Hopeless

Hopeless
Chapter 104



“ Luna gak mau kalau rencananya kayak gitu, kalau nanti Adel dalam bahaya gimana bang?” Tanya Luna saat Jordan mulai mengutarakan pendapatnya. Jordan tahu Adel memiliki pengawal yang memang tak pernag terlihat, namun yang Jordan dengar, pengawal itu jauh lebih tinggi skillnya dibanding pengawal Jordan, entah darimana pengawal itu berasal.


“ Kalau kita gak lakuin itu disini, kita bakal susah buat cari kesempatan lain Lun. Yang abang dengar pengawal Adel itu setara dengan puluhan pengawal kita, kalau missal malah kita yang ketangkap sama dia gimana?” Tanya Jordan dengan sedikit meninggikan suaranya. Jordan paham akan sulit bagi Luna untuk menentukan pilihan, namun gadis itu juga harus mementingkan keselamatannya.


“ Apa benar – benar gak ada jalan lain bang? Tanpa harus menyakiti Luna atau Adel?” Tanya Luna yang mencoba bernegosiasi.


“ Kamu mengharap apa sih dari dia? Dia yang udah bikin kamu celaka, dia yang udah bikin Radith dan kamu masuk jurang, dia yang udah bikin Darrel koma, kamu nunggu siapa lagi yang ahrus jadi korban? Kenapa kamu naif banget sih?!” tanpa sadar Jordan mulai membentak Luna, lelaki itu tak sabar menghadapi Luna yang terlalu baik.


“ Kamu baik itu boleh, tapi jangan jadi bodoh dong! Orang udah jahat kok dibaikin terus!” Luna tersentak karna Jordan membentaknya, apa salah Luna masih peduli pada sahabatnya? Bahkan mereka juga belum tahu motifnya dan bahkan belum bisa memastikan Adel yang melakukan itu semua.


Darrel masuk ke kamar itu bertepatan dengan Luna yang mulai menangis, lelaki itu terkejut dan langsung menghampiri Luna yang tampak bergetar takut, dia menatap ke arah Jordan meminta penjelasan, namun Jordan hanya diam dan malah memandang Luna dengan sebal, membuat Darrel tahu masalah apa yang ada di hadapannya.


“ Jangan terlalu menekan Luna bang,” ujar Darrel mencoba untuk mendinginkan situasi, Jordan tak bergeming, namun lelaki itu menatap Darrel dengan tajam, Darrel taka da rasa takut dan menghadapi tatapan itu dengan tenang.


“ Abang tahu Luna gak bisa dibentak, tapi abang malah bikin Luna ketakutan sampai kayak gini,” ujar Darrel yang membuat Jordan tersadar, namun rasa kesal dalam hatinya terus menghinggap, tak menyangka memiliki adik yang senaif dan sebodoh itu, siapapun pasti akan gemas dengan keputusan yang diambil Luna.


“ Lo urus lah sendiri, pusing gue,” ujar Jordan dengan sinis dan langsung keluar dari kamar itu. Luna langsung melemas dan pasti jatuh jika Darrel tak menopangnya. Jordan terlalu seram untuk dihadapi, apalagi jika lelaki itu sudah mengeluarkan bentakannya.


“ Kenapa kamu gak ikutin aja mau nya bang Jordan?” Tanya Darrel dengan lembut karna tak ingin Luna semakin sedih atau terkejut. Luna tampak mengelap wajahnya dengan tangan dan menatap Darrel.


“ Adel tetap sahabat Luna, dan entah mengapa ada rasa dlam hati Luna yang mengatakan Adel bukan pelakunya, rencana bang Jordan itu bisa membahayakan Adel, Luna gak mau itu terjadi kak, Kak Darrel bisa paham kan maksud Luna?”


“ Terus menurut kamu baiknya gimana?” Tanya Darrel yang juga ingin tahu pendapat Luna, siapa tahu gadis itu memiliki ide yang lebih baik.


“ Luna bakal ajak sendiri Adel ke suatu tempat, dan disana Luna bisa Tanya ke Adel motif dia dan sebagainya, tapi tetap dengan pengawalan kalian semua, dengan begitu Adel gak akan celaka,” ujar Luna mengutaraka Idenya.


