
" Kak Darrel itu kenapa? Itu kenapa sampai mimisan?" tanya Luna dengan paanik dan mengintip Darrel yang menundukkan kepalanya. Karna Luna nyaris sama tingginyaa degan Darrel, gadis itu harus membungkuk dan mendongak untuk melihat lubang hidung Darrel yang masih mengeluarkan darah ( Yak, ayo teman – teman sekalian, kalian bayangkan aja ya posisinya, hahahha)
" Aku gak papa Luna, kamu gak usah panik kayak gitu dong," ujar Darrel memencet hidungnya agar sisa darah itu keluar dan habis. Mereka masih diguyur hujan, namun Luna tak peduli akan rintikan air yang membuat mata dan wajahnya perih karna air itu, fokusnya teralihkan pada Darrel yang kini sudah menatap lurus ke depan karna darah sudah berhenti mengalir.
" Bohong, Luna gak percaya, ayo sekarang masuk, Luna telpon dokter, atau kita ke rumah sakit sekarang," ujar Luna yang langsung menarik tangan Darrel, membuat lelaki itu sedikit tersentak dan terseret karna tak siap ditarik. Darrel merasa heran karna Luna sepanik ini melihatnya mimisan, memang kalau orang mimisan itu pertanda buruk?
" Aku gak papa Luna, ini mungkin aku Cuma kecapekan terus kaget kena air hujan, gak usah panggil dokter apalagi ke rumah sakit, ntar disuntik – suntik, gak mau aku," ujar Darrel dengan keukeuh dan menggeleng seperti anak kecil, sementara Luna tetap menariknya seperti ibu yang kesal anaknya tak pulang ke rumah karna kebanyakan main.
" Gak usah bantah, gak usah protes, gak terima usul, ngomong sekali lagi, Luna gantung di pohon depan sambil telanjang," ujar Luna dengan asal namun mampu membuat Darrel tertawa keras, lelaki itu tak tahu apa yang diajarkan Radith pada Luna selama dia tidak ada, kosa kata baru Luna yang menggelikan terus membuat moodnya naik.
" Kenapa gak jawab? Ngerti gak?" tanya Luna karna Darrel hanya diam, namun lelaki itu masih tak membuka suara, membuat Luna geram sekaligus gemas, gadis itu berhenti berjalan dan menarik pipi Darrel dengan cukup keras, membuat pemiliknya mengaduh kesakitan.
" Kalau di tanya itu jawab," ujar Luna dengan wajah kesalnya. Darrel tampak kesakitan dan berusaha melepaskan tangan Luna dari pipinya, namun tarikan itu malah makin kuat, membuatnya menyerah dan mengangkat tangannya ke atas, menyerah dan pasrah, berharap Luna segera menghentikan aksi KDRT yang jelas dilarang oleh undang – undang.
" Tadi kamu yang ancam aku gak boleh ngomong, aku kan nurut, dari pada aku ditelanjangin terus digantung di pohon, eh malah aku salah lagi," ujar Darrel dengan pipi yang digembungkan dan wajah yang kesal menggemaskan, Luna yang menyadari hal itu langsung merasa bersalah dan mengelus pipi Darrel pelan, namun gadis itu segera menyadari sesuatu dan kembali menarik tangan lelaki itu.
" Kak Darrel mau mengalihkan perhatian Luna ya? Biar gak dipanggil pak dokternya? Modus lama, Luna udah gak terpengaruh," ujar Luna dengan bangganya, namun Darrel malah bingung sendiri untuk menjawab pertanyaan sekaligus pernyataan Luna.
" Kan kamu sendiri yang berhenti, aku gak minta kamu berhenti, aku juga pasrah – pasrah aja waktu kamu narik – narik aku kayak aak sapi gini," bantah lelaki itu dengan wajah santainya. Luna tak menanggapi lelaki itu dan mendudukkan Darrel di sofa. Meninggalkan lelaki itu untuk memanggil dokter dan kembali lagi ke Darrel yang memetik kelopak bunga yang ada di vas lalu memelintir kelopak itu.
" Gak ada kerjaan lain ya bang sampai bunga di rumah orang dimainin kayak gitu?" tanya Luna dengan nada menyindir, gadis itu mengambil ponselnya dan mulai membuka jendela pencaria di ponsel itu. Luna mengetikkan ' penyakit dengan gejala mimisan' dan membuka artikel paling atas.
