Hopeless

Hopeless
Chapter 69



Udara pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya, Luna bergelung dalam selimutnya karna malas dan kedinginan, bahkan pendingin ruangan sudah dia matikan.


" Luna, abang berangkat ke Inggris, pulang dua minggu lagi."


Luna membuka matanya seketika mendengar hal itu, dua minggu? Kenapa lama sekali? Apa Jordan mau meninggalkannya lagi?


" Gak usah mikir macam - macam, perusahaan di Indonesia kritis, abang harus ketemu papa buat selidiki dan beresin semua," ujar Jordan yang sudah duduk di tepi ranjang.


" Kenapa lama?" tanya Luna dengan sedih, gadis itu langsung bangun dan terduduk dengan rambut singanya.


" Kerugian perusahaan udah lebih dari 50 persen, buat stabilin itu butuh waktu lama dan butuh bantuan papa, kalau udah selesai abang pasti langsung pulang," ujar Jordan meyakinkan.


" Kenapa sampai sebanyak itu?" tanya Luna penasaran, meski tidak paham, namun Luna tahu kerugian sampai separuh dari aset perusahaan itu tidaklah sedikit.


" Ada yang mengambil uang perusahaan sampai milyaran, tapi abang sendiri gak bisa lacak dia siapa, semacam hacker gitu, cuma mereka canggih banget jadi gak bisa dilacak."


" Terus Daddy bisa?" tanya Luna lagi.


" Abang juga belum tahu, kayaknya belum bisa, karna kalau udah bisa abang gak mungkin diminta kesana," ujar Jordan mengedikkan bahunya.


Luna menghela napasnya, mengapa sulit sekali mendapat hidup yang tenang? Apakah Daddy-nya juga terjun dalam bisnis abu - abu hingga memiliki musuh seperti itu?


" Yaudah deh, abang hati hati ya," ujar Luna memeluk Jordan, membuat lelaki itu berdecak kesal.


Kemeja dan Jas kerjanya kusut seketika, ditambah Luna kan belum mandi, bagaimana bisa gadis itu dengan percaya dirinya memeluk orang lain seperti itu?


" Jaga diri selama abang gak ada," ujar Jordan sambil mengecup singkat kepala Luna dan langsung pergi dari kamar gadis itu.


Luna mengikuti Jordan dengan pandangannya sampai lelaki itu keluar dari kamar Luna, entah mengapa Luna melihat pandangan lain dari mata Jordan, mungkin hanya perasaannya saja.


Gadis itu bangkit dan menuju kamar mandi dan segera berangkat ke Sekolah, baru saja dia hendak menelpon Darrel, Lelaki itu sudah mengirim pesan untuk Luna


πŸ“§ Aku gak bisa jemput, kamu berangkat sama Supir.


Luna menghela napas membaca ponsel itu, tanpa berniat membalas pesan dari Darrel. Sesibuk apapun Darrel, lelaki itu tidak pernah mengabaikan Luna seperti ini.


" Kayaknya gue harus jelasin ke Kak Darrel kalau gue pun gak ada apa - apa sama Radith," ujar Luna sambil membawa handuknya dan masuk ke dalam Bathtub.


Luna turun ke lantai dasar dan menuju ruang makan, gadis itu mengerutkan keningnya saat hanya melihat roti, selai dan susu, apakah chef di rumahnya bosan bekerja?


Malas berdebat, gadis itu hanya mengambil dua lembar roti dan mengolesinya dengan selai Coklat lalu memakannya, Luna segera meneguk susu putih dalam gelas itu dan segera bangkit menuju halaman depan.


" Pak Indra mana pak?" tanya Luna pada Pak Jono, biasanya bila dia diantar pak Jono, pak Indra akan mengikuti sampai Sekolah untuk keamanan mereka.


" Pak Indra ikut tuan muda ke Inggris nona, nanti ada pengawal lain yang mengikuti, nona tidak perlu khawatir."


Luna mengangguk dan masuk ke dalam mobil, membiarkan pak Jono menyupirinya sampai ke Gerbang sekolah. Gadis itu berjalan dan mencari keberadaan Darrel, siapa tahu bisa ketemu.