“ Tapi nanti kamu bisa celaka, apalagi Adel jado bela diri loh,” ujar Darrel menyampaikan keberatannya. Luna mengangguk paham dan mulai menyampaikan lagi ide ide nya yang lebih aman untuk dilakukan dibanding harus enculik Adel dan memaksa gadis itu untuk mengakui semua perbuatannya.


Darrel setuju dengan ide Luna dan menyampaikan ide itu pada Jordan, mereka semua sepakat dan akan mencoba cara Luna, jika kali ini gagal, Luna harus menurut pada Ide Jordan, dan Luna menyetujui hal itu karna entah mengapa dia merasa Idenya akan berhasil.


*


*


*


Seminggu berlalu, mereka mempercepat kepulangan mereka dengan alasan pekerjaan Jordan meski sebenarnya itu hanya Alibi agar Luna bisa menjalankan rencananya.


“ Adel, Lo bisa temenin gue ke rumah singgah yang dulu kita sering main gak? Gue kangen tempat itu, Lucy sama Key kan sibuk sama ekstra dan tugas mereka, gue gak mau kesana sendirian.” Luna merengek dan memohon pada Adel untuk mau di ajak ke tempat itu.


“ Lah? Kenapa mesti gue sih? Males gue Lun, capek juga,” ujar Adel menolak ajakan Luna, Adel menatap Luna dengan curiga dan kemudian mendekat apda gadis itu, membuat Luna berdegup kencang karna takut rencananya ketahuan.


“ Lo lagi berantem sama kak Darrel terus mau minta nasehat gue ya? Habis kalian ngobrol di kamar kak Darrel mata Lo sembab gitu,” tuding Adel persis di wajah Luna. Luna menggaruk lehernya dan mengangguk, kenapa tidak memikirkan alasan itu dari awal? Kenapa malah Adel membantunya untuk beralasan yang memudahkan Luna menangkap Adel?


“ Oke gue mau, tapi besok aja, hari ini gue capek banget,” ujar Adel yang melambaikan tangan pada Luna dan masuk ke dalam mobil Rafa untuk pergi dari sana. Luna mendesah lega karna Adel menerima ajakannya, meski disisi lain Luna juga takut karna situasi yang terlalu mudah.


Kini Luna harus menunggu. Gadis itu harus menunggu sampai besok dan segera menghubungi tim untuk mengamankan situasi dan kondisi rumah singgah yang akan menjadi pertemuan Luna dan Adel. Luna bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak Karena hal ini, Luna terus memikirkan apa yang akan terjadi besok, bahkan bayangan buruk mulai menghantui Luna, misalnya kejadian besok akan menghantarnya pada kematian.


Akhirnya gadis itu tertidur dengan sendirinya setelah banyak berkhayal, semoga malam lekas berganti pagi, hari berganti, harapan berganti, semua yang lama akan berganti baru, yah, Luna berharap harapan baru itu membawa kebahagiaan bagi hidup semua orang.


Luna membuka tasnya dan mengambil ponsel berlambang buah dengan tiga kamera yang ada di pojok kiri belakang ponsel itu. Yaps, ponsel dengan brand yang sama seperti koleksi Luna di lemari kaca, bahkan gadis itu membeli dua agar yang satu bisa dipajang di lemarinya.


Luna menghubungi Adel untuk memastikan janjian mereka, gadis itu segera mandi dan bersiap. Degup jantungnya makin terasa mengingat sebentar lagi dai akan menyiduk dan mengetahui alasan Adel melakukan semua itu padanya.


“ Lama amat sih Lo Lun? Lumutan gue disini,” ujar Adel dengan kesal saat Luna akhirnya muncul lima belas menit lebih telat dari waktu janjian mereka. Maklumlah macetnya ibu kota tak tertahankan.


“ Maafin gue, gue kan lagi galau, yuk cerita di dalem aja, sekalian nostalgia kita,” ujar Luna dengan riang dan masuk ke sebuah rumah berisi banyak rak buku dan mainan, namun penghuninya sudah dipindahkan oleh Jordan untuk sementara waktu.


Luna mengajak Adel untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang berisi buku dongeng dan kelas main untuk anak TK, Adel terkejut saat pintu tiba – tiba tertutup dan terkunci rapat. Padahal tidak ada angina di tempat itu, apakah Jin aladin menyasar sampai ke Indonesia?


“ Apa – apaan nih?” Tanya Adel dengan anda tinggi saat mengetahui dia dijebak oleh Luna untuk masuk ke ruangan ini, entah apa motif gadis itu.


