Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 1



Seorang Pria berjalan menuju sebuah ballroom dimana pesta perayaan perusahaan pertama miliknya yang sudah diresmikan akan digelar. Pria itu berjalan mengenakan jas yang sebenarnya tak mewah, namun pesonanya sangat menawan, membuat apa saja yang dia gunakan tampak pas dan cocok. Di tangannya terdapat jam tangan mewah pemberian seseorang sebagai hadiah, sementara kakinya beralaskan sepatu fantofel yang mengkilap.


Semua mata langsung tertuju padanya. Kali ini dia adalah bintangnya. Lelaki itu berjalan ke arah panggung dan memberikan salam kepada hadirin yang sudah berkumpul di tempat ini. Dari atas dia dapat melihat teman – teman dekatnya juga turut hadir untuk memberikan semangat. Dia juga bisa melihat gadis yang mengisi hatinya sedang berdiri di sebelah tunangannya.


" Terima kasih sudah menyempatkan hadir dalam acara syukuran yang sederhana ini. Saya mohon doa agar perusahaan ini dapat berkembang dan diterima baik oleh Industri, serta memberikan pelayanan yang terbaik terhadap konsumen. Semoga kita semua meraih kebahagiaan dan kesehatan di tahun ini dan tahun yang akan datang, sekali lagi terima kasih."


Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan heboh untuk sambutan singkat yang diberikan oleh sang pemilik. Lelaki itu tersenyum hangat dan menyalami setiap tamu yang berpapasan dengannya. Siapa sangka, mimpinya untuk mengangkat derajat keluarganya tercapai setelah dia bekerja keras selama empat tahun setelah kelulusannya.


Saat ini lelaki itu berusia dua puluh dua tahun, dan kini dia sudah menjadi seorang CEO perusahaan dinamo yang cukup besar karna dia mendapat investasi dan suntikan dana dari perusahaan Wilkinson. Bisa dibilang perusahaan miliknya adalah anak perusahaan Wilkinson, namun dia cukup bangga dengan hal itu, dia terus bekerja keras untuk mendapat kepercayaan itu.


" Radith, selamat ya. Akhirnya Lo udah jadi bos besar juga. Gue salut sama Lo, gak pernah nyerah walau sering jatuh, gak fokus sama cinta – cintaan dan akhirnya Lo bisa capai semua ini. Gilak sih, bangga banget rasanya, padahal Lo yang sukses," ujar Arka dengan senyum yang lebar. Radith tertawa dan mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu.


Mereka semua tertawa bahagia, menghangatkan suasana yang dingin dengan percakapan yang mengenang masa lalu. Masa dimana mereka tumbuh dewasa, masa dimana mereka menemukan cinta, kehilangan cinta, meraih mimpi dan bahkan kehilangan segalanya serta bangkit dari keterpurukan. Masa sekolah mereka terlah lama berakhir.


Kini mereka sudah menatap kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang keras dan penuh tantangan, dimana banyak orang yang merebut kekuasaan dengan segaala cara, dimana seseorang akan kehilangan segalanya jika salah melangkah. Dunia yang kejam, dunia yang sangat berbeda dari yang kita pernah bayangkan.


" Selamat ya, sekarang udah jadi CEO, buruan cari calon istri deh biar ada yang ngurusin Lo," ujar Darrel yang juga hadir pada acara itu. Radith tertawa mendengar candaan itu, dia sudah terbiasa dengan candaan semacam itu karna meski dia menolak tua, usia di sekitarnya memang sudah mendukung untuk adanya pernikahan. Bahkan Firman sudah memiliki seorang anak yang menggemaskan dari istrinya.


" Hahaha, punya calon istri belum tentu berarti ada yang urusin kita kak. Lo tahu kan akan hal itu?" tanya Radith yang sengaja menyindir gadis yang berdiri di sebelah Darrel. Gadis itu melangkah maju, namun ditarik lagi oleh Darrel karna dia sudah lelah melihat perkelahian antar keduanya.


" Dia nyebelin kak, mentang – mentang Luna gak bisa apa – apa, dia ngeledekin Luna kayak gitu. Awas Lo kalau jatuh cinta sama gue! Gue sukurin sampai Lo gegulingan di kubangan ****," ujar Luna dengan random, namun cukup membuat Radith dan Darrel serta mereka yang ada di sana tertawa.


