
Seorang pria dengan banyak pengawal di belakangnya berjalan menuju salah satu ruangan yang ada di rumah sakit itu. wajahnya dingin, juga sangat tegang. Aura hitam langsung menyelimuti sekitarnya dan bahkan anak – anak yang melihat pun langsung bersembunyi di balik punggung orang tuanya. Pria itu tak menengok sama sekali, dia hanya fokus pada kamar inap tujuannya.
Saat pintu terbuka, dia bisa melihat dokter yang memberikan saran – saran pada pria yang kini duduk dengan selang infus di tangannya. Dokter yang melihat kehadiran pria dingin itu sontak saja takut dan mmilih untuk pamit meninggalkan mereka. Apalagi pengawal yang ada di sekitar orang itu membuat siapapun tak berani berlama – lama menatapnya.
" Aku beri waktu lima menit untukmu menjelaskan semua, jika jawabanmu tidak bisa di terima, berdoalah agar tubuhmu bisa jalan tanpa kepala," ujar pria dingin itu yang membuat pria muda berselang infus meneguk salivanya dengan wajah tegang. Namun pria muda itu memilih untuk tetap menjelaskan apa yang sudah terjadi tanpa ada yang ditutupi.
" Maafkan saya, saya tidak menyangka jika dia bisa melakukan semua itu. apalagi memang benar saya pernh menginap di panti asuhan itu satu malam. Saya sangat ceroboh sampai masuk dalm jebakan Karel, saya sangat menyesal dan siap menerima hukuman apapun dari Om," ujar lelaki itu yang membuat Pria dingin di hadapannya menghela napasnya panjang.
" Bagaimana bisa salah satu pewaris keluarga Atmaja sekaligus keluarga Wilkinson bertindak sebodoh itu? jika dengan Wanita kecil saja kau tertipu, bagaimana bisa kau menghadapai liciknya orang – orang yang ada di dunia hitam," ujar Pria dingin itu yang membuat Darrel menunduk, lelaki itu benar – benar menyesal dan hanya berani menunduk.
" Lalu apa rencanamu untuk putriku setelah ini. Kau benar- benar, ijika ini bukan dirimu, sudah kupastikan orang yang membuat putriku menangis dan bahkan sampai terluka akan aku pastikan orang itu tergantung di pohon kelapa dengan kepala ada di bawah. Bersyukurlah aku memiliki harapan bersar terhadapmu," ujar Pria itu yang membuat Darrel merasa tak enak. Lelaki itu bahkan tak mampu untuk mengangkat kepalanya.
" Saya rasa saya memang tidak ditakdirkan untuk bersama Lunetta. Dari awal pertemuan kami yang tanpa sengaja, saya yang memaksa Luna untuk menjadi kekasih saya, dan bahkan gagalnya pertunangan kami, sampai saat ini, kami gagal menikah. Semua salah saya, saya yang tidak pernah belajar dari kesalahan, namun hal itu juga seakan menjadi pertanda bahwa Luna memang tak pernah ditakdirkan untuk saya."
" Kau tahu, pria sepertiku tidak pernah percaya akan takdir. Ini adalah hidupmu, kau yang berhak untuk mengendalikan hidupmu. Jika kau terlahir miskin, itu sama sekali bukan kesalahanmu, namun jika kau gagal saat kau dewasa, jangan pernah salahkan takdir, karna itu kesalahanmu. Hidup ini harus penuh dengan kewaspadaan dan rencana, kau tak bisa memutuskan sesuatu dengan cepat tanpa tahu akibat."
" Bagaimana bisa kau dengan mudahnya percaya pada orang itu dan mengabaikan anakku? Mungkin hanya Kau yang berani dan bisa lakukan itu dengan mudahnya, kau harus bangga akan hal itu. sekarang, bagaimana kau akan lanjutkan hubunganmu dengan anakku? Kau tahu, bahkan aku tak bisa melawan anak itu. anak itu sangat berkuasa di keluarga Wilkinson."
" Saya tidak tahu, mungkin saya akan menyerah dan membiarkan Luna bahagia. Saya sudah menghancurkan gadis itu berkali – kali, dan bahkan saya sudah membuat kepribadian gadis itu berubah. Tentu saya merasa tak enak untuk hal itu. saya merasa gagal dan tidak pantas menjadi pelindung gadis itu," ujar Darrel yang membuat pria itu menatap selang infus yang masih sedikit.