Gadis itu tampak fokus, membuat Darrel penasaran dan mendekat lalu melihat apa yang sedang Luna baca. Luna yang tahu Darrel mendekat langsung menyender pada pundak Darrel dan membiarkan lelaki itu kepo, Luna tampak tegang membaca setiap kalimat yang tertera di artikel tersebut.
" Kak Darrel, kalau Kak Darrel sakit kayak gini gimana? Apa jangan – jangan kak Darrel potong karna ini ya kak? Kak Darrel, kak Darrel ngilang karna sakit? Kak Darrel sakit tapi gak mau kasih tahu Luna? Kak Darrel jujur sama Luna," ujar Luna yang menyerbu Darrel sambil menatap takut ke arah lelaki itu.
" Jangan kebanyakan nonton film sayang, apalagi baca novel romance picisan, jadi lebay kan kamu. Aku gak kenapa – napa, sehat sehat aja, aku berani jamin," ujar Darrel dengan senyum lebar di wajahnya dan mengusap wajah sedih Luna dengan tangan besarrnya agar wajah sedih itu hilang.
" Luna gak percaya," sahut Luna dengan cepat.
" Yaudah, terserah. Dasar cewek, udah minta penjelasan, dijelasin panjang lebar, malah gak percaya, terserah deh," ujar Darrel pelan sambil menatap ke arah lain, namun Luna masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Darrel.
" Ya udah kalau gak suka punya pacar kayak Luna, sana pacaran aja sama kucing tetangga, gak akan protes," ujar Luna dengan ketus. Luna merasa jengkel karna merasa Darrel menutupi sesuatu dari Luna, apalagi dokter tak kunjung datang, membuat perasaannya makin gelisah dan tak karuan.
" Gak usah ngambek, nanti aku sakit beneran loh, nanti aku tiba – tiba kejang, terus epilepsi, terus.."
" Ya Epilepsi itu kan sama aja kejang – kejang kak," ujar Luna memotong pertakaan Darrel.
" Diem dulu ih, aku kan mau memberikan kata – kata terakhir aku sebelum aku pergi dari kamu," ujar Darrel yang membuat Luna terdiam. Meski Darrel mengatakannya dengan nada bercanda, entah mengapa Luna merasa bahwa hal itu akan menjadi kenyataan. Darrel akan pergi meninggalnya suatu ahri nanti, dan suatu hari nantinya tak lama lagi. Astaga.
" Dokter udah datang tuh," ujar Darrel yang memilih tak melanjutkan perkataannya karna perubahan wajah Luna, lelaki itu merasa tubuhnya sedikit menggigil karna pendingin ruanagan yang menyala, sementara kondisi tubuh mereka masih basah kuyup. Ah, sofa dari kain halus nan mahal ini jadi ikut basah, hmm, sepertinya sofa ini akan berakhir di tempat pembuangan setelah ini.
" Selamat sore nona Lunetta, ada apa Nona buru – buru memanggil saya kemari? Apakah Nona Lunetta merasakan sesuatu yang tidak nyaman? Nona Lunetta sakit?" tanya dokter itu dengan khawatir, dokter muda yang langsung mendatangi Luna dan memegang dahi gadis itu.
" Ya gak usah pegang – pegang juga dong dok," ujar Darrel sambil menyingkirkan tangan dokter itu dari dahi Luna secara sopan, dia cukup tahu diri untuk tidak berbuat kasar pada orang yang baru dia temui, apalgi dia tahu dokter itu lebih tua darinya.
" Bukan saya dok, tapi kak Darrel nih, kak Darrel sakit apa ya dok? Tadi tuh dia tiba – tiba mimisan, terus nih, pucet banget dok, periksa dong dok," ujar Luna seperti anak kecil yang menyerbu dokter itu. Dokter itu menatap Darrel dengan pandangan yang aneh, membuat Darrel merasa tak nyaman.
" Kita ke rumah sakit aja biar hasilnya lebih akurat," ujar Darrel dengan tegas dan langsung berdiri dari sofa, membuat Luna menjadi bingung akrna perubahan sikap Darrel.
" Loh? Tadi ngotot gak mau ke rumah sakit, katanya kak Darrel gak kenapa – napa, kok sekarang malah minta ke rumah sakit?" tanya Luna dengan bingung, Darrel tersenyum dan memegang pipi Luna, namun matanya melirik sinis ke dokter itu sekilas.
