
Darrel masuk ke dalam mobilnya dan berdiam diri sebentar. Lelaki itu menghela napasnya berkali – kali, untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba – tiba menyerang kepalanya. Biasanya setelah cuci darah, dia merasa segar, namun entah mengapa sekarang dia merasa tubuhnya kurang fit. Ah, apakah ini yang dinamakan Komplikasi? Darrel bahkan sedikit tak bisa merasakan tangannya
" Kepala, Kepala, pusingnya nanti dulu aja ya, Darrel mau pulang dulu, biar Darrel nanti sampai rumah baru kamu pusing lagi gak papa. Okay? Okay," ujar Darrel mengelus kepalanya pelan dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Lelaki itu menjalankan mobilnya pelan masuk ke dalam ramainya jalan. Lelaki itu mengibas – ibaskan tangannya saat merasakan kebas.
Darrel mengambil ponselnya yang berbunyi dan malah menjatuhkan ponsel itu. Darrel menatap ponselnya yang terus menyala dan mencoba untuk meraih ponselnya tanpa memalingkan wajahnya dari jalanan, namun dia masih tak bisa meraih ponsel itu. Darrel mengalihkan pandangannya dan langsung mengambil ponselnya lalu kembali pada posisinya semula.
Namun siapa sangka tiba – tiba ada motor yang memotong jalan, membuat lelaki itu kaget dan dan langsung membanting setir ke arah kiri, menghindari motor itu dan menabrak pohon besar cukup keras. Kepala Darrel langsung menghantam keras stir yang dia pegang, bahkan kaca depan Darrel sampai pecah dan lelaki itu langsung tak sadarkan diri.
Tak jauh di belakang Darrel, sebuah mobil langsung berhenti dan orang yang ada di sana berusaha keras untuk keluar dari mobil dan berjalan menggunakan tongkatnya. Dia sudah memiliki perasaan buruk saat melihat Darrel yang tampak lemas dan tak semangat. Dia sengaja mengikuti lelaki itu dan benar saja, perasaan lelaki itu langsung terbukti secara nyata.
" Keluarin Kak Darrel! Bawa ke rumah sakit! Cepat!" ujar Radith dengan terburu – buru. Orang –orang suruhan Radith langsung melakukan apa yang diperintahkan lelaki itu. Mereka mengangkat Darrel dan langsung membawa lelaki itu ke rumah sakit. Percuma juga Radith keluar dari mobil, dia tak membantu banyak dan langsung masuk lagi ke dalam mobil, haha.
Darrel langsung dibopong menuju UGD sementara Radith langsung menghubungi Luna. Dia menatap dokter mulai masuk ke dalam ruang UGD. Lelaki itu mencari kontak Luna dan langsung menghubungi gadis itu. Dia bingung harus mengatakan apa pada Luna, gadis itu pasti syok dan melakukan hal yang gegabah.
" Luna, Lo siap – siap sekarang, pakai baju yang biasa aja, gak usah mewah – mewah, orang gue bentar lagi mau jemput Lo," ujar Radith saat Luna mengangkat panggilannya. Luna tentu bingung karna Radith tiba – tiba memintanya untuk bertemu, padahal dia tak memiliki janji sama sekali dengan lelaki itu, apalagi biasanya Luna yang mencari Radith, namun kali ini sebaliknya.
" Gak usah banyak tanya dulu. Lo Cuma perlu ganti baju biar gak pakai baju tidur. Udah, sepulu menit orang gue udah sampai di rumah Lo. Gue tutup sekarang." Radith langsung menutup panggilan dan menelpon orang suruhannya untuk segera menjemput Luna. Lelaki itu masih berpikir bagaimana reaksi Luna saat tahu kekasihnya dalam kondisi yang mengenaskan.
Sementara itu Luna yang diperintah oleh Radith tentu merasa kesal dan langsung mengganti pakaiannya dengan asal. Gadis itu hanya memakao kaos dengan celana panjang, memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan langsung turun dari kamarnya untuk menunggu orang yang akan menjemputnya. Entah mengapa Luna merasa Radith sangat terburu – buru saat ditelpon.
