
Luna langsung terdiam dan duduk di Kasur, membuat Jordan mendekat dan menenangkan Luna, jangan sampai gadis itu berakhir seperti Dara. Darrel sendiri hanya diam karna tidak memiliki kerjaan. Dara sudah diurus oleh Keysha dan Luna diurus oleh Jordan. Seakan dia taka da gunanya.
“ Menurut kamu kita harus apa?” Tanya Jordan pelan. Adel adalah sahabat Luna, Luna yang lebih berhak menentukan langkah selanjutnya, karna perasaannya dipertaruhkan.
“ Luna bakal tanya Adel dulu bang, tapi Luna gak akan bilang secara langsung, kalau Adel langsung ngaku, Luna bakal maafin Adel. Tapi kalau ternyata Adel gak mau ngaku, Luna baal ikut cara bang Jordan,” ujar Luna setelah berpikir matang. Dia tidak mungkin membuat Adel celaka, bagaimanapun gadis itu adalah sahabatnya.
Namun mengapa Adel tega melakukan ini padanya? Mengapa Adel mencelakai Luna dan selalu ingin membunuh gadis itu? Apa motif yang dipikirkan oleh Adel? Mungkinkah Luna sudah menyakiti hatinya hingga dia melakukan ini semua?
“ Apa Luna pernah bikin salah ya kak sama Adel? Luna selama ini nyebelin ya kak? Sampai Adel melakukan itu semua? Luna takut kak,” ujar Luna yang malah menyalahkan diri sendiri, membuat Jordan mengetuk kepalanya pelan. Bagaimana bisa Luna malah menyalahkan diri sendiri disaat dia sudah nyaris melewati beberapa pintu kematian?
“ Kamu Tanya ke Adel sendiri, jangan pernah membuat asumsi yang bikin kamu frustasi dan nyalahin diri sendiri. Cuma orang yang terror kamu yang tahu jawabannya, sekarang kamu balik gih ke kamar kamu, siapa tahu Adel udah balik. Jangan sampai temanmu yang lain tahu tentang masalah ini,” ujar Jordan dengan bijaknya.
Luna berdiri dan berjalan ke arah pintu dan membukanya, langkah Luna terhenti dan mundur dengan kaget, begitu pula orang yang ditemuinya.
“ Bikin kaget aja Lo keluar kamar tiba – tiba. Eh tapi kan kamar Lo sama Adel bukan ini, ngapain Lo masuk kesini?lagi rapat paripurna DPR?”
“ Apa sih Key? Kok gak jelas banget Lo? Tadi kak Dara kumat waktu gue main ke kamarnya, jadi bang Jordan sama kak Darrel gue panggil. Sebenernya panggil kak Darrel aja sih, tapi gak tahu juga kalau ternyata bang Jordan ikutan masuk.”
“ Aaahh I See. Lo mau ikut gak? Gue mau beli makan, laper banget gue,” ujar Key memegang perutnya yang rata, hhmmm sebanyak apapun Key makan, perut gadis itu tetap rata, bahkan Luna sampai iri, apakah kalian juga?
“ Lah? Lucy mana?” Tanya Luna saat Key hanya berjalan sendiri, Key langsung mengubah air matanya dengan kesal.
“ Tidur dia, masak baru sampe udah tidur, nyebelin banget sih asli,” ujar Key sambil mengapitkan kedua tangannya ke ketiak.
“ Yaudah sama gue aja, bentar mau ambil sandal,” ujar Luna terkikik dan berlari begitu saja, membuat Key melihat ke arah kaki gadis itu yang tak memakai alas apapun.
“ Gila gak pakai sandal, awas kutu air noh kakai Lo, hii,” ujar Key yang bergidik geli. Key adalah satu satunya diantara mereka yang paling anti mengenai hal kapalan, kutu air, kadas, kurap, dan teman sebangsanya karna gadis itu selalu menjaga kecantikan dan kesehatan tubuhnya, terutama kulit.
Luna kembali beberapa saat kemudian dan langsung menghampiri Key yang masih menunggunya di tempat tadi sambil bersandar ke tembok. Mereka segera menuju lift dan turun menuju pintu keluar hotel, mereka mencari makanan dan jajanan yang bisa mengganjal perut karet Key.
“ Udah sih Key, Lo beli banyak banget,” ujar Luna tak setuju saat Key menuju penjual sate padahal di tangan mereka sudah banyak jajanan, apalagi setelah ini mereka akan menuju minimarket untuk membeli camilan.
