
“ Udah sih guys, lagian kalian sebagai fans harusnya mendukung dia dong, bukan malah mengancam pasangan kak Darrel, gimana sih,” ujar Farisa menatap malas Resya dan Ghea.
“ Iya juga sih, tapi kan wajar dong gue agak gak iklas, kak Darrel kan milik kita bersama, kalau dia udah punya tuangan berarti dia milik satu orang aja,” ujar Resya membela diri. Farisa hanya memandangnya malas tanpa berniat menjawab gadis yang sudah sakit jiwa itu.
“ Balik yuk, habis ini pelajaran berat, daripada buru – buru,” ujar Luna yang enggan perdebatan ini dilanjutkan, Farisa dan yang lain mengangguk setuju dan berjalan mengikuti Luna yang mulai keluar dari kantin.
Luna melihat Radith yang masuk ke dalam kelas, dengan riang gadis itu mengikuti Radith dan mengekori lelaki itu sampai ke tempat duduknya.
“ Radith,” panggil Luna pelan sambil mencolek pundak Radith, namun lelaki itu tidak merespon sama sekali. Mungkin kulit da telinga Radith tidak berfungsi dengan baik?
“ Radith, Radith,” panggil Luna lagi sambil memainkan kuping lelaki itu, namun respon Radith sama dan bahkan tidak terganggu dengan perlakuan Luna, membuat gadis itu kesal sendiri dan menarik rambut lelaki itu dengan keras.
“ Dipanggil tuh nyahut!” seru Luna sambil memelintir rambut pendek Radith, membuat lelaki itu meringis kesakitan karena kepalanya perih dan pedas.
“ Apa sih? Lo dari tadi panggil gue? Gue gak dengar,” ujar Radith sambil berusaha melepaskan tangan Luna dari rambutnya. Jawaban Radith membuat Luna mendengus kesal dan langsung duduk di kursi sebelah Radith.
“ Bohong banget, gue udah sampai narik – narik kupig Lo juga,” ujar Luna menumpukan kepalanya pada tangannya.
“ Oh itu Lo? Gue kira tuyul peliharaan gue,” ujar Radith asal dengan pandangan yang fokus pada layar ponselnya, membuat Luna menatapnya dengan heran.
“ Lo melihara tuyul? Dimana? Jadi kaya gak?” Tanya Luna dengan antusias, dia sering membaca cerita memelihara tuyul bisa menjadikan seseorang kaya dalam waktu singkat.
“ Hmmm, jadi kaya, kaya monyet yang mirip Lo,” ujar Radith dengan pedas, membuat Luna mendengus tak suka mendengarnya.
“ Dith, masak gue dilamar dong sama kak Darrel,” ujar Luna berbisik pada Radith. Radith tampak sekejap, namun setelah itu dia kembali seakan tidak terjadi apapun.
“ Oh ya? Kapan nikahnya?” Tanya Radith masih dengan nada yang tenang.
“ Masih lama lah, kemarin Cuma kayak tunangan gitu, nih cincinnya,” ujar Luna mengeluarkan kalung dengan bandul liontin dan cincin, Radith melihat Luna dan kalung itu secara bergantian dan kembali memainkan ponselnya.
“ Mahal tuh kalung kayaknya,” ujar Radith dengan nada menyindir, namun Luna yang tidak paham malah mengangguk senang.
“ Kayaknya sih, gue gak Tanya harga, nanti deh gue tanyain,” jawab Luna dengan senyum lebarnya, membuat Radith berdecih dan terkekeh kecil karena kepolosan Luna.
“ Lo sih kemarin buru – buru pulang, jadi gak ngelihat betapa romantisnya kak Darrel waktu itu,” ujar Luna mengatupkan kedua lengannya bersamaan.
“ Gue ada urusan mendadak,” ujar Radith tanpa mnanggapi Luna yang memamerkan acara lamarannya.
“ Urusan mendadak apa? Blenda?” tebak Luna dengan wajah yang penasaran, Radith pun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
“ Yaps, urusan penting gue Cuma dia sih,” jawab Radith tanpa sadar, perkataan Radtih yang biasa saja nyatanya mampu membuat Luna merasa terluka. Radith yang merasa hening Karena Luna tidak mengoceh pun melihat kea rah gadis itu, didapatinya wajah kecewa yang menyentil hatinya.
