
Luna menyelesaikan urusan mandinya dan bergegas keluar dari tempat itu, gadis itu menemui Ghea yang ternyata juga sudah selesai mandi. Mereka berjalan bersama keluar dari tempat itu dan menuju temat tidur mereka.
Tak lama setelah Luna membereskan pakaian kotornya, terdengar suara sirine yang menandakan mereka harus segera berkumpul di lapangan. Luna akhirnya hanya menyisir rambutnya tanpa menggunakan make up barang bedak sekalipun.
Tadi Mereka diminta untuk memakai pakaian olah raga, mereka berkumpul di lapangan utama untuk melakukan Senam pagi ala Angkatan Darat yang dipimoin oleh salah satu tentara berpangkat tinggi disana. Mendengar nama Ala Angkatan Darat saja sudah membuat Luna merasa merinding, pasti bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
Benar saja, setelah melakukan berbagai macam peregangan, mereka diminta untuk melakukan gerakan push up dan sit up, lalu melakukan gerakan yang tidak pernah Luna lakukan selama ini, entah apa namanya. Luna yang hanya melakukan olah raga saat jam pelajaran tentu merasa kaget dengan suasana yang ada.
Kaki dan tangan gadis itu langsung terasa pegal dan lelah, bahkan kaku. Setelah kegiatan senam pagi usai, mereka diminta untuk duduk di lapangan pasir tersebut dan mendengarkan Instruksi yang diberikan untuk selanjutnya.
" Setelah ini kalian silakan berganti pakaian OSIS, tiga puluh menit lagi kita berkumpul di depan ruang makan untuk sarapan, kalian sudah lapar?" tanya Tentara tersebut dengan suara keras. Luna sampai kagum karena suara itu terdengar keras meski tidak memakai pengeras suara.
Mereka segera membubarkan diri dan bergegas kembali ke kamar. Ah, Luna masih merasa kenyang, namun dia memiliki feeling harus makan, sepertinya akan ada penggojlokan setelah ini, entahlah.
Gadis itu langsung memakai serangkaian skin care dan sunblock karena Tentara tadi bilang setelah ini adalah kegiatan outdoor, Luna tak ingin mengambil resiko terbakar matahari yang membuatnya menggelap. Ghea yang melihat banyaknya skin care Luna tentu tertarik untuk mendekat dan mengkepoinya.
" Loh Lun, ini apa aja? Kok banyak banget sih?" tanya Ghea yang mengambil dan melihat satu persatu barang yang Luna bawa, sebagian besar adalah pelembab dan cairan seperti serum, atau mungkin minyak?
" Ini serum vitamin C, Ini serum anti jerawat, ini Serum buat bikin putih, terus kalau ini...." Luna dengan telaten menjelaskan satu persatu skincare yang dia bawa, Ghea sempat bertanya apakah Luna memakai semua itu? Jawaban Luna tentu saja 'ya', Luna memakai semua skincare itu.
" Wajah Lo gak berat pakai semua ini? Gak jadi jerawatan gitu? Ngeri njir pakai skin care segini banyak. Apalagi Lo kan bule, udah putih dari sononya," ujar Ghea menatap wajah Luna yang tampak baik bsik saja, tidak seperti orang yang kecanduan obat kecantikan.
" Hahaha, ya enggak lah. Semua ini tuh udah rekomendasi dokter, ringan kok gak bikin kecanduan pula. Lagian ini kan transparant, gak bikin wajah gue kayak dempul. Kalau gue mah untuk luarnya pakai bedak bayi aja cukup, hehehe."
" Ah, kalau gitu mah pasti mahal dong, apalah gue yang sobat miskin Lun, beli skincare harga lima puluh ribu aja mikir mikir," ujar Ghea menghela napasnya. Yah, Ghea baru ingat kalau Luna keturunan orang kaya, untuk masalah skincare tentu tak akan membuatnya puasa selama seminggu.
" Sebenernya sih jatuhnya sama, soalnya nanti hasilnya lebih cepat kelihatan, cuma seminggu, gak sampai berbulan bulan. Kalau skincare biasa emang lebih murah, tapi kan makan waktu lama, bikin kecanduan pula. Jatuhnya boros dong," jawab Luna mengutarakan pendapatnya.
