Hopeless

Hopeless
Chapter 182



" Dokter bilang ke Luna tempo hari, Dokter bilang Luna baik – baik aja, Dokter bilang Luna gak akan kambuh – kambuh lagi, tapi bahkan kemarin Luna masih kambuh dok, pahal Luna gak pernah lupa, gak pernah telat minum obat." Ruangan di sebuah rumah sakit yang seharusnya tenang kini terasa gaduh karna kedatangan seorang gadis dan abangnya.


Jordan berusaha membuat Luna tenang, namun Luna terus saja marah dan menyalahkan dokter itu. Luna terus berkata dokter itu bohong padanya dan membuat gadis itu semakin terluka. Entah mengapa pikiran buruk tetap menghantui Luna dan gadis itu memaksa Jordan untuk menemaninya ke tempat ini, bahkan mengancam lelaki itu agar mau mengantarnya.


" Kamu dengar dulu penjelasan dokternya. Dokter bukan Tuhan yang nentuin kamu kambuh atau enggak, dokter tugasnya bantu kamu biar kamu lekas sembuh, lekas sehat. Kamu gak bisa kekanak – kanakan kayak gini Luna, kamu sadar," ujar Jordan yang merasa kasihan melihat adik gadisnya begitu terluka.


" abang bisa bilang gitu karna abang gak ngerasain jadi Luna. Abang gak tahu rasa sakitnya, abang gak tahu gimana Luna bingung saat tiba – tiba Luna jatuh padahal Luna gak kesandung apa – apa. Abang gak tahau rasanya udah punya harapan begitu besar tapi ternyata hasilnya mengecewakan. Abang gak tahu itu semua!!" teriak Luna dengan frustasi.


" LUNA! Kamu jangan keterlaluan! Abang tahu kamu takut, abang tahu kam usakit, kamu bingung, kamu marah. Tapi kamu harus jaga kesopanan kamu, kamu sadar Lun, nyebut astaga, nyebut," ujar Jordan yang menyenttak Luna namun langsung sadar dan mengelus kepala gadis itu yang menunduk karna sadar akan perbuatannya.


" Maafkan saya, menurut hasil pemeriksaan tempo hari memang Luna gak kenapa – napa dan tidak terjadi sesuatu yang buruk. Namun jika sampai ternyata Luna masih kambuh sampai seperti yang diceritakan, berarti sesuatu yang kurang baik sudah terjadi. Sekarang mari ikut saya, Luna harus diperiksa lebih intensif lagi," ujar dokter yang diangguki oleh Luna.


Luna dan Jordan mengikuti langkah dokter itu menuju sebuah ruang dimana segala macam tes dilakukan oleh Luna. Hasil yang diberikan oleh petugas membuat Jordan terdiam dan membisu, bahkan Luna sampai duduk melemas karna semua hasilnya tak sesuai dengan harapan Luna. Dokter bahkan sampai tak tega untuk menjelaskan lagi apa yang ada di tangannya.


" Jadi, kondisi Luna benar – benar gak bisa ditolong lai dok? Kondisi Luna, Luna, Luna gak akan pernah bisa sembuh lagi? Dan perlahan Luna bakal lumpuh? Dokter, dokter bohong kan sama Luna? Ini semua gak bener kan dok?" Luna masih berusaha menyangkal semua, namun dokter tak menjawab, sebagai dokter yang sudah mengabdi untuk keluaarga Wilkinson. Mendengar dan mengetahui hal ini merupakan pukulan tersendiri baginya.


" Jumlah dan dosis obat yang harus kamu minum akan bertambah, saya tidak bisa berbohong lagi karna memang penyakit ataksia tidak bisa diprediksi. Mulai sekarag kamu harus tetap check up satu bulan sekali, dan obat yang tadinya dua kali sehari, kamu harus meminumnya tiga kali sehari."


Luna menangis seketika. Gadis itu tak menyangka semua terjadi begitu saja. Bayangkan kakinya yang akan lumpuh suatu hari nanti membuat Luna sangat drop dan terluka. Gadis itu sudah membayangkan semua hal buruk yang akan terjadi.


