Hopeless

Hopeless
Chapt 122



" Bang Jordan ini Darrel, Darrel mau minta tolong sama bang Jordan." Setelah menunggu setengah jam untuk kabar tentang Aldo dan tak mendapat apapun akhirnya Darrel memutuskan untuk menelpon bang Jordan. Meski untuk melakukannya Darrel harus membuang rasa takut dan malu nya, iyalah, dia sudah menyakiti Luna dan dia dengan berani meminta bantuan pada bang Jordan.


" Nyali Lo besar juga ya berani hubungin gue kayak gini, nyari mati Lo?" tanya Jordan yang ada di seberang sana, Darrel tahu dia akan ditanyai seperti ini, diapun sudah siap dengan semua konsekuensinya, yang terpenting masalah ini lekas selesai.


" saya harus menemukan orang yang sudah mengambil mahkota calon tunangan saya, dan untuk melakukan hal itu saya butuh bantuan bang Jordan," ujar Darrel tanpa berbasa – basi, pulsa mahal gan, dia tak mau terlalu membuang pulsa untuk masalah ini.


" terus Lo bisa balas dendam dan nikah sama calon tunangan Lo dengan damai gitu? Lo pikir gue mau bantuin Lo?" sesuai dugaan, Jordan akan salah paham dan menganggap bahwa Darrl tetap memilih gadis itu ketimbang Luna, mana mungkin Darrel melakukan hal seperti itu.


" Bukan bang, tapi untuk membawa orang itu ke pertunangan saya dan memberi calon tunangan saya kejutan kecil sebagai hadiah," ujar Darrel menyampaiakn maksudnya.


" Hahahaha, gue paham maksud Lo, oke, kirim aja data diri yang Lo tahu dan kasih waktu gue setengah jam," ujar Jordan dengan gembira dan penuh percaya diri. Jika itu untuk menghukum mereka yang sudah menyakiti Luna, disuruh menguliti mereka hidup – hidup pun Jordan rela.


" Tapi untuk masalah ini bang Jordan jangan kasih tahu Lunetta dulu ya bang, Darrel gak mau kalau semua berantakan Luna yang kena, Darrel gak mau Luna terluka lagi," ujar Darrel yang disetujui oleh Jordan. Darrel segera mematikans ambungan telpon dan memberi informasi minim yang dia tahu, iyalah dia pun tidak mendengar sedikitpun kabar dari Fera selama ini.


Meski dengan Informasi yang seminimal itu, Jordan dapat melacaknya dengan mudah, bahkan dia hanya meminta nomor ponsel Fera dan melacaknya, lalu menemukan nomor ponsel orang terakhir yang dia hubungi. Pada akhirnya Jordan bisa menemukan informasi lengkap tentang lelaki bernama Aldo dalam waktu kurang dari satu jam.


Darrel tersenyum puas, begitu juga Angga dan Dara. Namun mereka semua langsung terdiam saat ponsel Dara berbunyi dan menampakkan nama Fera di ponsel itu. Dara meminta persetujuan mereka dan akhirnya mengangkat telpon itu.


" Hai Dara, udah sampai mana? Hari ini jadi kan?" tanya Fera di seberang sana yang dapat didengar oleh Angga dan Darrel karna Dara menyalakan speaker pada ponsel itu.


" Maaf kak, Dara gak bisa nemenin kak Fera, tiba – tiba Dara ada acara sama kak Darrel nih di luar," ujar Dara dengan santai dan tenang, Darrel mengangguk puas untuk jawaban Dara dan menanti jawaban Fera.


" Hmmm yaudah deh kalau gitu next time aja, tapi jangan lama – lama ya soalnya akhir minggu kan aku udah tunangan sama Darrel, deg deg an nih aku," ujar Fera terdengar gembira, Dara tertawa menanggapi hal itu.


" hahaha iya deh yang jadi calon kakak ipar aku, tapi gak ada yang patah hati apa kalau kak Fera tiba – tiba aja tunangan sama kak Darrel?" pertanyaan Dara tentu aja membuat Darrel dan Angga menengok ke arah Darrel. Angga tahu Darrel cerdas dan pandai, namun ternyata Dara jauh lebih unggul di atas Darrel.


