
" Kenapa kau mengancam anak – anakku? Bahkan ini belum lewat tengah hari."
" Ah, ku kira kau tak akan datang, aku hanya ingin bermain dengan mereka, namun karna kau sudah di sini, aku pikir kita bisa berbicara sekarang. Apa kau butuh makanan atau minuman sebelum kita bicara tuan?" tanya Pak Indra dengan sopan sambil melempar pistol kepada penjaganya.
Darrel membuka matanya dan membuang napas yang tadi dia tahan – tahan, akhirnya nyawanya masih bisa terselamatkan untuk sesaat. Mereka kembali membawa Darrel ke posisi semula, Radith memandang Darrel dengan lega, mereka bisa sedikit bernapas untuk sementara waktu. Luna sendiri langsung memandang Daddynya yang tampak menyeramkan.
" Kau sudah menghambatku untung datang ke tempat ini segera dan kau mengancam anak – anak ini atas keterlambatanku? Sejak kapan kau bertindak sehina ini?" tanya Tuan Wilkinson dengan dinginnya. Tak dapat dipungkiri, pak Indra cukup takut dengan nada bicara itu, namun dia merasa ini rumahnya, dia yang lebih berkuasa.
" Karna ini markasku, kau harus mengikuti aturanku. Jangan bertindak bodoh, karna seluruh rumah ini sudah aku tanam Bom, kita akan mati bersama jika kau sampai bertindak di luar batas," ujar Pak Indra yang tak membuat Tuan Wilkinson gentar, lelaki itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, namun semua orang pun tahu ini bukan senyum yang ramah.
" Kau ingin mmembuat kita semua mati di sini? Bukankah itu akan membuatmu rugi? Mungkin kau lupa, aku masih memiliki dua orang anak yang bisa meneruskan bisnis dan nama besar keluarga Wilkinson. Tapi kau? Kau tak akan mendapatkan apapun," ujar Tuan Wilkinson yang membuat pak Indra kalah telak, pria itu tak bisa menjawab pernyataan tuan Wilkinson.
" Yah, kau benar. Itu sebabnya aku menunggu untuk datang ke tempat ini dan bukannya meembunuh anak tersayangmu," ujar Pak Indra yang membuat Tuan Wilkinson melihat Luna sekali lagi. Pria itu langsung berjalan mendekat ke arah Luna, namun orang – orang Pak Indra segera menghadang langkahnya.
" Aku selalu memperlakukan anakku seperti sebuah berlian yang berharga, tapi kau memperlakukannya seperti binatang. Apa kau pikir perbuatanmu ini bisa dimaafkan?" tanya Tuan Wilkinson yang meembuat pak Indra tertawa, bahkan pria di hadapannya tak takut sama sekali saat dia sudah masuk di kandang macan.
" Aku tak bunuh dimaafkan olehmu. Aku hanya takut seseorang datang menyelamatkan dia. Yah, aku harus memperketat keamanannya. Aku tidak jahat, kau jangan salah paham bos besar, aku bahkan memberi makan mereka dengan porsi yang banyak dan makanannya segar tanpa racun," ujar pak Indra dengan bangganya, tertawanya seperti seorang psikopat, menyeramkan saat didengar.
" Kalau kau memang tidak jahat, lepaskan mereka semua. Aku akan memaafkanmu mengingat hubungan baik kita dulu. Aku tak akan membahas ini di kemudian hari, jdi lepaskan mereka," ujar Tuan Wilkinson dengan tegasnya. Luna sampai merasa bangga, dia harus banyak belajar dari papanya, bahkan dalam keadaan terdesak, seekor macan harus setegas macan dan bukannya selembut kucing.
" Melepaskan mereka? Hah, aku bahkan harus mengeluarkan banyak uang untuk memantaunya selama di Korea. Aku harus kehilangan banyak nyawa untuk nyawa dua bocah tengik ini, seenaknya saja kau memintaku untuk melepaskan mereka. Kau pasti bercanda," ujar pak Indra yang membuat Tuan Wilkinson memejamkan matanya sejenak.
