Hopeless

Hopeless
Chapter 166



Satu minggu berlalu, Jordan menepatinya untuk datang ke Indonesia, dan kali ini dia membawa Danesya ikut serta dnegan mereka. Danesya tak bersekolah umum di sana. Dia memiliki guru sendiri dan jam belajar bebas, apalagi dia lebih fokus untuk sekolah modelingnya dibanding sekolah akademiknya. Hal itu justru bagus bagi Mr. Wilkinson, Danesya bisa meraih mimpinya dengan fokus.


Rasa iri sempat menghinggapi gadis itu, nmaun jika dipikir, selama ini dia belum memiliki tujuan hidup yang pasti, sedangkan Danesya sudah merencanakan hal itu dengan matang bahkan saat mereka masih SD, ah, pikiran gadis itu sudah jauh ke depan di saat fisiknya sangat lemah. Berbanding terbalik dengan Luna yang memiliki fisik sehat, namun tak memiliki niat seperti itu.


" Ngapain sih Lo ikutan bang Jordan ke sini? Bukannya Lo udah betah di Inggris sampai gak mau balik? Gue bahkan gak ngerasa punya saudara kayak Lo," ujar Luna dengan pedas membuat Jordan melongo, bahkan Danesya tampak terkejut dengan sikap kasar Luna padanya, padahal dia berniat untuk berdamai dengan gadis itu.


" Udah Nesya bilang kan bang, Nesya gak mau ada urusan sama nih anak satu, salah paham mulu, manja, gak tahu tata krama, males ah," ujar Danesya dengan kesal sambil berbalik bersama kopernya. Jika bukan Jordan yang memaksanya ikut dan mengatakan sesuatu yang mengerikan jika dia tak ikut, tentu dia memilih untuk stay di Negeri yang dipimpin Ratu Elizabeth itu.


" Luna gak boleg gitu sama Danesya, kami ke sini buat kamu loh, katanya kamu ngerasa sendirian di sini, nih abang ke sini, bahkan abang gak bawa Keysha biar kita bisa Family time, masak kamu malah kayak gitu ke Danesya? Gak baik ah," ujar Jordan dengan manis dan halus. Namun Luna malah menatap Jordan dengan curiga.


" Dulu aja kalau ada Danesya pasti Danesya yang di ajak omong, Danesya yang diajak main, mana ingat abang kalau punya adik dua. Eh sekarang malah bawa dia lagi, Luna udah kepahitan sama dia, males ah," ujar Luna tak mau tahu dan memang sangat egois. Dia masih memiliki luka batin pada gadis bernama Danesya ini. Danesya bahkan tak mengingat hal itu dengan jelas, namun Luna tak melupakannya sedikitpun.


" Udah dong, itu kan udah berlalu, kalian semua tuh adik abang, abang sayang sama kalian tanpa terkecuali, Cuma abang emang gak pinter nunjukin ke kamu kalau abang bener – bener sayang sama kamu. Abang baru sadar kalau rasa sayang harus diungkapin sejak abang kehilangan Sheila. Abang baru sadar kalau abang harus bilang ke kalian kalau abang sayang kalian."


" Ayolah bang, keluarga kita bukan tipe keluarga so sweet macam keluarga cemara, Danesya geli dengarnya, lagipula pacar abang sekarang kak Keysha, kalau abang masih mikir kak Nay, lebih baik abang putusin kak Key," ujar Danesya dengan santai. Lama tinggal di Inggris, dia mulai menggunakan logika dibanding perasaan, yah, karna dia tak memiliki orang yang bisa diajak berbagi perasaan.


" Tau apa lo soal perasaan? Tahu apa lo soal kak Nay, kalau bukan karna kak Nay, Lo bahkan gak bisa berdiri tegak kayak sekarang, kalau bukan karna Kak Nay, Lo udah mati ditabrak mobil dan kalau bukan karna Lo, kak Nay gak harus meninggal mengenaskan kayak gitu, dasar gak tahu diri!" sentak Luna dengan kasar sambil berlalu begitu saja dari mereka berdua.


Danesya tampak terpukul, bukan inginnya kak Nay mendonorkan beberapa organnya untuk Danesya, bukan dia yang ingin kak Nay menyelamatkannya sampai mengorbankan nyawanya. Bahkan saat dia siuman kala itu, kak Nay sudah meninggal, dia tak bisa mengucapkan terima kasih pada malaikat itu.


" Maksud Danesya bukan gitu, bukan Nesya gak mau berterima kasih sama kak Nay, Nesya Cuma mau bilang kalau bang Jordan gak boleh pacaran sama kak Key dengan bayang – bayang kak Nay, itu bakal nyakitin kak Nay, padahal kak Kay udah sayang dan serius sama abang, kenapa Luna sejahat itu mukutnya?"


" Kamu masuk ke kamar kamu dulu, abang bakal ngomong sama Lunetta, dia terlalu mengalami hal yang sulit sejak kita pergi ke Inggris, kamu bisa paham itu kan? Gih kmu masuk kamar, mandi, istirahat, kalau lapar telpon chef aja," ujar Jordan yang diangguki oleh Danesya. Gadis itu berjalan dengan menyeret koper besarnya.