" Hahaha, aku itu gak punya teman di kota B, pikiran aku selama ini Cuma ke Darrel aja, mana mungkin aku punya cowo lain," ujar Fera terdengar santai seolah tak pernah melakukan apapun, mendengar itu tentu Darrel hanya dapat tersenyum, betapa bodohnya dia percaya pada Fera dan malah meragukan Lunetta.


" Hahaha, bagus deh kalau gitu, gak sabar lihat kalian tunangan," ujar Dara dengan senyum iblisnya, bahkan Angga sampai ngeri melihatnya, ternyata gadis imut seperti Dara juga sama menyeramkannya dengan Darrel. Kini Angga tak meragukan kalau Dara sungguh kembaran Darrel.


Panggilan ditutup tak lama kemudian dan mereka hanya menghela napas dan mengakui akting memukau Fera, persis seperti artis terkenal, mengapa Fera tak ikut casting saja?


" Nama lengkap Lo siapa Dar?" tanya Angga setelah hening cukup lama.


" Giovanny Dara," ujar Dara dengan singkat.


" Atmaja," sambung Darrel karna Dara tak melanjutkan kata – katanya.


" Dara sudah menganggap nama itu hilang, bahkan di daftar absensi Dara udah gak ada nama Atmaja lagi sejak SD," ujar Dara dengan tenang, Angga yang bertanya pun merasa tak enak karna sudah menyinggung masalah keluarga Atmaja.


" Justru harusnya kamu senang karna Papa berusaha melindungi kamu dengan cara ini, kalau gak pasti udah banyak yang ngincar nyawa kamu," ujar Darrel memberi pengertian. Darrel memang tak pernah konsisten dalam berkomunikasi dengan Dara, kadang dia memakai ' lo – gue.' Kadang pula dia memakai ' aku – kamu'


" Ya, apapun alasannya lah, tetap saja nama Atmajaku hilang," ujar Dara dengan cuek, ingin Darrel menjambak rambut saudara kembarnya itu jika Dara bukan seorang gadis.


" Ya udah gakpapa, nanti kan kamu pakai nama keluarga aku, Wijaya, Giovanny Dara Wijaya, bagus juga kan?" tanya Angga dengan genit, dia memang sengaja mengalihkan suasana agar tidak kaku dan menegang.


" Ayo kita ke kota C dan cari nama Aldo," ujar Darrel yang tak ingin membahas masalah ini lebih lanjut dan memilih untuk menjalankan misinya.


" terus sekolah kita gimana bro? enak aja main ngajak pergi gitu ajaa," ujar Angga tak setuju dengan usul Darrel, atau bisa disebut dengan perintah.


" Lo kayak orang susah ya, Lo tuh temenan sama keluarga Atmaja, masalah Absen mah gampang tinggal cabut aja kita nya," ujar Darrel mengibaskan tangannya dan menggandeng tangan Dara keluar dari tempat itu meninggalkan Angga sendiri.


" Calon bini gue main dibawa aja, dasar kakak ipar durhaka," desis Angga kesal dan menyusul Darrel keluar dari tempat itu.


Mereka bergegas menuju kota C untuk menemui lelaki bernama Aldo dan menunggu lelaki itu keluar dari sebuah rumah yang tampak sederhana. Seorang lelaki keluar dari sana berpakaian santai dan menatap Darrel dengan curiga.


" Ada perlu apa ya?" tanya lelaki itu dengan wajah menyelidik. Darrel tersenyum dan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Aldo dengan sopan.


" Kami kesini Cuma mau tanya satu hal sama kamu, kamu kenal sama cewek yang namanya Fera?" tanya Darrel yang selalu langsung pada intinya, membuat Dara dan Angga gemas karna Cara Darrel tak mungkin berhasail.


" Maksud teman saya, kami teman Fera dari kota A, apa kamu kenal Fera? Karna yang kami dengar Fera pernah tinggal di daerah sini dan bersekolah di sekolah yang sama kayak kamu."


" kalian ini siapa? Apa hubungannya sama Fera?" tanya Aldo dengan wajah tak nyaman, dia mulai curiga pada ketiga orang di depannya, seakan ketiga orang itu bermaksud jahat pada dirinya dan Fera.