" Kau harus ikut aku pergi ke suatu tempat setelah infusmu habis. Lalu aku akan bertanya sekali lagi padamu, dan kau harus menjawab hal itu dengan final, setelah itu aku tak akan memberimu kesempatan apapun lagi untuk mengubah pikiranmu,"ujar Pria dingin itu yang diangguki oleh Darrel.
Setelah infus yang ada di wadahnya habis, Darrel meminta dokter untuk mencabut jarum yang ada di dalam tangannya, dia juga melepas selang infus itu dan berdiri tegak di hadapan Tuan Wilkinson. Meski mereka tidak begitu dekat, tuan Wilkinson tahu jika Darrel adalah anak yang baik dan menyimpan semua beban sendiri.
Mereka segera pergi dari rumah sakit dan tuan Wilkinson mengajak Darrel datang ke rumahnya. Ya, rumah Luna. Rumah yang bisa diakses oleh Darrel dengan mudah, bahkan sidik jari lelaki itu bisa membuka pintu kamar Luna. Sebegitu percayanya keluarga ini pada dirinya, padahal dia hanya bisa mengecewakan keluarga ini.
" Kau tentu tahu rumah ini kan? Kau bahkan bisa masuk ke manapun yang Kau mau. Tapi ada satu ruangan yang bahkan Jordan sendiri tak tahu. Aku akan membawamu ke ruangan itu, kau adalah orang pertama yang melihat isi ruangan itu," ujar tuan Wilkinson yang membuat Darrel tertegun, memang ruang seperti apa? Ruang rahasia kah? Gudang senjata? Apakah Darrel akan dieksekusi di rumah Luna?
Tuan wilkinson menatap pantulan dirinya di kaca yang ada di ruang itu. terlalu banyak kaca di ruangan ini membuat Darrel tak merasa aneh. Namun ternyata kaca itu bisa membuka akses menuju ruang rahasia dan hanya wajah tuan Wilkinsonlah yang bisa membuka ruangan itu.
" Ini adalah ruang persembunyian yang dulu aku buat untuk melindungi Ibu Luna sementara aku berjuang melawan semua musuh mafia yang keji itu. hanya wajahku dan Wajah Ibunya Luna yang bisa dideteksi untuk membuka pintu rahasianya. Sebenarnya Jordan pernah masuk ke ruang ini, namun saat itu dia masih sangat kecil, dia tak mungkin mengingatnya.
" Kau tahu kenapa tempat ini sangat istimewa?" tanya Tuan Wilkinson yang membuat Darrel menggelengkan kepalanya. Meski dia tahu tuan Wilkinson tak bisa melihatnya karna ruangan ini sangat gelap. Namun saat saklar lampu dinyalakan, Darrel langsung menganga melihat segala sesuatu yang ada di sana. Sangat indah, menenangkan dan sangat romantis.
" Dulu hidupku jauh lebih berat darimu. Aku memulai semua dari dasar bersama Istriku. Bahkan modal yang seadanya itu mati – matian aku putar agar bisnisku bisa berkembang. Kini kau dan Jordan bahkan Radith, hidup kalian sangat enak karna masih ada aku yang melindungi kalian."
Tuan Wilkinson menatap sebuah figura yang sangat besar, di figura itu ada wajah wanita yang snagat cantik. Bahkan mungkin Darrel baru melihatnya pertama kali. Karna tak ada foto seperti ini di ruang keluarga atau ruang manapun kecuali ruang rahasia ini. Apakah ini adalah Ibu Luna? Wanita ini sangat cantik seperti Luna.
" Hal yang paling berat dalam hidupku adalah aku harus menyaksikan orang – orang yang setia padaku harus mati demi menyelamatkan aku. Semua beban itu terus saja ku tanggung sendiri. Kau tahu apa yang terjadi? Aku mulai gila, Aku bahkan sampai tak mengenali Jordan. Yah, saat itu hanya ada Jordan di rumah ini."
" Istriku yang tahu kesehatan mentalku tak baik langsung membawaku ke tempat ini, membiarkan aku tenang, bahkan dia menutupi fakta tentang kesehatanku pada orang lain agar bebanku tak bertambah, dia tak mau aku berpikir aku membebani hidupnya. Dia wanita yang sangat baik bukan?" tanya Tuan Wilkinson yang dijawab anggukan kepala oleh Darrel.
" Kau mau tahu apa yang akhirnya membuatku kuat dan sembuh? Kau tahu apa yang membuat bisnisku akhirnya berkembang sangat pesat dan aku menjadi orang yang paling ditakuti di dunia bisnis seperti ini?" tanya Tuan Wilkinson yang membuat Jordan menatap pria itu dengan wajah bertanyanya.
