Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 64



Seorang pria dewasa sedang membuka laptopnya dan tampak serius dengan benda itu, mengetikkan dan mengecek beberapa hal dengan benda itu. Sementara seseorang di sebelahnya memejamkan matanya, menikmati salah satu proses pengobatan untuknya. Bahkan untuk sekelas pria kaya sepertinya, mencari donor organ yang tepat sangat sulit, padahal berapapun akan dia bayar jika itu bisa membuatnya sembuh.


" Gue udah ada petunjuk siapa yang selama ini jadi benalu di sekitar kita. Gue gak yakin, tapi gue rasa orang itu ada di Afrika. Itupun kalau memang benar dia yang selama ini kita cari," ujar Radith yang membuat Darrel tak mengerti, lelaki itu menatap Radith dengan bingung, membuat Radith mendesah kesal.


" Lo cuci darah yang dikeluarin kan darahnya, bukan otaknya. Maksud gue, yang gue lacak itu orang yang udah kasih kontribusi ke Rafa sama ke Caroline. Belum tentu orang itu ada di balik kekacauan yang terjadi di keluarga Wilkinson. Tapi kita bisa aja cek karna kita gak punya petunjuk lain.


" Lo mau cek ke sana sendiri? Kenapa gak minta orang buat cek?" tanya Darrel dengan heran, dari gelagat Radith, tampak sekali lelaki itu bersemangat untuk memecahkan kasus ini dengan tangannya sendiri. Memang apa yang dia dapat jika dia memecahkan kasus ini dengan tangannya? Apa bedanya dengan menyuruh orang lain?


" Gue gak bisa percaya sama orang lain buat masalah ini. Bahkan uma satu orang kepercayaan gue yang tahu tentang masalah ini. Gue gak bisa ambil resiko Info ini bocor dan gue kehilangan jejak orang – orang itu lagi," ujar Radith dengan serius yang membuat Darrel membulatkan mulutnya dan menganggukan kepalanya pelan, hal itu membuat Radith menjadi gemas.


" Lo kok gak excited gitu sih? Kayak yang biasa aja, Gue udah kasih Info penting loh ini," ujar Radith kesal. Darrel memutar bola matanya dan menatap Radith dengan malas. Lelaki itu melempar Ipad yang dia mainkan setelah Radith mengatakaan Info itu.


" Gue gak tulalit, gue juga ngerti dan bertindak lebih cepat kalau udah dapat Info," ujar Darrel datar, lelaki itu mengambil ponselnya dan mulai membuka foto – foto seorang gadis yang sangat dia rindukan beberapa waktu ini, dia tak berani menghubungi atau bahkan sekadar mendekat ke gadis itu, bahkan dia sudah tak mendengar kabarnya beberapa waktu ini.


" Lo pesan dua tiket pesawat? Buat apaan? Pesen buat gue aja lah," ujar Radith yang hendak membatalkan satu tiket Firstclass yang dipesan oleh Darrel, namun Ipad itu segera direbut oleh Darrel, membuat Radith diam karena bingung.


" Jangan bilang Lo ada niat buat ikut pergi ke sana? Gak, gak bisa, Gue gak bisa biarin Lo ikut, Lo harusnya nyadar kondisi Lo terlalu bahaya buat ikut kayak begini," ujar Radith dengan gemas, namun Darrel tampak santai dengan hinaan itu, Darrel hanya memainkan ponselnya dengan tenang menunggu Radith selesai mengomel.


" Lo larang gue ikut, pasti karna Lo mau cari muka sama tuan Wilkinson kan? Lo mau dipuji sendirian kan? Gue gak bisa biarin itu," ujar Darrel dengan dramatis, membuat tangan Radith terasa gatal dan langsung menjitak kepala lelaki itu dengan keras dan penuh 'kenikmatan'. Berharap isi kepala Darrel kembali normal setelah mendapat pukulan itu.


" Gak usah bercanda dulu, semua gak sebercanda itu, gue gak bisa biarin Lo kenapa – napa atau bahkan mati di sana. Gue gak mau Lo mati di sana. Lo emang udah siap buat mati?" tanya Radith dengan pedasnya. ADarrel hanya terkekeh hambar mendengar perkataan itu.