" Kuncinya dalah pikiran positif kamu, kalau kamu peercaya kamu baik – baik saja dan akan terus baik – baik saja, maka tubuh kamu akan merespon hal itu dan membuat kamu semakin membaik. Saya harap kamu bisa terus berpikiran positif, saya harap harapan kamu untuk sembuh tetap tinggi, saya percaya kamu gadis kuat. Kamu bisa laluin ini semua dengan baik."


" Untuk pihak keluarga, saya harap bisa memberikan dukungan Moral yang lebih untuk Luna, Luna butuh banyak orang untuk memotivasi dan membuat pikirannya selalu positif sehingga kondisinya akan semakin membaik," ujar Dokter yang diangguki oleh Jordan. Lelaki itu mengangguk dan pamit dari tempat itu untuk pulang ke rumah.


Di perjalanan, Luna hanya bisa merenung dan menatap jalanan dengan pandangan kosong. Jordan tak berani mengusik Luna dan fokus pada jalanan yang ada di hadapannya. Jordan masih kepikiran apa yang dikatakan oleh Dokter. Bagaimana dia akan menjelaskan hal tersebut ke papanya? Jika papanya tahu, beliau pasti akan sedih sekaligus murka pada dokter yang ada di sana.


Seakan papanya tahu, beliau angsung menghubungi Jordan yang sedang menyetir. Panggilan dari beliau membuat Jordan termangu, tidak berani mengangkat panggilan itu dan hanya melempar ponselnya ke jok belakang. Dia akan menjelaskan semuanya di depan papanya sekaligus menahan papanya melakukan suatu hal yang berdampak buruk.


*


*


" Dari mana saja kalian? Kenapa telpon papa gak dijawab?" semprot Mr. Wilkinson yang membuat Jordan langsung berlari dan merangkul beliau ke sebuah ruangan yang ada di sana. Luna melihat semua itu dengan matanya, namun dia tidak merespon appaun, tubuh dan pikirannya terlalu lelah untuk memikirkan semua ini.


Gadis itu duduk di sofa dan terdiam. Entah sudah berapa lama dia terdiam, dia melihat papanya mendekat dan mengelus kepalanya, meyakinkan dirinya semua akan baik – baik saja dan pergi dari sana, entah kemana dan apa tujuannya. Luna tak mau peduli akan hal itu, bahkan untuk sesaat Luna tak mempedulikan semua yang ada di dunia ini.


" buat apa gue peduli sama dunia yang bahkan gak lama lagi bakal gue tinggalin? Sebentar lagi gue gak akan bisa menghirup udara segar yang ada di sini, sebentar lagi gue akan meninggalkan semua yang ada di sini. Gue gak berguna, gue gak bisa apa – apa setelah gue lumpuh," ujar Luna yang langsung memukul kakinya dengan kesal.


" Eh, kamu kenapa? Kenapa marah sama kakinya? Kakinya salah apa?" suara itu membuat Luna menoleh dan mendapati Darrel yang masuk ke dalam ruamahnya dan menatapnya khawatir. Seakan tahu Luna menghadapi masalah yang besar, lelaki itu menggenggam tangan Luna dengan erat.


" Kau suntuk gak di rumah ini? Main ke rumah aku yuk? Kalau kamu mau, aku bakal ijin ke papa kamu, gimana?" tanya Darrel yang diangguki oleh Luna. Gadis itu setuju saja karna memang dia butuh hal yang akan merefresh otaknya, semoga saja pikirannya akan teralihkan di rumah Darrel.


Lelaki itu tersenyum dan berjalan ke arah ruang kerja papanya, cukup lama Darrel ada di dalam sana, mungkin terjadi negosiasi a lot antara papa dan Darrel yang membuat lelaki itu memerlukan waktu lebih lama untuk meyakinkan papanya. Darrel akhirnya keluar dari dalam ruang itu dan mengajak Luna ke kamar Luna agar Luna bisa berganti pakaian.