Gadis itu sampai di depan kelasnya dengan murung, tidak bisa bertemu Darrel hari ini. Entah mengapa ada rasa kehilangan dalam hatinya, membuatnya tidak nyaman.


Baru sebentar saja Luna sudah rindu dengan lelaki itu, bagaimana jika lelaki itu sungguh pergi dari hidup Luna? Apakah Luna sanggup bila Darrel terus mendiaminya seperti ini?


πŸ“§ Kak, Luna rindu.


Gadis itu mengirimkan pesan dan duduk di kursinya, dia menengok ke arah belakang dan mendapati Radith yang masih tertidur di mejanya.


" Haah, semoga kak Darrel marahnya udahan, biar gue bisa jelasin ke dia," ujar Luna dengan suara pelan.


Tak lama bel pun berbunyi, semua siswa diminta untuk melakukan apel pagi, sungguh tidak mengenakkan bagi Luna.


Gadis itu berjalan bersama siswi di kelasnya menuju lapangan utama, mereka berbaris rapi dan mengikuti Instruksi pemimpil Apel yang membariskan mereka.


Matahari seperti sedang gembira pagi ini, tidak hentinya dia menampakkan sinar gemilang yang menyilaukan, Luna sampai menggunakan tangannya untuk menghalau sinar matahari itu.


" Heuuh, skincareku, skincareku, rugi skincareku," ujar Luna pelan sambil mendengarkan apa yang dikatakan kepala Sekolah.


Judulnya saja Apel pagi, namun menghabiskan waktu satu setengah jam dengan kalimat yang di ulang ulang, membuat Luna dan seluruh siswa lain berdecak kesal. Mengapa ada di dunia ini orang yang memiliki hobi bicara? Kan aneh.


Seluruh siswa langsung membubarkan diri saat Apel pagi selesai di laksanakan, Luna sendiri sampai memanen keringat berkat matahari yang baik hati.


Keadaan kelas sangat ramai, membuat Luna langsung menyumpal telinganya dengan earphone dan mendengarkan musik kesukaannya.


Luna menyanyi pelan mengikuti alunan musik yang dia dengar, entah mengapa suasana hatinya menjadi mellow mendengar lagu itu


🎡 Ku hanya diam, menggenggam, menahan, Sgala kerinduan.


🎡 Memanggil namamu, di setiap malam, Ingin engkau datang.


🎡 Dan hadir, di mimpiku, Rindu.


Luna tersenyum seakan play list musiknya pun seakan mengejek hubungannya dengan Darrel saat ini. Mungkin memang Luna yang salah karena terlalu dekat dengan Radith, namun gadis itu mengakui memang nyaman berada di dekat Radith.


" Bu Yulia dateng cuks! Gak jadi ijin dia!" Seru salah seorang siswa yang berlari dari luar kelas, membuat semua siswa gaduh untuk kembali ke tempat duduk mereka.


Tak lama guru tersebut masuk dan duduk di kursi kebesaran guru, memandang satu persatu muridnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


" Selamat Pagi anak - anak," ujar guru tersebut menyapa semua murid yang ada disana, namun sapaan tersebut tidak terdengar ramah, malah seperti sedang mengintimidasi mereka.


" Selamat Pagi Bu," sambut seluruh siswa dengan serentak.


" Baik, hari ini saya akan menagih progress tugas yang tempo hari saya berikan, silakan dari kelompok satu," ujar guru itu tanpa berbasa- basi lagi.


Semua siswa saling menengok dan kelimpungan karena tidak menyiapkan apapun hari ini. Mereka mendapat kabar guru tersebut akan pergi, namun dia malah datang tanpa diundang dan membuat semua orang terkejut.


" Kenapa? Kalian tidak membawa tugas kalian?" tanya guru itu dengan tajam dan menyindir. Semua siswa tidak berani menjawab.


" Yang bisa menunjukkan progress atau bahkan produk kalian yang belum upgrade, saya akan beri nilai minimal 95," ujar guru tersebut dengan lantang.


Semua siswa mendesah kecewa, kesempatan yang bagus untuk mendapat nilai di mata pelajaran KWU, namun nyatanya mereka menyia - nyiakan kesempatan itu.


Bukan menyia nyiakan, tapi guru tersebut yang menyebalkan, tidak memberitahu bahwa hari ini dia tidak jadi pergi.