" Abang, Danesya lupa kamar Danesya yang mana," ujar Danesya dengan wajah wingungnya saat dia sudah cukup jauh dari Jordan. Lelaki itu terkekeh, sudah bertahun – tahun gadis itu tak tinggal di sini, wajar saja jika dia lupa tentang keadaan rumah ini.


" Yang lantai satu semua punya kamu, lantai dua punya abang, lantai tiga punya Luna, lantai 4 buat kumpul – kumpul atau kalau ada acara," ujar Jordan dengan jelas, membuat Danesya mengangguk dan kembali berjalan untuk melanjutkan langkahnya. Kini dia ingat, dia lebih menyukai lantai 1 karna dia tak bisa memanjat dan takut ketinggian.


Sedangkan Luna kebalikannya. Gadis itu suka sekali berada di tempat tinggi, bahkan gadis itu memiliki rumah pohon sendiri saat mereka kecil. Hal itu membuat Danesya merasa jauh dari Luna, yah, mereka memang sering main bersama, namun jika badmood Luna 'kumat' gadis itu lebih memilih bermain sendiri di rumah pohon sedangkan Danesya menuggunya di bawah.


Danesya memasuki kamar yang sudah bertahun – tahun dia tinggal. Gadis itu tersenyum dan mendekati pendingin ruangan untuk menyalakannya. Meletakkan kopernya sembarangan dan langsung tidur di kasur besar berwarna merah. Tempat terbaik baginya untuk merebahkan diri.


Gadis itu bangun dari posisinya dan bernostalgia dengan barang – barangnya yang sama sekali tak berubah. Mereka yang mewarat kamar ini hanya membersihkannya, tidak membuang atau mengganti apa yang ada di kamar ini. Danesya tersenyum melihat barang – barang masa kecilnya yang tertata rapi di setiap bagian kamar ini.


Dinding dengan gambar Hello Kitty berwarna merah, satu lemari peuh berisi boneka koleksinya, dan bahkan ada satu keranjang mainan untuk masak – masakan. Ah, ternyata dulu dia sangat boros untuk mainan, tk seperti adiknya yang lebih tertarik memainkan beberapa boneka, tapi tak sampai menumpuk seperti miliknya.


" Gak tahu gue harus seneng atau sedih balik lagi ke rumah ini, rumah yang penuh kenangan, tapi gak semua kenangan bahagia. Pada akhirnya, gue harus pulang ke rumah, rumah dimana gue dilahirkan, Daddy bener, gue gak bisa terus stay di Inggris sedangkan Luna sendirian di sini. Semoga Lo ngerti dan stop salah paham sama gue Lun, mau gimana pun Lo tetap adik gue, adik kembar gue."


*


*


" Luna, boleh abang masuk?" tanya Jordan dari depan pintu sambil engetuk pintu kamar Luna. Jordan sangat mengerti alasan Luna membenci Danesya begitu dalam. Bahkan Jordan mengerti mengapa Luna sangat menyayangi Nayshilla melebihi rasa sayang gadis itu pada dirinya.


" Masuk aja, pintunya gak dikunci," ujar Luna kencang dari dalam kamar. Jordan membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam sana. Di lihatnya Luna sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap suasana luar dan berkecambuk dengan pikirannya sendiri. Jordan yang melihat itu tentu menjadi tak tega dan mendekati gadis itu.


" Luna udah gak marah sama dia, Luna Cuma kesal karna dia malah nyebut kak Nay kayak gitu, gak tahu terima kasih. Tapi setelah Luna di sini dan lihat ke arah pohon itu, Luna jadi ngerasa bersalah udah bersikap kayak gitu ke Danesya bang," ujar Luna menunjuk ke arah pohon tua yang sudah ada sejak Luna kecil.


" Kamu ngerasa berrsalah? Maksudnya? Karna apa?" tanya Jordan dengan bingung, jika karna membentak Danesya, tak mungkin ada kaitannya dengan pohon tua itu. Memang apa yang sudah terjadi dengan pohon itu?


" Kalau waktu itu Luna gak naik ke sana, kalau waktu itu bola yang Luna lempar gak keluar ke jalanan, kalau waktu itu Danesya gak berniat bantuin Luna, semua gak akan terjadi kayak gini, kak Nay gak perlu meninggal karna kecelakaan itu, kalau Luna pikir lagi, sebenarnya semua berawal dari Luna. Memang Luna anak sial bang," ujar Luna dengan sedih, membuat Jordan semakin bingung maksud dari perkataan Luna.


" Waktu itu Luna marah sama abang dan Danesya, Luna main sendiri di rumah pohon yang ada di sana, waktu itu Danesya datang dan mau main bareng Luna, tapi Luna nolak, Luna main pantul bola di atas sana, tapi tiba – tiba bolanya mantul ke luar, Danesya mau bantu Luna buat ambil bola itu dan dia keluar."


