
#QuotesAcak
Banyak orang mengaku sahabat, sangat dekat dan terus melekat. Namun mereka langsung memutuskan tali persaudaraan saat suatu masalah menerpa. Sedang jika dipikir, apakah itu yang seorang sahabat lakukan pada sahabatnya?
*
*
*
Pesawat mereka sampai setelah dua jam penerbangan, mereka melakukan peregangan dan mengambil barang – barang mereka lalu menunggu supir yang menjemput mereka dan puluhan pengawal yang juga ikut dengan mereka dalam penerbangan yang sama, meski mereka semua duduk di kelas ekonomi. Mereka bersenda gurau sembari menunggu jemputan, bahkan Agatha sampai tertawa karna guyonan Ky yang tak masuk akal dan receh.
" Nona, silakan masuk ke dalam mobil, kita memerlukan waktu delapan jam untuk sampai ke tempat nona Lucy berada, pastikan nona nona sekalian duduk dalam posisi nyaman karna perjalanan jauh dan lama, serta kondisi jalan yang mungkin akan kurang bagus jika sudah dekat dengan tempat nona Lucy berada.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil yang baru datang itu, untung saja mobil yang dibawa merupakan mobil limusin dengan kursi panjang yang bisa dijadikan kasur untuk tidur agar punggung mereka tak merasa pegal. Mereka duduk dengan nyaman sementara supir langsung melajukan mobil menuju tempat dimana Lucy berada.
Ada sekitar delapan mobil lain yang ada di depan dan di belakang mereka. Sebenarnya Luna merasa ini berlebihan, namun karna papanya sudah memberi ijin dan ini merupakan syarat, Luna memilih tak menolak dan mengiyakan persyaratan papanya, yang penting dia bisa menemui Lucy dan menyampaikan sesuatu pada gadis itu.
" Masih lama ya? Kok gue udah bosen sih?" tanya Luna yang merasa suntuk dan terus membolak balikkan posisinya untuk mencari posisi nyamannya, namun rasa bosan membuat rasa nyaman itu langsung hilang seketika.
" Karaoke aja kuy, ada mic kan di sini? Kayaknya kita pernah pergi pakai mobil begini dan bisa buat karaokean," ujar Key menegakkan tubuhnya dan langsung mmbuka ponselnya untuk menyambungkan ke youtube dan membuka lagu lagu untuk karaoke.
Luna menegak dan mengangguk setuju, sementara Adel langsung mengambil penyumpal telinga dan enggan untuk bergabung, membuat Key dan Luna memaksa gadis itu untuk bergabung dengan mereka agar suasana menjadi ramai, bahkan Agatha pun tak luput dari paksaan mereka meski Agatha sangat insecure dan terus berkata dia tak bisa bernyanyi.
" Gue mau nyanyi duluan ya," ujar Key mengambil alih michophone dan mulai memilih lagu lewat ponselnya. Gadis itu akhirnya menemukan lagu yang sesuai dan langsung menyanyi dengan penuh penghayatan meski suara yang tak mengenakkan, karna prinsip hidup Key dalam bernyanyi adalah rasa dan percaya diri.
" Key, suara Lo tuh parah banget njir, gak usah nyanyi aja Lo, demi apa kuping gue," ujar Adel setelah Key selesai menyanyi, meski tak suka mendengar Key menyanyi, Adel menahan hasrat itu dan menunggu Key menyelesaikan lagunya. Setidaknya dia tak menjatuhkan Key saat gadis itu bernyanyi, namun memang menjadi kewajiban untuk menghujat gadis itu saat lagu selesai.
" Hahahaha, ya udah gantian nih Lo yang nyanyi, jangan modal hujat aja Lo," ujar Key yang menyerahkan mic tesebut pada Adel, gadis itu menerima mic tersebut dan memilih lagu untuk dinyanyikan. Bukan Adel namanya jika menolak saat ditantang, apalagi gadis itu meras mampu untuk menyelesaikan tantangan tersebut.
" When you hold me, in the street, and I kiss you on the dance floor."
Adel mulai menyanyi dan bahkan lagu yang gadis itu pilih tak main mai tingkat kesulitannya. Key tahu Adel memang memiliki suara yang epic, bahkan jauh lebih bagus dari suara Luna, namun Key tetap memilih untuk menantangnya. Syair demi syair dinyanyikan, sampai Adel menyanyi pada puncaknya
" Why can't you hold me in the street, why can't I kiss you on the dance floor. I wish that we could be like that, what can't we be like that, cause I'm yours.. I'm yours."
" Ooouuhhh Why Can't you hold me In the street…"
Key, Luna dan bahkan Agatha langsung bersorak dan bertepuk tangan saat Adel bisa mencapai nada tinggi di lagu itu dengan sempurna tanpa goyang dan bahkan tanpa ada keraguan. Sangat enak didengar karna tidak memaksakan, astaga, bahkan Key sampai iri dibuatnya.