" Kalian memang tidak bisa bertanggung jawab! Saya kecewa dengan kalian semua!" ujar Guru itu sambil bangkit dari duduknya dan berdiri di tengah papan tulis.


" Mendengar saya tidak masuk saja membuat kalian berleha - leha, padahal saya meminta lanjutkan tugas kalian! Kalian terlalu menyepelekan saya!" ujar guru itu dengan nada kecewa, membuat semua siswa diam, tidak ada yang berani merespon guru itu.


" Lunetta maju ke depan!" seru guru itu membuat semua siswa menengok ke arah Luna, sementara gadis itu mendongak karena kaget namanya disebut.


" Saya bu?" tanya Luna dengan tak yakin, apa Luna sudah melakukan kesalahan fatal? mengapa guru tersebut memanggil namanya?


Luna maju ke depan dengan takut saat guru tersebut membenarkan bahwa dialah yang dipanggil oleh guru itu. Gadis itu berdiri di sebelah guru itu dengan gestur bingung dan takutnya.


" Mana tugas kamu?" tanya guru itu dengan nada dinginnya, Luna sendiri hanya menggeleng sebagai jawaban.


" Kalau ditanya itu Jawab!" sentak guru tersebut saat Luna tidak menjawab pertanyaannya.


" Ke.. keting.. ketinggalan bu," ujar Luna dengan takut, dari sekian banyak siswa yang ada di kelas, mengapa dia yang harus dipanggil ke depan sini?


" Lihat? Sudah tidak membawa tugas! Sering membuat ulah! Bahkan tidak memperhatikan saya bicara, mau kamu apa?" tanya guru itu dengan galak.


Luna langsung mendongak dan menatap guru itu bingung, membuat ulah? Kapan Luna pernah membuat Ulah yang sampai merugikan guru itu? Menyebalkan sekali.


" Saya mendapat laporan dari beberapa guru kalau kamu itu sering membolos saat jam pelajaran! Kemana saja kamu? Masih kelas satu kok banyak sekali tingkahnya," ujar Guru tersebut yang membuat Luna kembali menunduk.


Memang Luna pernah membolos pelajaran beberapa kali, itupun karna gadis itu sedang dalam mood yang benar benar buruk, percuma saja dia datang dan mengikuti pembelajaran, tidak akan mengerti sama sekali.


Tapi apakah semua guru itu mengadu ke wali kelasnya? Astaga, mereka hanya perlu mengosongkan daftar hadirnya, tidak perlu sampai mengadu kan?


" Saya sudah menerima laporan dari beberapa guru, tentang pekerjaan rumah kamu yang jelek dan asal asalan, nilai ulangan yang anjlok, dan bahkan masih berani sering membolos."


Luna hanya memejamkan mata dan menunduk. Rasanya jengkel, dipermalukan di depan kelas, bahkan kesalahannya tidak seburuk itu.


Nilai ulangan jelek? Bahkan saat itu satu kelas tidak ada yang tuntas, mengapa hanya dia yang dimarahi?Kalaupun dimarahi, mengapa tidak secara pribadi?


" Tanyakan teman temanmu, mereka pun kesal karena tingkah kamu yang bikin malu kelas TEI 1 ini, sampai kapan kamu mau begini?" tanya guru itu dengan nada sinisnya.


Luna yang tadinya takut langsung menegakkan kepalanya, persetan dengan kesopanan, dia salah dan dia sudah mengakui, namun dia tidak terima bila harus dipermalukan di depan kelas.


" Maaf bu, saya salah. Tapi bukankah lebih sopan memanggil saya secara pribadi dibanding menegur saya di hadapan banyak orang? Saya rasa ibu lebih mengerti tentang etika," jawab Luna dengan tenang dan Sopan, meski kalimat yang diucapkannya sangat menusuk.


" Wah, sudah berani ternyata kamu menjawab," ujar Guru itu dengan bengis, seakan siap menerkam Luna kapanpun.


" Tentu saja, ibu bertanya dan saya menjawab. Namun untuk mempermalukan saya di depan kelas saya rasa itu bukan wewenang ibu sebagai guru," ujar Luna tak kenal takut.


