
" Luna, kamu belum makan dari kemarin. Kamu ikut sama bang Jordan dulu ya, kalian makan dulu. Kalau udah baru ke sini lagi," ujar tuan Wilkinson pelan, Lunetta hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa dia meninggalkan Darrel dan makan dengan tenang saat tahu kondisi Darrel masih berada antara hidup dan mati.
" Luna mau nungguin sampai operasinya selesai baru Luna makan Dad, Luna udah gak bisa tenang. Bagaimana kalau ternyata kondisi kak Darrel gak bisa diselamatkan lagi? Bagaimana kalau kak Darrel pergi waktu Luna gak di sini? Luna gak mau sampai seperti itu dad," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson menyerah.
" Luna, ikut abang sekarang, kita makan, selesai makan belum tentu operasinya udah selesai. Transpalasi hati gak bisa semudah itu. kalau kamu gak makan, abang gak akan ijinkan kamu ketemu sama Darrel, entah nantinya lelaki itu hidup atau mati," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson terkejut, namun beliau mengangguk pada Jordan. Sementara Luna menatap Jordan dengan kesal.
" Abang gak tahu apa yang Luna rasakan, abang gak bisa kayak gini sama Luna, Luna juga ada hak untuk hidup Luna sendiri," ujar Luna yang membuat Jordan menghela napasnya. Jordan memegang tangan Luna, membuat gadis itu menatap Jordan. Akhirnya Jordan membuka suara pada Luna.
" Kamu memang berhak berdiri di atas kakimu sendiri. Tapi kamu juga harus mikirin orang lain, terutama mereka yang udah khawatir sama kamu. Kalau kamu lupa, terakhir kali kamu membuat keputusan dan gak ada yang bantah, Radith kena tembak di pundak, Darrel koma dan organnya hancur, tanpa sadar kamu yang bertanggung jawab untuk itu," ujar Jordan tanpa ragu.
" Jordan! Bagaimana bisa kamu menyalahkan Lunetta? Sejak awal itu salah papa, papa yang membuat pak Indra melakukan semua itu," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan menggelengkan kepalanya pelan, dia tak bisa setuju dengan pendapat papanya, bagaimana bisa semua itu hanya salah papanya?
" Luna sudah dewasa Pa, Luna harus tahu langkah yang dia ambil gak hanya berpengaruh untuk hidupnya, tapi juga untuk orang sekitarnya. Jordan udah tahu, Lira bahkan memperingatkan Luna buat gak keluar dari rumah dan ikut pesta halloween itu, semua berawal dari sana kan? Papa masih mau nyalahin diri sendiri?"
" Jordan!"
" Luna gak akan pernah tumbuh dewasa sampai dia tahu tentang hal ini. Secara gak langsung, tangan Luna ikut terlibat sampai akhirnya semua jadi seperti ini. Jordan mengatakan ini bukan karna Jordan benci sama Luna atau Jordan marah atau apapun itu, Jordan bilang kayak gini karna Jordan sayang sama Luna."
" Jordan gak mau selamanya Luna hidup dengan pikiran yang sederhana, gak melihat efek yang ditimbulkan, sampai pada akhirnya semua orang kewalahan buat ngatasin ini. Jordan gak bilang masalah ini semua karna Luna, Jordan juga salah, papa juga salah. Tapi kita gak bisa gitu aja bilang ke Luna kalau Luna gak bersalah, Luna gak akan bertumbuh dewasa kalau gitu."
" Sekarang kamu lihat abang. Untuk makan aja kamu rewel, kamu pikirkan dampaknya. Kamu bakal sakit, iya kalau sakitnya Cuma biasa, kalau berakhir sakit lambung atau usus buntu gimana? Papa bakal jauh lebih khawatir, akhirnya papa gak fokus buat nyembuhin Darrel, Darrel gak bisa diselamatkan dan akhirnya papa bilang semua itu salah papa."
" Abang berusaha tenang dan gak berkomentar karna situasinya gak separah ini. Abang Cuma gak mau baik kamu, atau papa, kalian berada dalam situasi yang tertekan karna ada masalah baru. Jadi abang mohon sama kamu, jangan buat masalah baru, nurut sama abang, kita Cuma makan sebentar, habis itu balik lagi ke sini."
