Hopeless

Hopeless
Chapter 133



#QuotesAcak


Seperti Tupai yang melompat akan mengalami jatuh juga, seperti bangkai yang terkubur seberapa dalamnya namun tercium baunya, begitu pula kehidupan. Seberapa rapi kau simpan kebohongan, semua akan terungkap pada waktunya, dan bila saatnya tiba, bahkan angin pun tak akan pernah lagi percaya.


*


*


*


Hampir dua bulan Darrel dan Radith jarang mengabari Luna dan bahkan sudah beberapa hari ini mereka hilang kontak akrna memang Darrel sudah pamit untuk fokus melakukan tugasnya bersama Radith. Hal itu tentu membuat Luna sedih dan lebih khawatir lagi, apalagi entah sudah berapa kali Luna memimpikan hal yang serupa. Namun Luna tetap memaklumi Darrel karna memang waktu Lomba semakin dekat, tentu banyak yang harus disiapkan.


Luna mulai menjalani harinya dengan biasa, mencoba untuk tak memikirkan semua mimpinya dan mengurus sekolah yang semakin padat mengingat waktu di semester dua yang singkat. Apalagi guru – guru lebih fokus untuk mengurus pemadatan persiapan ujian nasional untuk kelas dua belas.


Kelas sepuluh dan sebelas yang menjadi korban hanya bisa pasrah dan mencoba untuk mempelajari materi tersebut dengan mandiri. Hal itu tentu membuat otak mereka memanas, ditambah banyaknya tugas dan ulangan mendadak yang membuat mereka tak punya waktu untuk bersantai. Mungkin ini adalah beberapa bulan bagi Luna untuk menggunakan otaknya lagi.


" Guru – guru disini kayaknya udah gila deh, mereka digaji sama pemerintah, tapi kita gak ngerasain mereka ngajar. Alsan aja pemadatan kelas tiga, tapi nyatanya kelas tiga juga banyak kosongnya tuh. Mereka sebenernya ngapain Loh?" tanya Ghea yang desari tadi mengoceh sambil menyalin jawaban di bukunya. Mereka diberi tugas untuk mengerjakan tiga puluh soal, mereka memutuskan untuk menjawabnya sesuai dengan urutan absen.


Untuk absen tiga puluh satu sampai tiga puluh empat akan berbagi tugas dengan mereka yang memiliki soal dengan jawaban sulit. Yah, sepertinya memang kerja sama sedang sangat mereka butuhkan untuk mengerjakan semua soal ini. Nyatanya tak ada yang dirugikan dalam hal ini.


" Udah gak usah ngomel aja, mending Lo tulis jawabannya dulu, lagipula bukan urusan kita juga sama tuh guru – guru, kita kan tugasnya Cuma berangkat sekolah, duduk, diam, kalau ada pelajaran ya syukur, kalau gak ya udah, yang penting bayar SPP," ujar Luna dengan santai tanpa menghentikan aktivitasnya.


Ghea terkekeh dan setuju dengan apa yang Luna katakan. Meski sebenarnya terdengar kurang ajar, namun mereka dapat melakukan apa jika memang itu semua yang nyata terjadi? Padahal ini sekolah swasta, harusnya jauh lebih ketat dan disiplin seperti kedengarannya karna mereka dibayar oleh pihak yayasan. Namun nyatanya hasil yang diterima sama saja.


Bukan berarti semua sekolah melakukan hal yang sama, bukan berarti semua guru melakukan hal yang demikian, namun inilah yang terjadi di sekolah Luna dan mungkin banyak sekolah di negeri ini. Dimana beberapa oknum guru membuat nama semua guru menjadi tercemar. Sudah biasa bukan hal tersebut terjadi di negeri ini?


" Woy, yang udah selesai jadiin satu disini ya, yang terakhir ngumpulin harus ngumpulin ke ruang guru, gak ada protes, sekian dari ketua keals," ujar Firman menginterupsi keadaan yang membuat mereka menurut saja dan melanjutkan aktivitas mereka dengan buru – buru karna memang mereka sangat malas untuk pergi ke ruang guru.


