Hopeless

Hopeless
Chapter 173



" Gimana bisa Lo ketemu dia dan Lo lepasin gitu aja? Lo gila? Dia tuh bahaya, dia udah bikin Radith nyaris mati karna dia nolongin gue, Roy mau nusuk gue, tapi Radith datang dan bertengkar sama dia, gue gak tahu kalau dia ternyata nekat ngelakuin hal itu ke Radith, sekarang Lo malah bikin dia kabur, yang benar aja," ujar Luna dnegan sewot.


" Lo Cuma bisa menghakimi dia yang naykitin Lo ya? Lucy aja Lo maafin, kenapa? Karna dia sahabat Lo? Kenapa Lo gak bisa lihat hal kayak gitu ke Roy? Mereka sama – sama manusia yang pasti punya alasan setelah melakukan suatu hal, Lo gak bisa hakimin dia gitu aja," ujar Danesya yang tak terima dengan nada sewotnya.


Mereka semua yang melihat Luna memaafkan orang yang menyaktinya pasti berpikir Luna adalah gadis baik yang menyayangi semua orang dengan tulus. Nyatanya yang Nesya lihat di sini berbeda. Gadis itu masih egois dengan ketakutannya sendiri, gadis itu mereka dialah korban yang sebenarnya.


Danesya tak prnah membenarkan apa yang dilakukan Roy, namun dia juga tak bisa menyalahkan lelaki itu setarus persen meski dia telah diperlakukan tak adil oleh lelaki itu. Danesya percaya setiap hal pasti ada alasannya, toh lukanya tak dalam dan tak perlu dipermasalahkan.


" Dia itu saiko, dia psikopat, Lo gak bisa ada di dekat dia, dia bahkan gak kenal sama Lo tapi bisa nyakitin Lo kayak gini, kalau Lo ketemu dia Lo harus langsung panggil pengawal, dia bukan tipe orang yang bakal ngelepasin Lo gitu aja," ujar Luna dengan khawatir, dia hanya tak mau Danesya terlibat, apalagi ini adalah masalah masa lalu yang tak perlu diungkit lagi.


" Itu bakal jadi urusan gue, gue tahu lo khawatir, tapi lebih baik Lo khawatirin diri Lo sendiri, dia nyakitin gue karna ngira gue itu Lo, lo yang harus berhati – hati sama keselamatan Lo, gue mau istirahat, lebih baik Lo keluar dan balik ke kamar Lo sendiri," ujar Danesya dengan cepat setelah melihat Luna membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu.


Luna menghela napasnya dan menuruti apa yang diinginkan oleh Danesya, gadis itu beranjak dari sana dan langsung menutup pintu kamar Danesya menuju kamarnya sendiri. Dia tak habis pikir ternyata Danesya jauh lebih keras kepala dari dirinya, apa yang gadis itu pikirkan sampai membiarkan Roy sebebas itu dan bahkan sampai melukainya?


Gadis itu akhirnya memilih untuk diam dan tak mau memikirkan hal itu lagi, berharap ini terakhir kali dia akan mendengar naa Roy atau tak akan pernah lagi melihat Roy dalam hidupnya. Gadis itu cukup lelah dan bingung atas semua hal yang terjadi, dia tak mau menambah beban hidupnya dengan mikirkan Roy.


*


*


*


Luna berjalan ke kelasnya menggunakan seragam OSIS yang di dalamnya sudah terdapat segaram olah raga. Pelajaran olah Raga di jam pertama, namun mereka tetap tak diijinkan memakai seragam olah raga langsung dari rumah. Hal itu sebenarnya merepotkan, namun jika mereka nekat memakai seragam olah raga, mereka tak akan diijinkan untuk masuk.


Gadis itu masuk ke dalam kelasnya dan langsung membuka kemeja seragamnya memperlihatkan segaram olah raga yang membuatnya pengap dan kepanasan karna memakai segaram berlapis. Radith memperhatikan setiap apa yang Luna lakukan, lelaki itu menatap Luna dengan geli karna Luna tampak tak nyaman dnegan itu semua.


