Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 26



" Ayo dong Luna, gak usah lama – lama dandannya, nanti Key kalah cantik sama kamu, kamu kan udah cantik sari sananya," ujar Darrel yang mengetuk pintu kamar Luna yang sudah satu jam tertutup. Apakah gadis itu melakukan spa? Atau malah bertapa untuk mencari kesaktian? Kenapa lama sekali?


" Ya masak kak Darrel gak mau Luna jadi cantik sih? Ini kan event seumur hidup sekali Luna datang ke resepsi sahabat Luna. Dasar, sabar aja kenapa sih? Kalau gak sabar sana berangkat sendiri ke acaranya," ujar Luna dengan keras dari dalam kamar. Darrel mengalah, dia mencari sofa dan duduk santai menunggu gadisnya selesai bersiap.


" Yang nikah temennya aja dia segini heboh. Besok lah dia nikah, satu hari dia dandan. Dasar kaum wanita," ujar Darrel sambil menutup matanya. Lelaki itu hanya memakai kemeja berwarna pink dan jas berawarna hitam. Ah, dia bahkan harus memakai kemeja Pink karna gaun Luna malam ini berwarna pink, mau tidak mau dia membeli kemeja berwarna imut itu tadi siang.


Luna akhirnya menyelesaikan kegiatannya dan langsung keluar dari dalam kamarnya, gadis itu berdecak karna Darrel malah tertidur dengan posisi yang sangat nyaman. Namun mereka sudah terlambat, Darrel malah tertidur, ini kan bukan waktu yang tepat. Luna berjalan ke arah Darrel dan menggoyangkan tubuh lelaki itu.


" Kak, kita udah telat ih, jangan tidur nanti makin telat. Kalau sampai sana udah selesai pokoknya salah kak Darrel. Ayo kak," ujar Luna dengan kesal. Darrel membuka matanya dan menatap Luna dengan cengo. Satu jam dia menunggu Luna, namun gadis itu malah memarahinya dan menyalahkannya untuk keterlambatan mereka.


Namun apa daya, bahasa kasarnya, Darrel adalah lelaki yang takut pada wanitanya. Dia tak bisa memarahi Luna, bahkan dia akan merasa sangat bersalah jika bersikap keras pada gadis itu. Ah, apakah hubungan seperti ini sehat? Ah, Darrel tak peduli, asal mereka berdua sama – sama bahagia.


" Ya udah ayo kita berangkat sekarang, Kajja," ujar Darrel menirukan tokoh dalam drama korea yang Luna tonton, membuat wajah cemberut Luna langsung tersenyum bahagia. Darrel sudah mulai teracuni oleh hal yang dia suka, lelaki itu bahkan sudah tahu istilah – istilah ringan yang sering keluar di drama korea yang dia tonton.


Luna berjalan bersama Darrel sementara lelaki itu memberikan kunci mobilny pada petugas yang ada di sana. Mereka berjalan masuk ke ballroom Hotel dan disambut oleh pemandangan super mewah. Ah, Key memang tak pernah berhenti membuat mereka semua kagum dengan gaya glamournya. Meski gadis itu selalu santai dalam kehidupan sehari – hari, namun jika sudah masuk dalam sebuah acara, dialah yang menjadi bintangnya.


" Salaman sama pengantinnya dulu kak, langsung comot minum aja," ujar Luna menggeplak lengan Darrel yang langsung mengambil segelas soda. Lelaki itu terkekeh dan menghabiskan isi gelas tersebut dan berjalan di samping Luna karna gadis itu sudah menariknya.


" Ya maaf, abang kan haus neng, nunggu eneng bersolek tadi lebih dari satu jam, wajar dong abang haus," ujar Darrel dengan imut, membuat Luna menampol kepala lelaki itu pelan. Darrel memang selalu bisa membuat Luna merasa geli dan terhibur di waktu yang bersamaan. Lelaki itu memang memiliki pesonanya sendiri.


" Keyla, gue udah kasih selemat tadi malam, tadi pagi, tadi siang. Dan sekarang gue di sini buat kasih selamat ke Lo lagi, kurang sayang apa gue sama Lo? Bersyukur Lo punya teman sebaik gue," ujar Luna yang memeluk Keyla. Benar saja, Keyla tampak sangat anggun, gemerlap dan mewah. Siapapun akan terpukau dengan pesona gadis ini.


" Thank you very much. You Look so Beautiful tonight. I think you can replace with me? Hahaha," ujar George yang membuat Luna tertawa malu. Namun tidak dengan Darrel dan Keyla, keduanya terdiam dengan wajah datar, bahkan Keyla langsung memukul lengan pria yang kini menjadi suaminya itu.


" Maksud kamu aku gak bagus gitu ada di sini? Lebih cantik Luna? Ya udah kenapa gak kamu nikah aja sama dia, aku biar sama kak Darrel aja," ujar Keyla yang tentu saja tak dimengerti oeh George, lelaki itu tak bisa mengerti apa yang Luna katakan, namun dia tahu bahwa istrinya itu sedang marah. Bahkan marahnya Keyla bukan sekadar gurauan.


