
Radith berjalan ke sebuah ruangan, ruangan yang bertuliskan CEO di gedung itu. Di sana dia sudah ditunggu oleh dua orang lain. Dia bingung untuk urusan apa mereka berkumpul di gedung yang bahkan sudah bukan miliknya lagi. Atau Radith yang tidak mengetahui sesuatu yang mereka ketahui? Banyak pertanyaan timbul di pikiran Radith untuk saat ini.
" Akhirnya kamu datang. Ini adalah surat dimana harta kekayaan kamu sudah dipisah dari harta kekayaanku. Kamu bisa mempergunakan harta itu menerukan usahamu yang sudah berjalan, atau untuk modal usaha lain. Untuk modal yang waktu itu sudah Om berikan untuk kamu, kamu gak perlu mengembalikannya, Om sudah dapat lebih banyak untuk itu."
Ya, saat ini Radith berada di gedung perusahaan keluarga Wilkinson dimana tuan Wilkinson sudah duduk di kursi dan Jordan duduk di sofa dengan ponsel yang dia mainkan. Jordan tampak serius dengan game yang sedang dia selesaikan. Dia sengaja memainkan game itu untuk melepas penat karna menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu memang menguras tenaga.
" Ta.. tapi bukannya waktu itu Om udah tanda tangan balik nama semua aset yang Om punya ke pak Indra? Bagaimana bisa sekarang semua harta itu kembali seperti ini? Apa yang sudah Om lakukan?" tanya Radith dengan bingung. Tuan Wilkinson sedikit tersenyum melihat Radith yang bingung.
" Apa kamu pikir keluarga Wilkinson bisa dibodohi oleh tikus – tikus tak berguna yang hanya ingin merampas tanpa usaha yang benar? Selama aku masih hidup, aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan mendongak dan menatap papanya dengan tatapan sinis.
" Ehem. Bahkan di memori Jordan, Jordan mengingat ada pria tua yang kebingungan mencari jalan, dan sempat tak percaya dengan semua yang Jordan sarankan. Padahal saran itu yang membuat kita semua selamat dari bencana yang mengerikan," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson berdecak. Tuan Wilkinson langsung menatap Jordan sampai Jordan menatapnya.
" Tidak bisakan kau diam sebentar sja agar aku bisa menyombongkan diriku di depan dia? Bagaimanapun Papa adalah bos besar di sini dan aku yang berhak untuk mengeluarkan ide seperti itu. Kamu anak papa dan apa yang ada di pikrian kamu adalah pikiran papa, jadi itu adala ide papa."
" Tunggu, ide? Rencana? Memaang apa yang sudah terjadi di sini? Radith masih belum paham. Tolong jelaskan pada Radith," tanya Radith yang membuat tuan Wilkinson tersenyum puas. Tuan Wilkinson meminta Jordan untuk menjelaskan pada Radith atas semua yang sudah terjadi. Jordan pun hanya menurut dan mulai menjelaskan pada Radith.
~ flashback
" Bagaimana caranya menyelamatkan mereka semua? Papa tidak bisa kehilangan semua harta yang sudah papa kumpulkan, tapi papa lebih tidak bisa kehilangan mereka karna harta ini," ujar tuan Wilkinson dengan khawatir, Jordan langsung berdecak melihat kegelisahan papanya dan meminta papanya untuk mendekat agar dia bisa berbisik.
" Orang itu meminta harta papa? ya papa tinggal berikan surat harta itu pada orang yang meminta dan bawa Luna, Radith, Darrel kembali dengan selamat. Nyawa mereeka jauh lebih berharga bukan?" tanya Jordan yang membuat tuan Wilkinson menjauhkan kepalanya. Jika itu sebuah solusi, tuan Wilkinson masih ragu untuk menerimanya dengan sukarela.
