
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju kediaman sang calon istri, sepanjang perjalanan tersebut Faris mengemudikan kendaran seraya senyum-senyum sendiri.
Wajah manis pemuda tersebut semakin terlihat menawan, dengan senyuman yang senantiasa menghiasi bibirnya. Namun, sedetik kemudian wajah itu berubah menjadi sangat serius.
Faris mengerutkan dahi dengan dalam, pemuda tersebut tiba-tiba teringat dengan wajah Nezia yang terlihat penuh dengan kesedihan dan kekecewaan, ketika pertama kali mereka bertemu beberapa hari yang lalu.
'Kasihan sekali, Neng Ganis. Di khianati oleh orang terdekat, apalagi oleh almarhumah Rasti yang kabarnya sudah seperti saudara sendiri, pastilah sangat sakit,' gumam Faris, dalam hati.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Faris memasuki halaman sebuah rumah megah, dengan gerbang yang tinggi menjulang.
Faris kembali mengerutkan dahi, kala melihat banyaknya mobil-mobil mewah yang berjajar di halaman kediaman Ayah Alex dan beberapa mobil juga terlihat di garasi luas yang berada di samping rumah.
'Apa, keluarga Neng Ganis sudah berkumpul semua, ya?' batin Faris, bertanya-tanya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Faris bergegas turun.
"Ris, sendirian saja?" tanya Malik yang baru keluar dari rumah megah tersebut.
"Bang Malik, kapan datang?" sapa dan tanya Faris. Pemuda berwajah manis itu mengabaikan pertanyaan Malik.
"Belum lama, Ris. Tadi ke rumah daddy dulu," balas Malik. "Yang lain, apa masih di rumah sakit?" tanya Malik kemudian.
"Masih, Bang. Faris pulang duluan tadi dan enggak ikut ke sana," balas pemuda ganteng itu. "Apa, Bang Malik mau menyusul ke sana?" tanya Faris.
"Iya, Ris. Rasti teman kami juga dan kami juga sudah kenal baik dengan keluarganya," balas Malik dengan wajah yang terlihat sendu.
Pemuda tampan tersebut menyayangkan kejadian yang menimpa Rasti, wanita muda yang nekat mengakhiri hidup karena frustasi.
"Kamu pasti mau ketemu Inez, ya?" tanya Malik kemudian, seraya tersenyum.
Faris membalas dengan anggukan kepala dan juga senyuman.
"Duduk dulu, Ris! Sebentar aku panggilkan." Malik segera berlalu masuk kembali ke dalam, untuk memanggil adik sepupunya.
Tak lama kemudian, Malik datang kembali bersama Nezia dan kedua orang tua gadis tersebut.
Faris yang sudah duduk di ruang tamu luas dan mewah di kediaman Ayah Alex, segera berdiri begitu melihat kehadiran kedua calon mertuanya.
Pemuda yang santun tersebut dengan takdzim menyalami Ayah Alex dan Bu Nisa.
"Silahkan duduk, Nak Faris." Bu Nisa pun mempersilahkan calon menantunya itu untuk duduk kembali.
"Ris, aku tinggal dulu, ya," pamit Malik.
Faris mengangguk. "Makasih, Bang," ucap Faris.
Malik membalasnya dengan senyuman.
"Cie, yang mau nikah," goda Malik. Pemuda tampan putra kedua Daddy Rehan tersebut kemudian mengacak lembut puncak kepala Nezia sebelum berpamitan pada om dan tantenya, hingga membuat hijab gadis itu berantakan.
"Kalian ini, sudah dewasa masih saja seperti anak kecil." Bu Nisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah keduanya.
Malik kemudian menyalami om dan tantenya. "Malik mau ke rumah sakit dulu, Om, Tante."
"Hati-hati, Bang Malik," pesan Bu Nisa.
Malik mengangguk, patuh. Pemuda itu kemudian segera berlalu, meninggalkan kediaman Ayah Alex.
