Hopeless

Hopeless
Chapt 109



“ WOY REL! suntuk amat muka Lo kayak baju kumel di keranjang cucian.” Darrel tak menanggapi Angga yang menyapanya, lelaki itu bahkan langsung duduk di kursinya dan memasang earphone lalu memejamkan matanya.


“ Wah gila, Gue diabaikan, Lo yang bener sih Rel, Lo pasti ada masalah hidup yang bikin Lo pingin bunuh diri ya? Ngaku Lo sama gue, kita ini udah kayak kembar siam, gue tahu Lo ada masalah, ngaku Lo sama gue,” ujar Angga heboh sambil menggoyang – goyangkan pundak Darrel.


Kelas masih sepi maka dari itu Angga berani berkoar – koar dan berisik seperti ini, Angga memang sudah terbiasa berangkat pagi dan terkadang membantu Pak Bon membersihkan halaman depan jika dia memang tidak ada kerjaan, dia pun kaget karna Darrel yang biasanya datang beberapa menit sebelum bel kini sudah hadir di ruang kelas.


“ Bacot Lo bangsat!” sentak Darrel mendorong kasar pundak Angga yang membuat lelaki itu tersungkur di lantai, Angga meringis kesakitan namun Darrel tak peduli sama sekali. Melihat Darrel yang berubah dingin dan kasar membuat Angga menyadari bahwa lelaki itu sungguh tak baik – baik saja.


“ Parah, pantat sesksi gue dipaksa cium lantai sama nih anak, aduh, panas,” ujar Angga berdiri dan mengelus pantatnya sendiri lalu duduk tenang tak ingin menggangu Darrel lagi. Terkadang lelaki itu memang menyebalkan jika tidak ingin diganggu.


Darrel diam dan kembali mencoba mendengarkan alunan musik yang ada di ponselnya, namun akhirnya lelaki itu tak betah dan fokusnya terpecah karna kejadian kemarin. Dengan kasar Darrel melepas sumpalan kupingnya dan duduk menyender pada tembok.


“ Buset! Kayak Abege baru putus aja Lo, galaunya alay,” ujar Angga menggeleng tak percaya, Angga mengatakan hal itu secara spontan dan tidak tahu situasi, membuat Darrel meliriknya tajam lalu kembali ke posisi semula.


“ Emang gue habis putus, dan gue kan juga masih Abege, wajar dong,” ujar Darrel yang akhirnya mengutarakan kegundahannya dengan mata yang masih terpejam. Angga mengangguk paham dan akhirnya tahu mengapa Darrel begitu liar pagi ini.


“ Ooohh, Lo habis putus,” ujar Angga santai, sepertinya lelaki itu masih belum sadar dan paham maksud dari perkataan Darrel, Darrel bahkan sampai menghela napasnya karna Angga yang tidak tahu situasi.


“ HAH? LO PUTUS! ANJIR! BARU SADAR GUE, PANTES LO GALAK KAYAK ANJING HABIS LAHIRAN! KENAPA BISA PUTUS?” Angga berteriak heboh dan menepuk – nepuk meja seolah hal yang baru saja didengarnya adalah hal yang sangat besar dan perlu diperdebatkan.


“ Gak sekalian Lo ngomong di pengeras suaranya TU? Gue di depan Lo, gak usah teriak – teriak njir, gue gak budge,” ujar Darrel menampol muka Angga pelan dan meraup muka yang menunjukkan wajah cengo itu, bahkan mulut Angga masih terbuka karna shock.


“ Iya gue kemarin putus sama Lunetta, dan sekarang gue lagi frustasi banget, nanti temenin gue ke tempat yang dulu kita biasa nongkrong ya! Frustasi banget gue,” ujar Darrel sambil meletakkan kepalanya di meja.


“ wah wah wah, parah Lo, gak, gue gak mau, gue gak setuju. Lo udah lama banget gak kesana, Lo mau kesana lagi? Gak mau gue!” ujar Angga menolak mentah – mentah permintaan Darrel, Darrel mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya, kenapa Angga berbicara seolah mereka akan pergi ke neraka?


“ warung bubur kacang ijo yang dulu sering kita nongkrong maksud gue, gak usah lebay gitu Lo,” ujar Darrel menatap sinis Angga yang kini menyengir tanpa dosa, sialnya wajah imut Angga malah tampak terpampang nyata, untung saja Darrel masih lurus.


“ Hehehe, ya gue kan mau hiperbola kayak novel – novel gitu, lagian Lo frustasi kok ngajakin ke warung Burjo, ke Club kek, tempat Billyard kek, Karaoke ples ples kek, yang agak berkelas dikit gitu,” ujar Angga menyebutkan tempat nongkrong anak ‘ hits’ ala novel jika sedang frustasi.


“ Gak, Lo norak kalau diajak kesana, ntar Lo lepas sepatu lagi waktu mau masuk ke dalem,” ujar Darrel asal dan meletakkan kembali kepalanya di meja. Darrel memang beberapa kali mengunjungi tempat bermain billyard, itupun karna papanya yang mengajak, namun untuk tempat lain yang disebut Angga, maaf maaf saja, Darrel tidak berminat sedikitpun.