Luna dan Ghea berhasil menyelesaikan tugas mereka dan tidak menjadi yang terakhir. Hal itu membuat Luna melega karna dia tak harus bersusah payah ke ruang guru, di tanya ini itu oleh guru lain atau bahkan diminta untuk menyampaikan pesanatau tugas lain yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan mereka.


" Gilak, baru semester dua gue disini, rasanya mau pindah sekolah aja, parah banget sih Cuma ngerjain tugas gak jelas, tahu tahu udah ujian aja, tahu gini mah gue cari SMA aja deh," ujar Farisa yang membuka tempat makan dan melihat isi dari tempat makan itu. Kebiasaan mereka beberapa hari ini adalah makan bersama dengan bekal yang mereka bawa.


Seringkali mereka bertukar bekal untuk meraskaan masakan Ibu mereka satu sama lain. Hal itu membuat Luna sedikit merasakan kehangatan keluarga. Apakah Luna sudah pernah cerita? Jordan memutuskan untuk kembali ke inggris karna perusahaan di Indonesia sudah stabil. Lelaki itu akan melanjutkan S3 di Inggris, bahkan dia membawa kekasihnya yang bernama Keysha itu.


Hal itu membuat Luna merasakan rumahnya kembali se[i. nyatanya Jordan yang berjanji untuk selalu ada di dekatnya sampai seterusnya bisa mengingkari janji itu dan memilih untuk meninggalkanya, meski lelaki itu janji akan mengunjungi Luna jika liburan semester, namun itu bukan hal yang membuat Luna merasa cukup.


Tak ada yang tahu kepergian Jordan, Luna tak mnceritakan hal ini pada Darrel apalagi Radith. Mungkin l]Luna akan menceritakannya jika mereka bertannya, meski kenyataannya tak ada yang menyadari hal itu selama ini. Sebenarnya Luna cukup sedih karna hal ini, namun dia tak bisa terus mengharap belas kasihan orang lain.


" Lo kalau bawa bekal kayak delivery order dari restoran ya Lun, masakannya kayak masakan anak Elite gitu, mana selalu bawa lauk buat kita berlima lagi, baik banget sih nyokap Lo," ujar Sheila yang menyantap udang saos tiram ukuran besar yang Luna bawa. Gadis itu tersenyum dan meminum air yang ada di botolnya.


" Ini buatan chef di rumah gue.nyokap gue udah meninggal waktu ngelahirin gue, yah pokoknya gitu lah ceritanya," ujar Luna terkekeh seakan semua hal itu bukanlah masalah. Namun baik Luna maupun ke empat temannya tahu bahwa pembahasan ini menyentil hati kecil Luna, Sheila sendiri langsung merasa bersalah karna tak bisa mengerem mulutnya.


" Gak usah minta maaf, kan Lo juga gak tahu ceritanya. Lagian kalian semua dimasakin sama Ibu kalian, wajar kalau kalian mikir ini buatan ibu gue juga. Walau gue yakin sih nyokap pasti masakannya jauh lebih enak dari ini, hahaha," ujar Luna tertawa lalu memasukkan sesuap nasi lagi ke dalam mulutnya. Tawa yang terdengar hambar itu membuat suasana menjadi canggung seketika.


" Gak usah jadi canggung gitu lah njir, udah lah kita makan aja, besok gue bawain apa nih? Biar chef di rumah gak nganggur, yang makan juga Cuma gue kalau di rumah," ujar Luna yang terdengar baik – baik saja dan masih menyantap makanannya dengan nikmat.


" Masakin yang jarang di masak aja Lun, kali kali kita makan enak, lagian kalau Lo gak mau chef nganggur, gue mah siap Lo undang ke rumah buat makan makan, kalau yang lain mau ikut juga gak papa, hahaha," ujar Farisa dengan nada riangnya.


Mereka semua langsung setuju dan menyahut satu persatu secara bergantian, membuat Luna langsung tertawa dan mengiyakan saja apa yang mereka minta, toh memang Luna juga membutuhkan teman untuk menghabiskan makanan di rumah. Meski dia membebaskan pelayan untuk mengambil makanan, naun pelayan itu menyimpan sendiri makan mereka di bagian selatan, membuat bagian utara dan bagian lai tak tersentuh.


