
" Dith, Lo tahu ya ternyata kalau kak Darrel itu sengaja ngilang, Lo kenapa pura – pura gak tahu sih?" tanya Luna dengan kesal saat melihat Radith yang sedang menatap ponselnya dan diam saja sejak Luna masuk ke dalam kelas. Luna sedikit merasa kesepian saat Radith sama sekali tak melihatnya dan tak mengajaknya bicara dari awal dia masuk ke dalam kelas.
" Iya gue tahu, tapi gue emang gak bisa kasih tahu apapun ke Lo, gue udah ada janji sama dia, janji lelaki itu harus ditepati," ujar Radith dengan santai tanpa menatap ke arah Luna. Gadis itu berdecih dan merasa bodoh karna sudah menyiapkan semuanya untuk Darrel kala itu, bahkan Radith membantunya meski tahu Darrel tak akan datang.
" Gue gak suka ya kalau Lo diemin gue kayak gini, kenapa sih dith? Kalau ada apa – apa tuh cerita sama gue," ujar Luna yang langsung berusaha menatap mata Radith yang terus menatap ponselnya, tampak lelaki itu terganggu oleh perbuatan Luna.
" Percuma gue bilang ke Lo, Lo gak akan mengubah apapun, mending Lo pergi karna gue lagi gak mood diganggu," ujar Radith dengan dingin yang membuat Luna sedikit tersentak, namun gadis itu menggelengkan kepalanya dan enggan pergi dari sana, Luna yakin sesuatu yang buruk terjadi pada Radith.
" Setidaknya beban Lo berkurang dengan Lo cerita sama gue, walau gue gak paham atau gak bisa bantu, gue bisa ngurangin beban Lo dengan Lo cerita, lagian gue kan bukan tipe lambe turah, apa yang Lo kasih tahu ke gue gak akan gue sebarin ke orang lain," ujar Luna dengan nada lembut yang membuat Radith terkejut dan menatap Luna yang menatapnya dengan senyum.
" Bisa juga jadi dewasa Lo ternyata, tapi gue masih gak percaya sama Lo, buat apa juga cerita sama Lo, mending gue urus urusan gue sendiri," jawab Radith dengan cuek, namun lelaki itu menghela napasnya karna Luna menatapnya dengan tatapan yang nyaris menangis.
" Iya iya ah, gue cerita nih, sebenernya gue dari tadi kepikiran Blenda, belakangan hari ini kondisi Blenda tuh memburuk, gue takut terjadi sesuatu sama dia, orang tuanya juga udah berencana bawa dia ke luar negeri, tapi dia gak mau karna dia takut gak akan bisa lihat Indonesia lagi, gue pusing karna gue gak bisa bujukin dia sementara kondisinya bakal terus menurun kalau dia gak segera dapat penanganan di luar negeri."
" Jadi bener ya kalau Blenda itu sakit keras? Padahal waktu itu gue Cuma nebak aja," ujar Luna yang diangguki oleh Radith, rasanya percuma saja merahasiakan hal ini pada Luna, gadis itu juga tak ada hubungannya dengan Blenda.
" Gue rasa Blenda pasti nurut sama Lo Dith, tapi Lo harus yakinin dia dulu kalau dia pergi ke luar negeri dia bakal sembuh dan balik ke Indoensia, gue rasa dia ketakutan sama penyakitnya, dia udah pesimis sama kondisinya, kalau Lo mau dia berangkat, Lo harus yakinin dia untuk kesembuhannya," ujar Luna memberikan pikirannya.
" Seandainya semudah itu Lun, Blenda itu cewek kuat, dia gak pernah pesimis kayak gini Lun, gue frustasi lihat dia, apalagi rambutnya mulai rontok, dia udah gak pura – pura kuat lagi, dan setiap lihat dia nangis, gue ikut ngerasain sakitnya dia," ujar Radith dengan wajah sedih. Untuk pertama kalinya Luna melihat Radith yang terang – terangan menunjukkan perasaan sedih.
" Gue gak nyangka ternyata Lo benenr – bener sayang sama dia. Tapi kalau emang Lo khawatir, kenapa gak Lo ijin beberapa hari buat nemenin dia ke luar negeri itu? Habis ini juga kan kita liburan kenaikan kelas, lumayan lama kan, udah gak ada apa – apa juga di sekolah. dengan adanya Lo di samping dia, dia pasti lebih ngerasa percaya dan yakin kalau dia bakal sembuh berkat doa dari orang di sekitarnya."