Luna memang bukan orang yang bisa menyembunyikan apa yang dia katakan atau dia rasakan, Luna akan langsung mengungkapkannya dan menampakkannya, apalgi jika hal itu membuatnya tak nyaman, itulah yang menjadikan gadis itu menarik, gadis polos yang baik hati, siapa ynag tak akan jatuh cinta akan semua itu?


" Apa Lo lihat – lihat gue kayak itu? Awas Lo nanti jatuh cinta sama gue, gak ada yang bisa tanggung jawab kalau Lo jatuh cinta sama gue," ujar Luna dengan gala, membuat Radith makin tersenyum dan menumpukan dagunya dengan tangan, memiringkan kepalanya dan menatap Luna dengan senyum yang amat manis.


" Kalau gue beneran jatuh cinta sama Lo gimana dong? Kalau gue ternyata udah jatuh cinta sama Lo gimana? Lo mau apa?" tanya Radith yang malah mengancam Luna, meski tersenyum, lelaki itu terlihat tengil bagi Luna, Luna bahkan sampai tak tahan melihat itu semua.


~ bugh


Akhirnya Luna melemparkan sebuah buku yang dia ambil di tasnya dimana buku itu langsung mengenai wajah tampan Radith. Lelaki itu tak marah, dia malah semakin geli karna melihat kemarahan Luna yang sebenarnya tak berdasar, semua itu cukup menjadi hiburannya untuk beberapa waktu ke depan.


Melihat senyum itu membuat Luna tiba – tiba teringat akan apa yang papa dan abangnya ceritakan tadi malam. Tiba – tiba saja perasaan Luna memburuk dan langsung mendudukkan dirinya di kursi, tanpa melihat Radith sama sekali. Melihat Radith tersenyum tanpa beban, membuat hatinya sedikit merasa sedih.


( flash back)


" Abang, gimana keadaan Danesya di luar negeri? Terakhir waktu telpon kan dia gak mau diajak video call, entah kenapa Luna ngerasa ada sesuatu yang gak beres bang," ujar Luna dengan tatapan sedihnya. Jordan yang hendak menjawab, namun Mr. Wilkinson menahannya, biar dia yang menjelaskan sendiri kondisi orang itu.


" Kondisinya gak membaik sama sekali, kanker yang dideritanya menyebar, bahkan dokter nyaris nyerah, tapi keinginan dia hidup itu tinggi dia bilang dia udah janji sama Radith buat sembuh dan dia bakal tepati janji itu, Daddy gak tahu berapa lama dia bakal bertahan, tapi yang jelas dokter sudah mengupayakan semua yang terbaik untuk dia."


" Ta.. tapi, dia bilang si telpon kalau dia baik – baik aja, dia bahkan bilang rambutnya udah mulai subur. Kalian juga senyum – senyum aja waktu dia bilang gitu di telpon," ujar Luna tak percaya dengan semua keadaan yang terjadi.


" Lantas kami harus gimana Lun? Bilang ke Radith kalau Blenda bohong? Bilang ke Radith kalau kondisi Blenda sama sekali gak baik? Kamu pikir itu yang mau didengar sama Blenda? Kamu pikir itu yang Blenda mau? Dia sengaja sembunyiin kondisinya biar Radith di sini gak kepikiran, dia juga gak mau kita semua kahwatir tentang dia."


Luna langsung terdiam dengan makanan yang bahkan masih ada di dalam mulutnya. Untuk mengunyah makanan itu saja dia sudah tak mampu, pikirannya terus melayang pada Blenda yang sanggup melakukan itu semua. Jika itu Luna, pasti dia akan mengeluh dan terus mengeluh, gadis itu sangat mengagumkan.


*


" Udah puas pukul gue nya? Gue Cuma mau bilang kalau udah bel dan udah waktunya kita ke lapangan. Lo gak mau kan dihukum lari keliling lapangan atau push up? Makanya jangan ngelamun mulu, kesambet setan baru tahu rasa Lo," ujar Radith sambil menyentil dahi Luna dengan keras, membuat gadis itu memekik kesakitan dan memegang dahinya yang sudah dianiyaya oleh lelaki itu.


