Hopeless

Hopeless
Chapter 177



Darrel tersenyum saat melihat Luna yang sudah terlelap di pangkuannya. Perlahan dan penuh dengan kehati – hatian Darrel mengangkat Luna dari pangkuannya menuju kasur. Tampak wajah penuh kedamaian yang mendominasi Luna, Darrel berharap Luna bisa melewati waktu yang sulit ini, Darrel pun harus bisa lebih meluangkan waktu untuk Luna. Darrel tak mau Luna menderita sendirian, bahkan sebisa mungkin penderitaan ini harus segera berakhir.


" Gimana? Luna udah mau makan? Udah mau minum obatnya??" tanya Jordan dengan khawatir saat Darrel keluar dari kamar Luna membawa nampan berisi mangkok dan gelas kosong. Karna Luna tak mau meminum susu, terpaksa Darrel yang menghabiskannya, sekalian untuk mengganjal perutnya yang memang belum terisi sejak siang tadi.


" Beres bang, dia udah mau makan, udah minum obat, tuh sekarang lagi tidur," ujar Darrel menunjuk Luna dengan dagunya. Jordan menengok ke dalam dan berdecak kagum karna kerja keras Darrel. Bahkan lelaki itu merelakan waktu meeting pentingnya demi datang ke rumah ini dan menemani Luna.


" Lo pakai cara apa buat bujuk dia? Bahkan gue aja udah nyerah buat bujuk dia. Masakan Lo enak banget atau gimana? Masakin buat gue juga dong." Darrel terkekeh karna Jordan begitu penasaran dengan cara Darrel membujuk Luna. Tak mungkin Darrel mengungkap bahwa dia memberikan permintaan pada Luna. Biarlah itu antara dia dan Luna saja.


" Ada deh bang, pokoknya pakai pesona Mas Darrel yang membuat Dek Luna bahagia," ujar Darrel menyisir rambutnya ke belakang. Jordan memutar bola matanya malas dan berbalik setelah kembali mengecek kondisi Luna sekali lagi. Jordan melangkah menjauh dan menjentikkan jarinya lalu berbalik lagi memandang Darrel yang juga masih menatapnya.


" Karna Luna udah tidur, Lo mending pulang sekarang. Karna Lo gak mau kasih tahu gue cara biar Luna bisa luluh, setiap Luna kayak gini Lo harus siap buat datang. Untuk masalah perusahaan Lo tenang aja, gue udah minta bokap buat suntikin dana yang besar ke perusahaan Atmaja, lagian bentar lagi dua perusahaan ini kan bakal jadi perusahaan keluarga," ujar Jordan yang diangguki oleh Darrel.


" Kalau gitu Darrel pulang dulu bang. Luna gak akan bangun sampai besok karna di obat itu ada kandungan obat penenang juga, itu obat baru ya?" tanya Darrel yang dibenarkan oleh Jordan. Ternyata obat yang ditambahkan oleh dokter itu adalah obat penenang. Mungkin dokter itu tahu Luna akan jauh lebih sering histeris dan memerlukan obat itu.


Darrel kembali ke rumahnya untuk menyiapkan keperluan sekolah. sebentar lagi lelaki itu akan lulus sekolah, lelaki itu harus meminta seseorang menjaga Luna saat nantinya dia pergi dari sekolah itu. Seseorang yang akan terus berada di sisi Luna selama pembelajaran berlangsung.


Lelaki itu mengingat satu nama, dia akan menanyai orang itu apakah orang itu mau menjaga Luna untuknya atau tidak. Meski sebenarnya Darrel yakin orang itu pasti mau melakukannya. Orang itu dan Luna kan sangat dekat, bahkan Luna pernah menyukai orang itu, untung saja saat ini hati Luna sudah untuk Darrel hingga Darrel tak khawatir lagi jika Luna berada di dekat orang itu.


*


*


" Papa, Jordan tadi nyari tahu tentang Ataksia Friedreich. Jordan dapat info kalau penyakit itu harus diturunkan dari kedua orang tuanya. Itu artinya mama dan papa…" Jordan tak sanggup melanjutkan kata – katanya. Mr. Wilkinson yang sedang menanda tangani kontrak kerja sama menghentikan aktivitasnya dan menatap Jordan yang menatapnya kahwatir.


" Papa tahu, itu artinya papa juga terkena penyakit itu. Jika papa dan mama terkena, belum tentu Luna terkena. Namun jika ternyata Luna mengalami penyakit Ataksia jenis itu, berarti papa dan mama sudah pasti mewarisi genetiknya. Papa juga sudah membaca kalau setiap orang berbeda waktu indikasinya, dan ternyata Luna jauh lebih cepat dibanding papa."


" Ada beberapa kasus penderita akan mengalami indikasi – indikasai itu di usia lebih dari lima puluh tahun. Yah, mungkin papa akan mengalaminya di usia itu, maka dari itu papa mau minta kamu mulai belajar mengurus semua perusahaan ini bersama anak Atmaja, Papa gak tahu kapan papa akan mengalaminya dan kapan papa akan meninggalkan kalian semua."