“ Lo seneng banget ya dilamar sama kak Darrel?” Tanya Radith mengalihkan pikiran Luna, gadis itu mengangguk dan memasukkan Liontinnya ke dalam baju.
“ Bahagia banget, gak pernah ada yang sebaik dia ke gue,” ujar Luna tersenyum lebar sampai menampakkan gigi giginya, Radith tersenyum miring dan memandang Luna.
“ Berarti Lo udah move on dari gue?” Tanya Radith dengan santainya
“ Eh?” Luna tentu terkaget dengan pertanyaan itu, namun pertanyaan itu mampu membuat Luna merenung.
Benar Juga perkataan Radith, Luna menerima Darrel kala itu karena tidak kepikiran bahwa dia masih menyukai Radith, perkataan Radith membuatnya tersadar. Apakah dia menerima Dareel karena sungguh mencintainya? Atau Luna hanya terkagum oleh kebaikan dan kemanisan sikap Darrel padanya?
“ Kenapa? Lo bingung? Jangan bilang Lo nerima dia karna kasihan atas perjuangannya selama ini?” Tanya Radith yang tampak menyudutkan Luna, gadis itu gelagapan dan menghindari tatapan mata Radith.
Kasihan? Luna bahkan tidak pernah terpikirkan kata itu, tapi benarkah memang karena kasihan? Lantas apa yang akan Luna lakukan jika memang dia hanya kasihan pada Darrel yang selama ini berjuang untuk mendapatkan hatinya?
“ Gue gak ada maksud bikin Lo bimbang loh, tapi saran gue sih Lo mantebin dulu hati Lo, jangan hanya karna kasihan, biasanya sih gak akan langgeng,” ujar Radith dengan teganya tanpa memikirkan hati Luna.
Lelaki itu langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Luna duduk termenung di tempatnya. Radith sendiri tidak menyangka dia mengatakan itu semua di depan Luna. Ada rasa kesal saat Luna emmamerkan hubungannya dengan Darrel, membuat mulutnya tak tahan ingin menghujat Luna.
“ Masak karna kasihan? Gue bahagia kok ada di dekat dia,” ujar Luna dengan sedih, namun tak dapat dipungkiri dia merasa sedikit ragu pada hati dan pilihannya setelah mendengar perkataan Radith.
Gadis itu menggeleng – gelengkan kepalanya untuk menghilangkan semua pikiran negative dari dalam otaknya. Luna bangkit berdiri dan kembali ke tempatnya, memposisikan diri agar dapat meraih mimpi dengan nyaman.
*
Darrel berjalan menuju kelas disambut tatapan aneh dari teman – temannya, meski merasa heran, lelak iitu memilih untuk mengabaikan mereka dan duduk di tempatnya.
“ Oit ketos, kayaknya ada yang beda nih di tangan kirinya,” sindir salah seorang teman kelas Darrel, satu – satunya orang yang berani berurusan dengan Darrel, sekaligus sahabat dekat pria itu.
“ Gue beli di tanah abang, seratus ribu dapat dua, Lo mau?” Tanya Darrel tak menanggapi serius sindiran Angga, sahabatnya.
“ Lo beli lagi aja, yang ini gue bayarin dua ratus ribu,” ujar Angga menarik tangan kiri Darrel meski tangan itu sedang dijadikan tumpuan oleh pemiliknya.
~ Dugh
“ Anjir Lo, ngotak dikit napa, sakit nih kejedot meja,” ujar Darrel mengusap kepalanya dan menarik tangan kirinya dari genggaman Angga.
Teman kelas Darrel yang melihat itu tentu takjub, berbicara dengan lelaki itu saja rasanya segan, Angga dengan beraninya mengerjai lelaki itu sampai kepalanya tertatap meja.
“ eh tapi serius nih Rel, Lo udah tunangan? Kapan? Kok gue gak diundang?” Tanya Angga dengan dramatis sambil menampilkan wajah terluka, membuat Darrel meraup wajah itu dengan tangannya.
“ Gak usah drama, jijik lihatnya,” ujar Darrel dengan wajah malas.