" Luna gak tahu kenapa, tiba – tiba Danesya jatuh dan pingsan di tengah jalan. Luna mau bantuin dia, tapi kaki Luna kepleset dan malah jatuh, makanya Luna teriak minta bantuan. Luna, Luna gak tahu kalau, kalau akhirnya, Luna, Luna."


Gadis itu tak melanjutkan kata – katanya dan menutup wajahnya dengan tangan. Jordan yang mengetahui cerita itu hanya mematung dan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kala itu dia hanya bertanya mengenai pelaku yang tewas di tempat, tak menanyakan bagaimana peristiwa itu terjadi, dia terlalu sibuk meratapi kesedihannya karna kehilangan Nayshilla.


" Kamu gak perlu sedih lagi, lagian itu udah lama banget berlalu, kamu gak usah pikirin itu lagi, kak Nay juga udah bahagia di sana. Tapi kak Nay bakal sedih kalau kamu masih gak bisa maafin Danesya dan berdamai sama dia, kak Nay sayang banget sama kalian berdua, kalian gak mau kan bikin kak Nay kecewa?"


Luna menggelengkan kepalanya ringan sebagai jawaban. Tentu dia tak mau kak Nay di atas sana memandang mereka dengan kecewa, bagaimanapun Jordan benar. Danesya tetap saudaranya terlepas apa yang terjadi di masa lalu. Gadis itu juga menyadari apa yang dia katakan pada gadis itu sudah keterlaluan.


" Luna mau ke bawah aja, Luna mau minta maaf sama Danesya, Luna mau perbaiki semua dan mulai semua dari awal," ujar gadis itu yang membuat Jordan tersenyum bahagia. Pada akhirnya, Jordan bisa melihat Luna sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini dia mengerti mengapa Papapnya berlaku kejam pada Luna.


Beliau membuktikan Luna bisa bertahan di sekolah pria itu, bahkan kini Luna jauh lebih dewasa, jauh lebih berhati – hati dan pemikir, tidak ceroboh dan semaunya sendiri seperti dulu. Jordan sangat bangga dan bahagia dengan perubahan itu. Mungkin sudah saatnya melepaskan Luna dari belenggu 'latihan dan hukuman' yang diberikan oleh Papanya.


Mereka keluar dari kamar Luna dan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 1. Namun saat mereka sampai di pintu lift, ternyata ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan lift itu, Luna mendesah kecewa karna dia malas untuk menuruni tangga, apalagi dari lantai tiga.


" Mau abang gendong?" tawar Jordan yang tentu saja langsung diangguki oleh Luna. Dengan gembira gadis itu naik ke pundak Jordan sementara lelaki itu langsung menuruni tangga menuju lantai satu.


" Luna berat gak sih bang?" tanya Luna yang menatap ke arah Jordan ynag dengan santai menggendongnya dan berjalan menuruni setiap anak tangga. Luna saja merasa berat dan malas jika harus menuruni tangga, kini Jordan menuruni tangga dengan menggendongnya.


" Berat banget lah, tapi abang kan sering olah raga, jadi gak ada apa – apanya, kamu kayaknya perlu diet deh Lun, Abang gak yakin Darrel bakal kuat ngegendong kamu, beratnya sama gentong air," ujar Jordan yang membuat Luna menabok lelaki itu pelan.


Mereka sampai di depan kamar Danesya dan mengetuknya. Tak lama Danesya keluar mengenakan baju santainya dengan handuk yang ada di atas kepalanya. Gadis itu menatap Luna dan Jordan dengan tatapan tanya, namun tak mengeluarkan sepatah kata apapun.


" Gue kira Lo lagi nangis – nangis karna gue ngebentak Lo tadi, ternyata Lo baik – baik aja," ujar Luna secara Reflek membuat Jordan menatap Luna dengan alis yang terangkat. Gadis itu menyadari dan langsung menutup mulutnya dengan reflek.


" Gue ke sini mau minta maaf sama Lo karna udah nyalahin semua hal ini ke Lo sendiri, gue tahu kalau semua bukan salah Lo, dan bahkan gue jauh lebih salah untuk kejadian itu. Gue kesini mau berdamai sama Lo, nyelesaiin smeua kebencian dan kesalah pahaman sendiri. Mau bagaimanapun Lo itu kakak kembar gue, gak baik marah lama – lama sama Lo," ujar Luna tanpa rasa malu sama sekali.


Danesya takjub dengan apa yang Luna katakan. Gadis itu luar biasa karna mendapat keberanian untuk mengakui semua, bahkan Danesya tak memiliki keberanian itu. Gadis itu tersenyum dan mengangguk, tanpa diminta mereka saling memeluk satu sama lain.


" Kalau gini kan enak, akhirnya adik – adik abang jadi kakak – adik, abang jadi ikut bahagia, sekarang waktunya kita lakuin semua hal yang udah ada di list abang selama sebulan ini."


" Apa?" tanya Luna dengan wajah bertanya


" Main dan Liburan!!" seru Danesya dan Jordan bersamaan.