Guru tersebut tersenyum, ternyata ada salah seorang muridnya yang berani menjawabnya sampai seperti ini, mungkin ini kali pertama dalam hidupnya dia dipermalukan seperti ini.


" Bagus, sepertinya kamu menyesal dan sudah siap mengikuti pelajaran, jadi untuk menguji itu, untuk kelompok Lunetta silakan kumpulkan tugas kalian dengan progress akhir yang sudah jadi dua hari lagi. Silakan kumpulkan di meja saya. Untuk yang lain silakan lanjutkan dan saya tunggu progress terbaru di pertemuan yang akan datang. Saya akhiri dulu karena saya masih ada acara."


Guru tersebut mengucapkan salam dan membereskan barang bawaannya lalu kelusr begitu saja dari dalam kelas.


Gio dan Aldi langsung meletakkan kepalanya di atas meja dengan frustasi. Mereka bahkan tidak bisa menyelesaikan tugasnya dalam satu minggu, kini mereka diminta untuk mengumpulkan produk yang siap pasar dalam waktu dua hari.


Apakah guru itu senang bercanda? atau memang niat membuat mereka gila?


" Lo kapan sih gak buat Ulah? Udah bikin heboh karna mojok sama Roy, bikin acara camping OSIS gagal, bikin acara pensi gagal, sekarang Lo bikin kelompok Lo jadi kayak gini," ujar Gio dengan santainya membuat Luna merasa bersalah.


" Maafin gue," ujar Luna dengan sedih, jika saja dia bisa mengontrol emosinya, mereka tidak akan ada dalam posisi seperti ini.


" Ck, yaudah iya. Maafin gue juga udah kasar sama Lo, sekarang kita mau gimana?" tanya Gio yang sudah menarik kursi dan duduk menghadap Luna.


Radith dan Aldi yang melihat itu langsung bangkit san menuju ke meja yang sama untuk mendiskusikan tugas mereka.


" Gue langsung telpon orang gue aja ya," ujar Luna yang mengambil ponselnya, hendak mengabari orang rumah untuk membuat tugas mereka.


Radith menahan Luna dan menatap satu persatu teman kelompoknya, membuat ketiga orang itu menatap Radith dengan aneh.


" Kita harus usaha dulu nyelesaiin sendiri, kalau di hari terakhir lita udah buntu, baru deh minta orang Luna buat siapin semua," usul Rsdith yang sebenarnya membuat Gio dan Aldi merasa keberatan.


Bagaimana tidak? Sudah diberi pilihan enak, Radith malah memilih jalan yang mempersulit diri sendiri. Namun apa yang dibilang Radith ada benarnya, itu kan tugas mereka,ana bisa mereka menyerahkannya begitu saja kepada orang lain?


" Yaudah deh, tapi kalau kita mepet bilangin ke orang Luna apa bisa? Terus mereka ngerjainnya gimana?" tanya Aldi yang memikirkan rencana ini matang - matang.


" Gak papa, kalau masalah itu gak perlu khawatir," ujar Luna menjawab kekhawatiran Aldi.


" Yaudah kalau gitu nanti sore pulang sekilah kita langsung berangkat ke toko bahan yang kurang kita beli, kayak pernak perniknya gitu kan jugs belum," ujar Gio yang mulai membahas tugas mereka.


" Tapi, gue ada Rapat OSIS setelah sekolah ini, gimana dong," ujar Luna yang merasa bimbang dan tidak enak. Keduanya penting bagi Luna.


" Ya Lo ijin lah, ini kan tugas kelompok, apalagi Lo yang bikin kita ada di posisi sekarang," jawab Gio galak tak kenal ampun.


Lelaki itu memang gila dan konyol, namun bila sudah menyangkut tugas dan tanggung jawab, Gio akan berubah serius dan tak kenal kata kasihan. Apalagi deadline sudah di depan mata.


" Yaudah deh, nanti gue ijin aja dulu, yang penting tugas kita selesai," ujar Luna dengan pasrah, membuat Gio tersenyum penuh kemenangan.


" Nah gitu dong, kalau gitu kan Goodgirl, tambah cakep, gue tambah sayang," ujar Gio dengan nada manjanya.


Yah, akhirnya lelaki itu kembali menjadi dirinya sendiri.