" Gue gak pernah nyebut nama, Lo sendiri yang ngerasa. Tapi emang sih, Lo kan gak bisa apa – apa, untung aja kak Darrel mandiri, jadi gak ngerasa kerepotan ngurusin bayi gede kayak Lo, Wleek." Radith malah makin gencar membuat Luna kesal. Gadis itu benar benar melangkahkan kakinya dan menggeplak kepala Radith dengan keras.


" Kok Lo gak nahan dia sih kak? Dia kan jadi bisa mukul gue kayak gini! Sakit tahu kak!" protes Radith dengan kesal. Lelaki itu memegang kepalanya yang dipukul keras oleh Luna. Sementara sang pelaku hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek lelaki itu. Luna tahu Darrel tak akan menahannya untuk kali ini.


" Ya Lo sendiri yang nyari masalah sama dia. Makanya gak usah banyak ulah," ujar Darrel menasehati dengan nada candaan. Mereka semua tertawa atas apa yang terjadi, bahkan sejak lulus dari STM Taruna, Luna dan Radith tidak pernah bisa akur. Luna yang selalu menganggu Radith bekerja, dan Radith yang selalu mengusik Luna.


Namun ketika Radith harus melakukan perjalanan ke luar Negeri, Luna merasa hidupnya da yang kurang. Dia merasa aneh jika tidak mengusik kehidupan lelaki itu, meski sudah ada kak Darrel di hidupnya, kak Darrel makin sibuk dengan perusahaan saat lulus hingga sulit ada waktu untuk Luna.


Luna cukup mengerti hal itu untuk kebaikannya dan untuk masa depan mereka sendiri. Luna tak banyak menuntut dan memilih untuk menikmati waktu saat mereka bersama, meski hanya sekadar menonton atau belanja, mereka sudah cukup bahagia. Hal itulah yang membuat hubungan keduanya tak merenggang sedikitpun meski sudah lima tahun bersama.


*


*


*


~ ting tong ting tong


" Siapa sih pagi – pagi gangguin orang lagi sibuk meraih mimpi?" tanya Radith sambil mengusap kedua matanya yang memerah. Lelaki itu meregangkan tubuhnya dan menguap, lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia langsung terkejut karna tubuhnya didorong dan seseorang masuk begitu saja tanpa permisi.


" Lo itu perempuan, udah punya tunangan dan tinggal tunggu waktu buat nikah. Tapi kenapa kelakuan Lo masih kayak bocah sih? Masuk ke apartemen orang sembarangan, kalau Lo gue apa – apain gimana?" tanya Radith dengan kesal sambil menutup pintu apartemennya. Gadis yang menyelonong masuk ke kamarnya hanya tertawa dan duduk di sofa.


" Malah kata kak Darrel kalau gue bosan, gue disuruh main ke sini. Katanya dia lebih tenang kalau gue sama Lo daripada sama cowok lain. Mungkin dia pingin gue nikah sama Dia sama Lo juga, hahaha," ujar Luna asal yang membuat Radith menyentil dahi gadis itu dengan gemas.


" Mulut Lo kayak gak pernah disekolahin. Emang Lo sanggup ngelayanin dua cowok sekaligus? Gak bakal capek Lo?" tanya Radith dengan ambigu, membuat Luna mengerutkan keningnya karna tak paham. Namun setelah mencerna beberapa saat, akhirnya Luna memukul bahu Radith dengan keras, membuat lelaki itu kesakitan namun juga tertawa dengan keras.


" Lo lagi gak ada kerjaan apa gimana sih? Gue mau ke pabrik nih, masak Lo mau di sini gue tinggalin sendirian?" tanya Radith yang bangkit dari sofa dan mengambil handuk yang ada di dekat kamar mandi. Luna mengerucutkan bibirnya dan berpikir.


" Gak papa kok gue ditinggalin di sini, Lo lama gak perginya? Gue gabut banget, soalnya kak Darrel lagi ke luar negeri, mending gue ke sini aja," ujar Luna dengan sedih. Makin hari memang ida makin kehilangan sosok Darrel dalam hidupnya. Lelaki itu berubah menjadi workaholic dengan alasaan demi masa depan mereka.


" Mereka sibuk sama kegitan masing – masing, Cuma gue yang gak punya kegiatan masak, ya udah deh gue ikut Lo aja ke pabrik, nanti gue ngadem di sana," ujar Luna yang membuka ponselnya dan membalas pesan dari Darrel. Lelaki itu baru saja sampai di negeri paman Sam, dan baru kembali ke Indonesia paling lambat satu bulan lagi.