" Papa ini ngomong apa? Papa kan tuan besar Wilkinson, pemilik banyak rumah sakit dan bos besar perusahaan Wilkinson. Mana mungkin papa menyerah dan membicarakan soal penyakit yang akan mengalahkan papa? Itu semua tak mungkin pa," uar Jordan sambil terkekeh, bukan kekehan geli atau bahagia tentunya.


" Kau tahu, Papa bukan Dewa yang tak pernah sakit, dan kau sendiri bukan Tuhan yang memutuskan papa akan selalu sehat dan selalu berada di samping kalian. Apapun yang terjadi, papa akan pasrahkan semua di tanganmu. Perlahan satu persatu perusahaan Wilkinson akan papa alih namakan menjadi milikmu, kau yang harus mengelola semua itu agar tetap bertahan dan bahkan berkembang mengalahkan perusahaan lain di dunia ini."


Jordan menerima wejangan itu dengan sedih. Bahkan jika dengan menjadi anak biasa membuat papanya terus ada di samping mereka, Jordan memilih melakukan itu semua. Harta ataupun perusahaan bukanlah segalanya bagi Jordan. Sejak dulu, Dia hanya ingin berkumpul dengan seluruh keluarganya, entah itu di rumah yang kecil atau besar.


Dia tak bisa kehilangan keluarganya lagi, tidak salah satu apalagi dua. Bahkan jika harus berkeliling dunia untuk mencari obatnya, Jordan akan lakukan hal itu senantiasa. Asal Luna dan keluarganya tetap bahagia seperti sedia kala. Meski keinginannya akan sangat sulit untuk diwujudkan, dia kan terus berusaha mewujudkan impian itu, karna dia adalah Jordanio, satu – satunya putra tuan Wilkinson yang akan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Apapun itu.


Pagi menyapa, Luna bangun dari tidurnya dan sedikit tersenyum saat mendapati dirinya ada di kasur yang nyaman, padahal dia ingat terakhir kali dia massih bersama Darrel. Harusnya dia segera bersiap untuk berangkat ke sekolah, namun dia sudah tak memiliki semangat atau sekadar niat untuk melanjutkan sekolahnya. Lebih baik dia fokus pada kegiatannya di sisa hidupnya ini.


" Luna, ayo bersiap, Daddy akan mengantar kamu ke sekolah," ujar Mr. Wilkinson dari luar pintu kamar Jordan. Luna turun dari kasur dan berjalan menuju pintu. Jangankan bersiap, mandi saja belum. Luna benar – benar akan membulatkan tekadnya di depan Mr. Wilkinson dan berharap pria itu akan menuruti permintaannya.


" Dad, Luna sudah memutuskan kalau Luna akan berhenti sekolah, Luna mau home schooling aja, Luna rasa percuma. Toh Luna gak akan pergunain semua ilmu yang ada di sana, itu bakal buang – buang waktu dad," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson terkejut.


" Daddy kasih tahu satu hal. Masa depan adalah apa yang kamu percayai di masa sekarang ini. Jika kamu percaya hal baik akan datang, maka hal baik itulah yang akan datang, begitu pula sebaliknya. Pikiran positif akan membawa energi positif, kamu harus bisa menerapkan hal itu di hidup kamu," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Luna kembali menangis.


" Maafin Luna dad, maafin Luna. Luna masih gak bisa terima penyakit ini. Luna masih gak sanggup bertindak biasa aja di saat Luna tahu Luna bisa lumpuh sewaktu – waktu, bahkan Luna bisa saja meninggal sewaktu – waktu, Luna gak bisa dad," ujar Luna dengan penuh kesedihan.


" Kau tahu nak, apa yang kamu alami, sebentar lagi Daddy juga alami, karna yang kamu derita ini terjadi akibat dari faktor genetik, itu artinya Daddy dan mama yang sudah menurunkan gen ataksia ke kamu. Kamu paham artinya kan?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Luna terkejut seketika.


" Daddy, maksudnya, maksud daddy," ujar Luna yang tak sanggup melanjutkan kata – katanya. Mr. Wilkinson yang tahu apa yang ada di pikiran Luna langsung mengangguk sebagai jawaban, namun dia mengangguk dengan senyum, mengatakan pada Luna semua akan baik – baik saja.


" Daddy bahkan masih bisa bertahan dan hidup sampai sekarang, kita harus sama – sama berjuang. Daddy yakin akhirnya penyakit ini akan menyerah dan gak mengganggu kita lagi. Mari kita perjuangkan hal ini bersama – sama, kamu mau kan percaya sama Daddy?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Luna mengangguk dan memeluk erat pria itu.


" Luna mau mandi dulu dad, Luna mau sekolah, tamat sekolah dan jadi anak yang bisa dibanggakan sama Daddy, Luna bakal lakuin apapun yang Daddy minta, Luna akan berhenti jadi manja dan jadi anak yang berbakti sama Daddy," ujar Luna yang membuat Mr. Wilkinson memikirkan satu ide untuk menggoda anak gadisnya itu.