" Papa hanya memberikan surat padanya dan tanda tangan. Tapi jangan berikan cap perusahaan. Mungkin papa lupa akan hal itu karna papa sudah telalu lama tidak berurusan dengan hal ini. Tapi Jordan akan baik hati untuk mengingatkan papa asal papa mau menuruti apa yang Jordan minta," ujar Jordan dengan senyum sinisnya
" Kau mencoba bernegosiasi dengan papa pakai cara yang seperti ini? Kenapa kau jahat sekali dengan papa kandungmu? Papa yang sudah membuatmu ada di dunia ini dan papa juga yang sudah memebuatmu bertahan hidup sebesar ini. Apa papa harus membayarmu saat papa memintamu menyelamarkan adikmu sendiri?" tanya tuan Wilkinson dengan dramatis.
" Berhenti mendramatisir keadaan, Kau membuatku geli pak Tua. Baiklah, Jordan anak yang baik, Jordan akan sukarela menyampaikan hal ini ke papa. setiap perusahaan pasti punya berkas kuasa pengalihan saham dan aset, itu kan yang diminta pak Indra? Kita punya banyak kertas seperti itu di perusahaan ini, kenapa kita susah – susah mempertahankan kertas itu dan mengorbankan keselamatan manusia?"
" Berikan kertas itu sebanyak yang dia mau, kertas – kertas itu tak akan berguna jika tidak di cap dengan cap perusahaan. Papa hanya perlu memberikan kertas itu dengan wajah melas yang meyakinkan agar dia percaya. Papa tidak perlu menjelaskan untuk berkas seperti itu diperlukan cap resmi."
" Tapi bagaimana jika dia menyadari hal itu dan mempermasalahkannya? Itu akan jauh membahayakan nyawa semua orang yang ada di sana. Daddy gak bisa ambil resiko itu," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan merasa gemas. Jordan bahkan tak percaya yang ada di hadapannya ini adalah papanya.
" Kita tidak akan tahu jika tidak mencoba. Sejak kapan papa pesimis seperti ini? Bahkan jika semua itu gagal, Jordan sudah punya rencana cadangan. Jordan bukan orang yang merencakan sesuatu dengan tidak matang," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson tertarik. Tuan Wilkinson menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Jordan.
" Kita siapkan semua pasukan, kita kepung dan kita habisi semua orang pak Indra yang ada di sana. Setidaknya kalau dia menyadari surat itu tidak berguna, dia tidak punya kesempatan untuk banyak menyerang karna jumlah kita mendominasi. Jordan bakal ikut dan bawa helicopter sendiri. Jordan juga udah kirim semua orang menyusur hutan itu."
" Mereka yang menyerah akan selamat dan diampuni, mereka yang memberontak akan mati. Jordan sudah minta mereka untuk melakukan itu dan memastikan pak Indra tidak akan bisa pergi kemanapun kecuali papa yang memerintahkan pria itu untuk pergi," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson menjadi takjub.
" Kau bahkan tidak terlihat peduli dengan masalah ini dan terus bermain game, ternyata kau sudah menyiapkan semua dengan matang dan kau bahkan berpikir jauh lebih baik dari papamu ini. Ah, kau pasti benar anak kandungku, kau luar biasa," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan berdecih, lelaki itu menutup laptop yang ada di depannya sedikit kasar.
" Kau tak perlu memujiku untuk memuji dirimu sendiri pak Tua. Lebih baik kita siapkan semua sekarang karna kita tak punya banyak waktu lagi. Jordan yakin mereka sudah mulai menyiksa tiga anak itu. Jordan heran, kenapa Darrel dan Radith tidak menunggu kita saja sih?" tanya Jordan sedikit kesal.
" Yah, walau yang mereka lakukan menambah pekerjaanku, aku tetap bersyukur mereka memiliki rasa peduli yang besar kepada Luna. Mereka bahkan sampai rela menyerahkan keselamatan mereka untuk Luna. Daddy cukup bersyukur karna Luna di kelilingi orang yang seperti itu,' ujar tuan Wilkinson yang tak bisa menutupi kebanggaannya pada Darrel dan Radith.