Luna menidurkan dirinya di sofa panjang itu dan mulai bernyanyi dengan acak, menyanyikan setiap lagu yang muncul di kepalanya dan menyambungkan ke lagu lain saat dia mengingat sebuah lirik. Radith yang sedang mandi pun sebenarnya geli dengan tingkah Luna saat gadis itu merasa tak ada kerjaan. Apapun akan menjai menarik bagi Luna.


" Dith, Lo udah lama banget kan gak ke makam Blenda? Lo gak mau ke sana Dith? Gue mau sekalian ke makam mama kalau Lo mau ke sana," ujar Luna yang tak disahuti oleh Radith. Luna berdecih dan bangkit dari tidurnya, berjalan ke arah meja di mana terdapat sebuah bingkai foto yang menunjukkan Radith sedang bersama seorang gadis.


" Cantik. Kamu jadi seperti apa sekarang? Apa kamu bakal makin cantik? Kalau kamu masih hidup, kamu bakal jadi apa?" tanya Luna pada figura itu. Luna meletakkan kembali figura itu ke tempatnya dan berjalan ke arah balkon. Namun tiba – tiba saja dia tertarik dengan sebuah laci dimana terdapat sebuah pita merah mengikat pegangan laci itu.


" Ngapain Lo?" pertanyaan itu membuat Luna mengurungkan niatnya untuk membuka laci itu dan berbalik. Wajahnya langsung memerah dan gadis itu langsung menutup wajahnya dengan tangan karna melihat pemandangan yang tidak bisa diterima oleh matanya.


" Lo mau macam - macam sama gue ya? Dasar mes*m, kenapa Lo keluar gak pakai baju gitu sih?" tanya Luna dengan heboh, membuat Radith berdecak dan berjalan saja ke dalam kamar tanpa mempedulikan Luna yang berteriak malu. Ini bukan pertama kalinya Radith hanya mengenakan handuk di depan Luna mengingat gadis itu sering datang ke tempat ini, namun reaksi Luna selalu saja berlebihan.


" Ini tuh rumah gue, dan gue juga udah terbiasa gak bawa apa – apa ke kamar mandi. Harusnya Lo yang menyesuaikan diri dong. Lagian masak Lo gak biasa sih lihat gue?" tanya Radith dengan nada keras agar Luna dapat mendengar apa yang dia katakan. Namun nyatanya Luna tak menjawab. Gadis itu mengelus dadanya untuk menenangkan diri.


" Kenapa badannya bagus banget sih sekarang? Demi apa ganteng banget," ujar Luna pelan sambil menetralkan detak jantungnya. Dia sering melihat Radith bertelanjang dada, namun tubuh lelaki itu semakin bagus tiap harinya, mungkinkah Radith pergi ke tempat Gym tanpa Luna tahu? Luna langsung menggelengkan kepalanya karna merasa pikirannya sudah berlebihan.


Radith keluar dari kamarnya, sudah memakai kemeja rapi dan celana berbahan kain berwarna hitam. Lelaki itu mengambil tasnya dan mengunci pintu kamarnya. Mengajak Luna untuk keluar dari apartemennya dan masuk ke dalam mobilnya untuk segera pergi ke pabriknya. Sebagai pemilik baru, dia harus rajin mengecek berjalannya produksi agar tidak ada masalah, apalgi dia harus mengembalikan suntikan dana yang diberikan oleh tuan Wilkinson.


" Dith, nanti di pabrik ada apa aja? Enak gak? Seru gak?" tanya Luna yang membuat Radith memejamkan matanya sejenak. Beginilah jika gadis itu hanya bekerja di bagian admin saat magang, gadis itu bahkan tak pernah tahu kondisi pabrik dan bagaimana pabrik berjalan. Radith memilih tak menjawab dan membiarkan Luna mengetahui dengan matanya sendiri.


" Sudah sampai," ujar Radith saat memearkirkan mobilnya si sebuah pabrik yang cukup besar. Lunaa meneguk ludahnya dan turun dari mobil mengikuti Radith. Lelaki itu masuk bersama Luna dan Luna langsung merasakan hawa panas tak tertahankan. Jadi beginilah Pabrik? Sangat jauh dari apa yang dia duga.