" Sejak gue kena penyakit ini, ginal gue rusak dan gue haarus cucui darah rutin, gue udah gak takut mati Dith. Bahkan gue selalu siap kalau gue buka mata udah gak ada di dunia ini," ujar Darrel dengan datar dan tanpa beban. Muncul rasa bersalah yang ada di hati Radith karna menyinggung Darrel, meski dia tetap kesal pada lelaki yang keras kepala itu.


" Lo emang gak papa. Tapi gimana sama orang di sektar Lo? Gimana sama Lunetta? Lo gak mikirin dia? Hidup Lo bukan buat Lo sendiri," ujar Radith yang membuat Darre menghela napas, dia sudah lelah dengan Radith yang makin hari makin cerewet, jauh sekali dengan kesan pertama yang lelaki itu tunjukan.


" Lo udah kayak istri gue aja sih, bawel banget. Gue Cuma mau ikut, gue juga lebih tua dari Lo, Lo masih tanggung jawab gue dan gue juga gak berencana mati buat masalah Ini, Lo gak perlu over khawatir sama gue. Geli gue dengarnya," ujar Darrel ngegas, membuat Radith memundurkan langkahnya karna kaget.


" Lo juga sampai bawa – bawa Lunetta, gue bahkan udah gak dengar kabar dia lama. Iya, itu karna kesalahan gue sendiri dan gue emang kacau setelah kehilangan dia. Dia Cuma butuh waktu tanpa gue, entah pada akhirnya dia maafin gue atau malah lupain gue," ujar Darrel dengan frustasi.


" Udah gue duga. Lo kangen kan sama dia? Asli, Lo seram banget kalau lagi uring – uringan gini. Kenapa gak Lo datang ke Korea dan minta dia pulang? Gue yakin dia bakal mau pulang kalau Lo bujukin dia, sujud kalau perlu," ujar Radith yang membuat Darrel menggelengkan kepalanya. Dia tak mungkin melakukan hal semacam itu.


" Lunetta minta waktu buat sendiri dan gue harus menghargai itu, apalagi kesalahan gue yang kayak gini gak sekali dua kali. Gak tahu kenapa kalau gue lagi stress langsung gak bisa mikir jernih, sampai gue lakuin hal bodoh ayak gitu," ujar Darrel yang membuat Radith menghela napasnya. Dia mengerti kekhawatiran Darrel.


" Eh tapi tunggu dulu deh, dari mana Lo tahu kalau Luna ada di Korea? Apa Lo buntutin dia? Atau papanya Luna yang kasih tahu ke Lo?" tanya Darrel dengan bingung. Radith langsung memandang Darrel dengan alis yang terangkat.


" Lo sendiri, Dari mana Lo tahu kalau Luna ada di Korea? Lo bahkan udah nyusulin dia kan pasti?" tanya Radith membalikkan pertanyaan Darrel. Darrel mengangguk santai, memang yang dikatakan Radith benar, dia sudah menyusul Luna, hal itu pula yang membuatnya memutuskan tak mendesak Luna, yah, Luna sudah kelewat kecewa padanya.


" Gue dikasih tahu sama Om Wilkinson, dia cerita banyak hal gitu terus kasih tahu gue kalau Luna di Korea, dan benar, gue udah susul dia juga," ujar Darrel yang membuat Radith mengnagguk paham dan menundukkan kepalanya lalu terkekeh ringan, seharusnya dia sudah tahu alasan ini.


" Udah gue duga pasti dari bokapnya langsung. Lo mah enak, mau berapa kali pun Luna terluka dan kecewa sama Lo, tetap aja papanya Luna suka sama Lo dan dukung hubungan Lo sama Luna. Sementara yang lain harus bayar nyawa kalau sampai bikin Luna lecet," ujar Radith yang membuat Darrel terdiam, lelaki itu juga menyadari hal ini.


" Lo sendiri? Dari mana Lo tahu kalau Luna ada di Korea?" tanya Darrel yang membuat Radith berdehem. Lelaki itu memandang ke arah lain, membuat Darrel curiga karna sikap Radith sangat mencurigakan. Lelaki itu seperti sedang meenyembunyikan sesuatu dari dirinya.


" Luna yang kasih tahu gue, dia kan awalnya mau ke Jepang, akhirnya ke Korea, dia juga minta ijin sama gue waktu mau pergi kee sana, makanya gue gak khawatir sama dia," ujar Radith dengan tengilnya, membuat Darrel berdecih dan memilih untuk tidak menanggapai Radith lebih lanjut, atau dia akan merasa emosi pada Radith.