Tetap saja Ghea tak setuju, uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, daripada dihabiskan untuk membeli skincare seperti milik Luna. Yah memang sih tidak bisa disamakan, Luns kan sudah merasakan hidup enak dan serba mudah selama ini.
Mereka berjalan ke arah Luar karena bosan dengan suasana kamar ini, setidaknya mereka bisa merasakan udara segar, lagipula akan lebih mudah jika pelatih ( para tentara) memanggil mereka untuk berkumpul.
Benar saja, beberapa saat setelah mereka duduk santai, pelatih membunyikan sinyal mereka harus berkumpul, Luna dan Ghea berjalan santai saja menuju lapangan, menunggu teman satu kompi dan satu peleton mereka berbaris bersama.
" Baik, kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan satu pelatih untuk melatih kalian Pelajaran baris berbaris, silakan nanti para pelatih bisa mencari tempat untuk dibuat latihan," ujar salah seorang tentara yang kali ini memakai pengeras suara.
Mereka menurut dan mengikuti instruksi untuk pembagian kelompok, Luna dan kelompok E mendapat pelatih bernama Pak Sugeng. Perawakannya tinggi, besar dengan kumis tebal, namun beliau cukup menyenangkan dan ramah.
" Cari tempat uang teduh ya untuk latihan, saya juga malas kalau harus panas panasan," ujar Pak Sugeng memimpin barisan di paling depan sambil menengok kanan kiri untuk mencari tempat yang teduh.
" Siap pelatih," jawab regu E dengan serentak san hati yang gembira, setidaknya mereka tidak perlu merasakan teriknya matahari di pagi hari ini. Tidak peduli dengan mengandung vitamun D, bagi Luna dan sebagian besar murid Lain Matahari kini panasnya sudah berbeda, jauh lebih terik. Mungkin karna sudah membuka cabang dimana mana.
Pelatih itu akhirnya menemukan temoat yang pas, cukup Luas dan teduh karena berada di bawah atap sebuah bangunan di pinggir lapangan. Mereka berbaris rapi sesuai tinggi mereka. Luna mendapat barisan depan karna dia cukup tinggi, hal itu membuatnya sedikir gugup dan takut.
Luna tidak pernah mengikuti kegiatan rutin untuk PBB, kecuali pada saat pramuka wajib saat SMP dan SMK ini. Selain itu mama mau Luna dengan suka hati melakukan ini? Hahaha, tidak mungkin.
Pelajaran baris berbaris berlangsung seperti pada umumnya, jalan di tempat, hadap dan balik kanan kiri ( Jika ada perintah balik kiri, harus menjawab "Siap ulangi" karna tidak ada perintah balik kiri) dan berbagai perintah lain.
" Baik, kita istirahat dulu ya, sini duduk disini aja," ujar pelatih itu setelah membubarkan barisan. Mereka semua duduk di pelataran san menyaksikan kelompok lain berpanasan untuk melakukan pelatihan.
Luna sedikit kasihan dengan mereka yang harus berpanasan, bahkan Luna yang memakai sunblock saja tidak terpapar sinar matahari, tapi mereka malah seperti di panggang hidup hidup.
" Setelah ini kalian bisa makan snack, tapi nunggu teman kalian selesai dulu, habis itu kalian istirahat sebelum masuk sesi berikutnya," ujar tentara itu menginterupsi mereka yang berisik satu sama lain.
" Oke pelatih, terimakasih," ujar mereka secara bebarengan.
" Pelatih, hari ini materinya Outdoor semua atau nanti masih tetap Indoor?" tanya seorang siswa yang menatap ke arah pelatih itu.
" Hari ini dari pagi sampai malam Outdoor, untuk materi biar nanti disampaikan sama yang berwenang," jawab pelatih itu dengan santai, membuat siswa siswi penasaran apa yang akan mereka lakukan disini.
Setelah semua usai, mereka membagikan snack dan beristirahat, Luna memakan snack yang dia sukai dan memberikan snack yang tidak dia sukai ke temannya, mereka bertukar makanan yang membuat suasana kian guyup.
