Hopeless

Hopeless
Chapter 94



Kegiatan rutin pagi pada umumnya, hanya bangun pagi, mandi di bili sempit dengan bantuan gayung dan wadah air berupa ember, senam pagi lalu sarapan.


Tanpa Luna sadari, dia menjadi jauh lebih teratur dan disiplin selama ada disini, mengingat hukuman push up yang sangat melelahkan bagi Luna, gadis itu mau tidak mau mengikuti aturan dan hidup layaknya anak asrama beberapa hari ini.


Jika ditanya suka atau tidak, jelas Luna tidak suka. Tadi malam Luna baru bisa memejamkan mata pukul dua, dan kini dia harus bangun jam 5 agar dapat bilik kalmar mandi, mandi pukul 5 pagi di tempat ini sama saja menyiksa diri karna air sangat dingin.


Luna tak bisa membayangkan bagaimana mereka yang hidup di asrama, hidup mereka tiap hari seperti ini, teratur, semua diatur, tidak cocok sekali dengan Luna yang suka seenaknya sendiri.


" Silakan berkumpul dengan kelompok PBB yang kemarin sudah dibagi," ujar Pelatih yang paling tampan dan tampak paling muda, pelatih lain memanggilnya Komandan, sepertinya beliau pimpinan disini.


Pernah membayangkan memiliki suami tentara muda yang tampan dengan perut Rata? Luna sedang melakukannya sekarang, ingin Luna menjadi istri tentara muda itu, apalagi pangkatnya sudah tinggi.


Komandan itu memberikan sambutan singkat dan ucapan selamat datang yang memang terlambat, itupun beliau harus cepat karena ada keperluan lain setelah sambutan.


Satu hal yang membuat Luna kecewa. Komandan itu sudah memiliki istri, membuat Luna berpikir apakah boleh menjadi istri kedua? Aahh, Luna sendiri tak mau jika harus menjadi nomor dua.


" Kegiatan hari ini kita senang - senang aja ya, hari ini kita akan outbound di dalam dan di sekitar Kodim Bela Negara ini," ujar Pelatih yang kemarin juga membuka acara tiap pagi sementara komndan itu sudah pamit undur diri.


Semua siswa langsung gembira karna tak ada lagi sesi, tak ada lagi rasa bosan dan pelajaran tertentu yang membuat rasa kantuk mendominasi. Setidaknya merefresh otak akan menambah kenangan mereka selama ada disini ( tentu saja yang paling berkesan adalah bertemu dengan pocong pocongan itu)


Mereka berbaris sesuai kelompok PBB dan mengikuti pelatih untuk bermain di luar area Kodim. Mereka bisa melihat banyak hal termasuk anak SD yang bermain di area outbound ini.


Bahkan disaat seperti ini Luna tak bisa melihat Radith, entah lelaki itu ada dimana karna memang mereka dipencar agar tidak memenuhi satu tempat tertentu. Ada yang bermain di area dalam dahulu baru di area luar, sepertinya Radith juga begitu.


" Baiklah, sekarang kita akan bermain dengan bambu ini, ini kan kalian ada 10 orang dalam setiap tim, nah satu anak membawa bendera dan naik ke atas ambu ini, sisanya, kalian membantu si pembawa bendera agar sampai ke pioneer disana, kalian yang membantu dilarang memegang bambu ini," ujar pelatih itu memberi instruksi dan menunjuk ke arah pioneer di depan mereka.


Luna mengagguk paham dan mulai berdiskusi dengan teman temannya mengenai strategi bagaimana caranya mereka bisa sampai disana tanpa menjatuhkan bambu, terdapat sembilan tali tambang kecil yang sepertinya menjadi alat bantu mereka, meski sebenarnya malah merepotkan sih.


Mereka akhirnya memilih satu anak yang paling kecil diantara mereka untuk naik ke atas bambu agar tidak berat, sementara sisanya mengatur posisi agar bambu bisa berdiri sempurna. Mereka mulai menarik bambu agar bergerak sementara yang diatas bambu terus berdoa agar bambu tersebut tidak jatuh.


Kelompok lain ternyata bisa melakukannya lebih cepat, namun rasanya sangat beresiko, benar saja, mereka tumbang seketika dan harus mengulang dari garis awal, yang lebih kasihan adalah si penunggang bambu, pria itu tersungkur tak berdaya, pastu rasanya sakit.