" Lo serius mau ikut kak? Lo gak harus maksain buat ikut kalau memang kondisi Lo melemah, Lo tahu kan ini bahaya banget? Gue khawatir," ujar Radith dengan serius dan tulus, hal itu membuat Darrel sedikit terharu, namun dia merasa memiliki tanggung jawab juga untuk masalah ini, dia tak bisa membiarkan Radith menanggungnya sendiri.


" Masalah ini menyangkut kita semua, gue gak akan biarin Lo berjuang sendirian. Lagi pula di belakang kita ada bang Jordan dan Om Wilkinson sendiri, gue yakin mereka gak akan biarin kita terluka," ujar Darrel penuh keyakinan, membuat Radith akhirnya mengangguk dan menyerah, meski dia tetap tak yakin dengan keputusan yang diambil oleh Darrel.


" Semoga semua baik – baik aja," ujar Radith pelan sambil menidurkan dirinya di kasur yang ada di sebelah kasur Darrel. Dia memilih untuk mengistirahatkan otak dan badan yang sudah dia forsir untuk waktu yang lama karna harus terjaga demi mendapat informasi tentang masalah ini.


" Kau tak bisa menemukannya?" tanya Lira dengan khawatir saat dia bertemu dengan Leo, lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan panik, dia juga tak tahu jika kjadiannya akan menjadi seperti ini. Dia merasa tak enak pada Lira dan khawatir pada Luna.


" Aku tak bisa menemukannya di manapun, bahkan aku juga sudah meminta teman – temanku yang ada di sini untuk mencarinya. Kostumnya mencolok, namun dia meninggalkan sayapnya di kursi ini, cukup sulit untuk menemukannya di antara orang – orang ini," ujar Leo putus asa, hal itu membuat Lira makin khawatir.


" Gue yang bertanggung jawab buat jaga dia selama di negara ini. Gimana gue kasih tahu bokapnya kalau dia sampai hilang? Lo dimana sih Lun? Kenapa Lo gak berhenti bikin masalah kayak gini? Lebih susah urus Lo dibanding urus anak TK tahu gak," ujar Lira pelan, gadis itu sudah frustasi dan lelah, juga merasa bersalah.


" Gwenchana, aku tak tahu apa yang kau katakan barusan, tapi aku tahu kau sangat khawatir padanya. Kita pasti bisa menemukannya, dia pasti baik – baik saja. Aku akan meminta MC untuk memanggil namanya," ujar Leo yang langsung berlari ke arah MC dan menanyakan keberadaan Luna dan meminta MC itu untuk memanggil nama Luna.


Mereka tampak bingung karna tak pernah ada hal yang seperti ini terjadi, padahal sudah lama sekali mereka mengadakan acara ini namun tak pernah ada yan gsampai hilang atau terpencar sampai dikhawatirkan seperti ini. Pengumuman itu membuat satu orang pria berjalan mendekat ke arah Leo.


" Apa dia gadis yang memakai baju hitam dan tanduk di kepalanya?" tanya orang itu yang membuat Leo mengangguk, lelaki itu lalu menceritakan bagaimana dia menawari gadis itu Soju namun gadis itu malah berbicara dengan bahasa aneh dan meninggalkannya begitu saja. Leo langsung berlari lari dan menghampiri Lira setelah mengetahui hal itu.


" Salah seorang peserta di sini melihat Luna dan menawarinya minuman, lelaki itu melihat Luna berjalan ke arah balkon, kita harus mencarinya di sana," ujar Leo yang diangguki oleh Lira. Mereka berdua langsung berjalan cepat ke arah balkon dan mencari petunjuk di sana. Namun balkon tampak sepi dan sedikit gelap.


Di tengah – tengah kegelapan itu Lira menemukan sebuah topi yang ada tanduknya, hal itu membuat Lira melemas dan langsung terduduk di lantai. Dia sudah gagal menjaga Luna dan kini dia sama sekali tak tahu bagaimana keadaan Luna,dan dimana gadis itu berada. Leo yang melihat Lira begitu lemas menjadi tak tega.


" Kau tak perlu khawatir, aku yakin Luna akan baik – baik saja, dia mungkin saja lelah atau tak enak badan dan memilih untuk pulang duluan. Bisa jadi dia sudah mencari kita namun tak menemukannya, ayo kita pergi ke rumah kalian dulu untuk memastikannya," ujar Leo dengan lembut, namun Lira malah menangis dan menggelengkan kepalanya.