" Urusanmu denganku, lepaskan mereka dan aku akan memberikan yang kau mau," ujar Tuan Wilkinson yang membuat pak Indra menggleengkan kepala dengan tangan yang mengisyaratkan penolakan, pria itu berjalan ke arah sofa yang ada di sana dan langsung duduk dngan santai, sementara Tuan Wilkinson tampak tak tahan melihat Luna begitu menderita.
" Kau tidak sedang dalam kondisi bisa menentukan di sini. Ini markasku. Kita memakai peraturanku. Kau harus bawakan file aset perusahaan dan berikan tanda tanganmu untuk mengalihan semua aset atas namaku," ujar pak Indra yang membuat tuan Wilkinson geram sampai mengepalkan tangan.
" Beri aku alasan kenapa kau melakukan ini? Kau adlaah orang kepercayaanku untuk waktu yang lama. Bahkan kau ku percaya untuk mengatasi kasus – kasus yang sulit, kenapa sekarang kau malah menusukku sampai tak bersisa?" tanya Tuan Wilkinson yang membuat pak Indra tersenyum, dia meminta penjaga yang ada di sana membawakannya minuman.
" Sejak awal aku memang tak pernah berniat untuk menjadi orang kepercayaanmu. Aku lebih suka menjadi Bos untuk semua. Aku pikir aku bisa mengumpulkan banyak uang dengan menjadi orang kepercayaanmu, tapi nyatanya uang itu sangat jauh jika dibandingkan dengan milikmu," ujar pak Indra tanpa dosa. Dia mengesap anggur yang ad adi dalam gelas.
" Aku sudah memiliki rencana jika pada akhirnya kau menyerahkan sebagian asetmu untukku karna aku yang sudah menjaga anak kesayanganmu ini untuk waktu yang lama. Tapi nyatanya aku tak mendapat apa – apa. Kau pikir aku hanya kerbau yang membajak sawah untukmu?" tanya pak Indra dengan lantang.
" Kau terlalu menyepelekan orang yang sudah setia lama denganmu. Yah, walau yang kulakukan semua palsu, setidaknya aku menghasilkan banyak keuntungan untukmu, tapi nyatanya kau jauh lebih menghargai mereka yang berusaha mendapat cinta anakmu. Apa itu masuk akal tuan besar?" tanya pak Indra lagi. Tuan Wilkinson tak habis pikir dengan pola otak orang yang ada di hadapannya.
" Kau bahkan bisa membeli sebuah pulau dengan uang yang kuberikan padamu. Kenapa kau masih meminta lebih? Bahkan kau sampai tega melukai anak yang sudah kau rawat sejak dia masih kecil," ujar tuan Wilkinson yang tak menyangka pak Indra memiliki pikiran yang sangat picik. Padahal beliau sudah percaya pada pak Indra.
" Yah, uang yang kau berikan padaku bisa untuk membeli pulau. Tapi uang yang kau miliki tak sebanding dengan yang aku miliki. Bahkan kau tak pernah mempercayakan kasus penting untukku yang sudah sangat berpengalaman. Kau tahu, jika ada yang harus disalahkan, itu adalah dirimu."
" Kau egois, kau hanya berpikir bagaimana mendapat keuntungan yang besar. Kau menggunakan dua anak tengil ini untuk melanjutkan bisnis karna kau tahu mereka akan bergabung ke keluargamu dan pada akhirnya uang yang mereka hasilkan akan masuk ke kantongmu," ujar pak Indra tanpa ragu dan tentu menohok perasaan tuan Wilkinson.
" Kau pasti terkejut, aku adalah orang pertama yang mengatakan hal itu padamu. Semua orang yang ada di dekatmu selalu menjilat dan mengatakan hal yang baik hingga matamu tertutup akan fakta itu. Bahkan sikapmu itu membuat anakmu sering berada dalam bahaya," ujar pak Indra yang melihat ke arah Luna.
