
Tubuh Rasti yang bersimbah darah segera dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulans oleh petugas dari rumah sakit terdekat, setelah mendapatkan kabar dari pihak pengelola apartemen.
Dito, selaku pemilik apartemen sekaligus suami dari korban pelaku bunuh diri, dibawa oleh petugas polisi yang langsung datang ke tempat kejadian perkara, untuk dimintai keterangan.
Abraham, Akbar, Damian, dan Faris, juga ikut menemani Dito ke kantor polisi untuk menjadi saksi bahwa Rasti benar-benar melakukan bunuh diri, bukan karena sengaja dibunuh.
"Apakah Anda memberikan keterangan yang sejujurnya?" tanya petugas berseragam coklat pada Abraham, ketika pemuda tampan tersebut dimintai keterangan mengenai keterlibatan Dito pada kasus meninggalnya Rasti.
Sementara Dito yang baru saja selesai memberikan keterangan, nampak sedang menelepon orang tua Rasti untuk memberitahukan mengenai kejadian yang menimpa wanita tersebut.
"Saya mengatakan sesuai dengan yang saya saksikan sendiri, Pak. Selain saya dan ketiga saudara saya, ada juga dua petugas layanan apartemen yang membantu mencongkel pintu kamar Dito," terang Abraham seraya menunjuk ketiga saudaranya, termasuk Faris.
"Bapak juga bisa memanggil petugas tersebut untuk dimintai keterangan," lanjut Abraham.
"Baik, Mas. Terimakasih atas keterangan yang Anda berikan," ucap petugas polisi tersebut.
Tepat di saat Abraham selesai memberikan keterangan, dua orang petugas layanan konsumen di apartemen tempat Dito tinggal, datang ke ruangan khusus tersebut bersama salah seorang pengelola apartemen.
Polisi kemudian memeriksa dua laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahunan yang berseragam pegawai khusus apartemen, untuk dimintai keterangan seputar kejadian yang menimpa Rasti.
"Apakah benar, bahwa Anda berdua yang mencongkel pintu kamar apartemen saudara Dito?" cecar petugas polisi tersebut pada dia orang petugas berseragam khusus tersebut.
"Benar, Pak. Mas Dito sedang bersama kawan-kawannya ketika kami berdua datang ke unitnya, Pak," balas salah seorang dari mereka berdua.
Setelah cukup lama menunggu dua orang petugas apartemen tersebut diperiksa oleh pihak kepolisian, Abraham dan yang lain kemudian diperbolehkan meninggalkan kantor polisi. Langkah mereka kemudian diikuti oleh Dito, yang juga diperbolehkan untuk pulang.
Ya, berdasarkan keterangan para saksi, Dito dinyatakan tidak bersalah. Namun, pemuda tersebut tetap dimintai kesediannya untuk memberikan keterangan, jika sewaktu-waktu keluarga Rasti membutuhkan informasi yang jelas mengenai kejadian yang menimpa wanita muda tersebut.
"Dito, apa lu mau langsung ke rumah sakit?" tanya Akbar ketika mereka tiba di parkiran.
"Iya, Bro," balas Dito.
"Kalau begitu, kami ikut," ucap Damian, yang disetujui oleh Abraham dan Akbar dengan menganggukkan kepala.
Bagaimana pun, Rasti adalah teman mereka semasa kuliah dulu dan mereka sempat dekat. Sehingga mereka bertiga memutuskan ikut ke rumah sakit, untuk melepas kepergian Rasti untuk yang terakhir kali.
"Bang, aku balik duluan, ya. Mau ketemu sama Inez," pamit Faris pelan, pada Abraham.
"Iya, Ris. Silahkan," balas kakak kandung Nezia tersebut.
"Gak sabar aja, calon pengantin. Padahal, tinggal nunggu besok," ledek Akbar seraya menepuk pundak Faris.
Pemuda berwajah manis tersebut hanya tersenyum. Faris kemudian segera berlalu menuju ke mobilnya, untuk menemui sang calon istri.
Sementara Dito, beserta Abraham, Akbar, dan Damian langsung menuju rumah sakit karena kabarnya, jenazah Rasti masih berada di sana dan belum diurus oleh pihak keluarga wanita malang tersebut.
Mereka berempat menaiki mobil berbeda, untuk menuju ke rumah sakit. Hanya Dito yang satu mobil bersama Abraham karena kakak kandung Nezia tersebut tidak memperbolehkan mantan tunangan sang adik, memesan taksi online.
"Orang tua Rasti sudah lu kabari 'kan, Dit?" tanya Abraham, memastikan.
"Sudah, Bro. Tadi langsung gue kabari, setelah gue diperiksa petugas," balas Dito.
"Mereka bilang apa, Dit? Kenapa sampai sekarang, jenazah Rasti masih di rumah sakit?" cecar Abraham, tak mengerti. Padahal, mereka tadi cukup lama berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan dan kesaksian.