" Hey, babe, I'm sorry okay? You're perfect tonight. I'm just kidding with her, for me you're prettiest lady in this world," ujar George sambi mencium puncak kepala Keyla. Wanita itu masih terdiam, sementara Luna dan Darrel tak mau terlibat, mereka memilih untuk turun dan membiarkan keduanya mengatasi masalah mereka.


" Key jadi sensi banget ya," bisik Darrel di telinga Luna. Lelaki itu tampak heran dan ngeri dengan pandangan mata Keyla yang seakan ingin membunuh suaminya sendiri.


" Mungkin bawaan bayi," ujar Luna yang membuat Darrel langsung terkejut dan tak bisa berkata – kata lagi. Luna hanya mengangguk dan meminta Darrel tak membahasnya lagi. Mereka memilih untuk menikmati hidangan yang ada dan Darrel pun bertemu beberapa koleganya.


" Mari jangan membahas bisnis di sini, kita untuk bersenang – senang di sini," ujar Darrel saat koleganya mulai membahas bisnis. Dia tahu Lunetta akan bosan dan tak mengerti apa yang mereka katakan, jika diteruskan gadis itu akan segera meminta pulang, tidak worth it dengan waktu yang dia habiskan untuk berdandan.


" Kamu mau soda? Aku ambilin soda ya?" tanya Darrel saat Luna dnegan anggunnya memakan kue mangkuk yang didesain mewah, tentu dengan rasa yang enak pula. Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil menelan makanannya.


" Jangan soda, sudah malam, nanti kembung. Sirup atau air putih aja," ujar Luna yang diangguki oleh lelaki itu. Darrel berjalan ke arah minuman dan mengambil satu gelas berisi sirup berwarna merah. Namun saatb berbalik, tangannya disenggol pleh seorang wanita tak dikenal, membuat minuman itu tumpah dan membasahi jas mahalnya.


" Oh maaf, ini salah saya, saya benar – benar tidak sengaja melakukannya," ujar Wanita itu yang langsung mengeluarkans apu tangan dari tas kecilnya dan mengelap tangan Darrel. Lelaki itu langsung menarik tangannya dan mengibas – ibaskan tangannya sendiri agar air yang ada di jasnya terciprat jatuh. Wanita itu masih memasang wajah tak enak pada Darrel.


" Ah, anda ini Darrel Atmaja bukan? CEO muda yang berbakat. Senang bertemu anda di sini. Apakah anda teman dari salah satu pengantin?" tanya wanita itu dengan genitnya. Darrel bingung harus menanggapi seperti apa, namun dia mencoba untuk santai.


Sementara itu di tengah – tengah pesta ada seorang gadis yang merasa tenggorokannya snagat kering karna orang yang mau membawakannya minum tak kunjung kembali. Gadis itu sampai kesal dan akhirnya mencari minum sendiri. Entah kemana kekasihnya pergi, dia akan menanyakannya pada Darrel nanti.


Namun kaki Luna langsung berhenti saat dia melihat kekasihnya mengobrol dengan wanita yang memakai baju belahan rendah. Bahkan Luna tahu baju itu berbahan tipis sehingga kalian smeua bisa melihat sesuatu yang menunjol, tapi bukan bakat. Sesuatu yang tegang, tapi bukan perkelahian. Sesuatu yang kembar, tapi bukan anak. Ah sudahlah, kita hentikan topik pembicaraan ini.


Luna berjalan lurus dan mengambi lsirup tanpa mempedulikan Darrel. Lelaki itu langsung menyadari keberadaan Luna dan menggeret lengan gadis itu. Darrel langsung merangkul pundak Luna yang terbuka untuk menghangatkannya, semua itu bisa dilihat oleh wanita yang tadi mengajak Darrel bicara. Wanita itu dibuat kaget lagi dan lagi, namun tak mengatakan apapun.


" Maaf ya lama. Tadi malah ketemu sama wanita ini dan diajak ngobrol, kamu haus ya?" tanya Darrel yang dimanis – maniskan. Luna menatap lelaki itu dengan garang seorah berkata 'menurut Lo? Gue nyaris mati kehausan kalau Lo mau tahu.'. Darrel hanya menggaruk kepalanya pelan saat tahu respon Luna.


" Hai, jadi ini tunangan dari Darrel Atmaja. Cantik sekali, kalian cocok, kenalin, nama aku Freya," ujar wanita itu dengan ramah sambil mengulurkan tangannya. Luna bisa melihat kalau wanita itu menyodorkan sesuatu yang lain ke arahnya agar Darrel bisa melihat sesuatu, mengingat postur wanita itu terbiang pendek. Luna tersenyum kecut sambil menjawab tangan itu.


" Lunetta," jawab Luna singkat dan langsung melepaskan tangannya setelah mereka bersalaman. Luna langsung mengajak Darrel pergi dari tempat itu dengan alasan dia mau bertemu dengan Adel dan Lucy, padahal mereka sama sekali belum bertemu, bahkan Luna tak tahu mereka hadir atau tidak. Darrel yang mengerti tentu saja menuruti keinginan Luna.