Saat Luna turun dari kamarnya. Rupanya orang yang disuruh Radith sudah menunggu di ruang tamu. Gadis itu cukup terkejut karna orang itu datang sangat cepat. Apakah orang itu terbang? Haha, itulah yang langsung terpikir oleh Luna. Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dan berjalan menemui orang yang wajahnya tegang itu.
" Kenapa Radith tiba – tiba minta ketemu sama saya sih pak? Memang ada apa?" tanya Luna yang membuat orang itu menengok ke arah Luna dan langsung berdiri. Orang itu mengayunkan tangannya pelan untuk meminta Luna berjalan duluan.
" Silakan Nona ikut dulu, nanti Nona akan tahu kenapa tuan muda meminta untuk bertemu nona," ujar orang itu dengan kaku. Luna berdecak namun tetap mengikuti apa yang diminta oleh lelaki itu. Mungkin memang para pengawal selalu bersikap seperti ini. Tegang dan kaku seperti kain pel yang kering. Mereka hidup seperti robot yang selalu mengatakan 'ya' saat disuruh.
Luna diam selama perjalanan. Entah kenapa dia merasakan dadanya sakit. Luna langsung merasa tak enak dan menatap orang yang tadi menjemputnya. Apakah ini ada hubungannya dengan Radith? Apakah lelaki itu bertambah buruk dan meminta Luna untuk mendukungnya? Tapi kenapa dia malah memikirkan Darrel saat seperti ini?
Gadis itu berusaha menelpon Darrel, dia ingin memastikan Darrel baik – baik saja di rumahnya. Lelaki itu pamit untuk pulang dan beristirahat. Apakah lelaki itu sudah tidur dan tak bisa mendengar panggilan Luna? Semua pikiran itu terus berputar di kepala Luna, membuat gadis itu merasa pusing sendiri.
" Kenapa ke rumah sakit pak? Radith kenapa?" tanya Luna saat supir itu masuk ke halaman parkir sebuah rumah sakit yang tak pernah Luna kunjungi sebelumnya. Gadis itu selalu mempercayakan dirinya ke rumah sakit Wilkinson saat sesuatu yang buruk terjadi padanya, tapi mengapa Radith memintanya untuk datang ke rumah sakit ini?
Luna sedikit berlari saat orang tadi mengatakan Radith menunggunya di ruang UGD. Jika itu ruang UGD, pasti ada sesuatu yang tak baik sudah terjadi. Apakah lelaki itu melukai kakinya hingga dia harus masuk ke UGD? Atau orang lain yang masuk ke ruang itu? Atau…
" Radith? Kenapa Lo ada di sini? Kenapa Lo minta gue datang ke sini? Siapa yang ada di dalam sana?" tanya Luna bertubi. Radith terdiam dan menatap Luna dengan pandangan mata yang sayu. Radith meminta Luna untuk duduk di sebelahnya agar gadis itu sedikit tenang. Luna mengikuti apa yang diminta Radith tanpa protes sedikitpun.
" Lo harus janji, Lo tenang dan gak heboh. Gue gak mau rumah sakit ramai karna Lo. Orang yang ada di dalam sana itu.." Radith bingung harus mengatakannya atau tidak. Namun dia menatap wajah Luna yang takut dan penasaran, membuat lelaki itu menarik napas dan membuangnya perlahan, menggenggam tangan Luna dan menyorot tepat di kedua mata gadis itu.
" Kak Darrel. Dia kecelakaan waktu pulang dari rumah sakit. Dari tadi dokter belum keluar. Gue yakin dia gak kenapa – napa, jadi gue minta Lo gak perlu heboh," ujar Radith pelan. Luna langsung gamang dan melepas tangan Radith yang menggenggamnya. Luna langsung berdiri dan melihat ke arah pintu UGD yang tertutup rapat, lalu menatap lagi ke arah Radith.
Mata gadis itu sudah berair dan tangannya gemetar. Radith yang tak bisa banyak bergerak hanya menarik Luna agar duduk kembali di sebelahnya. Untung saja Luna tak berteriak seperti yang dia pikirkan, namun melihat Luna sehancur ini, Radith jadi tak tega.