Mereka segera pergi dari rumah Luna menuju rumah Darrel. Dimana tidak ada seorang pun di sana. Dara yang entah sejak kapan memutuskan untuk tinggal di apartmen, papa Darrel yang beberapa bulan ke depan akan tinggal di luar negeri, serta beberapa pembantu yang berbeda rumah dari rumah utama.


" Tumben kak Darrel ajak Luna ke sini? Kenapa kak? Sepi pula," ujar Luna setelah sampai di halaman rumah Darrel. Lelaki itu mengajak Luna langsung ke belakang tanpa masuk ke dalam rumah. Sepertinya lelaki itu takut terjadi khilaf atau fitnah dari tetangga yang melihatnya membawa seorang gadis ke tempat itu.


Meski sebenarnya lingkungan rumah Darrel sangat tertutup dan Individual, tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh tetangganya, tetap saja Darrel khawatir sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi. Mereka terus berjalan sampai akhirnya Luna melihat banyaknya lampu hias yang membuat halaman beakang itu begitu bercahaya.


Pemandangan yang ada di hadapan Luna membuat gadis itu tanpa sadar melengkungkan bibirnya menjadi senyuman, padahal tadi gadis itu sangat frustasi dan hanya diam di sepanjang perjalanan. Luna berjalan mendekat ke arah lampu – lampu itu, meninggalkan Darrel yang tak melangkah sedikitpun, menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya. Tentu saja pemandangan itu Luna, gadis yang terlihat sangat bercahaya dibanding lampu – lampu itu.


" Kamu suka?" tanya Darrel yang langsung memeluk Luna dari belakang dan mencium puncak kepala gadis itu. Luna mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya. Gadis itu menatap haru atas usaha Darrel yang berusaha membuatnya bahagia. Bahkan Luna sendiri tak ingat ada moment apa sampai Darrel melakukan semua ini.


" Happy Anniversary buat kita yang pertama Luna. Makasih untuk hari – hari indah yang udah kamu kasih buat aku, makasih buat waktu dan kehadiran kamu yang sangat mewarnai hari aku," ujar Darrel yang membuat Luna terkejut. Bahkan gadis itu tak ingat akan hari anniversary mereka.


" Kak, aku bahkan gak ingat – ingat tanggal jadian kita. Aku jadi ngerasa pacar yang gak berguna banget deh kak," ujar Luna yang tak enak pada Darrel. Lelaki itu menyiapkan semua hal ini sendiri di saat Luna bahkan tak bisa mengingat tanggal jadian mereka. Namun Darrel mnggeleng pelan sebagai jawaban.


" Di saat kamu lupa, aku bakal ada di belakang kamu untuk ingetin semua. Di saat kamu terjatuh, aku bakal berusaha untuk ada di belakang kamu, bantu kamu bangkit. Aku mohon sama kamu, kamu harus tetap semangat, kamu harus tetap berjuang untuk smebuh, aku bakal selalu ada buat kamu. Maaf karna kemarin – kemarin aku gak ada waktu."


" Sekarang perusahaan udah stabil dan udah dipegang lagi sama papa. Sekarang aku punya banyak banget waktu sama kamu, kamu gak akan pernah sendirian hadapin semua ini Lun. Kamu jangan hilang kepercayaan, kamu harus tetap dan terus percaya kalau semua akan berakhir dengan indah."


" Kamu ingat kan dulu aku pernah bilang ke kamu. Selama bintang di langit masih bersinar cerah, selama itu pula harapan masih ada. Aku bakal terus berdoa, berharap dan berusaha biar kamu lekas pulih dan baik – baik aja di masa depan. Tapi apa yang aku lakuin semua akan sia – sia kalau kamu gak percaya."


Semua yang dikatakan Darrel langsung mengena di hati Luna. Gadis itu mengangguk dan memejamkan matanya untuk merasakan hangatnya Darrel mendekap dirinya. Gadis itu tidak boleh egois, setidaknya dia harus bertahan demi mereka yang menyayanginya. Setidaknya Luna harus berjuang agar mereka yang menaruh harap tidak kecewa.