Lagu selesai dan kini giliran Agatha untuk mengambil alih pengeras suara tersebut. Mulanya Agatha menolak, namun akhirnya gadis itu bersedia dengan syarat tak akan diblly jika suaranya memang tidak enak di dengar.
" Tell me her name I want to know, the way she looks and where you go."
" I need to see her face, I need to understand, why you and I came to end."
Luna, Key dan Adel terdiam seketika. Seakan dapat merasakan rasa sakit yang disampaikan oleh lagu ini, dan entah mengapa Agatha bisa menyampaikan pesan itu dengan sangat baik, seakan gadis itu merasakan kesakitan yang sama saat menyanyikan lagu ini.
" I let you go, I let you Fly. Why do I Keep on asking Why."
" I Let you go, Now that I found, a way to keep somehow."
" More than a broken Vow."
" I close My eyes, and dream of you and I and then I realize."
" There's more to life than only bitterness and lies. I close My eyes."
" I'd give away my soul to hold you once again. And never let, this promise end."
Luna langsung memalingkan wajahnya dan mulai menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah terjatuh. Sepertinya lagu ini sangat menusuk batinnya. Menyindir Luna yang memang merasa pernah dikhianati oleh sebuah janji. Yah, lagi lagi Luna mengingat Radith dalam hal ini.
" I'll let you go, Now that I Found….."
Key langsung menganga karna Agatha memiliki range suara ynag lebih epic dari Adel. Bahkan lagu ini memiliki nada yang jika rendah sangat rendah, namun nada tingginya sangat melengking dan membuat tenggorokan sakit. Namun Agatha bisa menyanyikan lagu itu dengan sangat baik, bahkan sekaligus menyampaikan pesan lagu itu dan membuat Luna menangis.
" GILAAKKK, Ternyata Suara Lo epic banget njirrrr, Adel kalah deh, ngaku gue, Adel kalah," ujar Key bertepuk tangan heboh, membuat Agatha menunduk malu, sementara Adel memandangnya penuh rasa kagum.
" Lo tuh banyak bakatnya, Lo cantik, suara Lo epic, dan yang paling penting, Lo itu tulus. Lo gak usah ngerasa Lo gak pantas atau Insecure sama diri Lo sendiri. Gue sejak pertama kali lihat Lo aja tahu kalau Lo mampu, tapi Lo gak percaya sama diri Lo sendiri," ujar Adel dengan jujur, membuat Agatha memandang Adel dengan tatapan haru.
" Nona, sebentar lagi kita sampai, dan dari sini sampai ke tempat nona Lucy jalannya sudah tidak rata, jadi nona nona harap bersiap karna akan menyebabkan mual dan pusing jika tidak terbiasa." Mereka mengangguk dan menegakkan kursi agar tidak merasa pusing.
Tak lama setelah perguncangan mereka, jalan yang berbatu dan beberapa kali mobil sedikir terglincir di dalam lubang. Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana dengan toko kelontong di depannya.
" Lucy tinggal disin? Mana jarak sama tetangga jauh, astaga, kalau gue tahu dari awal, gue bakal mohon ke bokap buat epasin dia dan maafin kesalahannya," ujar Luna dengan sedih saat turun dari mobil. Mereka terdiam dan membenarkan perkataan Luna. Bagaimana Lucy yang selama ini berkecukupan bisa menjalani hidup sesederhana ini?
Mereka berjalan mendekat ke arah pintu dan mulai mengetuknya. Terdengar seorang dari dalam sana menjawab dan membuka pintu. Baik Luna, Key, Adel dan Agatha maupun gadis yang ada dihadapan mereka langsung mematung dan terpaku satu sama lain. Luna langsung menyerbu dan memluk gadis itu saat dia kembali ke kesadarannya.
" Gue kangen banget sama Lo, gimana bisa Lo ngejalanin hidup kayak gini. Lo pasti menderita banget, maafin gue ya, karna bokap gue bikin Lo harus ngerasain kayak gini," ujar Luna dengan tangisan yang sudah pecah. Dia membayangkan jika dirinya ada di posisi Lucy, pasti Luna sudah depresi setengah mati.
" Ka.. kalian ngapain ke sini?" tanya gadis itu tanpa melepaskan pelukan Luna, disusul Adel dan Key yang juga menyerbu untuk memeluk Lucy dan Agatha yang menyaksikan mereka dengan senyum merekah di bibirnya. Kehangatan yang jarang dia lihat dan entah sudah berapa lama tak dia rasakan.
" Kalian gak seharusnya di sini, gue, gue gak pantes dapat perlakuan kayak gini, gue, gue udah bersoda sama kalian, gue gak layak diperlakukan kayak gini sama kalian. Mending kalian pulang, kalian bakal ikut terhina kalau dekat – dekat sama gue," ujar Lucy melepaskan pelukan mereka dan mundur beberapa langkah.
