
Luna bangun dari tidurnya dan langsung mencuci mukanya, dia tak ingin Jordan atau Darrel pergi ke tempat penculik itu sendirian, Luna tak akan kehilangan moment seru dan menegangkan itu.
Luna memakai baju lengan panjangnya dan celana yang membuatnya tak sulit untuk bergerak serta sepatu yang cukup tebal, entah berlebihan atau tidak, Luna merasa semua itu diperlukan untuk keamanannya di tempat itu.
Gadis itu langsung keluar dari kamarnya dan turun melalui lift menuju lantai dua, tepatnya menuju kamamr Jordan. Jordan tampak terkejut dengan kedatangan Luna, memang Jordan tidak berniat untuk melibatkan Luna, namun dia tahu sifat tengil Luna yang akan memasang wajah sedihnya pada Jordan.
“ Kamu beneran mau ikut?” Tanya Jordan dengan wajah serius. Luna mengangguk yakin dan menggulung bajunya sampai kesiku, seakan dia siap untuk bertarung. Jordan menghela napasnya, kepolosan Luna kadang menyebalkan juga, gadis itu memaksa ikut disaat dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi, bisa saja nyawanya yang menjadi taruhan.
“ Kamu tahu resikonya, abang gak ijinin kamu ikut, abang gak mau kamu kenapa napa,” ujar Jordan sambil memegang pundak Luna, memandang gadis itu dalam seakan ini adalah kali terakhir dia bisa melihat Luna.
“ Luna mau ikut bang, Luna percaya kalau sama bang Jordan Luna pasti aman,” ujar Luna dengan yakin dan wajah murungnya, dia tidak ingin Jordan mengalami ketakutan ini sendirian.
“ Bang, saya udah ...”
“ Luna? Kamu ngapain? Jangan bilang kamu mau ikut?” Tanya Darrel yang baru saja masuk ke dalam kamar Jordan, lelaki itu tampak kaget melihat kehadiran Luna, apakah sebegitu bahayanya sampai Luna benar benar tidak boleh ikut?
“ Iya kak, Luna mau ikut, Luna gak mau bang Jordan takut sendirian, Luna mau ada disamping kak Darrel dan bang Jordan dalam bahaya sendirian, Luna pengen ikut,” ujar Luna merengek meski alasannya tak masuk akal.
Darrel terdiam dan menatap ke arah Jordan, mengode lelaki itu apa yang harus dilakukan, Jordan mengangguk pelan membuat Darrel ikut mengangguk dan membiarkan Luna ikut meski artinya beban mereka bertambah satu, melindungi Luna.
Jordan berjalan menuju lemari dan seperti mencari sesuatu, Luna hany menunggu lelaki itu selesai dengan pekerjaannya, begitu pula Darrel, tak lama Jordan kmbali keluar dan lemari itu bergeser, menampakkan sebuah pintu yang di dalamnya terdapat lorong gelap yang panjang.
“ Waaww, Luna gak tahu kalau kamar bang Jordan sekeren ini, keren banget,” ujar Luna lirih sambil menatap lorong gelap itu, Jordan hanya terkekeh dan menempelkan tangannya ke salah satu pidang yang ada di pintu itu dan tiba – tiba lampu menyala seketika, sekali lagi Luna di buat terkagum oleh desain kamar yang menakjubkan.
“ Kamar kamu juga ada kok, tapi kamu gak tahu aja,” ujar Jordan terkekeh sambil masuk ke dalam lorong itu diikuti Luna dan Darrel yang sedari tadi diam. Pikirannya tidak tenang karena Dara memenuhi otaknya. Luna yang melihat itu tentu tak tega, gadis itu memegang dan menggenggam tangan Darrel, mengisyaratkan semua akan baik – baik saja.
“ Lorong itu ternyata cukup panjang dan tembus ke sebuah ruang rahasia, sangat keren bagi Luna yang selama ini hidup di jalan yang lurus, tak seperti Mr. Wilkinson dan Jordan yang sesekali bergelut di dunia abu – abu ( Dunia bisnis dimana mereka bersaing secara sehat, namun disisi lain mereka juga bergelut di dunia hitam seperti mafia dan pembunuhan untuk mendapat keuntungan pribadi.)