Materi selanjutnya ternyata mengenai hormat saat diam, berjakan, dan membawa sesuatu di tangan mereka. Mereka melakukan praktek sesuai yang dicontohkan oleh para pelatih
" Eh ngomong Pak? Push Up 10 kali," ujar salah seorang pelatih yang membuat Luna meringis, namun gadis itu tetap melakukan sesuai instruksi yang diberikan oleh pelatih.
Disini terdapat aturan, mereka harus memanggil semua tentara dengan sebutan pelatih, tidak boleh menggunakan 'Pak atau bapak' siapa yang melanggar akan dikenakan sanksi yang sebenarnya tak cukup berat, hanya push up 10 kali.
Namun bayangkan jika yang melakukan itu adalah siswa yang berpostur tubuh 'berisi' mereka akan kesulitan melakukan push up, bangun dari posisi duduk saja sulit. Luna mengatakan itu karna dia melihat sendiri siswa yang memiliki berat badan sangat berlebih, membuat orang itu kesulitan untuk berjalan dan bergerak. Tapi nyatanya orang itu bisa masuk ke STM Taruna dan berada di tempat ini dengan semua kelebihannya.
" Baiklah, kalian sudah melakukannya dengan baik, setelah ini silakan kalian bersiap untuk makan karena makanan sudah siap untuk memakan kalian," ujar pelatih yang sebenarnya membuat siswa siswi merasa candaan itu sangat garing, namun mereka tetap tertawa karna menghormati yang lebih tua.
" Gue masih kenyang," ujar Luna pada orang di hadapannya. Memakan dua bolu kukus dan satu tahu bakso membuat perut Luna cukup terisi penuh, mana sanggup dia menghabiskan makanan dengan porsi kuli itu lagi?
Mereka berbaris dan melakukan hal yang tadi pagi mereka lakukan sebelum makan, Luna hanya mengambil sedikit dan memakan buahnya, gadis itu tak mau ambil resiko tidak menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Ternyata, mereka tidak dihukum apapun meski makanan di meja mereka tidak habis. Tahu begitu dari awal Luna tidak perlu memaksakan untuk memakan semua makanan itu. Mereka diminta untuk menghabiskan bahkan diancam jika tidak habis mungkin dimaksudkan agarmereka lebih menghargai makanan, apalagi banyak diluar sana yang kesulitan untuk makan.
" Setelah ini silakan kalian mandi dan menggunakan kaos untuk pendidikan karakter ini dan menggunakan celana pramuka, kalau yang tidak mau mandi jugs tidak apa apa, pakai parfume ya agar yang disebelah kalian tidak pingsan."
Luna terkekeh karena niatnya terbaca oleh tentara itu, Luna memang berniat tidak mandi karna dia yakin mandinya akan sia sia kali ini, dia hanya akan berganti pakaian dan menggunakan parfume. Persis seperti yang di intruksikan tentara itu, hahaha.
Mereka dibubarkan dan diberi waktu satu jam untuk semua persiapan itu, Luna sendiri memilih untuk tidur. Waktu yang lumayan untuk mengembalikan tenaga. Gadis itu meminta Farisa membangunkanya jika mereka sudah memanggil untuk berkumpul.
Ternyata waktu satu jam molor menjadi dua jam, Luna bersyukur karna dia bisa tidur dengan nyenyak dan waktu yang cukup lama untuk seukuran tidur siang, gadis itu bangun dan melakukan peregangan sebelum keluar dari ruangan itu dan berkumpul dengan yang lain di lapangan utama
" Baiklah, setelah ini kalian akan dipandu untuk berjalan jalan, saya harap kalian bisa menjaga ketenangan dan kesopanan karna kita akan melewati perkampungan warga. Jaga nama baik STM Taruna, almamater yan kalian bawa ke tempat ini. Untuk rute, kalian akan dipandu oleh pelatih yang akan ikut berjalan bersama kalian."
