
Satu bulan pernikahan, Kinan mulai merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan Beni. Wajahnya semakin kurus dan pucat efek tidak tidur dengan benar. Sekalinya tertidur, suaminya itu selalu mengigau hal tidak jelas. Mata Beni semakin cekung ke dalam, tidak ada segar-segarnya suaminya itu. Terlihat seperti sedang makan hati. Apa kata orang tua Beni nanti jika melihat kondisi putra mereka?
"Abang sepertinya perlu ke dokter." Pagi itu Kinan menyiapkan sarapan dan Beni sudah berkeringat saja setelah menyantap sarapannya. Keringat sebesar biji jagung membasahi hampir seluruh tubuh suaminya.
"Dokter? Kenapa?"
"Abang kurusan, Kinan khawatir Abang kenapa-napa."
Beni tersenyum, lalu berkata, "Abang baik-baik aja, Sayang. Kamu yang sepertinya perlu ke dokter. Sudah satu bulan kok belum hamil."
"Namanya juga masih usaha, Abang. Yakin, Abang tidak apa-apa?"
"Iya, Kinan istriku. Pakaian Abang mana? Abang harus berangkat kerja."
Kinan segera beranjak untuk mengambil pakaian dari dalam lemari. Hatinya masih saja terus bertanya-tanya, ada yang salah. Tapi apa? Kinan sangat yakin bahwa ada yang disembunyikan suaminya darinya.
Jika Kinan mencari tahu, apakah akan berdampak pada hubungan mereka yang baru seumur jagung? Tapi jika hanya diam dan bertanya-tanya, kapan ia akan menemukan jawabnya.
Seingatnya, saat mereka masih pacaran dulu, Beni orang yang mudah mengantuk. Beni selalu tidur lebih awal dari Kinan jika keduanya sedang melakukan panggilan. Ia yakin jika Beni memang sudah tidur karena terdengar dengkurannya.
Tunggu dulu, sejak kejadian orang tua Beni melarang mereka berhubungan, keduanya memang tidak pernah melakukan panggilan hingga pagi hari.
"Kok malah bengong." Beni memeluk Kinan dari belakang, mengecup tengkuknya sambil tangannya mengambil pakaian dari tangan Kinan. "Sayang, sedang memikirkan apa?"
"Kamu."
"Kenapa? Masih mengira Abang sakit?"
"Kinan merasa ada yang berubah dari Abang."
"Itu hanya perasaan kamu, Sayang."
"Perasaan Kinan biasanya benar."
"Emangnya perasan kamu bilang apa?" Beni menanggapinya masih santai. Berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan lebih dalam dari Kinan. Jangan sampai karena perkara ini mereka bertengkar untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami istri. Bertengkar dengan Kinan, jelas bukan yang ia harapkan. Beni sadar betapa ia sangat memuja Kinan. Apa pun keburukannya di luar sana, Beni tidak ingin Kinan mengetahuinya.
"Perasaanku mengatakan Abang sedang ada masalah."
"Nah, 'kan hanya perasaan kamu aja, Sayang. Abang tidak ada masalah. Sungguh. Abang berangkat kerja dulu, katanya kamu mau belanja mingguan. Ambil saja uangnya di laci, kamu perginya sama Vita. Habis belanja langsung pulang, ya. Kalau ada apa-apa hubungi Abang."
Kinan hanya bisa menganggukkan kepala dengan mencoba meyakinkan diri jika suaminya memang baik-baik saja. Semoga memang demikian.
Hingga dua bulan berlalu, perasaan Kinan masih saja suudzon pada sang suami. Sekarang, Beni sering pulang terlambat hingga larut. Alasannya lembur. Hubungannya yang masih berjarak dengan mertuanya membuatnya enggan untuk bertanya apakah Beni sungguh sedang lembur. Selain merasa sungkan, Kinan juga khawatir jika ia bertanya tentang suaminya, justru akan menimbulkan kekhawatiran pada mertuanya.
"Maaf, ya, Sayang, akhir-akhir ini, Abang sering lembur dan pulang malam." Kata Beni satu waktu.
"Iya, ada beberapa masalah. Salah satu karyawan membuat ulah."
"Membuat ulah?" Kinan percaya saja. Padahal Beni lembur di tempat lain, bukan karena pekerjaan. Beni dan teman-temannya setelah melayang, memilih untuk bermain judi. Jefri menyediakan stok sabu cukup banyak. Yang menang judi, harus membayar narkotika untuk dihisap bersama. Terkadang, Beni menang, kadang ia juga kalah.