" Dilukai oleh temannya, Masuk ke jurang, dan bahkan sampai diculik. Itu semua salahmu, kau ayahnya, namun kau sama sekali tak peduli, kau hanya percaya pada laporan yang masuk, kau tak pernah memeriksa kebenarannya bukan? Kau mungkin kaya dan hebat, namun kau bodoh dan tak memiliki hati," ujar pak Indra yang meembuat Tuan Wilkinson tak bisa menjawab.
" Sekarang aku memberimu pilihan untuk menjadi ayah yang lebih baik. Kau ingin menyelamatkan mereka? Serahkan semua aset yang kau miliki, dan aku akan menyerahkan anak – anak ini untukmu. Cukup adil bukan?" tanya pak Indra yang tak langsung dijawab oleh tuan Wilkinson.
Tuan Wilkinson melihat satu persatu. Mulai dari Radith, Darrel, sampai Luna. Semua dalam kondisi yag memprihatinkan, apalagi Darrel yang bajunya sudah berdarah – darah. Tunggu, darah. Tuan Wilkinson baru menyadari itu, beliau langsung berjalan ke arah pak Indra denegan murka, menarik kerah lelaki itu sampai tubuhnya terangkat, hal itu tentu memancing respon penjaga yang ada di sana.
" Jangan berlebihan tuan besar. Kau harus tahu batasanmu di tempat ini. Jangan terlalu bersemangat padaku di tempat ini. Sekali lagi, aku bosnya di sini. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran karna dia tidak bertindak sopan padaku. Orangku tak memukulnya keras, namun dia langsung muntah darah saat aku memukul perutnya."
" Apa aku bilang? Perut?" tanya Tuan Wilkinson yang langsung melepaskan cengkramannya, dia langsung meenghampiri Darrel untuk melihat kondisi lelaki itu, dan Darrel hanya menganggukan kepalanya, menandakan kondissinya baik – baik saja. Hal itu membuat tuan Wilkinson sedikit melega. Hal itu tentu membuat Luna penasaran, Daddynya tampak sangat khawatir pada Darrel.
" Om akan buat dia bayar semua, kau jangan khawatir," ujar tuan Wilkinson pelan sebelum berdiri dan menghampiri pak Indra lagi. Orang itu masih santai dengan gelas wine di tangannya, dia mengesap perlahan dan akhirnya meletakkan gelas itu di meja. Orang itu berdiri menghampiri tuan Wilkinson yang masih mengamati anak – anak itu.
"Bagaimana? Apakah mereka cukup penting? atau kau menganggap uangmu jauh lebih penting? semua keputusan ada di tanganmu. Tapi aku bukan orang baik, aku tak akan memberikan banyak waktu dan tak mau kehilangan banyak," ujar pak Indra yang menggantungkan kata – katanya. Tuan Wilkinson tak menjawab, beliau masih menunggu apa yang hendak dikatakan pak Indra.
" Aku tak akan memberimu banyak waktu, dan semakin banyak waktu yang kau buang, mereka yang akan menanggungnya. Kau tahu aku dengan baik bos besar, aku tak pernah main – main dengan ucapanku," ujar Pak Indra yang membuat Tuan Wilkinson kembali mempertimbangkan hal itu.
" Oke, aku akan membawakan apa yanag kau mau besok, sampai besok, jangan pernah kau berani gores mereka, atau kau akan membayarnya dengan kepalamu," ujar Tuan Wilkinson yang langsung pergi dari tempat itu setelah berbincang sedikit dengan ketiga anak itu, mminta ketiga anak itu tak perlu khawatir lagi.
Tuan Wilkinson meninggalkan tempat itu dengan keamanan yang super ketat, bahkan jika mau, pengawal tuan Wilkinson bisa membunuh mereka semua, namun ancaman bom tentu menjadi pertimbangan sendiri bagi beliau, lebih baik beliau mengalah dan memberikan apa yang Pak Indra mau. Tuan Wilkinson akhirnya terbang kembali ke suatu tempat meninggalkan mereka bertiga
*
*
*
" Kau sungguh akan memberikan semua untuk mereka pak Tua? Aku akan sangat bangga dan tersentuh jika kau benar melakukannya," ujar seorang yang masih cukup muda, namun karismanya sangat terlihat, persis seperti tuan Wilkinson. Ya, itu adalah Jordan, tokoh yang sudah lama tak terlihat di sini.
