Lo mundur dari Jepang. Semua bakal sia – sia kalau sampai semua kebongkar," ujar Jordan yang membuat Darrel semakin takut menghadapinya.


" Gue gak apa – apa bang, gue Cuma mimisan biasa, gak ada sesuatu yang buruk. Udah deh bang, gue udah sembuh sepenuhnya, gua bahkan lolos tes buat ke Jepang itu, dan untuk ganti rugi gue bakal nyicil ke abang, tapi kasih gue waktu," ujar Darrel dengan nada frustasi dan wajah yang memelas.


" Lo tahu kan bukan uang yang jadi masalahnya? Gue khawatir sama kalian, Lo bisa bilang lo gak kenapa – napa, tapi kalau nanti kenyataannya enggak gimana? Gilak lo!" ujar Jordan sambil menyentak Darrel. Darrel bahkan sampai terkejut dan tampak terpelonjak kaget.


" Bang, gue tuh udah gak kenapa – napa. Gue udah sembuh seratus persen, dokter Vio juga udah bilang gue gak kenapa – napa, malah dokter Vio bahas dan ngasih tahu kondisi Luna kalau Luna itu.."


" Diem," potong Jordan sambil melirik Danesya yang ada di belakangnya. Namun Danesya sudah mendengar semua. Gadis itu menatap Darrel dan Jordan dengan curiga, dia sudah merasa ada yang tak beres dengan mereka setelah Jordan menyentak Luna. Danes sangat tahu bahwa Jordan tak pernah tega dan selalu lunak pada Lunaa.


" Danesya udah tahu ada yang gak beres sejak abang bentak Luna. Sejak kapan abang sekeras itu sama Luna? Apapun yang terjadi sama Luna, Danesya harus tahu bang, Danesya juga kakak Luna, kakak kembarnya. Danesya gak mau jadi orang bodoh yang gak tahu apa – apa tentang kondisi adek Danesya."


Jordan menghela napasnya dan menatap Darrel dengan jengkel, sementara lelaki yang ditatap hanya mengedikkan bahu dan tak ikut campur dengan urusan keluarga di depannya. Lelaki itu memutuskan mematikan sambungan telpon mereka agar Jordan bisa menyelesaikan urusannya. Darrel kembali pada kesibukannya.


Lelaki itu tanpa sengaja menemukan selembar foto dirinya saat kecil. Lelaki itu tersenyum saat mengingat kembali apa yang sudah dia lalui selama ini. Lelaki itu kurus meski tetap saja rupawan. Yah, foto dirinya entah saat SD atau TK.


Entah kelainan apa yang dialami oleh Darrel, lelaki itu seringkali mimisan saat terlalu lelah, bahkan saat kecil, dia akan mimisan setelah bermain bola. Hal itu yang membuat orang tuanya sangat khawatir pada kondisinya, apalagi saat itu mereka sedang terdesak oleh urusan persaingan bisnis papanya.


Namun kebiasaan itu mulai hilang dengan sendirinya, lelaki itu tak pernah mimisan lagi saat beranjak dewasa, meski tubuhnya sangat letih, asalkan dia meminum vitamin, dia tak akan dan tak pernah lagi mengalami hal itu. Itu lah mengapa dia sebenarnya kaget saat dia kembali mimisan, dan parahnya semua itu terjadi di depan Luna.


Itulah sebabnya pula Darrel merasa biasa saja saat mimisan, dia tak panik dan hanya berusaha mengeluarkan semua darah yang ada di hidungnya. Sambil berpikir bagaimana mungkin setelah sekian tahun tak mengalami hal ini, dia akhirnya kembali ke kebiasaan lamanya. Kebiasaan yang akan menjadi heboh jika sudah berurusan dengan Luna.


Kini yang jadi beban pikirannya bukan hanya kondisinya yang sepertinya akan memburuk jika dia terus memforsir dirinya. Di sisi lain dia juga memikirkan Luna yang kian hari kian dia khawatirkan. Jangan sampai gadis itu tahu tentang semua hal yang dia dan Jordan berusaha tutupi sejak lama. Biarlah seperti ini, Luna yang merasa dan tahu semua baik – baik saja. Meski kenyataan tak sebaik itu.


*


*


" Abang Minta maaf karna tadi udah ngebentak kamu, abang bener – bener gak sengaja, abang tadi marah kenapa darrel bersikap seenaknya, kamu mau kan maafin abang?" tanya Jordan yang membuat Luna kembali menghela napasnya dan mengangguk dengan senyum, apapun itu, Luna harus bisa menahan diri untuk saat ini.


" Kalau abang bener – bener mau minta maaf, abang harus datang ke Indonesia secepatnya, Luna gak mau tahu, sampai waktu itu tiba, Luna gak akan maafin abang, Luna bakal terus marah sama abang," ancam gadis itu dengan wajah kesal yang di buat – buat, namun cukup membuat Jordan sedikit terkejut.


" Gak boleh tahu Lun marah lama – lama, pamali, dosa tau gak sih, udah ya gak usah marah, seminggu lagi abang pulang, dan bakal tinggal di Indonesia sebulan buat nemenin kamu, mumpung abang lagi free juga kuliahnya, oke?" Luna mengangguk setuju dan tersenyum puas setelah itu.