Tuan Wilkinson tak bisa menyanggah Jordan. Luna sendiri langsung menunduk, dia akhirnya mengambil tangan yang terulur itu dan berjalan bersama Jordan. Tuan Wilkinson berharap Luna tidak salah paham untuk sikap Jordan. Lelaki itu sangat lembut terhadap Luna, jika sampai setegas itu, berarti Luna sudah keterlaluan baginya.
" Abang, Luna mau minta maaf udah bikin abang marah. Luna minta maaf karna udah bikin smeua kayak gini. Luna minta maaf karna udah bikin kak Darrel sekarat," ujar Luna dengan lirih. Jordan yang mendengar hal itu langsung menghentikan langkahnya dan membungkuk, membiarkan Luna untuk naik ke gendongannya.
" Abang gak marah sama kamu. Abang Cuma sedikit kecewa aja, padahal kamu disuruhnya makan loh, itu gak sulit dan itu juga buat kebaikan kamu. Abang harap kamu ak benci sama abang karna abang udah sampaikan hal itu dengan cara yang gak baik ke kamu, abang minta maaf," ujar Jordan sambil melangkah setelah membenarkan posisi Luna di punggungnya.
" Luna ngerti, Luna juga menyadari apa yang bang Jordan bilang semua gak ada yang salah. Luna yang selama ini selalu rewel dan nyusahin banyak orang. Luna menyaadari hal itu, dan Luna benar – benar mau berubah, apalagi Luna udah bukan anak SMK yang labil," ujar Luna sambil tersenyum tipis.
" Kalau kamu benar mau berubah, kamu harus komitmen ke diri kamu sendiri. Kamu harus ingat, apapun yang kamu lakukan, itu gak Cuma berdampak untuk kamu. Kamu hidup sebagai makhluk sosial dan lingkungan kamu akan menanggung akibat dari perilaku kamu yang salah," ujar Jordan dengan sangat lembut.
" Luna ngerti. Luna bakal belajar untuk hal itu, tapi Luna butuh bang Jordan buat ngajarin ke Luna tentang hal itu, Luna butuh orang yang jujur ngungkapin kalau Luna salah. Makasih karna bang Jordan tetap sayang sama Luna sampai sekarang, walaupun Luna udah sering bikin bang Jordan kesal," ujar Luna sambil tersenyum
" Bagus kalau kamu sadar sering bikin abang kesal. Kalau kamu bikin abang kesal lagi, abang bakal gantung kamu di rumah pohon sampai pohon itu roboh dengan sendirinya," ujar Jordan yang membuat Luna mengerucutkan bibirnya.
" Kirain mah abang bakal bujuk Luna atau apapun itu, nyebelin emang," ujar Luna yang membuat Jordan terbatuk dan tercekik karna Luna mengerratkan pegangannya pada leher Jordan. Jordan menepuk – nepuk tangan Luna saat dia tak bisa bernapas, Luna langsung melepaskan tangannya dari leher Jordan setelah itu.
Mereka akhirnya sampai di kantin rumah sakit dan memeesan makanan untuk mengganjal perut mereka. Luna makan dengan baik dan tertawa saat Jordan menunjukkan hal – hal yang lucu. Luna merasa bersyukur mendapat kakak yang sangat baik dan tegas dalam bersamaan. Tak membiarkannya terluka, dan tak membiarkannya salah melangkah. Apakah ada kakak yang lebih baik di dunia ini?
Jordan dan Luna langsung kembali ke depan ruang operasi saat selesai makan. Jordan juga membawakan beberapa potong roti untuk papanya. Mereka kembali menunggu dokter yang melakukan operasi untuk Darrel. Sampai akhirnya lampu di ruang operasi itu padam saat mereka sudah menunggu cukup lama.
" Operasinya berjalan lancar, namun kita masih belum bisa bernapas lega karna kondisi pasien cukup mengkhawatirkan. Pasien masih belum melewati masa kritisnya, kami akan memasukkan pasien ke ruang ICU agar perawatannya bisa maksimal sampai pasien benar – benar pulih," ujar Dokter yang sudah melepaskan maskernya. Tuan Wilkinson mengangguk paham untuk penjelasan dokter.
