Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 34



Darrel membuka matanya dan dia bisa mendengar suara gaduh dari dalam kamarnya. Lelaki itu terlalu malas untuk mnggerakkan tubuhnya, apalagi kondisinya sangat memungkinkan untuk bermalas – malasan. Darrel mencoba mengabaikan suara itu dan mencari posisi nyaman untuk kembali terlelap. Namun suara seseorang yang berusaha membuka pintu kamarnya membuatnya sungguh tak bisa memejamkan mata lagi.


" Kak Darrel! Ini Luna! Luna bawain makanan buat kak Darrel. Pintunya gak bisa kebuka. Tangan Luna pegal banget kak!" Darrel langsung membuka matanya mendengar hal itu. Dia menatap kakinya sebentar, lalu mengambil sebuah remote yang langsung membuka pintu kamarnya. Membuat Luna langsung membuka kamar Darrel dan masuk membawa sebuah nampan berisi makanan bergizi.


" Kamu masak lagi?" tanya Darrel tanpa mengubah posisinya. Lelaki itu tampak sangat lelah, bahkan Luna bisa melihat kantong mata yang membesar dan menghitam. Bahkan di usia yang muda, Kak Darrel tampak jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya, tentu saja hal itu membuat Luna merasa sedih, dan entah mengapa dia bisa mengambil hikmah dari kecelakaan yang dialami Darrel.


" Enggak. Ini Luna buat dari rumah biar kak Darrel lebih gampang sarapannya. Kak Darrel mkan ya mumpung masih hangat," ujar Luna yang tak disahuti oleh Darrel. Lelaki itu terdiam melihat nampan yang dipegang Luna tanpa berniat menyentuhnya, padahal si satu sisi Luna cukup merasa lelah memegang nampan ini.


" Aku menyedihkan banget Ya Lun? Kamu ngelakuin ini karna anggap aku udah gak bisa apa – apa? Kamu lakuin ini karna anggap aku bakal susah ngelakuin semua hal? Aku gak bisa Lun," ujar Darrel tanpa melihat ke arah Luna. Gadis itu tentu saja kaget dan tersentak karna Darrel kembali menjadi dingin.


" Kak Darrel itu ada masalah apa sih? Kak Darrel mau putus sama Luna? Kak Darrel marah sama Luna? Karna apa kak? Luna bahkan gak mempermasalahkan kondisi kak Darrel, kenapa malah kak Darrel marah sama Luna? Kak Darrel bosan dan mau putusin Luna?" tanya Luna yang langsung memanas dan meletakkan nampan ke atas nakas dnegan kasar.


" Kalau memang seperti itu, apa kamu mau mutusin aku? aku terlalu gak pantas buat kamu Lun. Aku minder tiap kali ketemu kamu, aku udah berusaha hilangin tentang hal ini, tapi aku sadar, aku Cuma bakal bawa kamu ke bahaya tanpa bisa jagain kamu," ujar Darrel pelan. Luna menggelengkan kepalanya, tak paham dengan tingkah Darrel.


" Kak Darrel tuh udah dewasa loh kak, kak Darrel bahkan kemarin kemarin masih biasa – biasa aja, bahkan masih bisa marahin orang, kenapa sekarang kak Darrel jadi ngedown gini? Siapa yang udah bikin kak Darrel kayak gini?" tanya Luna dengan nada tak santai. Darrel menggelengkan kepalanya pelan.


" Gak ada. Makin banyak yang aku pikirin, makin yakin aku sama keputusan aku. aku gak tahu kenapa, aku udah coba terima keadaan dan fokus sama masa depan, tapi aku gak bisa. Tiap aku bangun tidur dan gak bisa gerakin kaki, aku langsung kepikiran gimana jadinya kamu kalau masih tetap sama aku," ujar Darrel pelan.


