
Selama satu minggu, Kinan belajar juga mengajari Beni, suaminya tentang hal-hal yang umum tentang islam. Syarat wajibnya sholat, Beni mulai menghafal Al-Fatihah, tahiyat, gerakan-gerakan sholat, yang otomatis membuat Kinan sholat agar Beni dapat memperhatikan secara langsung. Kinan juga mengundang salah satu pemuka agama di kampung itu untuk menceritakan islam itu seperti apa.
Khitannya juga mulai sembuh. Lagi rajin-rajinnya menghafal doa berhubungan dan juga doa mandi junub.
"Assalamualaikum," Duhh, ademnya mendengar salam dari sang suami. Kinan langsung bergegas dari kamar, menyambut sang suami yang baru pulang bekerja. Layaknya istri solehot, maksudnya soleha, Kinan menyalami punggung tangan sang suami seraya tersenyum manis. Ia juga sudah membalurkan citra ke seluruh tubuhnya, creambath mandiri satu jam yang lalu, pun menyemprotkan parfum Dior KW, yang aromanya sangat lembut dan bertahan hingga tiga jam. Lumayanlah untuk harga 35 ribu.
"Waalaikumussalam, Abang. Gimana kerjanya hari ini?" Ia bergelayut manja yang disambut kekehan dari Beni. Suaminya mengulurkan tangan mengacak gemas rambut panjang Kinan yang halus dan wangi.
"Wangi benar, sayangnya Abang."
"Sengaja, biar suami senang."
"Duuhh, indahnya dunia." Beni mencubit hidung Kinan, lagi dan lagi dengan ekspresi gemas. "Siapa aja di rumah?" Beni memendarkan pandangan ke rumah sederhana mereka. Rumah orang tua Kinan.
"Vita, ada di kamarnya."
"Oh," Beni angguk-angguk kepala.
"Mau Kinan buatkan kopi?"
"Terima kasih, Sayang, Abang mau air putih saja."
Kinan menganggukkan kepala seraya berlari ke dalam dapur. Tidak berapa lama, ia datang ke kamar dengan secangkir air putih.
Beni meneguknya setengah, kemudian meletakkannya di atas nakas, lalu ia menarik Kinan ke atas pangkuannya. "Enaknya." Beni mengendus ceruk leher istrinya dengan rakus.
"Memangnya makanan."
"Kamu memang makanan paling enak. Abang sudah siap." Bisik pria itu di telinga yang membuat Kinan spontan hendak melompat dari atas pangkuan Beni, tapi suaminya itu lebih sigap, memeluk perut Kinan dengan kuat.
"Kamu tidak akan lari kemana-kemana. Kali ini tidak bisa kabur."
🥀
Beni masuk ke kamar dengan handuk yang menggantung di lehernya. Wajahnya tampak cerah berseri-seri. Senyum nakal dan puas terukir di wajahnya yang cukup manis.
"Mau Abang gendong ke kamar mandi?" godanya dengan seringaian nakal. Kinan mencibik, masih bersembunyi di balik selimut.
"Gimana?" Beni lagi dan lagi bertanya dengan nada menggoda.
"Sakit!"
"Nanti juga terbiasa. Terima kasih, ya, Sayang. Ini hadiah terindah." Beni menggantung handuk kemudian naik kembali ke atas ranjang. Ia berbaring menyamping di sisi Kinan, membelai rambut istrinya itu dengan penuh kasih. Tatapannya hangat, sayu dan penuh cinta. "Benar-benar enak," sambil tertawa puas melihat wajah Kinan yang merona menahan malu tapi juga bangga karena bisa mempersembahkan mahkotanya kepada kekasih halalnya.
Keduanya saling berpandangan. Masih terbayang-bayang dengan apa yang mereka lakukan beberapa saat lalu. Sempat ada drama, dimana Kinan menangis karena tidak tahan menahan dorongan Beni dan bahkan istrinya itu harus menggigit selimut agar suara jeritannya tidak keluar. Khawatir Vita mendengar.
"Jangan pernah tinggalkan Abang ya, Sayang." Beni menunduk, mendaratkan bibir di kening Kinan. Mengecup kening tersebut dengan dalam dan penuh makna.
"Abang juga jangan macam-macam di luar sana."
"Hanya satu macam, Sayang. Semoga kamu segera hamil, ya, Sayang."