" Kalau di sini memang panas, di ruang sebelah udah bagian pengemasan, di sana baru dingin. Kita ke sana habis ini, kasihan sama Lo," ujar Radith yang terkekeh melihat Luna tak nyaman namun gadis itu diam saja karna takut menganggu. Radith berjalan ke arah pintu yang ada di sana, membuka pintu itu dengan ID card yang dia bawa dan menutupnya kembali.


" Better kan? Makanya tadi gue tawarin Lo mau pulang atau ikut, Lo malah milih ikut," ujar Radith yang membuat Luna tersenyum masam. Gadis itu duduk di salah satu kursi yang ada di sana, sementara Radith ijin untuk memeriksa sesuatu, meninggalkan Luna di tempat itu.


" Gue bisa mati bosan kalau tetap di tempat ini," ujar Luna yang akhirnya berdiri dan membuka pintu yang tadi dibuka oleh Radith. Ternyata benar, ruang sebelah lebih dingin dibanding ruang pertama. Sepertinya tempat Luna duduk tadi adalah Office karna hanya terdapat kursi, meja dan setumpuk berkas.


Ada yang membuat Luna sungguh tertarik. Gadis itu melihat ke arah atas dimana terdapat sebuah lintasan yang membawa benda – benda itu ke suatu tempat. Ruangan itu sangat luas dan mengangumkan. Semua berjalan secara otomatis, hanya ada beberapa orang sebagai operator, sisanya dijalankan oleh robot dan motor otomatis. Luna menggelengkan kepalanya dengan kagum.


Gadis itu berjalan mengikuti lintasan yang membawa ratusan dinamo berbaris tersebut. Ternyata mereka dikemas dalam suatu wadah, dan di tempat itu banyak tenanga manusia yang digunakan. Sepertinya Radith sengaja menggunakan tenanga manusia dalam hal packing untuk mencipatakan lapangan kerja bagi orang lain, apalagi semua yang ada di sana adalah wanita.


" Siapa kamu? Kamu penyusup ya? Kok tidak pakai ID Card? Kamu mau mencuri Informasi perusahaan?" Luna tentu terkejut diserang pertanyaan yang dia tak mengerti. Luna tampak ketakutan dan tidak berani menjawab apa – apa. Ibu – ibu itu makin yakin bahwa Luna berniat jelek. Dia menyeret Luna ke Ibu – Ibu lain yang memandang heran.


" Laporkan ke satpam, ada penyusup masuk ke ruang pengemasan," ujar Ibu itu yang diangguki oleh lainnya. Salah satu diantara mereka menekan sebuah tombol yang kemungkinan terhubung dengan pos keamanan. Luna masih diam saja, dia terlalu terkejut dan tak tahu harus melakukan apa, kini dia berharap Radith segera datang.


Tak lama petugas keamanan datang dan bertanay pada Ibu tadi. Petugas itu hendak membawa Luna keluar, namun langkahnya tertahan saat melihat pemilik pabrik itu berjalan mendekat. Mungkin pemilik itu penasaran ada keributan apa di pabriknya sampai ramai seperti itu.


" Ada apa ini?" tanya Pemilik itu dari jauh.


" Ini Pak, ada penyusup. Saya curiga dia mau mengambil rahasia perusahaan," ujar Ibu tadi.


" Radith, tolong," ujar Luna pelan karna dia ketakutan. Radith langsung terkekeh dan mendekat saat tahu siapa penyusup itu. Radith meminta petugas keamanan melepaskan Luna dengan segera.


" Tidak apa, dia teman saya. Saya yang membawa dia kemari. Maaf atas kesalah pahaman ini, sekarang kalian bisa kembali bekerja." Ibu itu kaget setengah mati saat mengetahui siapa gadis yang dia tarik – tarik itu.


" Maaf, maafkan saya, saya pikir anda penyusup karna tidak memakai ID Card dan berkeliaran di sini. Saya tidak tahu kalau Anda teman pak Radith. Sekali lagi saya minta maaf," ujar orang itu yang dimaklumi oleh Radith. Orang itu langsung pamit untuk kembali bekerja setelah Radith memintanya pergi.


Luna merinding seketika. Entah sejak kapan, dia sedikit merasa resah bisa seorang asing menyentuhnya, apalagi jumlah mereka tidak sedikit. Luna yang gemetar langsung dibawa oleh Radith dari sana untuk masuk kembali ke ruang Office.