Jefri dan beberapa temannya yang lain bahkan sering membawa perempuan mereka dan tidak sungkan-sungkan untuk menghisap narkoba bersama, bahkan saling bercumbu. Namanya juga sudah nge-fly. Akal sehat sudah tidak ada, urat malu sudah putus. Bahkan tidak jarang, Beni melihat teman-temannya justru bertukar pasangan. Sejauh ini, Beni belum mengikuti jejak teman-temannya walau beberapa wanita sering mencoba merayunya.
"Ya, membawa kabur uang. Tapi, masalahnya sudah selesai. Kamu belum tidur, Sayang?" Beni melirik jam dinding yang menunjuk ke angka dua dini hari.
"Kinan nungguin Abang. Khawatir jika terjadi apa-apa. Ponsel Abang juga sering mati akhir-akhir ini."
"Lowbat. Yaudah, Abang bersihkan tubuh dulu biar kita tidur. Omong-omong Bapak mana?" Ternyata masih ada rasa sungkan di benaknya terhadap ayah mertuanya.
"Bapak tidur di rumah istrinya." Sahut Kinan. Ya, sejak Kinan menikah, Pak Mus lebih sering tidur di rumah si Rani. Hubungan Kinan dengan wanita itu tidak akur tapi Kinan sudah tidak terlalu mengurusinya lagi.
"Oh... ya sudah, Sayang masuk kamar dulu, Abang mau ke toilet."
Kinan membawa masuk tas Beni. Tas itu bergetar, tanda ada panggilan atau pesan. Tidak ada privasi antara Beni dan Kinan jika mengenai ponsel. Jadi, tanpa ragu, Kinan mengeluarkan ponsel milik suaminya. Ternyata sebuah pesan BBM masuk dari salah satu temannya yang bernama Tamvan. Mohon maaf, tidak sesuai dengan wajah yang terlihat di profil pria itu.
Kinan membuka pesan tersebut.
•Bro, bisa minta barangmu. Besok kuganti, Bro. Si Jefri lagi kosbar.
Kinan membaca pesan tersebut berulang kali untuk menemukan arti dari pesan tersebut. Meski membaca secara berulang kali, tetap saja Kinan tidak mengerti dengan maksud barang di sini.
Kinan meletakkan ponsel suaminya di atas nakas berikut dengan tasnya. Letak tas itu tidak pas hingga benda itu terjatuh dan mengeluarkan beberapa isinya karena memang Kinan tidak sempat mengancingnya saat mengeluarkan ponsel tadi.
Ada bolpoin dan buku, saat Kinan memungut buku tersebut, sesuatu meluncur bebas. Kinan memungut benda tersebut. Seperti garam halus yang dimasukkan ke dalam plastik kaca kecil.
Kinan tidak bodoh untuk tidak mengetahui benda itu apa. Ia sering menonton infotainment gosip yang memberitakan artis yang sedang berkasus.
Jantung Kinan berpacu dengan kuat, teramat kuat hingga ia merasa lemas seketika dan hampir ambruk.
Narkoba. Yang lagi marak di dalam masyarakat saat ini. Korbannya bukan hanya orang tua, pemuda, atau anak-anak. Korbannya tidak pandang bulu, mau kaya, miskin, atau pun pengangguran. Tidak terbersit sedikit pun di benaknya bahwa suaminya termasuk dalam lingkaran sesat tersebut. Jika sudah begini, apa yang harus ia lakukan?
Kinan jelas tahu dampak dari narkoba. Di hadapannya, ia sudah menyaksikan hal itu. Ayahnya juga mantan seorang pecandu. Sadar setelah ibunya meninggal. Pecandu hanya akan memikirkan dirinya sendiri, kesenangannya, dan kepuasannya. Kinan sudah pernah menyaksikan betapa rusaknya akal dan pikiran seseorang jika sudah mengalami ketergantungan terhadap benda tersebut.
"Sayang?" Beni mendorong pintu.
"Kenapa?" Kinan langsung bertanya. "Kenapa bisa seperti ini?" sebulir air mata membasahi pipinya. Kinan diserang rasa takut yang luar biasa. Bayangan wajah ibunya, pernikahan ibunya, terekam jelas di hadapannya. Akankah ia akan menjalani rumah tangga ini sesabar ibunya, yang memilih diam dan menengadahkan tangan ke langit hingga di jemput dengan cara yang begitu indah. Atau ia akan memberontak, memilih mengakhiri?
Sayang, mengakhiri tidak semudah yang terucap. Sekuat apa pun inginmu untuk bercerai, jika Tuhan belum memberi izin, hal itu tidak akan terjadi.
Lantas, apa yang harus dilakukan Kinan?