Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 15



" Dimana Lunetta?" suara yang penuh wibawa itu membuat ruangan yang biasanya tidak ada suara kini dipenuhi oleh suara derap kaki dari segala penjuru. Siapapun tahu jika hanya satu orang yang memiliki suara seperti itu.


" Nona ada di kamarnya tuan." Mendengar jawaban itu, pria yang rambutnya sudah memutih itu langsung memijit pelipisnya dengan pelan. Hari sudah cukup siang, namun puterinya masih belum bangun juga.


" Panggil Dia sekarang, suruh dia menemui saya sekarang juga." Atas perintah itu, orang suruhan Mr. Wilkinson langsung berlari melewati tangga, membuat Mr. Wilkinson langsung memintanya berhenti dan kembali. Orang itu tentu bingung dan mengira dia melakukan kesalahan hingga dia sangat ketakutan saat ini.


" Kau bisa menggunakan lift. Kamar Lunetta ada di lantai 3, aku khawatir lututmu akan patah setelah itu. Lekas laksanakan." Orang itu tersenyum dan mengangguk patuh. Inilah yang membuat mereka yang bekerja dengan keluarga wilkinson menjadi betah. Meski dikenal kejam dan tegas, mereka tak pernah lupa memperlakukan pekerjanya seperti manusia.


Tak lama ponsel Mr. Wilkinson berbunyi, membuat Pria itu langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari seseorang yang dia utus untuk memanggil Lunetta. Setelah berbicara di telpon, Mr. Wilkinson bergegas berjalan menuju lift, sementara pengawalnya menjadi pagar betis yang berjejer rapi sampai pintu lift tertutup.


Mr. Wilkinson berjalan cepat ke arah kamar Lunetta, orang yang tadi dia suruh langsung menunduk sopan, sementara itu beliau langsung masuk ke dalam kamar gadis itu tanpa mengetuk dan tanpa memberitahu sesuatu. Membuat penghuni kamar itu berteriak karna tak tahu siapa yang masuk ke dalam kamarnya.


" Astaga, kenapa suara kamu semakin berisik setiap harinya? Apakah kamu gak kasihan sama Keysha yang setiap hari dengar suara kamu?" tanya Mr. Wilkinson yang berjalan mendekat ke arah puterinya. Lunetta langsung terkejut melihat siapa yang datang, namun gadis itu menjadi sedih karna tak bisa berlari ke arah orang yang sudah sangat lama tidak dia temui.


" Daddy tahu, udah kamu gak usah maksa buat gerak. Kamu ditinggal Daddy lama gak pernah kambuh, sekalinya daddy pulang kamu malah kambuh. Kenapa bisa kambuh?" tanya Mr. Wilkinson yang tak langsung dijawab oleh Luna. Gadis itu takut daddynya akan marah jika tahu dia sengaja tak minum obatnya karna merasa yakin dia tak akan pernah kambuh lagi.


" Mau sudah berapa lama pun kamu gak kambuh. Kamu tetap harus minum obatnya, entah itu tiga hari sekali, atau seminggu sekali. Kamu harus rutin minum obat. Kamu gak mau kan selamanya gak bisa gerakin kaki kamu kayak gini?" tanya Mr. Wilkinson yang dijawab gelengan kepala beberapa kali oleh Lunaa. Gadis itu sangat takut jika hal itu sampai terjadi.


" Padahal tadinya Daddy ke sini mau tanya beberapa hal sama kamu, tapi malah kamu lagi begini, ya sudah Daddy gak jadi tanya. Mungkin nanti aja," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Luna jadi penasaran.


" Memang Daddy mau tanya apa ke Lunetta? Gak papa Dad, tanya aja. Luna juga gak kenapa – napa nih," ujar Luna dengan senyum manisnya. Meski sedih harus kembali tak bisa merasakan kakinya. Gadis itu tidak merasa kesatikan, apalagi dia tahu kakinya akan pulih seperti semula.