Jordan dan Mr. Wilkinson tak pernah mendapatkan kekayaan ini secara ta adil, namun untuk melindunginya, mereka perlu terjun ke dunia gelap itu dan mengawasi apa saja yang musuh atau pesaing bisnis mereka lakukan.
Di hadapan mereka banyak lemari berjejer, membuat Luna seakin heran apa yang akan mereka lakukan. Jordan membuka lemari itu setelah membuka kuncinya dengan sidik jari. Dalam lemari itu banyak sekali senjata api dan senjata tajam yang sangat engagumkan, bahkan jauh lebih keren dari yang Luna lihat di museum tempo hari.
“ Bang Jordan, ini semua punya bang Jordan?” Tanya Luna dengan kagum dan menyentuh senjata api laras panjanga yang tersimpan rapi disana.
“ Kamu gak usah bilang siapa siapa kalau di rumah kita ada tempat seperti ini, apalagi ke papa, karna bang Jordan bisa di penggal kalau sampai papa tahu kamu abang bawa ke tempat ini,” ujar Jordan mengambil beberapa senjata yang menarik baginya.
“ Ini aja bang, gak ada suaranya, keren,” ujar Darrel mengambil salah satu senjata api kecil dan memutarnya dengan ahli, Luna sampai melongo menatap Darrel yang memainkan senjata api itu.
“ Kak Darrel bisa pakai senjata api?” Tanya Luna dengan heran dan penuh tatapan Tanya. Siapa menyangka lelaki sekalem Darrel memiliki sisi seperti ini juga?
“ Yaps, dulu pernah belajar, terus pernah juga main kesini diajak bang Jordan dan diajari lebih banyak,” ujar Darrel dengan santai seolah hal itu adalah hal yang menyenangkan.
“ Bego, kenapa Lo kasih tahu Luna? Bentar lagi dari pasti nangis – nangis minta diajari,” ujar Jordan yang menjitak kepala Darrel, Darrel sendiri tampak terkejut dan baru menyadari hal itu, meski setelahnya Darrel hanya terkekeh karna sadar salah bicara.
“ Abangg!!” Benar dugaan Jordan, Luna langsung memasang wajah melas dan emmanggilnya dengan nada merengek.
“ Enggak sekarang, kapan – kapan aja, kamu ambil belati sama sabuk kaki lemari sana, pasang belatinya ke kaki kamu,” ujar Jordan menunjuk salah satu lemari disana. Luna merengut Karena Jordan tahu maksudnya, namun gadis itu menurut karena sadar ini bukan saat yang tepat utuk bermanja ria.
Darrel memilih dan mengambil beberapa senjata yang bisa dia kendalikan, lelaki itu juga mengambil sabuknya dan memasang pistol itu di lengan dan kakinya, tak lupa kantong jaket dan pinggangnya, Luna sampai ngeri melihat Darrel dan membayangkan lelaki itu akan menggunakan senjata itu untuk melukai orang lain.
“ Sebegitu bahayanya kah penculik yang menangkap kak Dara? Kok kalian sampai membawa senjata kayk gini?” Tanya Luna setelah memasang rapi belati di lengan dan kakinya. Gadis itu sudah selesai dan siap untuk ‘ bertempur’
“ Kita gak tahu apa motifnya dan siapa pelakunya, bahkan abang punya feeling bakal banyak jebakan, apalagi sampai Dara diculik, pasti pelakunya orang di sekitar kita,” ujar Jordan yang mengutarakan hasil analisisnya, pria itu selesai memasang segala senjata rasahia dan mengambil rompi anti peluru untuknya dan Luna serta Darrel, mereka memakai rompi itu di ruang ganti dan membungkusnya dengan baju.