“ Gakpapa mumpung disini, kalau di rumah bisa diamuk sama bokap gue karna jajan segini banyak, hahaha,” ujar Key dengan riang. Di rumah Key memang tidak banyak terdapat makanan riangan seperti ini, disana hanya terdapat buah, sayur dan makanan sehat, membuat mereka menjadikan rumah Key pilihan terakhir untuk menjadi tempat nongkrong.
“ Gue doain perut Lo melar, biar jadi jelek dan siapa tuh bule nyasar gak mau lagi sama Lo,” ujar Luna yang menatap geli Key karna gadis itu langsung cemberut. Alasan perut rata Key adalah gadis itu wajib mengkonsumsi empat sehat lima sempurna jika di rumah, apalagi jadwal Gym yang padat membuat tubuhnya senantiasa enak dipandang.
“ Kalau sampai gue melar, auto tiap hari gue disuruh nge gym sama bokap, hii, ogah deh gue,” ujar Key bergidik geli , Luna hanya terkekeh karna berhasil menggoda Key, namun gadis itu terdiam saat mengingat Adel yang belum kunjung kembali, entah kemana gadis itu.
“ Key, menurut Lo Adel tuh jahat gak?” Tanya Luna dengan tiba – tiba saat mereka duduk dan menunggu sate lilit khas Bali itu selesai dibuat.
“ Adel? Kenapa tiba – tiba Lo tanya gitu?” Tanya Key dengan bingung, tampak perubahan wajah Key yang tertangkap oleh Luna, gadis itu menggeleng dan menghela napasnya, dia tidak bisa membocorkan hal ini pada Key.
“ Kalau menurut gue Adel gak ada tampang jahat deh, Cuma belakangan ini dia emang aneh, suka tiba – tiba ngilang gak jelas, jarang kumpul sama gue dan Lucy, gak tahu juga deh, takut salah omong gue,” jawab Key sambil melirik Luna yang tampak melamun dan memikirkan sesuatu.
“ Balik ke Hotel yuk, makanan riangannya nanti aja kalau kita udah ke pantai, tiba – tiba mager gue,” ujar Key yang berdiri dan menghampiri penjual sate karna pesanannya sudah siap, mereka berjalan menuju hotel dengan Luna yang masih sedikit melamun.
Sesampainya mereka di hotel, ternyata Adel sudah ada di dalam kamar dan tertidur, entah darimana gadis itu dana pa yang dia lakukan, Luna sedikit ngeri untuk mendekat pada Adel, apalagi mereka hanya berdua, namun dia membulatkan tekat untuk bertanya, setidaknya dia mendapat sedikit petunjuk.
“ Del, Adel,” panggil Luna sambil menggoyang – goyangkan tubuh Adel.
“ Apaan? Gue ngantuk banget nih,” ujar Adel yang membuka matanya tanpa bergerak dari posisinya.
“ Gue mau Tanya ih sama Lo,” ujar Luna yang juga tidur di sebelah Adel, membuat Adel tak nyaman karena Kasur menjadi sempit.
“ Tanya apaan, ih, Lo jangan disini sih, di Kasur Lo aja sana,” ujar Adel dengan kesal sambil mendorong dorong Luna meski tak sampai membuat gadis itu terjatuh.
“ Gue pernah bikin Lo kesel gak?” Tanya Luna mulai mengutarakan kegelisahannya.
“ Sering kalik Lun, gue juga heran kenapa bisa betah sama Lo,” jawab Adel dengan santai dan tanpa beban, membuat Luna menghela napas tanpa suara karna bukan itu yang dimaksud oleh Luna.
“ Kalau bikin kesel yang sampai bikin Lo benci sama gue atau naruh dendam gitu? Pernah gak?” Tanya Luna yang semakin menjurus pada inti dari permasalahan yang dihadapinya.
“ Lo ngomong apa sih Lun? Gak jelas banaget ih, udah ah gue mau tidur dulu, stress gue baru sampai udah digangguin sama makhluk astal,” ujar Adel dengan galak dan membalikkan tubuhnya untuk kembali tidur.
“ Hah? Makhluk astal? Disini ada hantunya? Serius Lo Del? Dimana njir?” Tanya Luna bertubi dengan takut, membuat Adel menghela napasnya lelah dan memijit pelipisnya. Tidak bisakah hidupnya tenang dan jauh dari gangguan seperti ini?
“ Rafa datang nyusulin gue kesini, dan gue harus usir dia, gak tahu deh dia beneran pergi atau engga, pusing gue,” ujar Adel yang menjawab pertanyaan Luna, semoga saja Luna diam setelah ini.
“ Rafa kesini? Kenapa gak Lo temuin dia sama Key? Biar seru!” ujar Luna bersemangat sampai bertepuk tangan, Adel yang sudah kesal langsung mendorong Luna dengan kakinya, membuat gadis itu bergeser sedikit demi sedikit sampai akhirnya terjatuh dari Kasur.