“ Hidup Lo terlalu lurus, belokin dikit kek,” ujar Angga dengan wajah malasnya, lelaki itu mengambil ponselnya dan mulai membuka aplikasai game untuk membunuh waktu.


“ Kalau gue belok ntar gue sukanya sama Lo, amit amit gue nanem benih di Rahim Lo,” ujar Darrel asal namun membuat Angga menatap Darrel yang terdengar dan terlihat Cringe.


“ Pembahasan macam apa ini? Lo patah hati jadi sejijik ini ya? Cringe Lo njir!” seru Angga bergidik geli dan enggan membahas masalah ini lagi, namun Angga sebenarnya masih penasaran penyebab Darrel mengakhiri hubungan dengan Luna, padahal Darrel spesies bucin yang rela melakukan apapun demi Luna, setidaknya itu yang Angga tahu.


“ Lo kok bisa putus sama Luna sih rel?” Tanya Angga yang akhirnya mengutarakan isi pikirannya, Darrel tampak bergidik dan menimbang apakah perlu dia menceritakan jika semua hanya kesalah pahaman? Tapi sikap Luna kemarin keterlaluan bagi Darrel, entah mengapa Darrel sangat membenci kala Luna menyebutkan kata ‘putus’


“ hheehh, Lo kenal sama cewek yang namanya Fera gak di hidup gue?” Tanya Darrel pada Angga, lelaki itu tampak berpikir sejenak dan akhirnya mengingat nama itu, pantas saja rasanya tak asing.


“ Gue gak kenal, tapi Lo pernah cerita sama gue, dia pacar pertama Lo yang sampai sekarang belum putus," ujar Angga mengingat perkataan Darrel setahun yang lalu saat mereka mulai bersahabat.


" Jadi bener cewek yang namanya Fera gak pernah putus sama gue?" Tanya Darrel tak percaya, dia kira gadis bernama Fera itu hanya membual dan mencari perhatiannya, bahkan jika bukan masalah restoran, Darrel tak akan mungkin mau menemui gadis itu lagi.


" Iya dulu kan Lo cerita gitu, masak Lo lupa sih?" Tanya Angga tak percaya pada Darrel, lelaki itu pengingat yang baik, namun melupakan masalah sepahit ini dengan mudah, rasanya tidak mungkin.


" Beberapa hari yang lalu waktu liburan gue tuh kecelakaan dan gegar otak, sebagian ingatan gue hilang, termasuk tentang cewek yang namanya Fera itu. Nah waktu gue pergi ke Bali tuh cewek yang namanya Fera tiba – tiba datang peluk gue.."


" Tunggu dulu tunggu. Lo kecelakaan sampai gegar otak? Dan Lo gak kasih tahu gue? Lo anggap gue apa selama ini? Gue jadi merasa sahabat yang gak berguna buat Lo," ujar Angga dengan wajah dan nada yang terluka, jujur saja Darrel sampai terlihat muak karna wajah Angga itu.


" Kondisinya rumit dan Lo gak perlu tahu lah masalah itu, yang penting gue baik – baik aja sekarang dan gue gak lupain Lo, gue gak lupain masalah OSIS, gak lupa masalah bisnis dan gak lupa sama Luna, udah cukup," ujaar Darrel yang tak ingin memperpanjang pembahasan mengenai gegar otak karna dia tak mau membocorkan masalah teror tersebut pada Angga.


" Yaudah deh, makanya gue frustasi dan gemes banget, gak tahu kenapa emosi aja waktu dia kayak gitu," ujar Darrel dengans sedih, kini dia menyesal sudah mengakhiri hubungannya, namun disisi lain Darrel masih enggan untuk memperbaiki situasi karna dia merasa Luna juga bersalah atas kejadian ini.


" WHUAHAHHAHA!" Tawa Angga meledak saat Darrel selesai menceritakan kisahnya, Angga tak habis pikir dengan kisah cinta keduanya yang menurut Angga sangat lucu bahkan dari awal mula hubungan mereka dengan Darrel yang selalu pasrah menerima keadaan dan kenyataan Luna masih menyukai pria lain.


" Kalian tuh pacarannya so sweet, banyak drama dan banyak acara kayak di novel roman yang picisan, tapi putusnya konyol banget, masak karna masalah gitu doang kalian outus? Malu dong sama anak SMP yang udah ayah bunda an," ujar Angga mengutarakan pikirannya.


Menurut Angga, Luna terlalu egois dan mau menangnya sendiri, sementara Darrel selama ini menerima dan menurut saja atas Luna, dan saat Darrel tak bisa lagi menahan semua, bom waktu itu meledak dan menghancurkan hubungan mereka yang sebenarnya hanya diterpa angin kecil.