" Iya saya temannya Fera, dan memang sudah tidak bertemu karna dia pindah tempat."


" Kami tahu dimana Fera dan kami bakal bantu kamu ketemu sama Fera, kami udah tahu apa yang pernah kalian lakukan. Saya rasa kita bisa bekerja sama, kamu dapatkan Fera kembali dan saya dapatkan kehidupan saya kembali," ujar Darrel yang membuar Dara melirik kesal.


Tidak bisakah Darrel sedikit bersabar dan membiarkan Dara mengatasi semua ini, cara Darrel tak akan membuat Aldo mau mengikuti mereka. Sekarang Dara yakin mereka gagal karna Dara bisa melihat dari wajah tak nyaman yang ditunjukkan oleh Aldo.


" Maaf, sepertinya kalian salah orang dan yang saya kenal bukan Fera yang kalian maksud, kalian bisa pergi dari sini," ujar Aldo dengan cepat dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Darrel dan Dara berusaha memanggil Aldo namun lelaki itu tampak mengabaikan mereka dan langsung masuk saja ke dalam sana.


" Sorry, gue bener – bener kelepasan dan gak sabar buat bawa dia ke pertunangan gue," ujar Darrel menyesal dan sadar bahwa semua ini murni kesalahannya, Dara langsung masuk ke dalam mobil karena kesalnya dan Angga hanya pasrah mengikuti Darrel.


Usaha mereka untuk sampai ke toka ini menjadi sia – sia, nyatanya Darrel yang tak sabaran malah menghancurkan semuanya, padahal sedikit lagi Dara bisa membujuk Aldo karna tampak dari wajah lelaki itu dia merindukan Fera, namun dia ingin melindungi Fera agar tidak menempatkan gadis itu dalam bahaya.


*


*


*


Darrel membawa seikat bunga dan coklat satu kilo yang dulu sempat viral, lelaki itu membawakannya untuk Luna agar Luna tak tegang dalam menghadapi ujian kejuruan tiap angkatan, kegiatan rutin STM Taruna yang dilaksanakan untuk melatih dan menegetes pengetahuan siswa siswi.


" Kak, Luna tuh gak paham sama sekali tentang ini," ujar Luna menatap materi yang sudah di print out, bahkan seniat itu usahanya agar bisa memahami materi dan mengikuti ujian dengan baik.


" Ini tuh gampang Lun, kamu Cuma pakai konsep hukum kirchoff, masak kamu gak pernah diajarin sih waktu fisika?" tanya Darrel dengan heran, padahal soal yang ditunjukkan Luna sangat mudah untuk dipahami.


" Ya kan Luna gak paham sama yang guru fisika omongin, Luna mana tahu, orang Luna ngambil jurusan ini aja asal pilih cap cip cup, ngerjaian soal tes juga Cuma asal ngerjain,mana Luna ngerti beginian," ujar Luna frustasi dan langsung berbaring di kasurnya.


" Yaudah nih makan dulu coklatnya, aku bikinin minum sama spagetti biar kamu semangat belajarnya, jangan terlalu dipaksain, gak baik buat otak," ujar Darrel mengusap kepala Luna dan mengecup kepala itu dan langsung pergi dari sana.


Luna menurut dan meletakkan semua print out itu diatas meja, dan mengambil sebatang coklat raksasa yang Darrel bawa, Luna terkekeh memegang coklat yang berat itu, berat bersihnya sungguh satu kilogram. Apakah Darrel ingin membuatnya diabetes atau sekadar obesitas?


Tak lama Darrel kembali dengan spagetti daging dan taburan keju yang sangat menggugah selera, seniat itu Darrel ingin membuatnya nyaman dan senang, meski sebenarnya tak perlu karna Luna akn kembali stres jika berhadapan dengan berlembar – lembar kertas dihadapannya.