Luna mencoba untuk menjadi dewasa, meski dalam hatinya tak begitu suka memberikan saran itu pada Radith, entahlah, mungkin Luna memang tak begitu iklas Radith menyayangi gadis lain, namun dia harus bersikap dewasa, apalagi sampai membuat Radith sefrustasi ini, setidaknya Luna jadi lebih berguna untuk saat seperti ini.
" Lo bener, gue mau ijin sama wali kelas sekarang deh, makasih ya udah kasih saran sama gue, Lo emang terbaik, Laff yu lah pokoknya," ujar Radith dengan gembira dan langsung bangkit dari sana, mengambil ponsel yang tadi sempat dia letakkan di meja dan langsung keluar dari kelas, Luna menatap kepergian Radith dengan geli dan kesal dalam waktu yang bersamaan.
Tak lama setelah kepergian Radith, ponsel Luna berbunyi, menampakkan nama kontak Darrel di layar ponsel itu, Luna langsung terkekeh karna seakan lelaki itu sengaja menunggu Radith pergi baru menelponnya, malah sekarang Luna merasa memiliki dua kekasih, haha, pikiran liar ini membuat Luna sedikit tersenyum di pagi yang terik ini.
" Halo kak, kenapa? Luna masih di kelas, kak Darrel Sekolah kan?"
" Yaudah kak Darrel ke sini aja."
" Oke deh, Luna ke sana."
Luna mematikan sambungan telpon dan berjalan menuju Rooftop yang tadinya menjadi tempat favoritny bersama Radith, sepertinya Darrel menyukai tempat itu saat melihatnya, lelaki itu langsung memintanya kesana dan berkata sudah membeli banyak makanan ringan untuk mereka.
Luna berjalan dengan santai meski melewati gedung kakak kelas, karna setiap ada freeclass, kebanyakan siswa memilih untuk pergi ke kantin atau ke pinggir lapangan untuk menyaksikan pertandingan antar kelas yang rutin diselenggarakan. Darrel sendiri sudah menyerahkan tugas itu pada orang lain hingga dia bisa bersantai untuk event kali ini.
" Wah, banyak banget makanannya, tahu aja sih kak Darrel kalau aku lagi lapar," ujar Luna yang langsung duduk di sebelah Darrel dan membuka salah satu ciki yang ada di sana. Luna langsung melahap ciki itu dengan nikmat, sementara Darrel masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dilakukan lelaki itu.
" Lun, aku mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan marah ya," ujar Darrel yang membuat Luna menengok dan menatap Darrel dengan bingung.
" Tadinya aku mau sembunyiin dulu dari kamu, tapi kamj tahu sendiri kan aku gak bisa bohong sama kamu, aku takut kalau kamu marah atau kecewa sama aku, aku juga bimbang mau ambil atau engga," ujar Darrel yang membuat Luna semakin bingung, tak biasanya lelaki itu gelisah dalam menyampaikan sesuatu, biasanya lelaki itu tenang – tenang saja dan langsung menyampaikan hal pada intinya.
" sebenernya aku pergi ke singapura waktu hilang beberapa hari lalu, disana aku ikut pelatihan buat kerja di Jepang, dan aku ternyata ke terima, tapi aku sekarang bingung mau ambil atau enggak," ujar Darrel yang akhirnya menyampaikan kegelisahannya pada Luna.
Luna cukup terkejut mendengar hal itu, Luna tak tahu jika Darrel juga ikut dalam tes penerimaan pekerja untuk di tempatkan di Jepang. Luna sudah tahu jika kelas dua berkesempatan untuk bekerja di Jepang setelah mengikuti ujian nasional, namun Luna tak tahu jika Darrel menjadi salah satu yang berminat.
" Kak Darrel kapan ikut tesnya? Kok tiba – tiba udah pelatihan aja sih?" tanya Luna dengan wajah bingungnya.