" DIKIT LAGI!" Seru seseorang yang dipilih menjadi Leader untuk game pada kali ini. Memang dalam game seperti ini, tidak bisa jika semua menjadi Leader, tidak bisa jika semua ikut memberi Instruksi, memng harus ada satu kepala dan satu suara yang mengomando mereka.


Akhirnya tim Luna bisa memenangkan pertandingan dan membuat tim yang kalah harus jalan di tempat sambil menyanyikan lagu nasional.


Kasihan sekali mereka, sudah jatuh, tertimpa tangga, disuruh menyanyi sambil jalan di tempat pula. Paket combo Ekstra  sih itu namanya, hahahaha.


Mereka berjalan menuju permainan selanjutnya yang ternyata mereka harus mengisi suatu wadah dengan air, namun mereka harus menggunakan sebuah spons besar untuk membawa airnya, dan meletakkannya disebuah kursi kecil yang ditengahnya berlubang, dan mereka harus memakai pantat mereka untuk menekan spons itu agar spons itu mengeluarkan air dan masuk ke dalam wadah melalui lubang tersebut.


Mereka tertawa saat teman satu tim mereka berusaha untuk menekan spons yang ada, astaga, siapa yang kepikiran membuat permainan seperti ini? Lucu sekali, hahahaha.


Kelompok Luna kalah telak dari kelompok sebelah yang memiliki aset lebih besar, terang saja tekanannya jauh lebih kuat hingga spons tersebut bisa mengeluarkan air lebih banyak.


" Yang kalah silakan berjongkok dan jalan jongkok sampai sana," ujar Pelatih itu yang membuat Luna bersama tim melongo seketika. Lebih baik mereka menyanyi lagu daerah dibanding jalan jongkok untuk jarak yang cukup jauh.


Namun mereka tetap melakukan sesuai Instruksi, mereka mulai berjongkok dan berjalan berurutan seperti bebek. Luna yang tidak pernah melakukan itu tentu merasakan pegal yang teramat pada lututnya.


" Udah cukup, bangun. Kasihan saya lihatnya," ujar pelatih itu yang membuat Luna dan kawan kawan melega dan bangkit berdiri. Mereka berjalan masuk ke area Kodim dan mencari permainan lain.


Mereka semua berhenti di salah satu kolam dimana kolam itu terdapat sebuah batang pohon membentang, air kolam yang menghijau membuat Luna geli membayangkan apa saja yang ada di dalam sana.


" Yak, kita akan main diatas kolam yang tidak dikuras selama dua belas tahun, entah ada penghuni apa saja di dalam sana, saya juga tidak tahu," ujar Pelatih itu yang membuat semua siswa menjauh dari kolam itu.


" Permainan kali ini begini ya, disisi sini lima orang, disisi seberang lima orang, nah nanti seorang dari masing masing sisi maju ke depan dan melewati kayu ini bersamaan, kalisn harus menyebrangi kolam ini tanpa terjatuh, kalau mau jatuh juga gakpapa deh," ujar pelatih itu dengan riang.


Pemenangnya dihitung dari jumlah orang yang bisa menyebrang dengan selamat. Nah kelompok yang kalah silakan mandi bersama dan rasakan sensasi kolam ini. Kalian silakan gunakan Strategi yang sesuai dan terserah pada kalian strateginya. Apakah ada yang perlu ditanyakan?" semua siswa menggeleng tanda memahami peraturan dalam permainan ini meski mereka tidak berminat.


Satu persatu siswa mulai menyebrangi kolam tersebut, tak sedikit dari mereka yang harus merasakan dingin dan bau nya kolam itu, Luna sendiri ragu apakah dia bisa menyelesaikan permainan ini dengan baik? Ah sepertinya sangat sulit.


Luna mulai naik dan dihadapannya adalah anak dari TEI 2 Yang Luna tahu namanya adalah Francesco Totti, sepertinya begitu, entah apa panggilan lelaki itu. Lelaki itu menatap Luna seakan meyakinkan mereka berdua baik baik saja. Luna mengangguk percaya dan mulai melangkah bersama lelaki itu.


Mereka berdua berhenti dan berhadapan, bingung harus melakukan apa dan bagaimana cara mereka saling menyebrang tanpa jatuh? Luna menatap bawah dam membayangkan seberapa dalam kolam ini. Semakin dalam justru tak masalah karna Luna bisa berenang, jika dangkal ada kemungkinan badan atau kepalanya terbentur dan itu tidak akan baik.