“ Kamu yakin mau ikut?” Tanya Jordan memastikan, entah mengapa perasaannya tidak enak dan mengatakan Luna akan berada dalam bahaya jika ikut dengan mereka. Bahkan Jordan tak bisa menjamin nyawanya aman dengan pergi ke tempat itu meski semua persiapan dilakukan secara matang.
“ Luna yakin kak, biarin Luna ikut sekali ini aja karna Luna mau belajar mengenal dunia kalian, kalau suatu hari nanti Luna dalam bahay Luna gak akan takut dan tau apa yang harus Luna lakuin, boleh ya bang?” Tanya Luna yang juga membujuk Jordan agar percaya dia akan baik baik saja.
“ Iya, boleh. Tapia bang mau kamu janji gak boleh jauh – jauh dari abang atau Darrel, dan jangan Lupa ponsel kamu selalu aktif kalau ada apa – apa langsung kabarin satu sama lain, nih pakai ini,” ujar Jordan yang membagikan earphone pada mereka dan ternyata earphone itu terhubung satu sama lain.
Mereka segera keluar dari tempat itu dan berjalan menuju mobil khusus yang di desain anti peluru, mobil yang nyaris tak pernah dipakai oleh Jordan karna takut menarik perhatian. Bahkan di halaman sudah ramai orang – orang Jordan yang berkumpul dan berbaris rapi.
“ Kalian tahu konsekuensi dari kegiatan kali ini, gue gak mau kalian nyesel atau ragu, kalau ragu kalian silakan mundur. Gue gak akan pecat atau potong gaji atau apapun itu, karna gue juga sadar kegiatan ini sangat berbahaya dan taruhannya nyawa kalian, ada yang mau mundur?” tawar Jordan pada orang di depannya.
Mereka tetap diam terpaku, seakan siap mati dan berloyalitas tinggi terhadap Jordan yang sudah sangat membantu hidup mereka. Jordan yang ‘ memungut’ , melatih dan memperkerjakan mereka, tentu saja mereka siap menukar nyawa untuk kebaikan itu.
Jordan tersenyum tulus seakan berterimakasih atas loyalitas mereka yang tanpa batas, mereka segera masauk ke mobil masing – masing, mengawal mobil utama yang Jordan, Luna dan Darrel tumpangi. Satu mobil bertugas sebagai navigator karna tempat penculikan yang bisa dibilang tersembunyi.
Darrel masih menampakkan wajah tegang sementara Jordan sibuk mengkoordinasi tim agar semua bisa kembali dengan selamat, dia tak ingin egois dan mengorbankan timnya untuk keselamatan pribadi, Jordan tak sejahat itu.
Mobil memasuki wilayah hutan, entah sudah berapa lama atau berapa jauh mobil melaju, Jordan mulai tak tenang dan terus meminta kabar tim navigator apakah benar ini jalnnya karna jalan ini tak terjangkau oleh penduduk.
Kekhawatiran Jordan sedikit sirna karna dia melihat sebuah villa kecil di tengah hutan itu. Untuk apa sebuah Villa dibangun di wilayah seperti ini? Mereka ingin berburu kah? Atau bersilaturahmi dengan beruang liar?
“ Apakah Villa di depan itu yang terdeteksi tempat penculikan Dara?” Tanya Jordan pada walki talki yang dia pegang.
“ Gak ada kepala yang bersembunyi dibalik tangan, gue gak bakal tinggalin kalian atau biarin kalian ada dalam bahaya sementara gue ngumpet kayak anak ayam, gue gak sepengecut itu,” ujar Jordan tegas dan mematikan sambungan walki talki itu saat mobil terparikir cukup jauh dari Villa itu.
Jordan turun dari mobil dengan waspada, instingnya mengatakan banyak jebakan yang ada disini, namun dia tidak bisa menebak jebakan apa saja, Jordan sedikit merasa pusing sesaat setelah turun dari mobil, lelaki itu menyadari sesuatu.