“ Tuhan, baru tunangan Lo udah tega menyakiti gue, Lo anggap gue apa? Gue tuh sayang sama Lo,” ujar Angga dengan wajah kecewanya, Darrel bahkan sampai menatapnya jijik dan kesal.
“ Lo maca, gay anjir,jauh jauh Lo, bikin salah paham,” ujar Darrel menggeleng jijk dan menjauh dari lelaki itu.
“ Kamu gak ingat apa yang sudah kita lakukan tiap malam? Bahkn kamu sudah menejbol keperawananku bang Darrel, dalam perutku sudah ada bibit muuu,” ujar Angga mengelus perutnya dengandramatis.
Seluruh penghuni kelas menatap Angga dengan tatapan tak percaya, wajah Angga yang meyakinkan membuat mereka menatap Darrel dengan tatapan aneh. Darrel bahkan sampai kelimpunagn sendiri.
Darrel bukan tipe lelaki yang suka berbicara, dia lebih banyak diam jik di luar OSIS, membuat orang – orang, bahkan teman kelasnya tidak mengenalnya dengan baik. Hanya Angga yang berani sok kenal dengannya hingga kini menjadi sahabatnya.
Tingkah Angga dengan wajah meyakinkan tentu akan membuat orang – orang itu salah paham. Berwajah tampan namun tetap dengan status jomblo ( karena mereka tidak tahu hubungan Darrel dengan Luna), hanya memiliki satu orang sahabat pria yang juga tampan, bukankah cukup bukti untuk mengecap mereka ‘spesial’?
“ Lo mending diem daripada gue Tarik upil Lo pake tang potong!” seru Darrel merogoh tasnya dan mengeluarkan tang potong kecil miliknya.
“ Hhehehe, bencanda gue mah, abang Darrel mah gitu, gak bisa diajak bercanda,” ujar Angga dengan cengiran di wajahnya.
“ Eh, serius nih Rel, Lo kok bias tunangan? Sama siapa? Kita kan sahabat, tapi gue bahkan gak tahu pacar Lo siapa,” ujar Angga yang mengubah raut wajahnya menajdi serius, Darrel pun mengalihkan pandangannya ke muka Angga dan terdiam
“ Lo beneran mau tahu?” Tanya Darrel dengan wajah seriusnya, sementara tanpa mereka ketahui, di belakang Darrel ada seorang gadis yang merekam semua percakapan mereka sebagai bahan ghibah di grub ghibah Darrel
“ emm,” jawab Angga dengan wajah antusiasnya, Darrel tampak menengok kanan kiri dan meminta Angga mendekat ke arahnya.
Anggapun mendekatkan kupingnya ke arah Darrel, merasa penasaran dengan apa yang akan Darrel ucapkan.
“ Monika,” ujar Darrel dengan nada biasa di kuping Angga.
“ HAH??? NENEK LAMPIR CABE UNGGULAN DI SEKOLAH INI?!” Seru Angga dengan terkejutsampai menutup mulutnya dengan tangan.
Gadis yang merekam percakapan mereka pun tak kalah terkejut. Dia segera mengakhiri rekamannya dan langsung membagikan rekaman tersebut ke grub.
“ Lo diem aja tapi, rahasia kita aja,” ujar Darrel dengan asal, Angga masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Angga tahu Darrel sangat membenci monika, gadis itu berpakaian norak dan menyebalkan, apalagi dia selalu membuat Darrel risih karena tingkahnya.
“ Lo bercanda kan Rel?” Tanya Angga dengan wajah tak percaya, Darrel tak dapat menahan senyumnya saat Angga percaya pada ucapannya yang asaal, membuat Angga tersadar sudah dikerjai oleh Darrel.
“ Bangke Lo,” ujar Angga dengan kesal dan meninggalkan Darrel sendiri, Darrelpun hanya terkekeh dan mengeluarkan ponselnya untuk bermain game, dia tidak tahu bahwa setiap apa yang dia ucapkan akan berpengaruh besar dalam hidupnya.
“ Lun? Kok diem aja sih daritadi? Kamu sariawan apa gimana?” Tanya Darrel yang memarkirkan mobilnya di salah satu rumah makan yang ada di daerah rumah Luna.
“ Gakpapa kok, lagi males ngomong aja,” jawab Luna singkat. Darrel langsung merasa aneh dengan skaip Luna, gadis secerewet Luna malas bicara? Pasti ada sesuatu yang tejadi.