" Kamu sudah lama kan bertunangan dengan Darrel? Daddy rasa usia kalian juga tidak terlalu muda lagi. Apa kalian tidak berencana untuk menikah?" pertanyaan yang langsung pada intinya itu membuat Luna terkejut bukan main. Gadis itu bahkan sampai mematung dan tak tahu harus menjawab apa. Daddynya tak pernah pulang, sekalinya pulang malah menanyakan hal ini.


" Kalau kamu memang belum siap untuk menikaah, daddy gak akan paksa kamu. Tapi ada baiknya kamu segera menikah dengan dia, jadi kamu bisa terus ada di sisi dia dan dia mudah untuk menjaga kamu. Daddy hanya takut jika kamu kenapa – napa karna sendirian di negara ini."


" Kalau begitu kenapa Luna gak ikut sama Daddy dan bang Jordan? Kenapa harus menunggu Luna menikah dengan kak Darrel? Kenapa seakan menikah adalah solusi satu – satunya?" tanya Luna bertubi yang membuat Mr. Wilkinson tersenyum. Anak gadisnya memang belum siap untuk hubungan yang seperti itu, tampak sekali Luna ketakutan dan mengira dia akan dipaksa menikah.


" Ada di sekitar daddy dan Jordan justru lebih bahaya untuk kamu. Selama ini kami menyembunyikan identitas kamu dari luar sana dan menggunakan keamanan ekstra untuk kamu. Kalau kamu ada di sekitar kami, itu sama saja membiarkan musuh melukai kamu dengan mudah," ujar Mr. Wilkinson yang mencoba membuat Luna mengerti.


" Kalau begitu gak papa Luna tetap ada di sini. Gak papa Luna sendiri di Indonesia. Toh Daddy udah siapkan keamanan ekstra untuk Luna. Selama ini juga Luna bisa hidup dengan tenang, musuh – musuh Daddy gak ada yang gangguin Luna, Luna baik – baik aja," ujar Luna meyakinkan papanya.


" Apa kamu tidak mau menikahi Darrel? Apa kamu tidak yakin dengan dia? Atau selama ini kamu masih menyukai lelaki lain? Radith misalnya?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Luna terdiam. Mendengar nama Radith membuat Luna mengingat wajah orang yang mirip dengan Blenda, namun kali ini bukan saat yang tepat untuk membahasnya.


" Luna bukan tidak mau menikahi kak Darrel, Luna bukan tak yakin dengan Kak Darrel. Luna hanya tak yakin dengan diri Luna sendiri, Luna masih belum siap buat jadi istri, Luna masih belum pantas Dad, mental Luna belum siap," ujar Luna dengan wajah ynag cemberut.


" Kalau Daddy gak masalah. Kamu yang akan menjalani semuanya, Daddy Cuma takut kamu merasa kesepian di sini. Mereka di luar sana belum tahu kalau Jordan mewarisi setengah dari aset perusahaan Daddy, sementara setengahnya lagi Daddy bagi antara Kamu, Danesya dan Darrel. Jika mereka tahu, Darrel pasti juga diincar, makanya Daddy gak umumkan dia secara langsung."


" Daddy kasih Luna sama Kak Darrel warisan yang sama? Anak Daddy sebenarnya siapa? Luna malah ngerasa Daddy lebih sayang sama Kak Darrel dibanding dengan Luna," ujar gadis itu sambil memanyunkan mulutnya, membuat Mr. Wilkinson menarik mulut itu dan Luna reflek memukul pelan tangan ayahnya itu.


" Memang kalau Daddy kasih banyak ke kamu, kamu bisa mengelolanya dengan baik? Kamu kan gak mengerti urusan seperti ini. Lebih baik Daddy kasih ke Darrel dan dikembangkan oleh dia, Daddy mendapat untung yang lebih banyak," ujar Mr. Wilkinson dengan bangganya, membuat Luna menggeleng takjub karnanya, jiwa bisnis sudah mendarah daging di jiwa pria tua ini.