" Gak, gue gak akan pernah ngerasa kayak gitu, dan gue pun yakin mereka juga merasakan hal yang sama. Lo gak perlu ngerasa kayak gitu, kita ini ahabat, kita gak akan biarin salah satu dari kita hilang atau ngerasa sengsara sendirian. Gue janji, gue janji bakal minta bokap buat udahan bikin Lo kayak gini, Lo tunggu gue ya?" Lucy menggelengkan kepalanya cepat dan menolak usul dari Luna.
" Gak bisa, gue harus tanggung jawab Lun, ini kesalahan gue, kemakan omongan Om gue dan bahkan nyaris bikin Lo dan Adel tews. Gue gak pantes masih dibaikin sama kalian, bahkan gue malu kalian masih ngakuin gue sahabat, gue gak layak Lun."
" Gak ada yang lebih layak dibanding Lo buat jadi sahabat. Kita udah sahabatan tiga tahun, dan bahkan gue gak tahu latar belakang keluarga Lo, dan kepahitan yang Lo rasain sampai bom waktu itu meledak, harusnya kami yang malu sama Lo Luc," ujar Adel yang tidak setuju dengan pernyataan Lucy. Mereka kembali berpelukan tanda perdamaian.
" Semua orang pasti pernah ada masa lalu yang kelam. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan ini kesempatan kedua Lo. Kita sahabatan lagi, kita kumpul lagi, dan kita bisa senang – senang lagi kayak dulu, oke?" usul Key yang membuat orang – orang itu mengangguk dan tersenyum lalu kembali berpelukan. Pandangan Lucy tertuju pada Agatha yang tampak tak asing baginya.
" Lo masih ingat dia kan pasti? Si cupu dari kelas gue, gue bawa ke sini karna sekarang dia bagian dari kita, Lo gak keberatan kan?" tanya Adel saat menyadari Lucy bingung karna ada Agatha di tempat ini. Lucy mengangguk dan tersenyum pada Agatha. Canggung rasanya karna Agatha tahu semua cerita namun tak menganggapnya penjahat.
Beruntungnya Lucy memiliki sahabat seperti mereka, tak menjatuhkannya bahkan masih mau menerima dia dnegan segala kesalahannya. Mereka tak membocorkan masalah ini ke pihak lain, bahkan mereka menutupi kepindahan Lucy dengan berbagai alasan agar teman – teman mereka tak curiga dan tak menjadikan Lucy obyek perbincangan.
" Kalian kok sampai ke tempat ini? Apa gak masalah sama tuan Wilkinson? Kan gue di sini bukan buat liburan guys, gue di sini buat nebus kesalahan gue sampai waktu yang gak bisa ditentukan karna itu wewenangnya. Gak seharusnya kalian disini," ujar Lucy setelah mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah.
" Bukan Luna namnya kalau gak bisa bikin Papa Wilkinson nyerah. Kalau daddy gak mau gendang telinga pecah ya daddy harus nurutin gue," ujar Luna dengan bangganya, padahal hal itu bukan suatu yang bisa dibanggakan.
" Lo tunggu sebentar lagi ya, gue bakal berusaha bujuk bokap buat lepasin Lo, apalagi semua ini gak semua salah Lo, dan kita udah maafin Lo, kita gak bakal bikin Lo sengsara lagi kayak gini," ujar Luna memegang tangan Lucy dan menatap gadis itu penuh keyakinan. Lucy mengangguk dan mengiyakan Luna saja, meski dia ragu tuan Wilkinson akan mengijinkan hal itu.
" ceritain dong, ini gimana ceritanya Agatha bisa join dan sampai kesini? Lo pasti di guna guna sama Adel tuh Ta, iya kan? Ngaku Lo del," ujar Lucy yang membuat Adel terbingung. Adel menyadari sesuatu yang selama ini tak disadarinya.
" Selama ini Lo lemot tuh sandiwara ya? Lo sebenrnya ngerti kan apa yang kita omongin? Tapi Lo sengaja gak nyambung? Iya kan?" tanya Adel yang tanpa sadar membuat Luna dan Key juga ikut berrpikir dan menunggu jawaban Lucy.
" Kalian baru sadar sekarang ya? Keren dong akting gue tiga tahun. Hahaha. Eh tapi serius, kadang gue gak sengaja buat kelemotan itu, walau kebanyakan Cuma kamuflase biar kalian gak akan mencurigai gue waktu gue jalanin rencana itu, ternyata malah gue yang salah. Sebenernya gue malu guys, bener deh," ujar Lucy yang tersenyum kecut.
" yaudah lah ya, yang udah ya udah, gak usah dibahas atau dipermasalahkan lagi," sahut key yang enggan suasana hangat ini malah berubah jadi panas dan canggung. Mereka akhirnya mengobrolkan hal lain yang membuat keakraban yang sempat hilang itu kembali terwujud.
Nyatanya memaafkan memang membuat hati jauh lebih melega, tak ada dendam dan tak mengungkit kesalahan adalah jalan yang terbaik untuk hidup berdampingan dengan nyaman dan sejahtera.
*
*
*
Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.
Adella
T(w)o Heart
Miss galak, Iove you
Ex lover
Soulmate
Thank you....
Love,
Eliz