“ Pakai masker kalian, udara disini beracun,” ujar Jordan yang segera memakai masker khusus yang mengeluarkan oksigen, diikuti semua orang yang ada disana, untunglah persiapan Jordan benar – benar serius dan mempertimbangkan semua kemungkinan yang terjadi.
Mereka mendekat perlahan dari semua sisi dan melihat banyak penjaga menjaga tempat itu dan membawwa senjata laras panjang. Jordan mengendap dan memeberi kode timnya untuk merapat. Jordan mengangkat tangannya seakan memberi aba – aba untuk bersiap menembak.
Darrel yang melihat kode itu langsung menarik Luna dan mendekap gadis itu, Darrel tak mau Luna menyaksikan pelumpuhan yang akan membuat Luna tak tega. Luna tak paham apa yang terjadi, namun dia diam karna sudah berjanji akan menuruti dan mengikuti apapun yang Darrel lakukan, karna pasti untuk kebaikannya.
Penjaga yang ada disana lumpuh total karna tembakan bius yang dilancarkan, Jordan bukan tipe pria bertangan dingin yang akan membunuh semua musuhnya. Asalkan tidak mengancam, tidak masalah bagi Jordan, maka dari itu Jordan memilih untuk membius mereka disbanding membunuh.
“ Loh? Kok pada tidur?” Tanya Luna saat Darrel melepas dekaoan mereka.
“ Lagi tidur siang,” jawab Darrel asal dan berjalan pelan mengikuti Jordan yang fokus pada hal di depannya. Luna langsung merasa kesal, namun dia tidak bisa protes, dia akhirnya mengikuti Darrel yang terus menggandeng tangannya.
“ Terlalu sepi, bikin curiga,” ujar Jordan yang sudah berdiri di gerbang utama villa itu. Jordan melirik sekitar, tidak mungkin orang yang berbahaya hanya menyiapkan perlindungan seperti ini. Jordan membuka maskernya dan mengintip ke dalam Villa itu.
~ chu chu
“ Arrghhh!!” Jordan memegang tangannya yang terasa panas, darah segar mengalir dari lengan itu membuat Luna menutup mulutnya seketika sementara tim Jordan berlari untuk menangkap sang penembak, Jordan dengan sigap mengambil pistolnya dan menembak orang itu dengan satu tangan hingga orang itu terkapar dengan kepala berlubang.
“ Baa.. bang Jordan,” lirih Luna yang tak menyangka abangnya bisa sekejam itu meski Hal tersebut adalah upaya perlindungan diri.
“ Maafin abang kamu harus lihat hal seperti ini, ini sebabnya abang gak mau Luna ikut,” ujar Jordan menahan sakit saat seseorang mengambil peluru yang bersarang di tangan Jordan dan membungkus tang itu dengan kain kassa.
“ Luna paham, Luna Cuma kaget aja, abang gakpapa kan?”tanay Luna setelah menetralisir rasa takut dan kagetnya, Jordan hany mengangguk sebagai jawaban, anggukan itu membuat Luna melega meski tahu Jordan berbohong, mana ada tertembak tapi orag itu baik – baik saja?
“ Kita masuk, tapi gue yakin makin banyak jebakan disana, tetap hati hati dan jangan lostcontact satu sama lain,” ujar Jordan memberi instruksi sebelum membuka pintu gerbang dan masuk ke dalamnya. Tak ada gangguan yang berarti sampai mereka berhasil mauk ke Villa itu.
“ menyebar, kita harus cepat temukan Dara dan keluar dari sini,” ujar Jordan yang membuat beberapa orang menyebar. Jordan juga mulai mencari di setiap ruangan, namun taka da apapun dalam ruangan itu, membuat Jordan merasa aneh karna penjagaan hanya ada di depan gerbang, tidak seharusnya sesepi dan sedamai ini.
“ Tuan muda, kami menemukan nona Dara,” ujar salah satu orang dari arah belakang, mereka bergegas menuju ruangan itu dan mendapati seseorang yang kepalanya dibungkus kain hitam, namun orang itu tak bergerak sama sekali.