" Justru biar kamu yakin aku gak kenapa – napa, kalau di cek lab kan hasilnya keluar semua, kalau analisis dokter kan bisa aja salah, dokternya gak bawa alat buat cek darah juga," ujar Darrel yang membuat Luna mengangguk dan membulatkan mulutnya.
" Ya udah deh kita ke rumah sakit aja, dokter Andi, maaf ya, gak jadi minta bantuan dokter, mau ke rumah sakit aja, gak papa kan dok?" tanya Luna dengan wajah polosnya pada dokter itu, sementara Darrel memasang senyum miringnya dan menatap dokter itu dengan tatapan mengejek.
" Ayo dong sayang, aku mulai ngerasa pusing nih," ujar Darrel yang malah sengaja merangkul Luna dan memegang kepalanya sambil menutup matanya, Luna langsung melotot dan mengangguk, memapah Darrel berjalan dari sana melewati dokter yang menatap Darrel dengan mulut yang sedikit terbuka.
" Dokter kalau mau disini dulu gak papa, kalau lapar minta aja ke chef, terus kalau gak bawa mobil minta supir anterin, kalau buru – buru itu telpon rumah warna biru langit buat nelpon helikopter, pakai aja, Helipadnya ada di rooftop selatan, Luna pergi dulu ya dok, paypay," ujar Luna tanpa menghentikan langkahnya.
Dokter itu menatap Luna dengan cengo, dia jauh – jauh datang kemari sambil terburu – buru karna takut dan khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Luna, namun saat sudah sampai disini, dia malah disambut dengan Luna yang pergi bersama lelaki yang entah siapa. Ah, sayang dia tak pernah mengikuti berita tentang keluarga Wilkinson, sehingga dia tak yakin siapa lelaki yang dipapah oleh Luna.
" Pacarnya ya? cih, bocil kayak gitu bisa apa? Paling lebih mapan gue kemana – mana," ujar dokter itu sambil menuju ke arah dapur, sudah jauh datan gkemari, tak mungkin dia langsung pulang, setidaknya dia bisa menyicipi masakan chef khusus di rumah ini. Dokter itu mengatakan Darrel tak lebih mapan darinya karna dia tak tahu Darrel adalah keturunan Atmaja, mungkin suatu hari nanti saat tahu dia akan terkejut.
*
*
" aku yang diperiksa, kok kamu yang takut?" tanya Darrel sambil mentutup matanya dengan tangannya. Tubuhnya sudah dia rebahkan di kasur yang memang tak cukup nyaman dibanding kasur di rumahnya.
" Luna tuh takut kak Darrel kenapa – napa, kak Darrel beneran gak lagi nyembunyiin sesuatu dari Luna kan?" tanya Luna dengan wajah curiga.
" Kalau aku nyembunyiin sesuatu, kenapa aku berani kesini sama kamu?" tanya Darrel sambil memiringkan kepalanya dan menatap Luna.
" kan bisa aja kak Darrel sabotase hasil tesnya biar Luna lega," ujar Luna yang malah terkesan menuduh Darrel.
" Daritadi aku sama kamu, gimana bisa aku sabotase semua?" tanya Darrel lagi dengan santai, seakan tuduhan Luna tak begitu berarti untuknya.
" Ya kan bisa aja kak Darrel suruh orang sebelum ketemu sama Luna, semua kemungkinan itu bisa terjadi kak," ujar Lun atak mau kalah, membuat Darrel tak tahan untuk gemas pada Luna.
" Kamu tuh kebanyakan nonton film tahu gak sih, pikirannya kemana – mana, aku gak sabotase apa – aapa Lun, semua hasil yang keluar itu murni," ujar Darrel dengan mantab dan yakin.
' Kalau ternyata gue sakit gimana ya? Duh, gue pakai iya – iya aja karna kesel sama tuh dokter, terus kalau ternyata gue beneran ada penyakit, gue mau apa dong? Matilah gue, malah jadi takut kayak gini.' Batin Darrel sambil menutup wajahnya dengan tangannya yang tak tertancap infus.
Perlu menunggu waktu beberapa jam untuk mendapat hasil lengkap atas pemeriksaan ini. Luna menunggu dengan gelisah sambil memainkan kakinya yang menggantung, melihat kantong infus yang hampir habis dan menatap Darrel yang sepertinya malah ketiduran.