“ Kenapa? Kalau ada yang dipendam mending diomongin baik – baik,” ujar Darrel sambil menatap Luna.
Luna yang sudah kehilangan moodnya pun bertambah kesal karena Darrel seakan tidak melakukan apapun, padahal dia sudah membuat satu sekolah heboh karena berita itu.
Pikiran Luna kembali menerawang kejadian di kelas yang membuatnya seketika sebal dengan Darrel. Kala itu Luna sedang berkumpul dengan ciwi – ciwi di kelasnya, tiba – tiba Resya menginterupsi mereka dengan teriakannya yang keras.
“ Heh!! Guys! Gue sekarang tahu siapa tunangan kak Darrel!” Seru Resya yang membuat Luna tergugup seketika. Resya menatap Luna dengan tatapan tak percaya, membuat yang ditatap semakin gugup dan merasa rahasianya terbongkar.
“ Di grub ghibah ada yang share voice note suara kak Darrel, dan disitu kak Darrel lagi ngomong sama kak Angga, dia ngaku guys siapa tunangannya selama ini, daan kalian pasti gak nyangka,” ujar Resya dengan wajah herannya.
“ Emang siapa?” Tanya Farisa yang juga tertarik dengan topik bahsan mengenai Darrel kali ini.
“ MONIKA! Anak kelas dua belas!” seru Resya yang membuat Luna mendongak dan menatap aneh kea rah Resya. Monika? Siapa itu?
Awalnya Luna emngira itu hanya gossip murahan yang tak bisa dipercaya, namun saat Resya memutar rekaman suara Darrel, barulah Luna menyadari bahwa memang benar lelaki itu yang mengatakan semua. Lantas apa maksudnya lelaki itu mengakui wanita lain menjadi tunangannya?
Hal itu membuat mood Luna hancur seketika, seharian dia mengikuti pembelajaran dengan jengkel dan penuh keheningan. Bahkan Radith yang biasa mendiaminya pun ikut merasakan keheningan Luna, pertama kalai dalam sejarah, Luna tidak menyahuti apapun yang dikatakan Radith, gadis itu malah memasang headset dan membiarkan Radith mengoceh sendirian.
“ Maksud kak Darrel apa bilang Monika tunangan kak Darrel?” Tanya Luna dengan anda menyentak yang membuat Darrel kaget Karena sebelumnya Luna hanya diam.
“ Hah? Apaan?” Tanya Darrel dengan bingung, lelakiitu bahkan tak ingat pernah mengatakan hal itu karena hal itu hanya topik bercandanya dengan Angga.
“ Darimana kamu tahu?” Tanya Darrel saat mengingat dia pernah mengatakan itu.
“ satu sekolah pun tahu kak karna ada yang nyebarin voice note kakak bilang kalau kak Monika itu tunangan kakak,” ujar Luna dengan nada malas dan menyindir, Luna kira Darrels engaja melakukan itu semua, padahal Darrel tak berniat sedikitpun untuk melakukan itu.
“ Itu aku Cuma bercanda sama Angga, mana mungkin aku suka sama cabe unggulan kayak dia? Mending sama kamu, ya gak?” ujar Darrel yang masih sempat – sempatnya menggoda Luna meski gadis itu sedang tidak dalam mood.
“ ciih, gak usah lah kak Darrel sok sok an sama Luna, tapi ternyata ngakuin orang lain,” ujar Luna dengan kesal dan langsung membuka pintu mobil.
Luna keluar dari mobil tiba – tiba dan berjalan menjauh, membuat Darrel mengikuti Luna dengan ekor matanya, lelaki itu masih belum sadar dan bingung dengan sikap Luna, sampai akhirnya dia tersadar dan keluar dari dalam mobilnya ( yang seharusnya langsung dia lakukan saat melihat Luna keluar dari dalam mobil)
Gadis itu sudah tidak ada di sekitar sini karena sebuah mobil menjemputnya, sepertinya saat Luna memainkan ponselnya, gadis itu mengabari orang rumah untuk menjemputnya, nyatanya gadis itu langsung menghilang dari tempat ini.
“ Matilah gue, matilah gue,” Ujar Darrel frustasi sambil mengacak rambutnya dengan kesal.