Luna tersenyum karna tebakannya tepat. Mereka akan dibuat berkeringat, jadi untuk apa mandii jika nantinya berkeringat lagi? Mungkin baru pertama kali ini Gadis itu merasa bangga karena tidak mandi.
Mereka mulai berjalan berdua dua untuk menyusuri perkampungan yang ada di sekitar tempat pelatihan. Sebenarnya tidak bisa disebut perkamungan karna temoatnya terletak ldi pinggir jalan raya dan rumah disitu pun terbilang mewah.
Luna menyusuri jalan dengan gembira, seperti sedang berjalan santai meski dia sedikit malu karna warna baju yang dia kenakan. Baju pendidikan karakter kali ini merupakan kaos yang di desain dengan Tulisan " Pendidikan Karakter STM Taruna 2019 di Magelang" dengan warna kuning terang yang tersablon rapi di atas kain kaos yang berwarna hijau lumut.
Astaga, Luna tak menyukai desain baju itu sama sekali, apalagi mereka diwajibkan membayar kaos itu, padahal Luna yakin tak akan memakai kaos itu dua kali karna sablon yang tercetak itu.
Luna mengembalikan pikirannya dan menatap jalan yang menanjak curam diatasnya. Apakah pelatih ini bercanda? Mereka diminta untuk melewati jalan seperti ini? Menggunakan sepatu Fantofel? Yang benar saja!
Mereka semua berjalan pelan menanjaki jalan yang hanya bisa dilewati oleh satu orang, Luna baru menyadari bahwa mereka sudah masuk kawasan hutan dengan jalan setapak. Sebenarnya mereka akan dibawa kemana?
Gadis itu dan beberapa orang lain kembali terkejut karna dari arah atas terdapat sebuah motor tua yang menuruni jangan curam ini. Sepertinya beliau orang asli tempat ini karena beliau sangat tenang dan santai melewati jalan licin dan tajam.
Jika dari bawah saja tampak sangat menyeramkan dan melelahkan, coba bayangkan jika dari atas? Kalau kita tidak memiliki skull yang memadai pastilah kuta akan terperosok seperti sedang ada di jurang.
Luna menggelengkan kepala agar pikiran buruk itu hilang, apalagi dia memiliki pengalaman buruk mengenai Jurang. Tak lama mereka menemukan jalan keluar yang membuat Luna melega seketika.
Gadis itu langsung berdecak kagum dengan pemandangan di sekitarnya. Sawah yang dipenuhi dengan padi berwarna hijau jauh lebih Indah dari gambar atau film yang Sering Luna lihat. Yaps, ini pertama kalinya Luna melihat sawah secara langsung.
Luna tak henti tersenyum dan memegang padi yang mulai meninggi, sikap Luna tentu mengundang perhatian dari pelatih yang ada di belakangnya karena mereka sedang melewat pematang sawah untuk mencapai tempat tujuan.
" Kamu tidak pernah melihat sawah atau bagaimana?" tanya pelatih itu dengan bingung.
" Hehehe, iya pelatih. Ini pertama kalinya saya melihat sawah," ujar Luna tanpa berpikir, namun jawaban Luns justru membuat tentara itu berpikir, sebosan apa hidup Luna yang bahkan tidak bisa menikmati suasana alam sederhana ini?
Setelah melewati sawah, mereka sampai di pemukiman peduduk yang tampak sederhana, sepertinya ini yang dimaksudkan oleh tentara perkampungan penduduk.
Tak lama mereka sampai di sebuah lapangan yang cukup kecil, lapangan itu dikelilingi oleh hutan yang rimbun, membuat suasana menjadi sedikit horor bagi Luna. Gadis itu duduk rapi dan mecari keberadaan Radith, selama disini dia tidak bisa melihat Radith karna lelaki itu ada di kompi dua.
~Wuusss
Luna merasakan angin kencang lewat di belakang Luna. Gadis itu reflek menengok dan tidak mendapati siapapun di belakangnya. Luna mulai parno dan memegang lehernya sediri. Hawa tidak enak ada di sekeliling gadis itu.
" Matilah gue, matilah gue, merinding parah," ujar Luna pelan sambil menutup mata karna ketakutan