" Kalau abang gak tepat janji, Luna bakal marah sama abang di sisa hidup Luna, kalau hidup Luna panjang ya siap siap deh abang rasakan kemarahan Luna yang gak ada ujungnya," ujar Luna yang membuat Jordan kembali tersenyum dan menatap Luna dalam.


" Luna gak boleh bilang gitu, hidup Luna akan panjang, karna kamu adik abang, kamu bakal berumur panjang, gak usah pakai kalau, abang tahu umur itu gak pasti, tapi bakal abang pastiin kamu berumur panjang, abang bakal lakuin apapun untuk itu, kamu percaya sama abng," ujar Jordan dengan seius.


" Lunakan Cuma bercanda bang, Luna tahu lah kalau Luna bakal berumur panjang, Lunakan sehat dan baik – baik aja, Luna bakal tumbuh jadi cewek cakep dan punya pacar yang sempurna, punya anak enam terus bikin tim voli, pasti ramai deh nanti," ujar Luna yang membuat Jordan tersenyum dengan sangat dalam dan penuh arti.


" Kalau kamu jadi nikah sama Darrel, kamu cukup ngelahirin tiga kali buat dapat anak enam, karna anak kalian kemungkinan besar bakal kembar, kan mama papanya kembar semua," ujar Jordan yang malah sengaja menggoda Luna, membuat gadis itu tergagap dan terkejut atas apa yang dilakukan Darrel.


" Apa sih abang kok malah bahas itu? Luna kan jadi malu bang," ujar Luna menutup wajahnya dengan bantal, membayangkan dia menikah dengan Darrel, astaga, kenapa membayangkannya saja sudah membuatnya merasa malu?


" Kan tadi kamu yang bahas duluan, abang Cuma nambahin apa yang kamu bilang, gak usah ngeras malu gitu dong, hahaha," ujar Jordan yang malah melanjutkan aksinya menggoda Luna. Tampak Danesya mendekat dan mengambil alih kamera yang sedang menyorot ke arah Luna.


" Loh, berasa ngaca deh gue kalau gini, masih cakepan gue sih tapi," ujar Danesya saat wajahnya terpampang nayta di depan kamera. Dia tak memakai make up apapun, begitu pula Luna. Jika saja potongan rambutnya sama seperti Luna, sudah pasti dia akan seperti berkaca jika melakukan video call dengan Luna.


" Kamu gak boleh Lo gue an sama saudara sendiri, mau diaduin ke Daddy?" ancam Jordan yang tampak tak suka ketika Danesya menggunakan Lo – Gue untuk komunikasi.


" Luna juga kalau ngomong sama Danesya pakai Lo – gue kalik bang, gak usah Danesya aja yang diomelin, kali – kali tuh anak emasnya semua orang juga dimarahin, Neysa mulu yang salah," ujar Danesya dengan malas dan meletakkan ponsel Jordan begitu saja lalu keluar dari kamar Jordan menuju kamarnya.


" Lah? Tuh anak kenapa deh bang? Kok aneh gitu? Kurang sajennya?" tanya Luna saat Jordan sudah menatap ke arah Luna. Jordan mengangkat bahunya dan mengedikkan bahunya, lelaki itu heran dengan dua adiknya. Mereka saling iri satu sama lain, tanpa mereka tahu kondisi sebenarnya yang dialami oleh masing – masing dari mereka.


" Kalian tuh sebenernya sama aja. Kamu sering kan nyalahin keadaan karna kamu harus tinggal di Indonesia sementara kami bertiga di Inggris? Danesya juga ngerasa gitu, Danesya selalu ngerasa kalau abang sama papa lebih peduli sama kamu dibanding dia. Coba aja kalian bisa tahu maksud kami, kalian memang kembar, tapi tetap kalian dua orang yang berbeda."


" Abang sama papa gak pernah ada maksud untuk membedakan kalian atau membuat salah satu diantara kalian lebih spesial. Danesya sakit waktu dia dibawa ke sini, makanya dia perlu perhatian lebih untuk kesehatannnya, dan kamu gak paham maksud itu karna kamu masih kecil. Sekarang dia udah sehat total, gantian abang harus awasin kamu yang selama ini jauh dari pengawasan kami, dan Danesya gak bisa terima itu. Kamu juga, papa bukannya gak mau ajak kamu ke Inggris, tapi kamu perlu dan harus tinggal di Indonesia untuk prosesnya."


" Bahkan abang seneng dan banga, kamu udah banyak berubah, lebih dewasa dan gak begitu ceroboh, gak manja dan gak pernah boros lagi, itu yang mau dicapai sama papa, kamu sabar aja, dua tahun lagi, dua tahun dan kita semua bisa kumpul jadi satu keluarga."


" Luna ngerti sekarang, makanya Luna gak banyak menuntut lagi bang, walau sebenernya Luna masih agak marah karna Dad lebih milih bikin Luna masuk STM dibanding ngedidik Luna pakai cara lain. Tapi bagaimanapun Luna juga bersyukur, Luna dapat banyak pelajaran berharga selama di sini, Luna bahagia."


" Itu baru adik abang. Kalau gitu abang tutup dulu ya, abang harus pastiin Danesya baik – baik aja, semangat ya," ujar Jordan dengan lembut dan mematikan sambungan telpon setelah melambaikan tangannya. Luna tersenyum dan menatap dinding langitnya dengan bahagia.


" Dua tahun lagi Luna, semangat!" ujar gadis itu mengepalkan tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.