" Yang di dalam beneran kak Darrel dan gue bisa jamin itu, karna gue sendiri yang ngantar dia ke sini. Dia ke rumah sakit ini buat konsultasi ke dokter, dan waktu pulang dia kecelakaan. Gue tahu ini berat buat Lo, tapi Lo harus yakin kalau smeua bakal baik – baik aja," ujar Radith pelan.
" Yakin? Gue harus yakin semua baik – baik aja Dith? Yang di dalam sana itu pacar gue, tunangan gue, calon suami gue, Lo minta gue tenang? Gimana gue bisa tenang Dith?" tanya Luna dengan suara yang sudah tak stabil. Gadis itu mulai terisak dan menatap Radith dengan pandangan mata yang sudah campur aduk.
" Gue tahu, gue ngerti. Sebaiknya kita berdoa semua akan baik – baik aja, dia akan baik – baik aja dan cepat pulih. Gak ada yang mustahil di dunia ini," ujar Radith yang mencoba tenang agar Luna tetap tenang. Gadis itu menganggukkan kepalanya patuh lalu menundukkan kepalanya untuk berdoa.
" Maaf Lun, gue tahu waktunya gak pas. Tapi kenapa tumben Lo gak banyak bantah dan nurut apa yang gue bilang?" tanya Radith dengan hati – hati. Luna mengangkat lagi kepalanya dan tersenyum tipis pada lelaki itu.
" Badan gue lemas banget, gue habis minum aspirin tadi pagi karna tadi malam gue gak sengaja minum alkohol yang dicampur obat, gue jadi mabuk parah. Tadi pagi kak Darrel kasih gue Aspirin itu biar gue gak terlalu pusing dan dia pamit pulang. Sekarang gue masih lemes, masih pusing, jadi gak ada tenaga," ujar Luna pelan.
Radith hendak bertanya, namun pintu UGD terbuka dan dokter tergesa – gesa menemui mereka berdua. Luna langsung berdiri menemui dokter itu dan tentu saja menanyakan kondisi Darrel. Dokter itu menggelengkan kepalanya, membuat Luna ambigu dan menatap dokter dengan perasaan yang campur aduk.
" Kondisi kepala dan badan lelaki itu baik – baik saja. Tapi luka pada kakinya cukup parah dan kami harus melakukan operasi di kakinya. Kami butuh tanda tangan dari pihak keluarga untuk menyetujui tindakan operasi, kami tidak berani melakukannya tanpa persetujuan keluarga. Siapa anggota keluarganya di sini?" tanya dokter itu.
" Saya dok, saya adiknya," jawab Radith dengan cepat dan langsung berdiri meski sedikit kesakitan. Maaf pada Dokter karna Radith harus berbohong. Dia tak bisa menunggu pihak keluarga Darrel datang ke rumah sakit. Lelaki itu harus segera diberi tindakan segera.
" Kalau begitu silakan ikut saya ke bagian administrasi, pasien akan langsung kami bawa ke ruang operasi segera agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ujar dokter itu yang diangguki oleh Radith. Luna menatap Radith dengan tatapan wajah ketakutan.
Mendengar apa yang dokter katakan tentu membuat Luna jadi cemas dan perasaannya langsung merasa tak enak. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Darrel, entah mengapa dia merasakan akan kehilangan Darrel.
Luna menggelengkan kepalanya berkali – kali menghilangkan pikiran buruk yang mendominasi kepala gadis itu. Radith memandang Luna sambil mengangguk, sebelum akhirnya mengikuti dokter yang menangani Darrel.
" Semua akan baik – baik aja," ujar Radith pada Luna sebelum benar – benar melangkahkan kakinya mengikuti dokter yang terlihat buru – buru.
*
*
*
Note : Kalau boleh Jujur, Author nyiapin Draft kerangka cerita untuk Sweet moments, tapi entah kenapa Authornya jadi galau hari ini dan ceritanya jadi gini😅😅😅
Draft yang udah dibuat auto dihapus wkwkwk