Darrel terpaku melihat sosok yang tak bergerak itu, Darrel kenal betul postur dan bentuk kakinya. Ya, itu adalah Dara. Tanpa pikir panjang Darrel mendekat dan membuka penutup mata gadis itu dan memeluknya. Gadis itu menatap Darrel tanpa menggerakkan tubuhnya, namun Darrel dengan sigap melepaskan semua ikatan yang mengunci gerakan gadis itu.
“ Kenapa kamu masih gak bisa gerak? Kamu kenapa?” Tanya Darrel yang tampak kahwatir. Dara terus menangis dan menggeleng – gelengkan kepalanya, seakan ingin menyampaikan sesuatu namun lidahnya sangat kelu dan kaku, bahkan seluruh tubuhnya membatu.
“ Sepertinya nona muda sudah dibius sehingga tidak bisa bergerak tuan muda,” ujar salah satu pengawal yang mengamati kondisi Dara, seseorang segera datang dan membopong Dara keluar dari tempat itu disusul oleh Jorda dan yang lain. Darrel mengamati ruangan itu dan merasa ada yang aneh, namun dia segera pergi karena misi telah usai.
Darrel keluar dari kamar dan hendak berbelok ke arah kanan dimana pintu keluar berada, namun Darrel mengurungkan niatnya saat melihat Luna yang malah berada di sebelah kiri.
“ Luna, kamu ngapain? Ayo kita buruan keluar,” ujar Darrel yang hendak menarik Luna, namun gadis itu menolak tarikan tangan Darrel dan meminta lelaki itu untuk diam.
“ Kak Darrel dengar deh, ada suara minta tolong dari arah sana,” ujar Luna menunjuk kamar paling ujung di tempat itu.
“ Kalau ternyata ada orang lain yang disekap gimana? Kita harus segera tolongin kak, kasihan,” ujar Luna menggenggam tangan Darrel dan menraiknya menuju kamar paling belakang itu. Darrel mengikuti saja akrna dia juga mendengar suara minta tolong itu.
Mereka membuka perlahan kamar yang dirasa menjadi sumber suara yang daritadi mereka dengan. Pintu terbuka menampakkan ruangan yang sangat gelap. Mereka masuk mengikuti suara monoton meminta tolong yang terdengar frustasi.
~jderrr
Pintu tertutup dan lampu menyala seketika, mereka tak menemukan siapapun di dalam sini, hanya sebuah DVD rekaman yang mengeluarkan suara. Sadar telah dijebak, Darrel berusaha membuka pintu yang terkunci rapat. Ternyata mereka dikunci di sebuah kamar.
Kamar itu hanya terdapat satu lemari dari kayu jati asli yang diukir sangat indah dan sebuah tempat tidur. Darrel berusaha membuka pintu yang terkunci rapat, sementara Luna mematung dengan air mata yang turun melalui pipinya.
“ Luna kenapa?” Tanya Darrel khawatir saat melihat Luna yang tiba – tiba menangis, Luna tak menjawab dan hanya menunjuk sebuah spanduk yag tertempel di tembok, spanduk putih polos yang dicoret menggunakan pilox warna merah, namun Darrel tak dapat mengerti arti dari coretan itu.
“ Kamu paham artinya?” Tanya Darrel pada Luna, gadis itu mengangguk dengan tatapan kosong, gadis itu mulai mengeja kalimat yang tertulis di spanduk itu. Sebuah kalimat berbahasa Jerman, Luna bisa mengerti karna diapun memiliki darah Jerman dan pernah les privat untuk berkomunikasi dalam Bahasa itu.
“ Auf Wiedersehen Freunde, ruhe in Frieden.“
“ Selamat tinggal kawan, Beristirahatlah dalam tenang.”
~ DUAAARRR
~ DUAAARRR
~ DUAAARR
Semua orang yang ada di halaman Villa itu menunduk dan bergegas menjauhi Villa. Jordan menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan sesuatu. Matanya melotot, dia langsung terduduk dan melihat ke arah Villa itu.
“ LUNETTA!!!”