" Aku tak bisa membahayakan nyawa adikmu dan dua anak itu, mungkin memang aku harus melakukan yang mereka mau, kita bisa memulai semua dari awal, tapi tidak dengan nyawa anak – anak itu," ujar tuan Wilkinson denan frustasi. Dia biasanya marah saat Jordan memanggilnya pak Tua, namun kini dia enggan menanggapi panggilan itu.
" Coba Papa pikir, jika mereka sudah mendapat apa yang papa mau. Apa mereka akan melepaskan kalian semua? Bahkan Jordan yakin dia akan membunuh kalian semua sesudah mendapat apa yang dia mau," ujar Jordan dengan santai. Hal itu membuat Tuan Wilkinson menyadari sesuatu, ya, dia baru menyadari hal itu.
" Kau benar. Dia tak akan melepaskanku, tapi bagaimana jika dia sungguh melukai Luna? Papa sudah merasa sangat bersalah sampai Luna diculik oleh orang kepercayaan Papa, dan sekarang papa harus kehilangan dia? Itu tidak mungkin," ujar tuan Wilkinson sedikit frustasi, Jordan menggelengkan kepalanya pelan, takjub karna merasa lebih pintar dari papanya.
" Papa itu bos dia, papa pasti lebih pintar dari dia. Jordan saja tahu strategi yang harus kita gunakan. Kenapa papa tak bisa menyadari hal itu sejak awal?" tanya Jordan yang menutup laptopnya lalu fokus pada papanya. Tuan Wilkinson menatap Jordan dengan penasaran.
" Jangan bermain – main dengan papa. Apa yang kau maksud? Strategi apa yang bisa kita gunakan untuk menyelamatkan mereka?" tanya tuan Wilkinson yang terus mendesak Jordan. Lelaki itu bahkan sampai memutar bola matanya saat melihat papanya begitu frustasi, memang Luna yang paling berkuasa untuk mengubah isi hati dan tingkah laku papanya dalam sekejap.
" Karna itu Lunetta, papa khawatir sampai seperti ini. Sedangkan Jordan dulu malah dibuang ke Panti Asuhan. Hah, rasanya Jordan malas untuk membantu papa," ujar Jordan sambil meletakkan kepalanya di meja. Tuan Wilkinson tak sabar dan langsung menghampiri Jordan, tak lupa mneggebrak meja lelaki itu sampai lelaki itu menegakkan kepalanya dengan kesakitan.
" Papa tak main – main, lekas beritahu Papa karna kita tak punya banyak waktu, papa tidak bisa menjamin keselamatan mereka jika papa datang terlambat," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan mendengus, lelaki itu masih memegang jidatnya, namun dia sadar papanya sedang kalut karna adik kesayangannya dalam bahaya.
" Papa Mendekat ke sini. Jordan mau bisikin aja biar pembacanya gak tahu dan penasaran, terus komen 'Up thor, penasaran.'," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson menaikkan alisnya, namun pria itu segera mendekat ke arah Jordan dan mendekatkan kupingnya sementara Jordan langsung membisikkan sesuatu ke telinga papanya.
" Apa kau yakin cara seperti itu akan berhasil, itu terlalu beresiko untuk dilakukan," ujar tuan Wilkinson yang membuat Jordan menghela napasnya.
" Sejak kapan tuan Wilkinson khawatir tentang hal seperti itu? Papa Jordan selalu optimis bahkan jika hanya ada 1 persen kemungkinan berhasil dalam waktu terdesak," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson mengangguk.
" Baiklah, papa percaya kau tak akan sembarangan memeberikan Ide. Mari kita coba lakukan bersama," ujar tuan Wilkinson mengangguk dan mengambil file paling penting di perusahaan ini.