" Terus kenapa Lo masih di sini aja beogo, ayo kita ke lapangan sekarang," ujar Luna dengan panik dan langsung menarik Radith untuk pergi dari sana. Lelaki itu terkekeh dan melepaskan cengkraman Luna dari lengan bajunya dan memegang tangan gadis itu untuk berlari bersama.


Radith dan Luna tertawa bersama sambil berlari, mereka menatap satu sama lain. Saat ini, suasana seakan melambat, seakan waktu mengijinkan mereka untuk bersama dalam waktu yang lebih lama. Tanpa mempedulikan orang lain ( memang tak ada orang lain di saat jam pelajaran seperti ini), mereka berlari menuju lapangan yang cukup jauh dari kelas mereka.


Naas, setelah sampai ternyata sudah ada guru yang menunggu dan memberikan breafing untuk apa yang mereka lakukan selanjutnya. Luna melepaskan tautan tangan Radith dan berjalan lesu ke arah guru itu. Guru itu memandang Radith dan Luna bergantian. Lalu memberikan kode pada mereka untuk berdiri di belakangnya.


" Hari ini akan diadakan penilaian lari jarak menengah, untuk rute sudah saya beritahukan tadi, tapi sebelum itu, kita akan lihat dua orang yang terlambat ini melakukan pemanasannya sendiri sebeum nanti kalian melakukan pemanasan bersama – sama, sampai sini paham?" taanya guru itu yang dijawab serentak oleh para siswa yang ada di sana.


" Silakan untuk kalian berdua bisa push up dua puluh kali sebagai konsekuensi kalian terlambat, untuk kalian semua, jika minggu depan ada yang terlambat lagi, silakan push up tiga puluh kali entah siapapun itu yang terlambat. Kalian semua mengerti?" tanya guru itu sekali lagi yang membuat mereka memandang Radith dan Luna dengan iba.


Tak ada pilihan, Luna akhirnya mengalah dan memposisikan dirinya untuk push up, dia melihat Radith yang sudah siap di posisinya. Mereka melakukan gerakan push up sambil menghitung bersama – sama. Sampai hitungan ke sepuluh, Luna meminta waktu untuk beristirahat sebelum akhirnya mereka menyelesaikan tugas mereka sampai hitungan ke dua puluh.


" Baik, terima kasih karna sudah bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan. Sekarang kita pemanasan agar kalian tidak kram, lakukan pemanasan dengan benar karna jarak menengah ini cukup jauh, jadi kalian perlu stamina dan kondisi kaki yang siap, kalau kalian gak pemanasan dengan benar, kalian bisa saja kram."


Mereka menurut dan mulai melakukan pemanasan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh guru mereka. Mereka menghitung dari angka satu sampai delapan dan mengulanginya lagi sampai dua kali sebelum akhirnya ganti ke gerakan berikutnya. Begitu seterusnya sampai pemanasan berakhir dan mereka bersiap di titik awal yaitu gerbang depan STM Taruna.


Luna yang tadi sudah lelah karna push up hanya berjalan lemas dan sudah berniat akan melambat, terserah dengan nilainya, dia hanya tak mau memforsir tenaganya lebih lagi, apalagi tadi pagi dia lupa tak meminum vitaminnya sedangkan vitamin itu hanya boleh diminum paling lambat lima belas menit setelah makan.


" Gue udah tahu rute nya, gak usah lagi kencang – kencang, ini kayak lari marathon, yang penting sampai ke garis finish aja udah lulus KKM nilainya," ujar Radith yang menyebelahi Luna. Dengan begitu Luna dapat mengambil kesimpulan jika Radith akan berlari bersamanya. Luna mengangguk saja dan menuruti apa yang Radith katakan, apalagi sejalan dengan niatnya.