Setidaknya Luna bisa merasa bahagia dan tak kesepian saat berada di sekolah atau bedara dekat dengan sahabatnya. Meski rasa itu hanya sementara dan akhirnya Luna kembali merasakan sepi saat berada di rumah.


*


*


*


Luna membuka layar laptopnya dengan lebar dan memasang wajah bahagia karna Jordan sedang menelponnya melalui sebuah aplikasi video call, Luna tertawa terbahak – bahak karna Jordan yang tetap saja berusaha melucu. Jordan tahu jika Luna merasa kesepian di sana. Jordan sudah meminta papanya untuk membawa Luna kemari, namun papanya menolak dan meminta Luna untuk tetap ada di Indonesia.


" Liburan semester masih lama ya bang? Demi apapun Luna kangen sama kalian semua, bujukin papa sih biar Luna bisa nyusul kesana. Sekolah di sini jugag ak bikin Luna dapat ilmu, Luna malah gak dapat apa apa jadinya," ujar Luna dengan wajah sedihnya, Jordan tampak mengubah raut wajahnya dan menggeleng pelan.


" Abang udah berusaha minta ke papa, tapi tetap gak didbolehin, katanya nunggu kamu lulus dari sekolah itu baru kamu boleh nyusul ke sini, jadi kamu harus sabar dan belajar giat, Cuma sisa tiga tahun lagi, habis itu kita bisa ngumpul bareng sekeluarga," ujar Jordan yang berusaha menghibur dan menguatkan Luna.


" Tiga tahun itu lama bang, padahal Luna kan gak berbuat salah apa apa, kok kesannya Luna jadi kayak dipenjara gitu sih bang, Luna kesepian banget disini," ujar Luna yang mulai merasa berkaca – kaca pada matanya. Gadis itu merasa ppaanya sedang menghukumnya, padahal yang dia lakukan hanya enghamburkan uang, tak melakukan tindakan kriminal lain.


" Ya kan papanya abang juga, Luna kan anak terakhir, jauh lagi sama abang, harusnya abang yang lebih ngerti papa. Apalagi seumur hidup Luna bisa dihitung tuh berapa kali ketemu papa, duh rasnaya sedih banget, hahaha," ujar Luna yang tertawa terbahak, namun malah terdengar tak enak bagi Jordan.


" Kamu gak boleh gitu dong, udah abang bilang, kamu tuh anak yang bener – benr diharapkan sama papa dan mama, bahkan abang udah tunggu kamu sepuluh tahun. Walau memang keadaannya masih kurang baik, kamu harus semangat, buktiin ke papa kalau semua gak sia sia, kalau kamu bisa bikin papa percaya, pasti papa ngeiyain aja kalau kamu minta semua ini berakhir."


" Iya bang, Luna bakal bertahan semampu Luna, tapi abang tolong janji bakal sring hubungin Luna kayak gini. Panda kalau ditinggal sendiri aja lama – lama depresi terus mati, apalagi Luna yang Cuma manusia biasa bang? Luna kesepian banget nih," ujar Luna yang tak ragu lagi menyampaikan kegundahannya.


" Loh? Darrel memang kemana? Harusnya kan dia yang jagain kamu, orang abang udah kasih kesempatan ke sekian buat dia bisa jagain kamu, masak dia sia sia in kesempatan itu lagi?" tanya Jordan dengan wajah bingungnya.


" Kak Darrel tuh lagi di luar kota bang, dia jadi tutor olimpiade nya Radith, jadi dia gak bisa pulang. Apalagi belakangan ini kontaknya gak bisa dihubungi, pasti dia sibuk banget. Luna gak mau ganggu atau spam dia, takut jadinya dia gak konsen," ujar Luna yang mencoba menyikapi hal ini dengan dewasa.