" Ah ya, Daddy mau bilang satu hal lagi. Sebenarnya Daddy kemari karna permintaan Darrel, dia tidak berani bilang sendiri ke kamu jadi dia minta Daddy yang bilang," ujar Mr. Wilkinson lagi, Luna langsung terdiam. Entah mengapa perasaannya jadi tak enak setelah papanya mengatakan hal ini.


" Ini salah Daddy. Daddy memang seharusnya kasih dia waktu untuk liburan dan menikmati waktunya sama kamu. Tapi sekarang keadaannya darurat dan dia harus pergi sore nanti, dia bahkan sudah memohon tapi keadaannya gak memungkinkan. Nah, jadi Daddy yang jemput dia ke sini dan bilang sama kamu biar kamu gak marah."


" Sayang, Daddy minta maaf. Kali ini memang Darrel harus ikut sama Daddy, eemm setelah urusannya selesai. Darrel bakal Daddy kasih kantor di Indonesia jadi dia bisa sama kamu terus, dia gak bakal sering ke luar negeri. Gimana?" tanya Mr. Wilkinson yang tak digubris oleh Luna.


" Daddy gak akan janji palsu. Mungkin hanya beberapa saat dia akan membantu Daddy di luar negeri, gak akan lama dan dia akan kembali lagi ke Indonesia. Oke? Kamu kan anak baik, boleh ya sayang?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Luna luluh, gadis itu menjadi tak tega saat papanya sedikit memohon seperti itu.


" Tapi kak Darrelnya disuruh ke sini dulu. Masak dia tahu – tahu ninggalin Luna gitu aja? Boleh ya Dad?" tanya Luna dengan wajah yang ditekuk. Mr. Wilkinson mengangguk setuju dan langsung menelpon Darrel untuk datang ke rumah ini agar Luna tak bersedih lagi, sementara beliau pamit untuk melihat keadaan menantunya.


" Daddy mau ketemu Keysha dulu ya, mau ngelihat perkembangan cucu pertama Daddy," ujar Mr. Wilkinson saat Darrel sudah datang di sana. Mr. Wilkinson langsung keluar dari dalam kamar dan Darrel menunduk takut, takut Luna marah kepadanya jika papanya tak ada, apalagi Darrel sudah melanggar janjinya.


" Kak Darrel gak usah takut begitu kak, Luna kan udah ngebolehin kak Darrel buat pergi. Tapi jangan lupa habis itu balik lagi ke Indonesia, dan kak Darrel dikasih kantor yang ada di Indonesia," ujar Luna yang membuat Darrel mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan mata yang berbinar. Luna bahkan langsung tertawa kecil melihat wajah Darrel yang bersinar.


" Setelah aku selesai dari tugas ini aku bakal ngelamar kamu dan terus kita bakal ngerencanain pernikahan kita setelah itu," ujar Darrel dengan tiba – tiba, membuat Luna terkejut. Apa hari ini papanya dan Darrel berjanjian untuk membahas masalah pernikahan? Memang berapa usia Luna? Tiga puluh? Empat puluh? Usia Luna bahkan baru menginjak dua puluh dua tahun.


" Luna amsih belum mau ngomongin soal pernikahan kak, Luna merasa Luna belum siap buat jadi istri dan nyonya dari keluarga Atmaja," ujar Luna pelan. Darrel langsung tersenyum mendengar pengakuan Luna. Gadis itu masih terdiam dan terheran karna Darrel sama sekali tak kecewa.


" Kamu gak perlu ada persiapan khusus untuk jadi nyonya Atmaja, kamu hanya perlu jadi Lunetta yang sekarang, gak usah ada yang diubah. Aku cinta sama kmau yang seperti ini, kamu gak perlu ngerasa gak siap," ujar Darrel yang tidak direspon oleh Luna. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa, dan dia sendiri tak pernah terbayang apapun soal pernikahannya.