Luna langsung berdiri saat melisar semua brankar dan Darrel ada di sana, lengkap dengan selang oksigen yang membungkus hidungnya. Lelaki itu tampak lemah dan tak berdaya, membuat Luna merasa sedih bahkan hanya dnegan memikirkannya. Mereka mengikuti dokter dan perawat yang sudah melakukan operasi dengan baik.
" Pihak keluarga boleh saja membawa pasien jika memaksa, tapi kami sangat tidak menyarankan karna kondisi pasien sangat kritis. Saran dari saya, kita menunggu kondisi pasien lebih stabil agar bisa dibawa ke tempat lain, apalagi saya yakin asal anda bukan dari negara ini. Apa saya salah?" tanya dokter itu yang daingguki oleh tuan Wilkinson. Ah ya, semua percakapan bersama dokter dilakukan dalam bahasa Inggris.
" Dad, kak Darrel akan baik – baik aja kan Dad? Kak Darrel akan pulih kan?" tanya Luna dengan lirih, tuan Wilkinson mengelus kepala Luna pelan dan meminta gadis itu untuk mengatakan sendiri pada Darrel. Meminta Darrel untuk selamat dan bertahan. Luna menyetujui permintaan itu.
Luna memakai baju khusus untuk menjenguk pasien yang berada di ruang ICU, bahkan hanya boleh ada satu pengunjung di ruang itu untuk menjaga tempat itu tetap steril hingga kondisi pasien tidak memburuk. Luna melihat Darrel yaang hanya terdiam dengan banyak kabel terhubung di tubuh lelaki itu, membuat pertahanan Luna kembali roboh.
" Kak Darrel kenapa tega melakukan semua ini sama Luna? Kak Darrel kenapa gak mau buka mata dan lihat Luna? Kak Darrel kenapa gak mau jawab Luna? Luna kesepian, Luna sedih lihat kak Darrel kayak gini, Luna kangen sama suara kak Darrel. Kak Darrel cepat pulih ya kak?"
" Kak Darrel ingat kan kak Darrel pernah kasih enam permintaan biar Luna mau minum obat? Luna Cuma minta empat waktu itu, Luna masih punya dua permintaan. Kak Darrel gak boleh nolak permintaan Luna yang kali ini karna kak Darrel udah nolak permintaan Luna yang terakhir kali. Luna Cuma mau kak Darrel sadar."
" Luna mau kak Darrel sanggup buat bertahan dan melewati ini semua. Kak Darrel sayang sama Luna kan? Luna juga sayaaang banget sama kak Darrel, Luna hancur lihat kak Darrel selemah ini, Luna gak mau. Luna gak mau tahu, kak Darrel harus kabulkan permintaan Luna, ya kak? Ya?"
Luna langsung menggenggam tangan Darrel dan menunduk sambil menangis. Di depan pintu, seorang pria melihat Luna dengan tatapan dan perasaan yang tak bisa diartikan lagi. Lelaki itu memejamkan matanya dan meremas dadanya sendiri. Dia mencoba untuk menstabilkan detak jantung dan napasnya yang terasa sesak. Dia tak menyangka akhirnya seperti ini.
" Kalau Lo bahagia sama dia, Gue bakal lepas Lo dengan bahagia. Semoga kejadian ini gak akan terulang di masa depan, semoga di masa depan gue gak akan khawatir lagi tentang Lo karna udah ada dia di samping Lo. Lo doain gue ya Lun, biar gue bisa anggap Lo biasa aja," ujar pria itu yang tersenyum dan akhirnya berjalan menjauh dari ruang ICU.
Tangan Darrel tiba – tiba bergerak pelan. Luna bisa merasakan hal itu, Luna langsung memencet tombol yang memanggil perawat untuk datang. Tak lama perawat langsung datang ke kamar itu dan menanyakan apa yang terjadi. Luna menjawab pertanyaan mereka dan mereka langsung bergegas memanggil dokter.