" Besok abang pulang ya nungguin kamu? Abang gak mau kamu sedih sendirian, daricwajah kamu aja kelihatan kamu lagi banyak masalah, besok abang udah sampai ke Indonesia," ujar Jordan yang membuat Luna terkejut seketika.


" Gak usah lah bang, ngapain juga abang ke Indoensia? Lagian kan kuliah abang lagi padat, apalagi abang ini ngejar S3, kan gak gampang bang. Abang juga harus urus pernikahan sama kak Key juga kan? Abang gak usah kesini, besok aja kalau mau nikah atau gimana, pokoknya jangan sekarang," ujar Luna menggeleng cepat dan membuat Jordan berdecak kesal.


" Kamu tuh selalu gitu, kamu tuh harusnya jajdi manja dan paksa abang pulang di saat kayak gini, kenapa kamu malah gak bolehin abang pulang? Mana Luna yang manja dan mau menangnya sendiri? Ini malah bikin abang makin khawatir sama kamu Lun," ujar Jordan dengan wajah yang tampak suram.


" Hahaha, Luna udah bisa lewatin hampir sepuluh tahun bang, Cuma nunggu tiga tahun bukan jadi masalah besar. Malah Justru bakal jadi masalah kalau abang maksa kesini, karna papa gak akan biarin hal itu terjadi dnegan mudah, malah nanti hidup abang dipersulit loh sama papa, mau?" tanya Luna dengan wajah lucunya, meski dia sebenarnya sedang mengancam Jordan.


" Yaudah abang kalah, abang kalah. Tapi kamu harus janji kalau kamu bakal baik – baik aja, jangan pernah ragu hubungin abang kalau kamu ada apa – apa, atau lemari kaca kamu bakal abang sita, udah nambah satu lagi kan yang terbaru?" tanya Jordan sambil terkekeh riang. Luna bahkan langsung tertawa dan tak jadi mengeluarkan air matanya.


" Iya dong udah nambah baru, Luna pakai kartu kredit yang atas nama bang Jordan, jadi Luna anggap itu hadiah buat Luna, makasih ya bang udah kasih hadiah buat Luna, hahahha." Jordan mendelik mendengar hal itu. Ponsel Luna yang versi terbaru sudah bisa membeli motor baru, namun gadis itu memilih untuk membeli ponsel.


" Abang bakal aduin ke papa, pokoknya abnag bakal aduin ke papa. Udah ah abang mau tutup dulu telponnya, soalnya abang harus ke kampus lagi. Kamu jaga diri ya, kamu gak boleh telat makan, gak boleeh sakit, pokoknya gak boleh mengalami hal buruk."


Luna mengangguk dan menyampaikan beberapa hal untuk Jordan sebelum akhirnya panggilan benar – benar terputus dengan tawa keduanya yang menghiasi layar ponsel. Jordan akhirnya bisa melanjutkan aktivitasnya dengan tenang setelah ini karna Luna sudah kembali tersenyum.


Nmaun nyatanya senyum Luna langsung lenyap saat panggilan terputus. Suasana kembali sunyi, membuat suara – suara aneh itu terus bergaung dan bersorak sorai di telinganya. Suara yang entah mengapa membuat Luna merasa sedih dan terpuruk, atau mungkin Luna sudah mengalami gejala Depresi?


Ah, tidak, tidak mungkin. Pasti karna Luna merasa lelah dan kesepian, ditambah mimpi buruk yang bertubi – tubi hadir di hidupnya. Hal itu membuat Luna sedikit kepikiran dan membuatnya sedikit ebrhalusinasi. Tak mungkin sampai depresi, mental Luna tak sesempit dan selemah itu. Tidak, ini tidak akan mungkin.


*


*


*


*


#SalamAuthor.


Teruntuk kalian yang merasa sepi


Teruntuk kalian yang merasa Depresi karna sendiri


Semangat dan bertahanlah sedikit lagi. Masih banyak yang menyayangimu dan berharap selalu ada di sampingmu, meski tak dapat terungkap semua rasa itu.


Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.


Adella


T(w)o Heart


Miss galak, Iove you


Ex lover


Soulmate


Thank you....


Love,


Eliz