" Luna gak peduli kak, Luna gak pernah peduli tentang itu. Luna Cuma mau kak Darrel bangkit, terima kenyataan dan kak Darrel bisa jadi bos besar yang galak kayak kemarin. Bahkan masalah kemarin aja Luna yakin belum selesai kan? Yang ada hubungannya sama Karin. Kenapa kak Darrel kayak gak ada semangat buat selesaiin itu?" tanya Luna.


" Aku bakal atasin itu, tapi aku gak mau kamu terlibat sama sekali. Aku mohon sama kamu, kamu mau ya pindah dulu ke Inggris, kamu tinggal sama Kak Key, sama Danesya di rumah utama kamu yang ada di sana. Kamu mau kan?" tanya Darrel yang langsung ditolak mentah – mentah oleh Luna. Gadis itu bahkan tak berpikir untuk menjawabnya.


" Kak Darrel mau Luna pergi ke luar negeri biar kak Darrel selesaiin semua sendiri? Kak Darrel bahayakan hidup kak Darrel sendiri? Kenapa kak? Luna gak jauh lebih berharga dari nyawa kak Darrel, Luna mau di sini. Kalau kak Darrel harus berjuang, Luna bakal ada buat semangatin kak Darrel, jadi Luna mohon kak, jangan kayak gini," ujar Luna dengan frustasi.


" Kamu gak mau pergi ke luar negeri? Ya udah gak papa, aku juga gak bisa ketemu atau dekat kamu lagi. Kamu udah tahu kan pintu keluar ada dimana? Aku maau istirahat dulu," ujar Darrel yang langsung menutup wajahnya dengan selimut membuat Luna tak bisa melihat lelaki itu sama sekali.


" Kak Darrel keterlaluan. Luna gak bisa kalau dimusuhin kayak gini kak, kak Darrel kenapa aneh banget sih kak? Jangan bilang sama Luna kalau kak Darrel ada cewek lain kayak waktu itu kak? Enggak ada kan kak?" tanya Luna dengan panik dan takut. Namun Darrel tak menjawab sama sekali, membuat Luna akhirnya menunduk dan mulai menangis.


" Semua terasa berat kak buat Luna. Kenapa harus Luna yang ada di posisi kayak gini? Kenapa Luna gak bisa memiliki hubungan selayaknya remaja yang menuju dewasa. Tapi Luna enggak kan kak? Luna bahkan Cuma modal Vidcall ke kak Darrel yang gak bisa obatin rindu Luna," ujar Luna yang mulai menumpahkan semua keluhnya.


" Kalau memang kak Darrel bosan atau gak mau anggap Luna lagi, Luna gak papa, kak Darrel bilang aja. Luna bakal pergi sendiri, tapi gak perlu pakai yang kayak gini kak," ujar Luna pelan. Gadis itu mengelus dadanya yang terasa sesak, namun akhirnya dia mengangguk dan mencoba tegar.


" Kak Darrel mau Luna pergi ke luar negeri kan? Okay, Luna kan berangkat besok. Luna pulang dulu, Luna mau packing, itu sarapannya dimakan ya kak, Luna pamit. Ah ya, sampai kapanpun Luna gak akan pernah putus sama kak Darrel. Kecuali kalau kak Darrel yang putusin Luna," ujar Luna yang langsung berjalan keluar dari kamar Darrel dan menutup pintu kamar itu pelan.


Luna berusaha untuk tak menangis keras agar tak terlalu membebani Darrel. Luna tahu ada hal yang tidak beres, namun entah mengapa Luna masih merasa ada yang tak beres. Lebih baik dia mengikuti apa yang Darrel inginkan agar keadaan Darrel tak semakin memburuk, gadis itu hanya takut Darrel semakin drop.


" Maaf, apapun yang aku lakukan kemarin, hari ini dan seterusnya, maaf. Maafin aku," ujar Darrel yang menyimpan banyak beban. Lelaki itu membuka selimutnya dan berusaha mengambil nampan yang Luna tinggalkan. Satu set makanan yang lucu.