" Kenapa kak Darrel gak mau ambil? Ini kesempatan bagus loh buat karir kakak di bidang ini, masak kak Darrel mau menyerah gitu aja? Lagipula kenapa kakak tiba – tiba gak mau pergi? Padahal kak Darrel udah tinggal berangkat kan?" tanya Luna yang masih tak mengerti jalan pikiran Darrel, lelaki itu tampak menghela napas dan menunduk.
" Aku gak mau ninggalin kamu disini sendiri, aku gak mau pergi tanpa kamu, aku juga gak bisa ajak kamu ke sana, aku lebih baik kehilangan kesempatan Jepang itu dibanding aku kehilangan kamu, aku gak mau Luna," ujar Darrel dengan sedih, lelaki itu tampak frustasi, membuat Luna makin merasa aneh sekaligus curiga, ada hal apa yang membuat lelaki itu sepanik dan sesedih ini? Apa lelaki itu kembali cemburu pada Radith?
" Kak Darrel tenang aja, Luna di sini pasti baik – baik aja, Luna berhasil laluin ini enam tahun sebelum ketemu sama kak Darrel, kalau Cuma tiga tahun mah gak ada apa – apanya kak, lagian kan bisa Video Call tiap hari, kak Darrel gak usah takut," ujar Luna yang memberi keyakinan pada lelaki itu.
" Aku gak mau ninggalin kamu Lun, aku gak mau kamu kenapa – napa selama aku pergi, apalagi kalau sampai aku ada saingan baru selain Radith, aku gak mau," ujar Darrel dengan jujur, entah mengapa dia merasakan kegelisahan yang luar biasa mengenai hal ini, entah apa yang membuat hatinya begitu takut dan tak yakin akan banyak hal.
" Kalau ini masalah Luna sama Radith, Kak Darrel tenang aja, Luna memang gak berani bilang kalau Luna udah seratus persen anggap Radith biasa aja, faktanya Luna masih deg – deg an waktu kemarin sama Radith seharian karna dia mau hibur Luna. Tapi hal itu gak akan jadi alasan Luna buat berpaling semudah itu dari kak Darrel, Luna gak mau hubungan kita seremeh itu kak," ujar Luna dengan lembut dan penuh keyakinan.
" Aku tetap ragu Lun, gak tahu kenapa aku ngerasa ada sesuatu yang bakal terjadi kalau aku gak disini, aku takut," ujar Darrel dengan frustasi, Darrel tak masalah akan kejujuran Luna yang masih belum sepenuhnya melepaskan Radith, karna baginya bagus Luna masih mau jujur padanya dibanding gadis itu bohong untuk menyenangkan hatinya.
" Itu Cuma ketakutan kak Darrel, ketakutan yang bisa di bilang gak mendasar, kak Darrel gak usah mikir yang aneh – aneh dulu, kak Darrel berangkat aja dulu, Luna disini bakal baik – baik aja, kalau misal Luna kenapa – napa, Luna bakal langsung kabarin kak Darrel, apapun itu, jadi kak Darrel berangkat aja ya?" bujuk Luna yang langsung memegang tangan Darrel.
Darrel memegang pipi Luna dan langsung mengecup puncak kepala gadis itu. Luna terkekeh dan kembali melanjutkan kegiatannnya memakan ciki yang tadi sudah terlanjur dia buka, gadis itu duduk bersandar pada sofa dan menikmati semilir di tengah mendungnya langit, meski sedikit ada rasa trauma karna dia pernah terkunci sampai mengenaskan, namun dia yakin Darrel tak mungkin membiarkan dirinya terluka.
" Radith di kelas? Aku baru kepikiran, biasanya kamu kesini kan sama dia, kok sekarang engga?" tanya Darrel yang malah menggoda Luna, entah mengapa kini dia sudah terbiasa dengan topik Radith diantara mereka, kini dia sudah percaya pada Luna yang mulai yakin hatinya untuk Darrel, ditambah lagi Darrel harus berterima kasih pada Radith yang menjaga dan membuat Luna bahagia selama dia pergi.
" Radith tuh lagi ijin ke guru, dia mau minta libur, nemenin Blenda berobat ke luar negeri, kan bentar lagi juga udah liburan. Kasihan yah kak Blenda, dia padahal perfect, tapi malah harus sakit kayak gitu," ujar Luna yang membuat Darrel menoleh dan menatap gadis itu.
" Kenapa dia perfect bagi kamu?" tanya lelaki itu dengan alis yang bertaut.