" Kau bisa mengatakan itu karna kau tak mengenal kami. Kau bisa tenang karna kau tak pernah tahu keadaannya. Kau hanya orang luar, harusnya sejak awal kami tidak ikut, harusnya sejak awal Luna gak usah kerja, harusnya sejak awal kita tidak saling mengenal," ujar Lira yang membuat Leo merasa bersalah dan bingung harus melakukan apa.


" Kau lebih baik antarkan gadis ini pulang. Aku merasa kasihan melihatnya, telpon polisi jika kalian tak menemukan teman kalian di rumah. Aku akan meengabari kalian kalau aku mendapat kabar dari tempat ini," ujar kekasih Leo yang membuat lelaki itu mengangguk. Mereka membantu Lira berdiri dan berjalan pelan.


Lira keluar dari gedung itu dan mengambil sebuah benda yang ada di kantongnya. Sebuah peluit, Leo sendiri tak tahu untuk apa benda itu, yang jelas dia langsung tertegun saat Lira meniup peluit itu, suaranya tak keras, bahkan nyaris tak terdengar.


Namun efek dari tiupan itu luar biasa. Banyak orang memakai baju serba hitam langsung keluar dari semua sisi entah bagaimana. Mereka semua langsung memutari Lira dan menatap Lira dengan garang. Hal itu membuat Leo terkejut dan terpaku, dia snagat takut melihat banyak wajah sangar yang seakan siap untuk menerkam dirinya.


"Apa kalian melihat tindakan yang mencurigakan? Lunetta hilang tanpa jejak. Apakah kalian melihat atau mengetahui sesuatu?" tanya Lira yang membuat mereka terdiam tanpa respon apapun, hal itu membuat Lira berjalan dan menendang salah satu diantara mereka, sementara Leo hanya menatap Lira dengan tatapan kosong.


" Kalian tidak berguna, kalian bahkan tidak tahu Luna diculik. Kalian tak berguna! Saya akan pastikan kalian smeua mati mengenaskan setelah ini!" pekik Lira dengan kesal. Gadis itu tak sungguh dengan perkataannya dan mereka tahu itu, dia hanya kesal dengan kelalaian mereka.


" Tapi kami benar – benar tak melihat sesuatu yang mencurigakan nona, kami menandai nona Luna memakai topi tanduk dan sayap yang besar. Kami tak melihat Nona Lunetta keluar dari gedung ini," ujar salah satu diantara mereka.


" Tapi nyataya Lunetta menghilang! Apa kau pikir dia terbang atau berteleportasi ke tempat lain? Apa kau pikir itu mungkin? Kalian tidak becus dalam bekerja! Lekas cari dia! Jika kalian tak menemukannya, aku yang akan menyiksa kalian dengan tanganku sendiri," ujar Lira dengan tegas, mereka menganggukan kepala dan langsung berlari sementara dua orang tetap ada di sana.


" Siapa mereka? Apa kita harus menelpon polisi?" tanya Leo dengan khawatir. Lira menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis.


" Mereka semua bekerja untukku. Kau jangan kaget, bahkan ada satu orang yang terus mengikutimu, jangan khawatir, mereka bukan orang jahat dan jangan telpon polisi, semua akan jauh lebih rumit jika polisi terlibat," ujar Lira yang mendadak serius. Membuat bulu kuduk siapapun langsung berdiri setelah mendengar suaranya.


" Siapa sebenarnya kalian semua?" tanya Leo dengan pelan dan hati – hati. Lira menatap Leo dengan datar, gadis itu mengambil kacamata hitam yang dipakai oleh pengawalnya dan memakainya.


" Selamat datang di dunia keluarga Wilkinson," ujar Lira dengan bahasa Indonesia dan berjalan meninggalkan Leo yang membatu. Lira teringat sesuatu dan kembali menghampiri lelaki itu.


" Aku lupa memberitahumu, tentang masalah ini, tak ada satupun yang boleh tahu, siapapun itu. Jika sampai bocor, bukan Cuma aku dan Luna yang berada dalam masalah, tapi kau dan seluruh keluargamu. Apa kau mengerti?" tanya Lira yang diangguki oleh Leo.


Lira mengangguk puas dan langsung pergi dari tempat itu setelah meminta Leo untuk masuk. Lelaki itu seperti robot yang menuruti perkataan lira karna takut sekaligus bingung.