" apapu n yang daddy bilang? Kalau gitu kamu harus menjual isi lemari kaca yang ada di lantai 3, kamu tahu kan tidak ada gunanya kamu koleksi seperti itu, terlalu boros. Kita bisa jual dan berikan hasilnya pada mereka yang membutuhkan, itu merupakan suatu hal yang baik kan?" tanya Mr. Wilkinson sambil tersenyum nakal.


" Dad, jangan pernah usik koleksi Luna untuk brand itu, kenapa Daddy dan bang Jordan sama saja? Mereka kan gak bersalah Dad, tidak harus dijual seperti itu," ujar Luna yang membuat Mr. Wilkinson tertawa keras. Beliau sangat tahu Luna terlalu menyayangi benda – benda elektronik mewah yang ada di lemari itu, dari satu brand yang sama, namun Luna mengoleksi lengkap setiap serinya.


" Ya, ya, terserah padamu, sekarang kamu lekas mandi karna kamu akan terlambat ke sekolah kalau kamu tidak segera mandi," ujar Mr. Wilkinson yaang membuat Luna menghormat dan menutup pintu kamar itu lalu menguncinya. Bersiap untuk mandi dan pergi ke sekolah setelah itu.


Rupanya Mr. Wilkinson tidak serta merta hanya mengantarnya ke sekolah. beliau ingin menemui wali kelas atau bahkan kepala sekolah Luna. Hal yang baru pertama kali dalam hidup Luna, melihat papanya ada di sekolah untuk mengurusi urusan sekolahnya. Biasanya hanya pak Indra yang turun tangan dan semua beres.


" Ada bagusnya juga gue sakit. Akhirnya gue bisa ngerasain rasanya punya papa, akhirnya Daddy dan smeua keluarga gue bisa kumpul jadi saatu kayak gini. Astaga, gue bahagia banget," ujar Luna menatap papanya yang bersalan bersama dua orang berbadan besar yang menggunakan pakaian serba hitam. Mereka menuju ruang guru sementara Luna langsung masuk ke dalam kelasnya.


" Radith, gue mau cerita sama Lo, tapi ini bukan cerita yang bahagia," ujar Luna setelah meletakkan tasnya di atas meja. Gadis itu segera berjalan dan duduk di depan Radith yang sedari tadi mengikuti langkahnya untuk mendekat ke arah Radith.


" Gue udah tahu, Lo gak usah kasih tahu appaun lagi ke gue," ujar Radith yang membuat Luna mengernyitkan dahinya. Luna tak memberitahu siapapun, apakah Darrel atau Jordan sudah memberitahu Radith akan hal ini? Tapi untuk apa mereka mengatakannya pada Radith.


" Gue bukan tahu hal ini dari mereka semua. Gue cek kandungan obat yang Lo minum ke rumah sakit, dan gue jadi tahu hasilnya. Gue bingung cara kasih tahu Lo gimana, ternyata Lo udah tahu duluan, tapi kenapa Lo biasa aja dan gak sedih kayak biasanya?" tanya Radith setelah panjang kali lebar menjelaskan apa yang terjadi.


" Gue senang Lo mau ngomong sepanjang itu sama gue dan Lo terlalu perhatian soal perasaan gue. Tapi Lo tenang aja, gue harus kuat untuk bokap, gue bakal bertahan dan lawan semuanya buat bokap, walau sebenernya gue gak yaakin sama diri gue sendiri, apalagi kalau nantinya gue kambuh, gue gak tahu lagi mood dan semangat gue bakal kayak gimana," ujar Luna yang membuat Radith mengelus kepalanya dengan acak.


" Lo gak perlu khawatir, karna ini faktor genetik, kemungkinan besar Lo bakal bertahan lama. Toh selama ini bokap Lo juga masih bertahan kan? Gue mau Lo juga lakuin itu buat semua orang. Gue gak mau lihat Luna yang cengeng dan lemah, gue mau lihat Luna yang kuat dan tegar, bisa?" tanya Radith yang membuat Luna tersenyum lebar dan mengangguk semangat.


" Eh beteweh, bokap gue ke sekolah Loh, kayaknya bakal bahas gue ke depannya. Kan gue gak boleh terlalu beaktivitas setelah tahu penyakit ini, karna bakal lebih sering kambuh," ujar Luna yang membuat Radith sedikit berpikir, hendak menyangkal namun akhirinya dai diamkan saja karna dia sendiri sedang malas bertengkar dengan makhluk bernama Luna.


" Ya udah kalau kayak gitu bagus lah, pasti ada hikmah dibalik suatu kejadian, dan ini hikmah Lo, Lo harus bisa lewatin ini semua dan ambil sisi positifnya. Gue bakal selalu ada di samping Lo buat kasih dukungan," ujar Radith tanpa sadar.


" Gue pegang kata- kata Lo, Lo bakal selalu ada di sisi gue di saat gue jatuh kayak gini, di saat gue kambuh atau di saat kondisi gue memburuk. Lo harus ada di samping gue," ujar Luna mengulurkan jari kelingkingnya dan menjabat jari tangan Radith dengan paksa.


" Ingat ya dith, Lo udah janji," ujar Luna dengan senyum yang merekah.