" Kalau gue duduk Lo lompatin gue gimana?" tanya Luna yang memberikan usul sementara mereka semakin tak seimbang. Lelaki itu tampak diam dan berpikir, sepertinya tak setuju dengan ide Luna. Namun Luna secara sepihak mendudukkan dirinya dan membungkuk serendah mungkin.


" Buruan lompat," ujar Luna yang membuat lelaki itu meyakinkan diri dan melompati Luna lalu berjalan menuju seberan dengan selamat sementara Luna masih diam dan terbingug harus melakukan apa selanjutnya. Gadis itu sudah mencoba untuk berdiri, namun tetap saja gagal.


Akhirnya Luna merangkak pelan dan berusaha agar kakinya tidak menyentuh air, batang pohon itu ternyata lebih licin dari yang Luna bayangkan, Luna yang duduk saja sampai oleng hingga berada dibawah meski tangannya masih berpegang erat pada batang pohon itu.


" Widih, ninja warior coy!" seru seseorang yang entah siapa, Luna merasa pertahanannya melemah, gadis itu berusaha merangkak dengan posisi yang tidak mengenakkan. Kakinya merangkak perlahan diikuti tubuhnya dan terakhir tangannya. Persis seperti ulat bulu yang sedang berjalan.


Tak lama kemudian pertahanan Luna benar benar roboh, gadis itu tidak kuat dan melepaskan pegangannya, dia tercebur ke dalam air dan merasakan basah dari ujung rambut samai ujung kakinya. Luna berusaha mencari pijakan dan tetap memejamkan mata dan berusaha menahan napas dan mulutnya tetap tertutup.


Luna bangun dan berjalan ke pinggir kolam, mencari matahari dan melepas sepatunya, Luna menjemur sepatunya sekaligus menjemur dirinya sendiri, persetanlah dengan kulit hitam, Luna tidak betah dengan kebasahan yang bau ini.


Beruntung kelompok Luna kembali menang sehingga tidak perlu menceburkan dirinya lagi di kolam itu. Ingin Luna menertawai mereka yang tercebur karena merasakan hal yang sama dengan Luna. Bahkan mereka harus berendam disana beberapa menit sebelum akhirnya diijinkan untuk bangun.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju permainan selanjutnya yang sebenarnya Luna sudah bosan dan enggan bergabung lagi, badannya terasa lelah, apalagi dia merasa sangat kotor dan bau, Luna membenci hal itu.


Mereka memainkan banyak permainan selanjutnya, entah yang menggunakan logika atau sekadar bermain untuk refreshing, yang jelas Luna mundur perlahan saat berhubungan dengan kolam hijau yang teryata ada dimana mana.


" Kita istirahat dulu, sebentar lagi akan ada snack yang dibagikan, kalian duduk dulu disini," ujar pelatih itu pada tiga puluh orang disana. Luna menurut dan mencari tempat teduh untuk mengistirahatkan kakinya yang tanpa terasa sudah berjalan jauh karena mereka berkeliling.


Tak lama tambah sebuah mobil bak terbuka menurunkan banyak kresek putih, membuat tentara itu menyuruh tiga orang siswa mengambil snack untuk teman temannya. Luna sudah mulai merasakan lapar dan ingin segera melahap apa yang ada di dalam kardus itu, semoga saja Luna doyan.


Gadis itu membuka kotak yang sudah dibagikan dan menatap ngiler isinya, semua Luna suka. Ada sosis Solo, bolu kukus ( selalu ada disetiap snack) dan tahu bakso besar dengan bungkus saos yang menggoda. Luna hampir saja melahap semua dan lupa jika mereka harus berdoa sebelum makan snack.


Selesai berdoa, Luna langsung menyantap sosis solo tersebut, entah mengapa namanya sosis solo, padahal berupa makanan dengan kulit lumpia yang diisi oleh ayam, benar benar penuh dengan ayam dan bukan sosis. Bahkan Luna tak yakin jika makanan ini sungguh berasal dari Solo, bisa saja seperti bika ambon yang berasal dari Medan.


Luna mencomot Bolu kukus seusai sosis solonya habis. Gadis itu memakan dengan minat makanan manis di mulutnya ini, meski akhirnya membuat Luna haus seketika, untung saja tak lama kemudian ada seseorang memberikan satu kardus air mineral.