“ aiishh, sakit,” ujar Luna lirih sambil memegang pantatnya. Dia memandang Adel dengan tatapan miris, entah mengapa hatinya masih meragukan jika Adel pelakunya, namun bukti mengarah pada Adel, dan jika mengingat kegiatan Adel selama ini, sangat memungkinkan gadis itu bertindak kasar pada Luna.
“ Kita jalan jalan ke pantai yuk, cuci mata lihat bule, siapa tahu ketemu bule ganteng kan?” ajak Key yang melihat kehadiran Luna, tampak Dara sudah tenang dan bisa tersenyum lagi, entah apa yang dilakukan Key untuk gadis itu.
“ Yaudah yuk, Luna mau cobain naik speed boat, banana boat, boat temennya Dora,..”
“ Heh, out of topic kamu,” ujar Keysha memotong perkataan Luna yang ngawur, membuat Luna terkekeh dan menggaruk lehernya.
Mereka keluar dan mengetuk pintu kamar Jordan dan Drrel, Key dan Lucy serta Adel untuk mengajak mereka semua bermain ke pantai. Tidak mungkin waktu liburan hanya mereka habiskan dengan tidur, buang – buang uang sekali.
Darrel langsung mengambil tangan Luna dan menautkan jarinya di sela sela jari mungil gadis itu. Luna hanya tersenyum dan membiarkan Darrel melakukan hal itu.
“ Kita ke Tanjung Benoa aja, disana banayk yang bsia dimainin,” ujar Jordan yang sudah memakai kaos santainya dan celana pendek. Mereka semua mengangguk dan berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke tempat itu.
“ Hoaaah, Luna mau main semua,” ujar Luna sesaat mereka sampai di tempat itu, Luna langsung berlari ke arah laut yang memiliki pasir putih ini, Darrel langsung menyusul Luna dengan posesif untuk memberitahu pengunjung lain bahwa Luna adalah miliknya.
Pakaian Luna membuat Darrel semakin was –was, gadis itu memakai singlet yang menampakkan pusarnya serta celana putih pendek yang lebih dari satu jengkal di atas lututnya. Wajah cantik Luna yang seperti Bule, kaki putih bersih yang jenjang serta tubuh yang proporsional membuat siapapun akan melirik Luna dengan kagum.
“ Kamu gak usah jauh jauh dari aku,” ujar Darrel yang memeluk pinggang Luna secara posesif, mereka tak tampak seperti dua anak SMA karna tubuh bongsor mereka, apalagi mereka memakai pakaian santai, semua yang melihat pasti setuju bahwa mereka serasi, sama sama menawan dan proporsional.
“ Posesif ih, harusnya kak Darrel tuh yang jaga mata jaga diri, pakai baju pamer otot gini, nyebelin banget,” ujar Luna sedikit kesal sambil meninju lengan Darrel yang keras, membuat gadis itu kesakitan sendiri.
“ Kak kak, boleh minta foto gak?”
Nah, benar kan. Baru saja mereka sampai, sudah ada segerombolan ciwi ciwi meminta foto satu satu dengan Darrel, dan tentu saja Luna yang harus memfotokan mereka, meski dalam hati lLuna ingin mencakar wajah mereka yang centil.
“ Gak usah dekat – dekat saya ya mas, gak mau saya sama yang bekas di sentuh banyak orang,” ujar Luna sinis saat semua ciwi itu sudah pergi, tak lupa mengucapkan terimakasih.
“ Padahal kalau kamu gak bolehin tuh aku malah seneng loh Lun,” ujar Darrel sambil merangkul Luna, mereka berjalan menuju penyewaan Jetski yang terkenal itu.
“ Pak, nyetir sendiri boleh kan? Saya sama pacar saya mau naik berdua,” ujar Darrel saat mendekati petugas yang menyewakan Jetski tersebut, setelah sedikit bernegosiasi, akhirnya Darrel diperbolehkan untuk menyetir sendiri Jetski itu dengan Luna yang ada di kursi penumpang.
Mereka memakai perlengkapan keamanan seperti helm dan pelampung, Darrel naik ke atas Jetski itu dan membantu Luna untuk duduk dengan nyaman. Mereka diberi waktu lima belas menit untuk memainkan ‘ motor’ ini.
“ Kak gak usah kenceng – kenceng, Luna takut,” ujar Luna sambil memegang pinggang Darrel dengan erat. Lelaki itu mengangguk dan muli menjalankan Jetski dengan pelan, namun lama lama Darrel menambah kecepatannya membuat Luna memejamkan mata dan menabok Darrel dengan keras.