"Cepat amat?"
"Sayang nggak mau hamil?"
"Mau, tapi tidak sekarang."
"Lho kenapa?"
"Masih ingin berduaan dulu sama Abang."
"Astaga, kamu ini. Mau lagi?" Beni mengintip ke balik selimut, Kinan segera mendorongnya, memeluk erat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tengah malam waktunya tidur, Abang! Udah, ah, Kinan mau mandi dulu."
"Mau Abang temani?"
"Kinan bukan anak kecil, Abang."
"Abang bantu gosok punggung."
"Terima kasih niat baiknya, Abangku sayang, tapi tidak usah repot-repot, Kinan bisa sendiri."
"Enak lho mandi bareng suami."
"Nanti kalau kita sudah di rumah sendiri. Kinan mandi dulu baru Kinan siapkan makanan."
"Yang bersih ya, Sayang. Yang wangi."
"Biar apa hayoo?" Kinan benar-benar ampun melihat kerlingan mata suaminya yang seolah menyiratkan sesuatu yang berbau mesum.
"Biar enak dicium lah, Sayang. Udah sana, jangan kemalaman mandinya, nanti kamu masuk angin."
Kinan segera pergi. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mandi karena ia memang baru saja mandi. Lima belas menit kemudian dia sudah kembali ke kamar sambil membawa makan malam untuk mereka. Sepiring berdua, disuapi lagi, membuat Beni tambah dan tambah lagi. Lupa kenyang dia saking nikmat dan bahagianya.
Saat pacaran, Kinan memang wanita yang penuh perhatian. Dan ternyata setelah menikah, Kinan jauh lebih perhatian. Semua keperluan Beni ia siapkan. Mulai dari pakaian, pernak pernik lainnya. Makan tepat waktu, dihantar dengan senyuman juga doa saat hendak pergi bekerja dan disambut dengan senyuman saat pulang bekerja dan dimanjakan di atas ranjang. Beni benar-benar seperti menemukan surga. Awalnya dia iseng meminta Kinan menyuapinya, hingga dua minggu pernikahan, dia semakin ketagihan. Begini rasanya menikah, ternyata sangat nikmat (Masih baru, bro! Masih manis-manisnya disajikan, Men!)
"Gimana hafalannya, Bang?"
"Al-Fatihah dan Tahiyat, sudah."
"Itu 'kan tiga hari lalu. Bacaan ruku' dan sujud, sudah belum?"
"Nanti Abang coba."
"Mau tambah lagi?" Tanya Kinan.
"Sudah, Sayang. Abang sudah kenyang. Makasih, masakannya. Masakan kamu enak. Abang benar-benar dimanjakan."
"Benar nih merasa dimanjakan?"
"Benar, Sayangku..."
"Sayang punya gangguan tidur, ya?" Tiba-tiba Kinan teringat sesuatu. Saat ia terbangun tengah malam, Beni masih belum tidur dan asyik main game.
"Tidak."
"Tapi kok sering begadang? 'Kan sudah capek kerja, harusnya gampang tertidur."
"Keasyikan main game, Sayang," sahut Beni sekenanya tanpa berani menatap wajah istrinya.
Kinan tidak tahu jika Beni bahkan tidak tidur semalaman karena efek dari narkoba yang dikonsumsi Beni. Semoga Kinan tidak tahu, pinta pria itu dalam benaknya.
"Jangan gitu, dong, Bang. Main game boleh saja. Tapi, jangan sampai begadang begitu. Tubuh kamu itu butuh istirahat."
"Iya, Abang akan kurangi main gamenya. Kamu mau jalan-jalan? Kita belum pernah jalan-jalan keliling kota setelah menikah. Kencan, yuk?"
"Yuk," Kinan tersenyum lebar.
Melihat respon Kinan, Beni bernapas lega. Istrinya itu tidak sadar jika Beni sedang mengalihkan topik pembicaraan. Sejujurnya, ia pun bingung bagaimana ingin menghentikan ketergantungannya terhadap narkoba. Tubuhnya terus saja meminta seolah narkoba tersebut adalah asupan yang membuatnya bersemangat. Tidak menghisap benda itu satu hari, membuat badannya lemas.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kinan jika mengetahui dirinya seorang pecandu. Ia tidak berani menerka-nerka.