" Kak, katanya kelas sebeelas bakal ada seleksi LKS? (LKS adalah singkatan dari Lomba Keterampilan Siswa yang diadakan tiap tahun untuk melihat potensi siswa siswi SMK dalam bersaing ilmu dibidang jurusan yang mereka ambil, seperti ajang kejuaraan resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah)"


" Iya aku ikut, tapi sebenernya aku malas sih Lun, pengen disini aja sama kamu, mana setelah tes itu harus di karantina gitu bair fokus latihan LKSnya, ada dari kelas satu juga kok, Cuma dipilih langsung sama gurunya," ujar Darrel menjelaskan apa yang Darrel dengar dari guru pembimbingnya.


Kemungkinan besar dari kelasnya adalah Angga karna lelaki itu sangat menguasai elektronika dan bahkan sering bereksperimen, jika diteruskan Darrel memprediksi dia akan menjadi manusia listrik karna setiap hari Angga selalu terkena strum dari voltage tinggi yang ada di ruang prakteknya.


" Kak Darrel gak mau ikutan memang?" tanya Luna penasaran karna dia tidak melihat keantusiasan Darrel untuk mengikuti ajang ini, apalagi pemenangnya akan mewakili provinsi ke tingkat nasional dan kemudian naik ke tingkat Asia dan internasional, tentu akan menjadi kebanggakan bila bisa menjuarainya.


" kamu mau aku ikut? Nanti aku gak ada waktu buat kamu Loh soalnya dari pagi sampai malem pasti latihan," ujar Darrel mengangkat sebelah alisnya. Luna tampak berpikir dan mengangguk tak lama kemudian, dia tidak merasa keberatan jika memang itu yang terbaik untuk Darrel.


" Kok kamu setuju sih? Kamu gak kangen sama aku apa? Aku aja kangen setengah mati sama kamu," ujar Darrel sewot dengan wajah super kesalnya yang justru malah terlihat imut.


" Gak usah sok imut gitu, jelek tauk, lagian Luna kan Cuma support kak Darrel, kalau kak Darrel sukses kan juga Luna sendiri yang senang dan bangga jadi nyonya Atmaja, hahahha," ujar Luna sambil tertawa dan memasukkan sesuap lagi spagetti yang sudah dia gulung di garpu. Darrel mendekat an membuka mulutnya dan Luna megambil sebuah daging dengan garpunya dan memasukkan daging itu ke mulut Darrel.


" Aku bukan gak mau ikut sih, nanti aku tetap ikut seleksinya, kan wajib. Tapi kalau kepilih atau engga aku gak begitu berharap, lagian memang ada yang lebih pas kok dibanding aku."


Luna mengangguk paham dan kembali menyantap spagetti yang jauh lebih enak dari yang biasa dibuat oleh chef di rumahnya, jika seperti ini tentu Luna tak perlu menyewa chef chef itu lagi, Luna cukup meminta Darrel memasakkan untuknya dengan gratis, hmmm, jika ibu – ibunya mulai keluar dari dalam dirinya.


" Lun, kamu tahu kan aku sayang banget sama kamu?" tanya Darrel setelah beberapa saat hanya ada suara sendok dan garpu. Luna menatap Darrel dan mengangguk polos, kembali menggulung spagetti dan menyuapkannya ke Darrel.


" Apapaun yang terjadi kamu harus tetap percaya hal itu Lun, kamu tetap cintanya aku dan aku selalu cinta sama kamu, kamu percaya hal itu kan?" tanya Darrel yang membuat Luna kembali mengangguk dan menatap Darrel dengan bingung.


" Kenapa? Kak Darrel ngomong gitu kayak mau kawin lari tahu gak sih kak, kayak suami ketawan istrinya selingkuh," ujar Luna dengan riang dan geli, bahkan membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.


" Love you my bunny," ujar Darrel dengan tulus dan mencium puncak kepala Luna, sementara Luna tampak tak terganggu dan gadis itu tetap fokus pada spagetti yang kini tinggal sedikit.


" Kak? Kalau kakak sayang sama Luna, bikinin spagetti lagi dong, kurang nih," ujar Luna menodongkan piring spagetti kepada Darrel, lelaki itu terkekeh dan mencubit hidung Luna kuat kuat, membuat gadis itu kesakitan dan memukuli tangan Darrel.


" Siap tuan putri, Otewe enam puluh kilo nih kamu," ujar Darrel sambil berdiri dan bergegas keluar dari dalam kamar karna wajah Luna yang langsung berubah mendengar perkataannya