" Ayo kita selamatkan anak – anak tengil itu," ujar Jordan yang mendapat lirikan tajam dari tuan Wilkinson. Jordan sengaja membuat papanya kesal karna dia tahu papanya sangat bangga dan sayang pada anak – anak itu, pasti papanya tidak terima Jordan memanggil mereka dengan sebutan 'tengil'.
~ Flashback done
" Dia akan kemari cepat atau lambat, tapi Om sudah meminta orang untuk menjemputnya agar dia tidak perlu repot – repot untuk datang kemari. Ah ya, kita akan pulang ke Indonesia sebentar lagi, kondisi Darrel sudah stabil, Om akan rawat dia di Indonesia," ujar tuan Wilkinson yang membuat Radith menganggukkan kepalanya, dia memang sudah rindu polusi yang ada di negara asalnya itu.
" Apa Lo gak merasa sedih karna Darrel selamat? Lo tahu kan artinya apa kalau Darrel selamat?" tanya Jordan yang diangguki oleh Radith, lelaki itu membuat senyum dengan bibirnya dan menghela napasnya dengan panjang. Akan menjadi akhir bagi dia dan Luna jika Darrel benar – benar bisa melanjutkan hidupnya.
" Gue tahu, dan gue sadar. Tapi tujuan gue buat Luna bahagia, kalau Luna bahagia dengan hal itu, ya gue udah ngerasa kalau gue itu ganteng banget, gue bakal gampang dapat pacar dengan wajah gue ini," ujar Radith yang membuat Jordan menyesal menanyakan hal itu padanya. Jordan memilih untuk kembali melihat progress penangkapan pak Indra.
Sementara itu di tempat lain, pak Indra mengamuk dan kesal saat mengetahui berkas yang sudah dia kumpulkan sama sekali tidak berguna. Dia masih bisa memanfaatkan surat yang dia buat untuk Atmaja, namun dia tak merasa cukup dengan itu semua, membuat dia merasa frustasi karna merasa dibodohi.
" Aku sudah kehilangan banyak hal dan bahkan harus merelakan anak buahku mati sia – sia. Aku tidak bisa membiarkan hal ini. Aku harus mendapatkan harta itu bagaimanapun caranya, atau aku harus membunuh mereka semua jika perlu, berani – beraninya mereka menipuku yang sudah mau mengampuni nyawa mereka," ujar pak Indra dengan geram.
Pak Indra hendak keluar dari tempat persembunyiannya, namun tiba – tiba beberapa orang mendobrak pintu rumah itu dengan senjata yang lengkap, membuat orang – orang pak Indra dan pak Indra sendiri terkejut dan memasang posisi siap untuk menyerang. Mereka tak langsung saling membunuh, karna orang yang dikirim oleh tuan Wilkinson diminta untuk mengampuni nyawa mereka dahulu.
" Jika kau mengakui kebersalahanmu dan meneyrah, kami akan mengampuni nyawamu dan tuan Wilkinson akan berbaik hati padamu. Jadi menyerahlah, kami sudah mengepung tempat ini dan kau tidak bisa pergi kemana[un lagi," ujar orang itu yang membuat pak Indra tertawa.
" menyerah? Kau pikir aku akan percaya? Jika aku ikut dengan kalian, pria berdarah dingin itu hanya akan membunuhku saat tertangkap. Kau pikir aku akan menyerah? Mimpi saja kalian. Jika ada yan harus mati, kalianlah yang akan mati," ujar pak Indra yang langsung mengarahkan senjata laras panjang dan menembaki mereka tanpa ampun.
Baku tempak tak dapat dihindari lagi, pak Indra dengan dua puluh orang yang ada di sana bukanlah tandingan 'pasukan' elit yang dikirim oleh tuan Wilkinson, apalagi mereka memakai alat pelindung diri yang tinggi, hal itu membuat pak Indra kewalahan dan bahkan satu persatu orangnya tumbang, namun pak Indra tak mau menyerah, dia tetap menembak dan menumbangkan beberapa orang tuan Wilkinson.