Tak lama dokter masuk ke dalam ruangan itu. Dokter itu membawa map dan mengambil hasil tes Darrel dan Luna, Luna langsung membangunkan Darrel dan membuat lelaki itu langsung terduduk dengan mata yang cukup berat karna dia memang mengantuk.
" Kondisi Saudara Darrel baik – baik saja, semua normal, mimisan yang terjadi karna mas Darrel ini kecapekan dan sedikit Flu, apalagi tadi kalian habis main hujan, mungkin hal itu yang membuat mas Darrel mimisan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, memang terkadang mimisan itu bukan berarti hal yang buruk, itu hanya cara tubuh mengeluarkan racun dalam darah sekaligus darah kotor yang ada di dalam tubuh."
Medengar hal itu Luna langsung mendesah lega, dia pikir Darrel mengalami sesuatu yang gawat dan buruk, ternyata semua pikiran buruk dalam pikiran Luna tidak terjadi. Gadis itu akhirnya bisa kembali tersenyum dan menatap Darrel dengan bahagia.
" Tuh kan, aku bilang juga apa, aku tuh gak sakit Lun, kamu aja yang berlebihan, lagipula aku gak mungkin sakit, kalau aku sakit aku gak mungkin bisa berangkat ke…"
" Berangkat kemana?" potong Luna karna Darrel hanya menggantungkan kata – katanya.
" Ke rumah kamu. Pasti aku malah ke rumah sakit, ya gak dok?" tanya Darrel pada dokter dengan wajah yang meledek Luna. Dokter itu hanya tersenyum geli dan mengangguk melihat sepasang remaja yang ada di hadapannya. Dokter itu teringat masa mudanya, meski tak seheboh pasangan di depannya ini sih.
" Bentar dulu deh, Luna mau ke kamar mandi, kebelet, dok, ini udah boleh di lepas?" tanya Luna pada dokter itu. Dokter itu mengangguk sebagai jawaban.
" Lepas aja, jarum suntiknya tadi sudah dicabut kok," ujar dokter itu yang membuat Luna mengangguk dan meleaps infus yang ada di tangannya, Darrel juga mengikuti apa yang Luna lakukan karna kantong infusnya pun sudah habis.
Luna melompat dari kasur dan berjalan, namun sesaat kemudian gadis itu terjatuh, membuat Darrel mendelik kaget dan turun dari kasur untuk membantu Luna.
" kaki aku kram, rasanya kayak melayang gitu tadi, mungkin karna daritadi jalan mulu kalik ya kak? Kan tadi mondar – mandir sebelum ke sini, hehehe," ujar Luna sambil berdiri dibantu oleh Darrel.
" Makanya ih, kalau jalan tuh jangan meleng, untuk lantainya gak retak ketiban kamu, ini kamu bisa ke kamar mandi sendiri atau harus aku temenin?" tanya Darrel yang malah menggunakan kesempatan ini untuk menggoda Luna. Gadis itu mendesis dan melepaskan tangan Darrel yang memegangnya, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
" Darrel, ada yang perlu saya bicarakan ke kamu …"
Seketika hawa dingin dan rasa takut langsung mengelilingi Darrel, wajah serius yang terpampang di wajah dokter itu seakan menunjukkan sesuatu yang penting. Atau mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi padanya?
*
*
Luna keluar dari kamar mandi dan terkejut karna dokter tadi belum keluar dari kamar inap ini, gadis itu mengeringkan sandalnya ke keset yang ada di pintu kamar mandi.
" Kok Dokter belum keluar?" tanya Luna dengan bingung.
" Tadi aku ngajak ngobrol dokternya, eh malah keterusan, iya kan dok?" tanya Darrel dengan senyum yang penuh arti. Dokter itu menengok ke arah Luna sambil mengangguk dan tersenyum. Luna hendak menjawab, namun panggilan di ponselnya membuat fokusnya teralihkan.
" Bang Jordan nelpon, kalian lanjutin dulu aja ngobrolnya, Luna mau angkat telpon dulu di luar biar gak ganggu," ujar Luna yang diangguki oleh dokter itu dan Darrel.
Senyuman mereka luntur bersamaan dengan keluarnya Luna dan tertutupnya pintu.
" Lantas bagaimana solusinya dok?" tanya Darrel dengan wajah dan nada yang serius.