" Lu.. Luna?" Luna langsung menengok dan menggenggam tangan lelaki itu dengan erat. Luna tidak bisa mengungkapkan kelegaannya melihat lelaki itu membuka mata dan memanggil namanya. Luna melihat ke alat pendeteksi jantung yang masih berbunyi, Luna melihat kondisi detak jantung lelaki itu cukup stabil. Luna hanya menggenggam tangan lelaki itu sampai dokter tiba di sana.
" Ini adalah keajaiban. Saya mengira pasien akan melewati masa kritisnya dalam beberapa hari. Ternyata pasien bisa melewati masa kritisnya secepat ini. Tuhan sudah menjawab doa kita. Kondisi pasien cukup stabil sekarang dan masa kritisnya sudah lewat. Jika sudah seperti ini,pasien bisa dipindahkan ke ruang inap biasa."
Luna mengangguk senang dan kembali menatap Darrel yang masih menatapnya dengan tatapan kosong. Luna menangis bahagia karna Darrel bisa diselamatkan. Gadis itu tak henti mengucap syukur atas keajaiban yang terjadi hari ini, dia tidak kehilangan Darrel. Sementara itu tangan Darrel langsung terulur, membuat Luna bingung apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu.
" Aku gak suka lihat kamu nangis," ujar lelaki itu yang langsung mengusap kantung mata Luna dan mengelus pipi gadis itu, membuat Luna memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang Darrel berikan. Luna tak mampu menahan rasa senangnya sampai dia tak henti menangis.
Dokter dan perawat kembali dengan membawa brankar dan membantu Darrel agar mudah dipindahkan ke ruang biasa. Baik itu tuan Wilkinson atau Jordan, mereka sama sama lega karna Darrel berhasil melewati semua ini. Kini tinggal dua masalah yang harus mereka selesaikan dalam waktu sesingkat mungkin.
" saya ingin menanyakan suatu hal pada pasien. Saya menemukan jika kondisi pasien sangat lemah, apakah pasien memmiliki.." dokter tak melanjutkan kata – katanya saat Darrel menggelengkan kepalanya ke arah dokter itu, sementara Luna yang bingung langsung mendesak dokter itu untuk menjelaskan mengapa kondisi tubuh Darrel lemah.
" Aku bakal jelasin sendiri ke kamu, aku mau aku orang pertama yang kasih tahu kamu biar kamu gak terlalu kecewa," ujar Darre; yang membuat Luna terdiam. Jujur saja, gadis itu merasa takut karna wajah Darrel tmpak sangat serius saat ini."
" Selama ini aku punya penyakit gagal ginjal. ginjalku udah gak bisa berfungsi dengan baik dan aku harus sering cuci darah untuk bertahan hidup. Kondisinya mungkin makin parah karna kemarin perut aku sempat dipukul pakai balok kayu," ujar Jordan yang membuat Luna membuka mulutnya.
" Lalu kenapa gak cari donor? Kenapa gak segera ganti pakai ginjal yang baru?" tanya Luna dengan wajah yang gelisah.
" Aku udah berusaha cari, tapi kondisi tubuh aku sangat langka, aku gak bisa terima ginjal sembarangan atau malah kondisi aku sendiri yang memburuk. Itu sebabnya sampai sekarang aku gak bisa operasi dan pakai ginjal yang baru."
Baru saja Luna merasa bahagia, kini gadis itu kembali merasa sedih karna pernyataan Darrrel.
" Kamu tenang aja, aku bakal bertahan. Aku bakal cari donor ginjal bagaimanapun caranya. Aku bakal berjuang buat kamu. Jadi kamu jangan terlalu khawatir sama aku. oke?" tanya Darrel yang membuat Luna menundukkan kepalanya.
" Kak Darrel harus berjanji untuk kali ini. Karna Luna gak mau kecewa lagi, Luna gak mau," ujar Luna pelan, Darrel tersenyum dan mengangguk.
" Iya, aku janji. Aku janji bakal bertahan selama mungkin sampai donor yang ditunggu datang," ujar Darrel dengan senyum di wajahnya yang pucat.