"Kejadiannya bagaimana tadi, Nak Faris?" tanya Bu Nisa, penasaran. Raut wajah wanita paruh baya tersebut nampak prihatin, mengetahui kabar meninggalnya Rasti dengan cara yang sangat-sangat disayangkan.
Faris kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya, dari awal hingga mereka semua mendapati almarhumah sudah tergeletak dan tak bernyawa.
"Jadi, mereka berdua sudah menikah?" tanya Bu Nisa, tak percaya.
Faris mengangguk, seraya melirik ke arah Nezia.
Gadis itu nampak tersenyum masam. 'Ternyata selama ini aku begitu bodoh! Aku begitu percaya dengan Kak Rasti dan persahabatan mereka berdua, sampai-sampai aku tidak tahu kalau mereka sudah lama bermain cantik di belakangku!'
'Aku tidak sedih kehilangan Dito, bahkan seribu Dito sekalipun. Yang membuat aku sedih saat itu, kenapa semua harus terjadi di saat hari pernikahan kami sudah begitu dekat? Kenapa enggak dari dulu-dulu aku memergoki mereka?' sesal Nezia yang masih merasakan kekecewaan karena sebuah pengkhianatan.
"Ibu enggak nyangka lho, Yah. Dito dan Rasti yang selama ini sangat baik di hadapan kita, ternyata mereka berdua memiliki affair," tutur Bu Nisa, sendu.
"Beruntung, semua ketahuan sebelum putri kita menikah dengan Dito ya, Bu." Ayah Alex menggenggam tanga sang istri.
Kedua orang tua itu kemudian menoleh ke arah Nezia, yang duduk di samping ibunya. "Nez, bersyukurlah, Nak. Allah masih melindungi kamu dari orang-orang yang tidak baik seperti Dito," tutur Ayah Alex, seraya menatap hangat sang putri.
Nezia mengangguk, membenarkan penuturan sang ayah.
"Nak Faris, kami titip putri kami, ya. Jaga dan sayangi dia, seperti kami menjaga dan menyayangi Inez dengan penuh cinta dan kasih," pinta Ayah Alex dengan netra berkaca-kaca.
Mendengar permintaan langsung dari ayah calon istrinya, membuat lidah Faris terasa kelu. Pemuda itu tak dapat berkata-kata, hanya anggukan kepala yang mampu dia lakukan untuk menjawab permintaan Ayah Alex.
Netra pemuda itu pun berkaca-kaca, Faris merasa sangat tersanjung dengan amanah yang diberikan oleh Ayah Alex yang sudah mempercayakan Nezia pada dirinya.
"Jika Inez melakukan kesalahan, tolong tegur Inez dengan cara yang baik ya, Nak Faris," imbuh Bu Nisa, yang kini sudah banjir air mata.
Faris kembali mengangguk. "InsyaAllah, Bu," balas Faris mencoba untuk bersuara, meskipun suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
"Terimakasih atas kepercayaan Bapak dan Ibu pada saya. Saya benar-benar menyayangi putri Bapak dan Ibu dengan tulus. Do'akan saya ya, Pak, Bu, agar saya dapat mengemban amanah yang Bapak dan Ibu berikan untuk menjaga Neng Ganis." Faris kemudian mengusap air mata yang menggenang di sudut matanya dengan Ibu jari.
Mendengar perkataan Faris dan permintaannya yang tulus untuk di do'akan, membuat Bu Nisa semakin tergugu. Begitu pula dengan Ayah Alex, air mata laki-laki paruh baya tersebut mengalir membasahi pipi.
Sementara Nezia terisak pelan. 'Dia benar-benar dewa penolong yang dikirim Allah, bukan hanya untuk menolongku malam itu, tetapi juga untuk mengobati rasa kecewaku.' Nezia mencuri pandang pada Faris.
'Aku tahu, Neng, pasti sulit bagimu untuk melupakan begitu saja kegagalan pernikahan kamu dengan Dito dan melupakan pengkhianatannya. Aku janji, Neng, aku akan membantumu melewati masa-masa sulit itu,' batin Faris seraya menatap Nezia.
☕☕☕☕☕ bersambung ...