Putra sulung Ayah Alex tersebut, mengerutkan dahi dengan dalam. "Autopsi? Apa mereka pikir, Rasti mati karena dibunuh?"
Dito mengangguk, lemah. "Sepertinya seperti itu, Bro. Barusan, Mama juga bilang kalau gue harus bertanggung jawab atas kematian Rasti," lanjutnya dengan tatapan jauh ke depan.
Abraham hanya bisa menghela napas panjang, turut menyesali apa yang menimpa Dito dan juga Rasti.
Pasangan yang dahulunya bersahabat baik, tetapi kemudian hanyut dalam kisah asmara terlarang karena tak dapat mengendalikan nafsunya dan terseret semakin dalam ke lembah kehancuran.
Bukan hanya kehancuran di dunia, tetapi juga kehancuran di akhirat bagi Rasti. Sebab, wanita muda itu lebih memilih mengakhiri hidup sebelum bertaubat, ketimbang melanjutkan hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Rasti tidak bersyukur dengan apa yang telah dia miliki. Dia lupa, bahwa sejatinya Allah-lah penentu segala.
Manusia boleh berencana, boleh menginginkan sesuatu, boleh memiliki cita-cita, tetapi semuanya hendaklah disandarkan pada Yang Maha Kuasa. Agar, jika apa yang diinginkan tidak tercapai, tak dapat diraih atau pun digenggam, kita tidak akan menelan kekecewaan terlalu dalam dan tetap dapat bersyukur atas pemberian-Nya.
Mobil yang dikendarai Abraham berbelok menuju area parkir rumah sakit yang sangat luas. Pemuda tampan tersebut kemudian segera memarkirkan mobil mewahnya.
Hanya berselang beberapa detik, mobil Akbar dan Damian terlihat memasuki area parkir dan mereka berdua kemudian memarkirkan kendaraannya tepat di samping mobil Abraham yang masih kosong.
"Ayo, kita langsung ke ruang operasi!" ajak Abraham, setelah tadi mendengar dari Dito bahwa jenazah Rasti diautopsi atas permintaan papanya.
Kedatangan Dito disambut tatapan yang penuh amarah dari papanya Rasti. Laki-laki paruh baya tersebut langsung melontarkan kata-kata kasar pada Dito.
Segala macam nama binatang dan sumpah serapah keluar dari mulut papanya Rasti tersebut, yang mengata-ngatai suami dari almarhumah sang putri dengan penuh emosional.
Dito hanya bisa diam dan pasrah, mendengarkan caci maki dari papa mertuanya. Pemuda tersebut sama sekali tak memberikan penjelasan apapun mengenai musibah yang menimpa Rasti.
"Om, bisa kita bicara sebentar," pinta Abraham, setelah papanya Rasti cukup tenang.
Abraham kemudian mengajak laki-laki seusia ayahnya itu untuk duduk. Perlahan, pemuda tampan tersebut mulai menjelaskan dari awal, kenapa Rasti kemudian berbuat nekat mengakhiri hidup dengan meloncat dari ketinggian di apartemen Dito.
"Tidak mungkin putri saya berbuat sejahat itu!" sanggah papanya Rasti ketika Abraham menceritakan tentang kejahatan almarhumah yang mencoba menjebak Nezia.
Abraham kemudian mengambil ponsel dan memutarkan rekaman video dari CCTV restoran, tempat Rasti dan Dito bertemu dengan Nezia dan Faris.
"Rasti, apa yang kamu pikirkan, Nak? Kenapa kamu senekat itu?" rintih mamanya Rasti yang ikut menyaksikan video tersebut. Wanita paruh baya itu menangis, menyesali diri sendiri karena merasa telah gagal mendidik putrinya menjadi manusia yang baik.
"Nak Bram, sampaikan permohonan maaf pada kedua orang tua kamu atas perbuatan almarhumah," tutur papanya Rasti dengan penuh penyesalan, setelah mengetahui kebenarannya.
"Dan untuk kamu, Dito! Seumur hidup saya, saya tidak akan pernah memaafkan kamu!" Laki-laki paruh baya tersebut menatap Dito dengan tatapan tajam.
"Karena kamu telah membuat anak saya rusak, hingga dia harus tewas dengan cara mengenaskan seperti ini!" lanjutnya yang masih terbawa emosi.
Meskipun laki-laki paruh baya tersebut mengakui kesalahan sang putri, tetapi bagi papanya Rasti, Dito tetap yang paling bertanggung jawab atas semua kejadian ini.
"Saya bersumpah, Dito! Anak keturunan kamu akan mengalami hal yang sama, dengan apa yang telah dialami oleh Rasti!"
Mendengar sumpah mantan mertuanya, Dito langsung bersujud dan meminta maaf agar papanya Rasti mencabut sumpah yang telah diucapkan tersebut. Sumpah yang akan membayangi kehidupan Dito, seumur hidupnya.
"Maafkan Dito, Pa, Ma. Maaf ...."
☕☕☕☕☕ bersambung ...