" Dia tuh cantik, baik, dewasa, gak manja, bisa banyak hal, astaga, Luna sampai iri sama dia kak, tapi Luna sedih dia harus sakit ganas kayak gitu," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa kecil.
" Kamu bagi aku lebih perfect dari itu. Kamu itu perfect nya perfect, cewek paling sempurna di hidup aku setelah Mama, karna aku cinta sama kamu, kamu harus cinta sama diri kamu sendiri biar kamu tahu kalau kamu sempurna, hingga nantinya kamu gak perlu iri melihat kehidupan orang lain, " ujar Darrel dengan senyum manisnya.
" Tapi kak, kalau misal Luna kayak Blenda gitu, kak Darrel mau gak kayak Radith yang nemenin Luna kemanapun Luna berobat? Luna salut banget sama Radith yang mau sampai sebegitunya sama Blenda," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam, merasa sedikit tak suka dengan perkataan Luna.
" Kamu gak perlu bayangin hal yang kayak gitu, bahkan tanpa kamu minta, aku bakal sebisa mungkin ada di samping kamu. Walau sampai saat ini aku masih belum bisa menuhin hal itu seratus persen, aku gak akan biarin kamu sendirian, aku pasti kirim orang buat jaga kamu, dan kamu gak perlu sakit dulu buat dapat yang sebegitunya dari aku, hidup aku aja udah punya kamu Lun," ujar Darrel dengan serius dan penuh ketulusan, membuat siapapun yang mendengarnya memeleh karna bahagia.
" Iya juga ya, Luna juga gak mau sakit kayak gitu, pasti tersiksa banget, apalagi Luna tahu kalau Kemo terapi sama Radiasi itu panas banget, menyakitkan banget dan Luna gak mau kayak gitu, Luna bakal jaga pola hidup sehat biar bisa jadi nyonya Atmaja yang dibanggakan semua orang."
Darrel tertawa renyah menanggapi Luna yang malah membuat lelucon dari hal ini, meski terselip amin bagi Darrel untuk terwujudnya hal itu.
" Turun yuk lihat Lomba futsalnya, kayaknya ramai banget, daripada kita diciduk disini, malah disangka yang enggak enggak lagi," ajak Darrel yang mengemasi jajanan yang ada di sana dan membantu Luna untuk berdiri. Mereka berjalan beriringan menuruni tangga dan melewati kelas – kelas.
Padahal tadi kelas disini tampak sepi, kini lumayan ramai juga, semua menatap mereka dengan tatapan tanya dan curiga, mungkin mereka memikirkan sesuatu yang lain, untung saja mereka tak melihat Luna dan Darrel turun dari rooftop, bisa menimbulkan fitnah keji tentunya.
Luna berjalan sambil memegang ponselnya, melihat grub kelas yang ramai karna hal yang tak penting, namun tetap saja asyik membacanya, bisa menaikkan kadar receh dalam hidupnya, membuatnya tertawa karna lelucon basi yang menjadi topik pembahasan. Karna terlalu fokus pada ponselnya, Luna jadi tak memperhatikan langkahnya. Entah bagaimana dia bisa terjatuh dan nyaris terjungkal jika bukan Darrel yng menahannya.
" Kalau aku berangkat ke Jepang, siapa yang bakal tahan kamu kalau kamu jatuh kayak gini? Ini Loh yang aku khawatirin Lun," ujar Darrel dengan wajah kesalnya yang malah membuat Luna tertawa.
" Luna juga gak berencana jatuh terus sih kak, jadi kak Darrel gak usah khawatir, gak usah jadiin itu alasan buat kak Darrel. Pokoknya kak Darrel harus berangkat dan buktiin kalau Kak Darrel bisa konsekuen terhadap langkah yang udah diambil kak Darrel, sekaligus buktiin ke Papa kalau kak Darrel mampu dibidang ini, bener gak?"
" Terserah kamu gimana aja deh, tapi janji, selama aku pergi, kamu gak boleh jatuh kayak gini lagi, oke?"
Luna mengangguk saja untuk menenangkan Darrel yang entah mengapa bersikap aneh, padahal Luna hany terjatuh tapi Darrel seheboh ini, memang jika sudah cinta mati, susah untuk bersikap normal, hahaha.