" Kami permisi dulu," ujar Darrel dengan ramah dan langsung menggandeng tangan Luna sambil berjalan keluar dari sana. Luna mengajak Darrel ke arah balkon dimana suasananya cukup sepi, gadis itu mulai pusing dengan keramaian yang ada, apalagi mereka semua memakai parfume yang berbeda dan menyengat, membuat kepalanya menjadi pening.


" Kamu mau aku ambilin camilan gak? Tadi aku lihat ada camilan yang biasanya aku makan. Enak loh," ujar Darrel memecah keheningan. Luna menganggukkan kepalanya dan menitip pesan kalau Darrel tak usah pergi lama – lama, Darrel pun mengiyakan permintaan itu dan segera pergi dari sana.


Luna menatap sekitar dan melihat minuman yang menarik perhatiannya. Warnanya merah, mungkin itu sirup dengan rasa yang lain. Luna akhirnya berjalan ke arah minuman itu dan mengambil satu gelas yang hanya berisi setengah. Luna mulai meminumnya dan merasakan panas di tenggorokannya. Tak lama seorang pria menghampiri Luna dan menyapanya, namun Luna menanggapinya dengan ketus.


" Kalau mau minum ini, Kau harus menambahkan permen ini, rasanya akan jauh lebih enak. Kau mau mencobanya?" tanya lelaki itu dengan sopan. Luna menatap gelasnya yang sudah kosong. Dia bisa merasakan tenggorokannya memanas, namun ada rasa ingin tambah dalam setiap cairan yang dia telan. Karna penasaran, Luna pun mengiyakan saran lelaki itu.


Lelaki itu memasukkan sebuah permen ke dalam minuman Luna dan permen itu langsung larut di minuman Luna. Gadis itu langsung menghabiskan cairan yang berisi setengah gelas itu dengan sekali teguk, membuat lelaki yang ada di hadapannya tersenyum puas.


Luna bisa merasakan tubuhnya terasa panas. Seakan ada sesuatu dalam dirinya yang membakar tubuhnya itu. Bahkan Luna mulai merasa tak nyaman dengan baju yang dikenakannya. Lelaki yang ada di hadapan Luna tersenyum puas dan merangkul gadis itu, membawanya ke arah balkon menuju pintu yang menghubungan sebuah ruang kosong. Entah ruang apa itu.


" Eh? Mau Lo bawa kemana pacar gue?" suara itu masih bisa didengar oleh Luna, namun gadis itu hanya menggeliat tak nyaman, sudah tak sadar dengan apa yang dia lakukan, dia hanya merasakan seluruh tubuhnya panas dan dia ingin melepaskan semua bajunya saat ini. Luna bisa melihat dengan sayu Darrel datang ke arahnya dan menghajar lelaki itu habis – habisan.


" Lo berani pukul gue? Jangan harap Lo bisa hidup tenang setelah ini. Lo gak tahu siapa gue? Hah?" tantang lelaki yang kini sudah babak belur itu. Beberapa orang yang tahu tentu langsung menjadikan hal ini tontonan, namun karna tempatnya yang sepi, tak banyak yang melihat kejadian ini.


" Persetan Lo siapa di dunia ini! Kalau Lo berani pegang pacar gue, mau Lo anak presiden pun bakal gue bunuh sampai gak tersisa! Ngerti Lo!" seru Darrel yang menarik rambut lelaki itu dengan kasar dan memasukkan beberapa helai rambut lelaki itu ke dalam kantong jasnya. Dia harus tahu siapa lelaki kurang ajar yang ada di hadapannya ini.


Saat lelaki itu terkapar. Darrel langsung mengangkat tubuh Luna yang terus saja menarik dasi yang dia kenakan. Darrel membawa Luna pergi dari tempat itu segera, bisa bahaya jika mereka tetap ada di tempat ini. Luna akan melakukan hal yang terduga.


" Panas, baju Luna panas. Luna mau lepas bajunya aja. Panas banget kak," ujar Luna yang merangkul leher Darrel dan berusaha meraih leher lelaki itu dengan lidahnya. Darrel sendiri tak menyangka Luna bisa seliar ini. Apa yang sudah dilakukan oleh lelaki itu pada gadisnya?


" Iya panas iya, ini aku dinginin Acnya, kamu jangan buka baju di sini," ujar Darrel panik. Lelaki itu langsung memasukkan Luna ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat. Luna terus menggeliat dan bahkan gadis itu meraih resleting gaunnya yang ada di belakang dan mulai menurunkan resleting itu. Darrel yang melihatnya langsung melotot dan menepikan mobilnya segera.


Lelaki itu mengambil jaket tipis yang ada di jok belakang dan langsung memakaikannya pada Luna. Darrel menaikkan resleting dan menalikan bagian lengan yang tidak dia masukkan ke tangan Luna agar gadis itu tak bisa bergerak. Lelaki itu seperti membungkus Luna dengan jaketnya yang besar.


" Maaf aku harus bungkus kamu kayak gini, kamu makan apa sih di sana sampai kayak gini? Astaga," ujar Darrel dengan panik dan langsung menjalankan mobilnya sementara Luna terus mengerang dan berteriak kepanasan bahkan sampai menangis.