Nasi berbentuk hati, telur mata sapi berbentuk hati, sayur mayur yang ditata berbentuk hati, serta saos yang dia ukir mengelilingi piring itu. Darrel tersenyum melihat piring itu, lelaki itu tersenyum lebar dan mengambil sendok lalu memakan makanan yang ada di sana. Dia menikmati rasa makanan kali ini, karna bukan Luna yang membuat, hahaha.


*


*


*


" Giliran Lo lagi patah hati, lagi bosan, lagi sakit, Lo datangnya ke gue. Gue bukan plester Luka kali Lun," jawab Radith yang tak santai, gadis itu langsung mendesah panjang mendengar jawaban Radith yang memang sudah seperti biasanya. Namun suasana hati Luna memang sedang buruk, dia tak bisa menerima gurauan itu.


" Maaf kalau gue emang datang di saat gue lagi butuh aja, gue gak bisa ada terus buat Lo. Yah gue bisa apa coba Dith? Lo emang mau jadi pacar kedua gue? Jadi suami kedua gue? Enggak kan? Kita kan udah sahabatan Lama, kalau ternyata Lo ngerasa kayak gitu gue jadi gak enak sama Lo," jawab Luna dengan pasrah.


" Eh, eh, eh, ada apa ini? Lo lagi ada masalah berat beneran? Jadi serius banget, kaku kayak kanebo kering. Lagian nih ya, Lo tinggal ikutin aja apa mau Darrel, toh emang Lo gak ada temennya juga kan selama di Indonesia, mending Lo ke sana lah," ujar Radith yang mulai menanggapi Luna dengan serius.


" Lo emang iklas gue pergi ke sana? Lo mau LDR sama cewek seimut gue Dith? Lo gak bakal kangen sama tingkah menggemaskan gue?" tanya Luna yang membuat Radith muntah online dari seberang sana. Luna tertawa dan memencet tombol agar dia bisa melakukan panggilan video dengan lelaki itu.


" Kenapa Lo mau vidcall sama gue? Lo takut kangen gitu sama gue? Atau Lo udah mulai terpesona sama wajah gue yang tampan seperti pangeran ini?" tanya Radith sambil menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari. Lelaki itu memang tampak tampan, namun sangat biasa saja bagi Luna.


" Ya, ya, ya, Lo emang pangeran, tapi sayang kak Darrel udah kayak rajanya. Jauh wajah Lo mah kalau dibandingin sama dia," jawab Luna yang membuat Radith memutar bola matanya dengan malas. Lelaki itu meletakkan ponselnya sebentar dan kembali lagi menatap Luna yang tampak sedih.


" Lo bisa kan gak masang wajah kayak tersiksa banget gitu Lun? Gue eneg banget Lun lihatnya. Kalau Lo mau vidcall gue Cuma buat nunjukin wajah gini mending gue tutup deh," ujar Radith dengan malas. Luna langsung menggelengkan kepalanya pelan.


" Gue yakin kalau sekalinya gue pergi ke luar negeri, gue gak akan pernah bisa buat pulang ke Indonesia lagi, otomatis gue gak akan ketemu sama Lo lagi kecuali Lo yang pergi ke sana. Gue yakin sih walau wajah Lo jelek kayak pangeran monyet, gue tetap bakal kangen sama Lo," ujar Luna dengan wajah serius.


" Gue tahu, pangeran Monyet ini memang punya pesona sendiri di hati nona Lunetta yang cantik nan menawan, kayak ikan duyung pokoknya," ujar Radith dengan wajah yang sumringah. Luna tersenyum lebar, namun sesaat kemudian gadis itu langsung memasang wajah tajam saat menyadari apa yang dikatakan oleh Radith.


" Lo bilang gue ikan duyung? Maksud Lo gue dugong gitu? Sialan Lo!" ujar Luna yang ngegas. Luna bahkan tak gemuk, tidak mirip sama sekali seperti ikan duyung atau yang lebih dikenal dengan sebutan dugong, gadis itu mengerucutkan bibirnya, membuat Radith terkekeh melihatnya.