~ dor
Sampai pada akhirnya salah satu peluru yang ditembakkan mengenai bagian dada sebelah kiri tuan Wilkinson, tepat mengenai jantungnya dan mungkin menyobek organ itu karna cukup dekatnya jarak mereka. Pak Indra langsung memelototkan matanya dan terduduk, sampai akhirnya orang itu tak bergerak dengan darah yang mengalir dari tubuhnhya.
" Tuan, kami berhasil melumpuhkan Pak Indra dan orang – orangnya. Total yang meninggal adaah tiga puluh orang, termasuk pak Indra sendiri," ujar orang itu melalui panggilan telpon. Tuan Wilkinson memejamkan matanya mendengar berita itu, tak menyangka semua sudah berakhir.
" Bereskan semua mayatnya dan kembalikan ke pihak keluarga dengan kompensasi yang besar. Bersihkan tempat itu dan pastikan mereka semua terkubur dengan layak. Jangan sampai masalah ini terendus dengan pihak polisi," ujar tuan Wilkinson yang langsung menutup panggilan telponnya. Jordan menatap papanya dengan wajah yang sedih, dia tahu bukan ini yang diharapkan papanya.
" Papa berencana mengampuni nyawa pak Indra mengingat semua jasanya pada papa. Papa berencana memberikan dia sebagian saham papa agar dia bisa memulai usahanya sendiri dengan jujur dan baik. Tapi ternyata orang itu tak bisa percaya pada papa, dia masih menganggap papa adalah musuh yang harus dihancurkan," ujar Tuan Wilkinson dengan pelan.
" Papa sudah memberikannya pilihan dan itu lebih dari cukup. Dia yang memilih jalan hidupnya sendiri. Ini bukan salah papa, Jordan harap papa tidak terlalu terbebani dengan kematian pak Indra," ujar Jordan yang diangguki oleh papanya, namun hal itu tak membuat papanya langsung merasa lega.
" Bagaimanapun, papa yang sudah membuat pak Indra tamak seperti ini. Mungkin papa belum memberikan hal yang cukup untuknya," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan menggelengkan lagi kepalanya. Bahkan niat awal pak Indra sudah tak baik dan mereka tak menyadarinya, mereka sudah menganggap pak Indra keluarga dan mencukupi orang itu.
" Dia hancur karna ketamakannya sendiri. Bahkan karna sikap jahatnya, dia menganggap semua orang akan bersikap jahat padanya, dia yang membunuh dirinya sendiri. Bahkan dia akan tetap hidup jika dia bertobat, namun nyatanya dia tidak mau mengakui kesalahannya," ujar Jordan dengan sangat logis dan sepenuhnya pelan.
" Bagaimanapun, masalah ini sudah berakhir dan papa sangat lega sekarang. Kini hanya tinggal satu masalah lagi. Darrel, kita harus menemukan donor yang sesuai untuk menyelamatkan nyawa anak itu, papa tidak yakin dia akan bertahan lebih lama," ujar tuan Wilkinson yang membuat suasana kembali sedikit menegang.
" Kematian Darrel akan menjadi kepahitan buat Luna, setidaknya untuk yang terakhir, Radith mau melakukan sesuatu. Radith akan mencari donor yang sesuai untuk kak Darrel, Radith akan melakukan itu, mencari sampai dapat," ujar Radith yang membuat tuan Wilkinson terdiam.
" Kalau Kamu berencana untuk mendonorkan ginjalmu, sampai mati Om tidak akan menyetujuinya. Kita bukan hidup di negeri dongeng, sangat sulit hidup dengan satu ginjal, aku tak mau menambah beban dengan merawat dua orang yang seharusnya menjadi ladang uangku."
" Terima kasih atas perhatian Om pada Radith, Radith juga tidak berencana mendonorkan ginjal Radith, Radith akan mencari donornya saja," ujar Radith yang mengerti maksud candaan tuan Wilkinson.
" Yah, semoga semua lekas berakhir."