“ Lo gak udah pura – pura lagi del, mending Lo kasih tahu gue kenapa Lo tega banget celakain gue dan orang di sekitar gue? Kenapa Lo tega lakuin itu semua Del?” Tanya Luna yang tak ingin berbasa basi karna dia juga bersusah payah melawan rasa takutnya.


“ Maksud Lo apa sih? Gue gak paham, Lo ngomongin siapa? Celakain Lo? Kapan Lun?” Adel memasang wajah bingungnya dengan sempurna, sungguh acting yang bagus dan patut mendapat penghargaan.


“ Lo yang udah suruh Syifa buat bunuh gue I jurang, Lo yang udah culik kak Dara dan bikin Kak Darrel koma, kenapa Lo lakuin semua itu Del?” Tanya Luna dengan ajah terluka.


“ Kenapa Lo nuduh gue?” Tanya Adel dengan sewot dan tidak ada ketakutan sama sekali, seakan dia tidak bersalah terhadap apapun.


“ Ini punya Lo kan?” Tanya Luna sambil melemparkan gunting kuku itu ke bawah kaki Adel, tentu Adel sangat mengenali benda itu.


“ Ini punya gue,” ujar Adel mengakui kepemilikan atas benda itu.


“ Benda itu ditemukan setelah gue dan kak Darrel kejebak di sebuah Villa beberapa hari lalu. Kak Dara diculik dan diancam sementara kak Darrel harus kritis karna kejadian itu. Itu punya Lo kan? Lo gak bisa ngelak lagi del, mensing sekarng Lo kasih tahu kenapa Lo sekejam itu?”


“ Ini memang puny ague, tapi benda ini udah hilang sejak lama banget, gue terakhir pakai bahkan sebelum acara ulang tahun Lo, setelah itu gue gak tahu apa apa, tersrah Lo mau percaya atau negga, bukan gue pelakunya.”


Luna terkejut dan baru memikirkan kemungkinan itu, Luna bahkan baru teringat dia juga yang menemukan gunting kuku yanag terjatuh saat Adel buru buru untuk pulang, namun dia meletakkan gunting kuku itu di meja karna harus mengambilkan air untuk daddynya.


“ Ka… kalau bukan Lo siapa pelakunya?” Tanya Luna dengan gugup, dia percaya pada apa yang dikatakan Adel setelah melihat sorot mata Adel yang penuh kejujuran.


“ Yang jelas orang itu benci sama Lo dan sengaja jebak gue untuk ada di posisi ini. Selama ini gue sering gak kumpul karna gue harus pergi sama Rafa, bahkan di hari ulang tahun Lo itu gue buru – buru juga karna dia.”


“ Benci sama gue dan gak suka sama Lo? Siapa?” Tanya Luna dengan bingung.


“ Gue.”


Mereka berdua melihat ke arah pintu yang tadinya di kunci, mereka melotot bersamaan tak menyangka dalang dibalik semua kejadian ini adalah ……


“ LUCY?!” Teriak keduanya saat Lucy masuk membawa sebilah belati dan menutup kembali pintu di belakangnya.


“ Yaps, gue. Ah iya Lun, lo gak usah khawatir, semua pengawal Lo lagi tidur nyenyak termasuk Darrel sama bang Jordan, mereka gak akan mati kok, tapi gak tau juga ya kalau sekarat.”


“ Lo? Jadi Lo dalang dibalik semua peristiwa ini?” Tanya Luna dengan tatapan tak percaya, bahkan Luna tak menaruh sedikitpun curiga pada gadis itu.


“ Yaps, gue yang nyuruh Syifa buat bunuh Lo ke jurang, gue juga yang nyuruh Resya buat kunciin Lo di atap sekolah. yah, kalau Lo mau tahu aja sih, Resya itu sepupu gue.”



Saat Luna, Key, Lucy dan Adel duduk di salah satu meja yanag ada di café saat mereka ada di singapura, Lucy bingung mencari moment yang pas untuk meneror Luna. Nasib baik karna Adel ijin untuk keluar entah karena apa hingga Lucy mendapat ide.