" Kita gak usah pikirin itu sekarang, aku juga belum berangkat kan? Kalau memang kamu belum yakin sama aku, aku bakal tunggu kamu. Sama seperti aku yang menunggu kamu mencintai aku, aku akan menunggu kamu untuk siap menikah sama aku."


" Kalau pembicaraannya berat gini tuh Luna jadi bingung mau jawabnya gimana kak. Luna juag bingung mengalihkan pembicaraannya gimana. Padahal kan Luna minta kak Darrel ke sini biar Luna gak kesepian dan gak gampang kangen gitu kak, eh malah jadi canggung begini," ujar Luna dengan jujurnya.


" Hahahaha, iya iya, maafin aku ya. Ya udah kaki kamu udah bisa digerakin belum? Kalau belum aku gendong mau gak? Dari pada kita Cuma di kamar, mending kita turun," ujar Darrel yang membuat Luna ingat jika tadi kakinya tak bisa digerakkan. Gadis itu mencoba untuk menggerakkan kakinya dan berhasil, membuat Darrel tersenyum lega melihat hal itu.


" Yuk kita turun aja, lihat papa kamu sama Kak Key, katanya hari ini mau check up kandungan kak Key nya," ujar Darrel yang membuat Luna bersemangat. Dia selalu ingin melihat bagaimana bentuk janin saat USG, dia sering melihatnya di film dan iklan, namun tidak pernah melihatnya secara langsung.


Untung saja mereka turun tepat waktu, Keysha dan Mr. Wilkinson hendak berangkat sehingga mereka bisa ikut ke rumah sakit.


" Ah, suami kak Keysha itu bang Jordan, tapi yang antar USG malah papa dan kak Darrel, kasihan sekali," ujar Luna dengan sengaja, membuat Keysha meliriknya dengan tajam.


" Bagus dong, papa mertua kak Key sayang sama kakak. Papa mertua kamu belum tentu, hayoloh," ujar Keysha yang malah membalas perkataan Luna. Gadis itu langsung terdiam dan tak berniat untuk menggoda Keysha lagi. Lebih baik dia fokus pada jalanan yang cukup lenggang meski jalanan terasa sangat panas.


*


*


Dokter mengoleskan sebuah cairan lengket ke perut Keysha yang rata dan mulai menempelkan sebuah alat ke perut itu. Darrel yang sudah melakukan Video Call dengan Jordan mengarahkan kamera ponselnya ke layar USG yang masih belum menunjukkan pergerakan. Semua menanti pergerakan sementara dokter menggerakkan alat yang menempel di perut Keysha.


" Itu, itu gerak. Astaga, kecil sekali," ujar Luna mengelur layar USG di hadapannya. Tampak sesuatu berdetak di gambar layar itu, membuat Luna terhipnopis dan memegang layar itu. Luna baru pertama kali merasakan perasaan seperti ini. Jadi seperti ini bayi yang belum terbentuk? Hanya ada detakan dari jantungnya.


" Luna minggir dong, Bang Jordan mau lihat juga." Luna langsung tersadar dan sedikit menyingkir agar ayah dari bayi itu bisa melihatnya. Darrel mendekat agar Jordan bisa melihat detak jantung bayinya. Sementara Keysha tersenyum leg melihat calon buah hatinya tumbuh dengan sehat dalam perutnya.


" Luna yakin gak mau punya sendiri? Lucu kan calon bayinya? Itu masih belum terbentuk bayinya aja kamu udah bahagia banget lihatnya," bisik Mr. Wilkinson di telinga Luna. Gadis itu terdiam sambil tetap melihat ke arah layar. Dia memang tertarik dan langsung ingin tahu bagaimana rasanya jika perutnya yang ditempel alat itu dan dia melihat detak jantung dalam perutnya.


Tapi yang menjadi pertanyaan Dasar. Apa Luna sudah siap?