" Saran gue sebagai teman, kasih hubungan kalian sedikit waktu, kalau Luna udah sayang sama Lo, dia bakal ngerasa kangen atau ngerasa kehilangan, begitu juga Lo. Nah biar waktu yang mempersatukan kalian lagi, sabar aja," ujar Angga dengan bijak dan menepuk nepuk pundak Darrel.


" Kalau misal dia malah diambil sama orang lain gimana dong?" tanya Darrel yang masih tidak bisa menerima atau membayangkan Luna akan bersanding dengan orang lain.


" Ya berarti dia bukan jodoh Lo, sesimple itu masak Lo gak paham sih? Katanya ketua OSIS?" Sindir Angga tanpa ampun membuat Darrel merenung seketika.


" Gini ya bro, sekuat apapun Lo ikat dia biar ada di dekat Lo, kalau dia bukan jodoh Lo Tuhan pasti punya cara buat pisahin kalian dan lepasin tali itu. Tapi sebaliknya, kalau dia emang jodoh sama Lo, mau Lo lepas kayak apapun ya dia bakal balik lagi kayak magnet selatan yang rindu kutub utaranya."


Darrel bertepuk tangan dengan tempo pelan dan menggeleng tak percaya, Angga yang biasnaya konyol dan tak pernah serius ternyata bisa juga mengatakan hal seperti ini, meski semua yang dikatakan Angga sudah pernah Darrel dengan sebelumnya, itukan Quotes klasik yang sering dia lihat di pentagram, eh, Instagram.


" Angga teguh sudah mulai mengutarakan pikirannya bung, kita lihat apakah otaknya menjadi panas karna terlalu serius? Bagimana keadaan Anda setelah mengatakan semua hal bijak tersebut tuan Angga?"


" Rasanya kayak nano – nano, manis asem asin, ramai rasanya," jawab Angga saat Darrel hanya menganggap ucapannya gurauan, namun Angga tahu Darrel sudah paham apa yang dia katakan, semoga saja pikirannya terbukakan setelah mendapat pencerahan dari Angga.


*


*


*


Luna merenung sendirian di dalam kelas, matanya sembab karna semalaman memikirkan hubungannya dengan Darrel, dia tak menyangka hubungannya akan kandas dengan semudah ini, apakah dia terlalu egois kali ini? Namun rasanya sakit melihat Darrel bersama dengan wanita lain, apalagi wanita itu adalah mantan kekasihnya.


" Kok Lo cemberut mulu sih kayak vampir kekurangan darah suci," ujar Radith yang muncul entah darimana, lelaki itu berlutut dan melihat mata Luna yang memerah dan kantong matanya yang menghitam. Apakah gadis itu habis begadang karna menonton drama korea? Biasanya para gadis melakukan itu kan?


" Lho, lho, lho, kok Lo malah nangis lagi sih, jangan nangis dong, ntar dikira orang gue habis ngelakuin oelecehan sama Lo," ujar Radith panik saat Luna masih sesenggukan dan meneteskan air matanya.


Luna langsung menundukkan kepala dan meletakkan kepala itu di atas meja, gadis itu memangis sesenggukan tanpa suara, namun Radith tahu air mata dan air liur serta cairan ingus yang mengalir dari wajah gadis itu meluncur dengan derasnya.


Radith tahu dan sadar semua tidak baik – baik saja, namun apa yang membuat gadis itu sebegitu terlukanya? Apakah pemeran utama pria dari drama yang dia tonton tewas? Atau menikah dengan orang lain? Baiklah, sepertinya pikiran Radith mulai eror karna setiap hari dipaksa oleh Blenda untuk menonton Oppa Oppa Korea yang menurut para gadis sangat tampan.


Luna tak mengatakan apapun, mungkin belum, dan Radith tak ingin memaksa adis itu untuk bercerita dalam keadaan seperti ini karna Radith yakin gadis itu akan makin berteriak kencang dan Radith tentu tak mau itu terjadi.


" Kok lo gak tanya gue kenapa sih?" tanya Luna yang masih membenamkan wajahnya, bicaranya putus putus khas orang yang baru saja menangis keras.


" Lah? Ngapain gue tanya? Belum tentu juga gue peduli," ujar Radith santai dan berniat untuk menghibur Luna.


Gadis itu terdiam beberapa saat sementara Radith menunggu reaksi gadis itu. Luna mnegusap wajahnya dan mengangkat kepalanya. Ditatapnya Radith yang juga menatapnya dengan wajah datar. Luna mengambil napas dalam – dalam dan menahan napasnya sejenak.


" HUAAAAA RADITH JAHAT, RADITH NYEBELIN, HUAAAAA."


Satu kelas melihat ke arah mereka dengan kaget karna Luna tiba – tiba berteriak dengan sangat kencang, gadis itu kembali menangis dan kali ini tanpa ditutup – tutupi.


" Matilah gue, malah tambah kencang, duh," ujar Radith dengan panik dan kelimpungan karna freuensi suara Luna bertambah tiap dia mengambil napasnya, persis seperti anak TK yang menangis karna terjaduh dari sepeda.