“ KAK! PELAN – PELAN, AAA, MAMA, PAPA, TAKUT!!” Teriak Luna saat mereka mulai terlompat lompat di dalam air karna Darrel melawan ombak, Darrel tak mengindahkan perkataan Luna dan berputar putar dengan kecepatan tinggi, membuat Luna berteriak kencang sambil memeluk Darrel dari belakang.
“ Yah, keganjel sama pelampung,” ujar Darrel sambil terus melajukan Jetski itu, Luna yang tak begitu mendengar langsung mendekat dengan posisinya yang masih memeluk Darrel dari belakang.
“ Hah? Apa kak? Luna gak dengar,” ujar Luna dengan berteriak karna suara mesin yang mendominasi, Darrel menggeleng dan mulai bermain main lagi sampai akhirnya dia menepi karna waktu yang ditentukan sudah habis. Luna akhirnya bisa bernapas lega saat semua sudah berakhir, gadis itu menatap Darrel dengan kesal karena sengaja membuat Luna takut.
“ Yang lain pada kemana kak?” Tanya Luna saat tidak menemukan tanda – tanda keberadaan teman – temannya. Luna jadi merasa bersalah karna mereka sebenarnya kemari untuk berlibur bersama tapi ternyata malah Luna yang sibuk sendiri dengan Darrel.
“ Kita cari yu, mungkin lagi istirahat atau bejemur gitu,” ujar Darrel yang paham kegelisahan Luna dan menggandeng gadis itu untuk mencari teman – teman mereka.
“ Darrel? Darrel Atmaja,” Darrel menengok dan mendapati seorang gadis memakai bikini memegang pundak Darrel.
“ Kamu Darrel Atmaja kan? Ya Tuhan aku kangen banget sama kamu,” ujar gadis itu yang tiba – tiba memeluk Darrel, membuat Darrel mengangkat tangannya dengan reflek saat gadis itu memeluk Darrel, Luna sendiri langsung melotot kaget karna perlakuan kurang ajar gadis asing ini.
“ Kamu masih ingat sama aku kan? Kamu gak Lupa sama aku kan? Aku Ferra, pacar kamu waktu SMP,” ujar gadis itu dengan percaya dirinya, membuat Luna kaget dan menatap ke arah Darrel untuk meminta penjelasan.
Darrel berusaha mengingat nama Ferra dalam hidupnya, cidera kepala tempo hari mungkin juga menghapus ingatan tentang gadis bernama Ferra ini, Darrel segera melepaskan pelukan gadis itu secara paksa agar situasi tak semakin memanas.
“ Sorry, gue gak ingat ada nama Ferra di hidup gue,” ujar Darrel yang kembali menautkan tangannya ke Luna, gadis itu tampak terkejut dan baru menyadari keberadaan Luna, gadis itu memandang tanggan Drrel yang sudah bertaut.
“ Kamu lupa sama aku? aku cinta pertama kamu Darrel, kamu gak ingat dulu kita pernah janji bakal selalu bareng – bareng, kamu langsung lupain aku padahal aku terpaksa pergi ke luar negeri karna ikut keluarga aku?” Tanya gadis itu mulai berkaca – kaca.
“ Kak, Luna cari bang Jordan dulu ya,” ujar Luna sambil melepaskan tautan tangan mereka. Luna cukup tahu diri untuk tidak ikut campur urusan masa lalu yang mungkin belum usai ini, sudah cukup satu masalah dalam hidup Luna yang membuatnya pusing, Luna tak ingin masalah ini juga membebani pikirannya.
“ Kita cari bareng – bareng,” ujar Darrel yang menarik Luna untuk kembali ke sisinya.
“ Maaf ya mba, saya bener bener gak ingat ada nama Ferra di hidup saya, dan kalau mungkin memang saya lupa, sekarang udah gak penting lagi karna saya udah bertunangan sama cewek yang ada di sebelah saya,” ujar Darrel dengan tegas dan tersenyum simpul.
“ Permisi,” ujar lelaki itu yang berlalu dengan Luna ada di sampingnya. Luna tersenyum penuh kemenangan sekaligus terharu Darrel setegas itu pada gadis cantic yang tadi ada di depan mereka.
“ DARREL! KAMU PACAR AKU DAN KITA BELUM PUTUS! AKU PUNYA BUKTINYA! SAMPAI KAPANPUN KAMU TETAP PACAR AKU!”
Darrel mengabaikan perkataan gadis itu dan memilih untuk melanjutkan langkahnya bersama Luna meski Luna menatap Darrel dengan heran dan penuh dengan curiga.