" Gue lupa minum vitamin dith, kalau gue lemes Lo gendong gue ya? Lo kan baik sama gue," ujar Luna memelas pada Radith, lelaki itu berdecih dan langsung menoyor kepala Luna. Gadis itu memang selalu melunjak jika dia memberikan sedikit belas kasihan dan keberpihakan. Mana mungkin Radith mau menggendongnya untuk lari marathon ini? Apakah gadis itu sudah gila?


" Lo bilang Lo lupa minum vitamin? Pantas aja pikiran Lo kayak orang gila gitu," ujar Radith yang membuat Luna mencubit lengannya, namun sesaat kemudiaan Radith menyadari suatu hal, lelaki itu mengamati Luna dengan seksama dan hendak mengatakan sesuatu, namun ternyata mereka sudah diminta untuk berlari. Akhirnya Radith berlari di sebelah Luna tanpa mengatakan apa yang ingin dia katakan.


" Tadi Lo mau ngomong apa? Gue udah lihat Lo buka mulut tapi malah gak jadi ngomong," tanya Luna sambil berlari, gadis itu berlari sangat pelan, bahkan jarak mereka berdua cukup jauh dengan mereka yang ada di depan. Bagaimanapun Luna tak peduli, dia hanya perlu menyelesaikan tugasnya berlari, tak peduli harus memakan waktu berapa lama.


" Sejak kapan Lo minum vitamin gitu? Perasaan dulu enggak gitu kan?" tanya Radith yang akhirnya menanyakan hal yang membuatnya penarasan. Luna tampak bingung dan berpikir, mengingat sejak kapan dia mulai meminum vitamin – vitamin itu.


" Kayaknya sejak gue sering jatuh gitu, kata dokter sih gue gak papa, tapi karna sekarang cuacanya mendukung banget buat orang jadi sakit, jadinya dokter kasih gue vitamin itu, ya gue mah nurut – nurut aja sama dokternya," ujar Luna yang diangguki oleh Radith.


Radith menyadari menjadi anggota keluarga Wilkinson, kesehatan dan keselamatan mereka tentu sangat diutamakan. Apapun akan mereka upayakan untuk membuat keluarga mereka senantiasa sehat. Radith tak bertanya lagi dan memilih untuk terus berlari bersama gadis itu. Radith masih mengawasi Luna yang tampak mulai kelelahan karna berlari.


" Lo capek? Kalau Lo capek kita istirahat dulu, kalau Lo pingsan gue juga yanag repot," ujar Radith yang digelengi oleh Luna. Gadis itu tak mau berhenti, bahkan dia sudah berlari lambat, jika disertai berhenti sudah pasti mereka akan tertinggal jauh.


Apalagi bisa saja Radith berlari dulu dan meninggalkannya, namun lelaki itu tak mau melakukannya, hal itu tentu membuat Luna tak enak hati, Radith akan kembali disindir dan diamrahi karnanya. Mereka sudah dihukum karna Luna, Luna tak mau Radith menderita lebih jauh karna dirinya.


" Lo gak mau istirahat? Ya udah sana lari aja, gue yang istirahat," ujar Radith yang langsung menghentikan langkah kakinya dan berjongkok di tepi jalan. Melihat hal itu tentu Luna jadi terharu dan menghentikan langkahnya.


Gadis itu menghampiri Radith yang sudah duduk di tepi jalan. Radith menarik tangan Luna agar segera duduk sementara lelaki itu langsung berdiri dan meninggalkan Luna. Luna hendak menyusulnya, namun lelaki itu memberi tanda untuk Luna tetap duduk. Tak lama Radith kembali dengan membawa the manis hangat yang membuat lelah di tubuh Luna hilang.


" Gue gak capek sama sekali, tapi kalau Lo capek, kita harus berhenti bareng – bareng, karna kaki bakal pincang kalau sebelahnya gak sehat, kaki harus sepasang biar bisa berjalan dengan baik."


" Dith…" ujar Luna dengan terharu memandang Radith yang juga memandangnya.


" Kenapa?" tanya Radith dengan tenang dan santai.


" Gue gak ngerti Lo ngomong apaan," ujar Luna dengan wajah sedih dan bibir yang cemberut.