" Lo harus percaya apapun yang terjadi, semua buat kebaikan Lo sendiri, lagian Darrel kan juga bakal nyusul secepatnya kalau semua maslaah udah selesai. Apalagi bokap Lo udah sayang banget sama dia, gak mungkin Darrel gak balik ke sana," ujar Radith yang membuat Luna terdiam, gadis itu tampak mencerna apa yang Radith katakan.


" Maksud Lo? Dari mana Lo tahu kalau bokap sayang sama kak Darrel? Emang Lo ketemu sama bokap? Lo keluar negeri? Kapan?" tanya Luna yang membuat Radith menaikkan alisnya sebelah. Lelaki itu langsung meraup wajahnya dengan tangan dan menatap Luna yang masih menunggu jawabannya. Gadis itu hendak mengatakan sesuatu, namun Radith segera memotong.


" Gue emang selalu kontak sama bokap Lo, dan gue bisa tahu kalau bokap Lo emang sayang sama tuh calon suami Lo. Jadi Lo tuh gak usah takut, peluang Lo buat nikah dan bersatu sama dia itu udah besar banget," ujar Radith dengan santai namun wajahnya sama sekali tak santai.


" Yah, gue kirain Daddy pergi ke Indonesia tapi gak ketemu sama gue. Gue kan udah kangen banget sama Daddy, ya udah ah, gue mau packing dulu, bye bye my lope lope bestfriend," ujar Luna yang langsung mematikan sambungan telpon. Luna melihat ke arah koper kecil yang dia buka, dia hanya akan memasukkan skincare ke dalam koper kecil itu karna dia sudah memiliki segalanya di rumahnya.


" Gue mau bawa koper atau tas ransel aja ya? Koper aja deh biar kayak ornag yang profesional pergi ke luar negeri. Kenapa sih gak daddy aja yang pindah ke Indonesia, udah jelas – jelas mereka semua masih berstatus warna negara Indonesia, mereka harus ngurus Imigrasi terus, ribet," ujar Luna yang mengomel sambil memasukkan skincare ke dalam koper itu.


Sementara itu di tempat lain, Radith menghela napas sambil mengelus dadanya, lelaki itu hampir saja keceplosan, untung saja bakat pembawaannya yang tenang membuatnya bisa mengelabui Luna, gadis itu sama sekali taak menaruh curiga karna dia tak menampakkan wajah yang kaget.


" Kayaknya gue harus daftar casting ngegantiin bang Dalan deh, gue udah pantes banget kan bermain peran?" ujar Radith dengan kepercayaan diri yang maksimal, lelaki itu memandang ke arah kaca dan langsung memasang wajah yang cool maksimal, mengagumi dirinya sendiri.


" Oh iya, Lupa kan gue jadinya. Lo sih kegantengan, gue jadi salah fokus ke Lo," ujar Radith pada bayangannya sendiri. Lelaki itu mengambil ponselnya dan menghubungi Darrel, lelaki itu mau tahu apa rencana Darrel selanjutnya setelah membuat Luna segalau itu.


" Weh, Lo bikin pacar Lo galau dan curhat ke gue gitu, Lo gak takut kalau dia ternyata malah jadi suka lagi sama gue? Gila Lo kak, kayak gak ada rencana lain aja," ujar Radith mengomel sesaat setelah Darrel mengangkat panggilan telponnya.


" Brisik Lo, gue mau bilang sesuatu sama Lo, mungkin ini yang trakhir kali gue bilang yang kayak gini ke Lo, sekaligus alasan gue buat kejam ke Luna," ujar Darrel dengan santai yang membuat Radith memasang wajah serius sementara Darrel langsung menyampaikan rencananya pada Radith.


Mata Radith langsung melotot saat Darrel selesai bicara dan langsung mematikan sambungan telpon. Radith hendak menajwab, namun karna panggilan sudah berakhir, dia hanya hisa memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera bergegas pergi dari apartemennya.


" An*ing! Maksud Lo apa sih kak? Gue harap Lo gak kehilangan akal!" desis Radith yang mengambil kunci motornya dan menutup pintu apartemennya dengan sedikit kasar.