" Aku bahagia banget aku masih dipercaya sama Tuhan untuk jaga kamu selama satu tahun ini. Aku mau terus bareng kamu di tahun – tahun yang akan datang. Melewati semua bersama sampai akhirnya kita menua. Aku mau setiap moment dalam hidupku, ada kamu di sisiku. Aku sayang sama kamu Luna," ujar Darrel yang melepaskan pelukannya dan menautkan tangannya dengan tangan Luna.


Lelaki itu hendak mengajak Luna untuk duduk, namun Luna tak bergerak dari tempatnya. Apa yang Darrel katakan justru membuatnya takut. Bagaimana jika ternyata Luna tak bisa bertahan selama itu? Bagaimana jika ternyata Luna harus meninggalkan Darrel begitu saja di saat lelaki itu sudah bergantung padanya.


" Kak Darrel jangan terlalu bergantung pada Luna. Kak Darrel harus berdiri di atas kaki kak Darrel sendiri. Luna takut kalau akhirnya Luna yang buat kak Darrel sedih. Kita sama – sama gak tahu sampai kapan Luna akan bertahan. Dan di saat akhirnya Luna pergi, kak Darrel ahrus bisa melanjutkan hidup kak Darrel."


Darrel tentu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Luna. Gadis itu sangat tenang dan bahkan penuh senyum saat mengatakan hal itu, meski dalam kilat matanya mengatakan bahwa bukan hal mudah bagi Luna untuk mengatakan semua hal ini, bukan hal mudah bagi Luna untuk meyakinkan Darrel.


" Kamu tahu kan, di hidup kamu, ada tali dimana aku bergantung. Jangan pernah kamu patahkan tali pengharapan kau Lun. Jangan pernah kamu buat aku kecewa dengan kamu yang seperti ini. Aku mau kita sama - sama berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Kamu suruh aku buat berdiri dengan kaki aku sendiri? Sudah sejak lama Lun aku gak bisa berdiri tanpa kamu, sudah sangat lama."


Luna kembali terharu dengan respon Darrel. Gadis itu sama sekali tak menyangka Darrel sudah terlalu jauh jatuh dalam citanya sendiri. Luna tak menyangka sebegitu besar harpaan Darrel pada Luna. Apakah gadis itu akan sangat melukainya jika Luna meninggalkannya? Luna bahkan tak sanggup meski hanya membayangkannya.


" Terima kasih kak, terima kasih untuk semua. Maaf, karna selama ini Luna belum bisa jadi kekasih yang baik, bahkan Luna masih berhubungan baik sama Darrel di saat Luna tahu hal itu bakal nyakitin kak Darrel."


" Eiitss, aku gak bilang kamu harus jauhin Radith, aku bahkan gak mau kamu jauhin Radith. Aku justru makasih sama Radith karna dia selalu jagain kamu di saat aku gak bisa lakuin itu semua, aku mau kita semua berhubungan baik. Aku percaya sama kamu, aku pun percaya sama Radith."


" Luna, di sini aku, papa kamu, bang Jordan, Danesya dan Radith. Kita sama – sama menaruh harapan besar untuk kamu tetap bertahan dan lawan penyakit ini, aku tahu aku yang harusnya kasih kamu enam permintaan itu. Tapi kali ini, aku mau minta satu aja permintaan ke kamu. Aku minta kamu harus bertahan, kamu harus sembuh dan kamu harus bahagia."


" Kak Darrel…" ujar Luna menggantungkan kata – katanya. Darrel menaikkan alisnya tanda bertanya pada gadis itu.


" Itu tiga permintaan kak, bukan satu," sambung Luna dengan wajah polosnya. Sontak suasana haru yang tercipta langsung hancur seketika, bahkan Darrel tak sanggup lagi menahan tawanya karna tingkah lugu Luna