Gadis itu sengaja memakan Tahu bakso yang nampak enak itu terakhir agar nanti rasa tahu bakso itu tertinggal di mulutnya sampai dia akhirnya sikat gigi. Luna menghabiskan tahu baksonya cukup cepat dan meminum sisa airnya lalu memasukkan semua sampah ke Kardus snack itu agar sampah tidak berceceran.


Mereka melanjutkan permainan yang ada di dekat situ, sebuah pipa berlubang di sisinya sementara bawahnya ditutup oleh ban dan karet, Sepertinya Luna tahu mereka harus melakukan apa.


Benar saja, mereka harus mengeluarkan sebuah bola pingpong dari dalam sana dan menutup lubang itu dengan tangan mereka, yang artinya mereka harus berbasahan lagi dengan air kolam 'keramat' itu.


Luna biasa saja karna sebelumnya dia sudah merasakan air itu, hidungnya pun sudah terbiasa dengan baunya, Luna menyarankan untuk menutup lubang yang ada dengan jari mereka, karena lebih efektif dibanding menutupnya dengan tangan.


Alhasil kelompok mereka kembali menang dan tak harus bercebur ria ke dalam kolam yang sangat Luna benci itu. Luna merasa lega dan meneruskan perjalanan yang kata pelatih menjadi perjalanan terakhir mereka.


Mereka diminta untuk menutup mata sementara leader mereka mengarahkan kemana mereka akan berjalan, cukup seram dan menegangkan karena jalur yang curam, Sebelum Luna menutup mata, gadis itu tahu mereka akan masuk ke dalam hutan, entah apa motivasi para tentara menyiapkan medan seperti ini.


Luna hanya pasrah dan menutup matanya, percaya pada leader dan mengikuti arahan yang diberikan. Mereka seperti kereta buta karna harus berpegangan pundak dan tak seorangpun dapat melihat kecuali Leader.


Luna mulai melangkah dan merasakan jalan yang bergelombang, jalan yang menanjak dan menurun serta jalan yang licin, Luna melewati itu semua dengan hati hati, tidak ada pemenang dalam permainan ini, untuk apa membahayakan diri?


Tangan Luna tiba tiba di lepas dari  pundak orang di depannya, membuat Luna curiga apa yang akan dilakukan oleh oleh para pelatih, meski Luna yakin mereka tak akan berani membahayakan mereka.


" duduk." perintah orang itu yang membuat Luna menurut saja. Luna merasakan basah pada kakinya. Dia tidak tahu tempa apa itu karna matanya yang masih tertutup.


" luruskan kakimu," ujar orang itu yang kembali memberi perintah. Lagi lagi Luna melakukannya tanpa protes sedikitpun.


" Buka penutup matamu," ujar orang itu, Luna membuka penutuo matanya dan kaget dengan pemandangan di depannya. Belum sempat Luna sadar apa yang terjadi, orang itu sudah mendorong Luna hingga Luna berseluncur di tempat itu.


Rupanya tempat itu adalah seluncuran alami yang terbuat dari tanah padat yang dialiri air sehingga membuat tanah itu menjadi sangat licin.


Luna menjerit sejadi jadinya dan berakhir di kubangan Lumpur yang membuat seluruh tubuhnya menjadi coklat dan kotor, nasib baik lumpur itu tak masuk ke dalam mulutnya karna reflek yang baik.


Gadis itu segera keluar dari kubangan dan tubuhnya disemprot oleh selang yang mengeluarkan air. Tidak tahu harus berterima kasih atau justru kesal karena dia disemprot tanpa pemberitahuan.


Luna akhirnya berjalan menjauh dengan menggigil karena angin cukup kencang meski suasana terik, gadis itu langsung mencari matahari untuk menghangatkan tubuhnya.


Demi apapun, Luna tak akan melupakan kejadian ini.


*


*


*


*


**SSA - SALAM SAPA AUTHOR


Terimakasih untuk yang masih setia membaca sampai part ini, Ditunggu kelanjutan kisahnya yaaaa


Anyway aku mau promosi Novel terbaru aku


Judulnya "Ex Lover" sampulnya siluet pria. Novel itu aku bikin untuk keperluan lomba, jadi mohon dukungannya dengan membaca, memberi like, comment, dan Rating bintang 5, jangan Lupa share juga.


Instragram Author : @Elzsekard_ ( DM For Acc dan Follback😘**)