" Karna aku membagi bebanku dengan orang yang aku cintai. Orang yang memilki tempat paling besar dalam hidupku, orang itulah yang akhirnya bisa menyembuhkanku. Orang yang aku cintai, dia merawatku dengan penuh kasih sampai aku menyadari di dunia ini tak akan ada yang lebih berat jika orang yang ku cintai ada di sisiku."
" Apa kau menangkap apa yang aku katakan? Apa kau mengerti mengapa aku mengatakan ini padamu?" tanya tuan Wilkinson yang membuat Darrel mengangguk meski kepala lelaki itu menunduk. Lelaki itu langsung mendongakkan kepalanya dan menatap foto di dinding itu sekalai lagi.
" Akhirnya aku menyadari, hal yang paling berat dalam hidupku adalah kehilangan orang yang aku cintai. Namun aku tetap berusaha tegar karna kala itu Jordan, Lunetta dan Danesya sangat membutuhkanku. Aku tak bisa menjadi lemah di hadapan mereka. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menutup kenangan kami dan tak membiarkan Luna serta Danesya mengingat wajah ibunya.
" Semakin bertumbuh dewasa, Luna semakin mirip dengan Ibunya. Entah dari sikap, wajah dan bahkan watak. Sangat mirip. Mungkin itu sebabnya aku seakan tak adil bagi Danesya karna aku terlalu memperhatikan Luna, meski aku mencintai keduanya, hanya Luna yang bisa membuatku merasakan bahwa Istriku masih hidup sampai sekarang."
" Jadi, apa kau mau melepaskan Luna dan membiarkan gadis itu bahagia tanpamu?" tanya tuan Wilkinson yang membuat Darrel terdiam, lelaki itu langsung menggelengkan kepalanya beberapa saat kemudian, membuat Tuan Wilkinson tersenyum puas, lelaki itu memang pilihan yang tepat, dan bisa dilihat lelaki itu sangat menyesal atas perbuatannya.
Alasan tuan Wilkinson tetap menyukai Darrel karna lelaki itu sangat mirip dengan dirinya beberapa tahun lalu, dia juga pernah melakukan kesalahan fatal berkali – kali, namun diaa berusaha membuat Istri yang kala itu menjadi kekasihnya mau memaafkannya karna dia sangat mencintai wanita itu. Tuan Wilkinson tak mau Darrel menyesal dengan melepaskan Luna.
" Jika kau mau Kau bisa menyusul Luna, selesaikan masalah kalian. Sekalipun kau tidak bisa kembali lagi pada dia, setidaknya kalian tidak akan bermusuhan. Bermusuhan dengan orang yang kau cintai hanya karna salah paham itu sangat tidak masuk akal," ujar Tuan Wilkinson yang diangguki oleh Darrel, namun lelaki itu juga tidak tahu dimana posisi Luna saat ini, tentu dia bingung harus menyusul Luna kemana.
" Luna ada di Korea saat ini. Tak ada yang berani menghubunginya, dia di sana hanya bersama seorang penerjemah, kau bisa menyusulnya jika kau mau, aku akan memberikan alamat rumahnya," ujar tuan Wilkinson yng membuat Darrel mengangguk senang, lelaki itu sedikit lega karna papa Luna tidak marah padanya dan malah memberikan nasehat yang sangat bermanfaat.
" Tapi bukannya dia akan berangkat ke Jepang? Dia mengubah pikirannya?" tanya Darrel yang dijawab gelengan kepala oleh pria itu.
" Ada dua kemungkinan, yang pertama karna dia tak mau kalian mengikutinya, hingga dia mengatakan dia akan pergi ke Jepang padahal dia pergi ke Korea, dan kemungkinan kedua…"
" Dia ingin sedikit lebih dekat dengan pria korea yang sangat dia sukai, entahlah, aku juga tidak mengerti. Aku rasa aku sudah selesai denganmu, ayo kita keluar dari sini, dan jangan pernah memberitahu tentang tempat ini kepada siapapun."
Darrel menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah Mr. Wilkinson keluar dari dalam ruangan ini. Beliau mematikan lampu dan membuka pintu rahasia. Saat mereka keluar, pintu itu otomatis tertutup kembali.
Darrel tersenyum dan mengangguk yakin, dia akan meminta maaf sekali lagi pada gadis itu. Untuk hasilnya, dia akan pasrah dengan apapun itu.
'Setidaknya kalau aku gak bisa kembali sama kamu, aku bisa tetap mencintai kamu tanpa ada rasa benci di hati kita.'