Lucy mengirim pesan pada orang suruhannya untuk segera mengirim Luna pesan terror, dan Lucy menikmati setiap perubahan ekspresi Luna yang menjadi bingung dan ketakutan, dan di waktu yang tepat Adel masuk ke dalam café itu lagi, Luy berharap Luna bisa mencurigai Adel.



~~~ @@@ ~~~


Luna mengambil gunting kuku milik Adel dan menaruhnya di saku, namun gadis itu ceroboh dan menaruh gunting kuku itu di atas meja, tanpa diketahui siapapun, Lucy berjalan mendekati meja itu dan mengamankan abrang milik Adel di sakunya karna yakin kelak akan berguna.



Saat yang dinanti pun tiba, Lucy mengetahui fakta bahwa Dara adalah saudari kembar Darrel, itu artinya Lucy bisa menggunakan Dara untuk menambah terror di keluarga Wilkinson maupun Atmaja, gadis itu sengaja menculik Dara untuk bersenang senang, maka dari itu dia tidak meninggalkan jejak apapun, namun ternyata rencananya nyaris gagal karna ternyata Jordan mengetahui lokasi penculikan.



Untung saja saat itu Luna menceritakan rencana penyergapan mereka sehingga Lucy menggunakan rencana cadangan yaitu dengan memasang berbagai perangkap terutama Bom dalam Villa itu karna yakin Luna aka nada di tempat itu. Lucy sengaja menaruh gunting kuku milik Adel ke salah satu laci yang ada disana, jika rencananya gagal, dia tidak akan terendus sedikitpun.



Benar saja, penembak yang disewanya hanay bisa melukai lengan Jordan dan bahkan lima bom yang dia sebar di rumah itu tidak bisa membunuh Luna, gadis itu malah hanya mendapat luka ringan, sangat jauh dari dugaan Lucy.



~~~ @@@ ~~~



“ Gue kira Lo bakal mati, ternyata Lo jauh lebih susah dibunuh dibanding kecoa, untung aja gunting kuku punya Adel bisa alihin pikiran Lo, pinter kan gue? Gue gak selemot yang Lo bayangin selama ini? Hahaha, udah tahu gue.”



“ Bangsat Lo!!” Adel tidak terima dengan semua perlakuan Lucy, gadis itu maju dan hendak memukul Lucy, namun yang terjadi malah Adel yang dilumpuhkan akrena di tangan Lucy memegang sebuah suntikan berisi bius total. Adel terkapar tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya meski gadis iu sepenuhnya sadar.



“ Ke.. kenapa Lo lakuin ini semua Luc?” Tanya Luna yang tak menyangka Lucy adalaah dalang dibalik semua ini, bahkan Luna malah sempat mencurigai Key dibanding Lucy. Permainan gadis itu tsangat rapid an matang hingga tak terendu sedikitpun.



“ Kenapa? HHAHAHHAA, Lunetta, Lunetta. Lo ngaku sahabat gue tapi Lo bahkan gak kenal gue.”



Luna sedikit tertampar karna ucapan Lucy, apakah dia sebegitu tak pedulinya dengan teman temannya hingga akhirnya seperti ini?



“ Sebenernya gue gak ada masalah apapun sama Lo, tapi keluarga Lo, keluarga Wilkinson, udah bikin gue dan hidup gue hancur. Semua keluarga gue hancur. Bahkan bokap gue harus tewas karna keluarga Wilkinson.”



“ Ta.. tapi, bukannya bokap Lo masih ada ya?” Tanya Luna dengan tergagap, pasalnya yang dia tahu Lucy masih memiliki orang tua yang lengkap.



“ Bokap gue mati karna perebutan saham gelap sama keluarga Lo, dan nyokap gue cukup tolol buat milih bunuh diri karna cinta mati sama bokap, gue nyaris gila kalau bukan om gue yang ngangkat gue jadi anak, hidup gue ancur Lun, dan Lo gak akan tahu rasanya. But it’s okay, sebentar lagi Wilkinson bakal kehilangan princess kesayangan mereka, setidaknya dendam gue sedikit terbalas.”



“ Kenapa Lo kayak gini? Gue gak tahu apapun tentang hal ini, kenapa Lo tega? Gue anggap Lo tulus sebagai sahabat gue.” Luna mulai menangis, bukan karna dia takut, dia hanya merasa terluka karna Lucy dari awal tak menganggap Luna sahabatnya, tidak seperti Luna yang tulus pada Lucy.



“ Sorry Lunetta, sayangnya gue gak peduli.”