
Untung saja sudah malam hingga Darrel dan Luna bisa sampai di rumah Luna dengan cepat. Lelaki itu langsung membopong tubuh Luna sementara pelayan di rumah Luna langsung menatap mereka karna Luna terus mengerang. Darrel tentu menjadi bingung dengan kondisi ini, dia tak pernah melihat apalagi mengalami hal seperti ini, yang jelas, Luna pasti sudah memakan atau meminum sesuatu yang salah.
" Mba, tolong siapin air anget di bath up, cepat ya mba," ujar Darrel buru – buru dan masuk ke dalam lift dengan pelayan itu. Mereka menuju lantai tiga dan Darrel membuka kamar Luna dengan kode sandi yang dia tahu. Lelaki itu langsung menaruh Luna di kasur sementara pelayan menyiapkan air hangat.
Darrel sengaja tidak menutup pintu agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Lelaki itu hanya mengelus kepala Luna yang seakan ingin menyerbu Darrel. Lelaki itu sampai harus memundurkan tubuhnya karna Luna mengincar lehernya. Darrel harus menyiapkan pertahanan ekstra agar dia tak lepas kendali dan malah meladeni Luna.
" Tahan Darel tahan, dia lagi gak sadar. Lo harus jadi lelaki sejati, jangan melakukan apapun. Tahan, Ya Allah, kuatkan iman Darrel ya Allah," ujar lelaki itu sambil menahan tubuh Luna yang masih terbalut jaketnya. Luna sudah tak bisa sadar lagi, dia hanyaa mengerang sambil terus menangis.
" Panas, tolong Luna, panas. Kak Darrel tolong Luna kak," ujar Luna yang berusaha melepaskan jaket yang membalut tubuhnya. Darrel jadi tak tega melihat Luna yang tampak tersiksa, namun dia juga tak bisa meladeni apa yang Luna mau. Ayolah, Darrel pun mau jika Luna dengan sadar memintanya, bukan dengan kondisi yang seperti ini.
" Tuan, air hangatnya sudah siap," ujar pelayan yang membuat Darrel hendak mengangkat Luna. Namun lelaki itu mengurungkan niatnya. Dia meletakkan lagi Luna dan meminta pelayan itu untuk mengganti baju Luna jadi baju tidur ( agar Luna tak berusaha melepas resleting bajunya lagi) sementara Darrel menunggu di luar kamar.
Tak lama pelayan itu keluar dari kamar dan mengatakan sudah melakukan semua yang Darrel minta. Lelaki itu langsung masuk dan mengangkat Luna yang tak betah dengan bajunya. Gadis itu terus menarik – narik baju yang dia pakai, seakan ingin menyobek baju yang menutupi tubuhnya itu.
" Harusnya mah aku rekam Lun, biar kamu lihat nih kamu kayak apa kalau lagi liar gini, haha," ujar Darrel yang masih sempat menghibur dirinya. Lelaki itu mengangkat tubuh Luna dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia membuka pintu kaca dan memasukkan Luna ke dalam bath up berisi air hangat. Luna memprotes tindakan Darrel dan berusaha untuk keluar.
Darrel sendiri langsung keluar dari sana dan menutup pintu kaca itu. Luna menggedor – gedor pintu kaca itu. Bahkan Darrel tak menguncinya, hanya menutupnya, namun Luna sudah cukup kehilangan akal untuk mengingat bagaimana cara membuka pintu. Sepertinya gadis itu memang mabuk berat. Darrel tak bisa membiarkan orang yang melakukan ini pada Luna untuk hidup dan melihat matahari esok.
" Kak Darrel, hiks hiks, Luna, Luna tersiksa. Kak Darrel tolong Luna. Kak Darrel!!!" Luna terus mengerang memanggil – manggil nama Darrel. Lelaki itu menulikan telinganya dan membiarkan tubuh Luna terguyur shower yang menyemprotkan air hangat. Untung saja shower di rumah ini sudah canggih hingga bisa menyesuaikan suhu sesuai yang diatur.
Darrel duduk di balik pintu menunggu Luna tenang, atau paling tidak sampai gadis itu berhenti berteriak, menandakan efek minuman atau makanan yang meracuni Luna sudah hilang. Lelaki itu meluruskan kakinya dan langsung mengambil ponselnya untuk mencari tahu apa yang membuat Luna sampai seperti ini.
" Obat Perangsang? Pantas aja dia jadi kayak gitu. Fix sih ini Luna pasti dikasih obat ini sama si bang*at tadi. Anji*g, jangan harap Lo bisa hidup tenang setelah ini," ujar Darrel yang mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang untuk datang ke rumah Luna. Lelaki itu langsung berdiri dan keluar dari kamar mandi, meninggalkan Luna yang masih belum sadar dari haalusinasinya.
" Kalian cari tahu DNA pemilik rambut ini, telusuri identitasnya dan seluruh keluarganya. Laporkan ke saya paling lambat besok. Mengerti?" tanya Darrel yang diangguki oleh orang – orang itu. Mereka pergi dari rumah Luna dan Darrel kembali ke dalam kamar mandi.
Rupanya Luna sudah terlelap dengan badan yang tenggelam di dalam bath up, menyisakan kepalanya yang mengambang. Darrel langsung membuka pintu kaca itu dan memeriksa napas Luna. Ternyata gadis itu hanya tertidur karna napasnya ringan dan teratur. Hal ini tentu membuat Darrel merasa lega. Lelaki itu langsung mengangkat tubuh Luna yang basah kuyup keluar dari kamar mandi.
Darrel meletakkan Luna di atas sofa sementara dia langsung keluar dari kamar, menghampiri pelayan yang dia temui untuk meminta tolong menggantikan pakaian Luna yang sudah basah kuyup. Setelah Luna berganti pakaian, Darrel segera memindahkan Luna dari sofa ke kasur lalu menyelimuti gadis itu dengan selimut yang hangat.
Luna masih menggeliat sesekali, namun tak membuat heboh dan tak membuat panik. Mungkin memang itu efek obat yang diminum Luna. Ah, jika saja mereka sudah menikah, akan mudah bagi Darrel untuk 'menolong' Luna. Sungguh, sudah lama dia menantikan adegan seperti itu, namun dia harus menahannya karna dia tak mau Luna 'terluka'.
Darrel menarik sebuah kursi dan duduk di kursi itu, menjaga Luna semalaman untuk memastikan gadis itu baik – baik saja. Pintu kamar tetap Darrel buka agar ornag – orang tak berpikiran buruk tentangnya. Dia tak mau pelayan itu bergosip dan nantinya malah merugikan mereka sendiri.
" Sleep tight sayang. Syukurlah aku masih bisa tahan semua. Lain kali kamu jangan minum yang macam – macam, kalau gak ada aku, kamu pasti udah dimakan sama laki – laki hidung belang itu. Kalau sampai itu terjadi, aku gak akan pernah maafin diri aku sendiri," ujar Darrel yang memegang tangan Luna dan mengelusnya, berusaha sedikit membantu Luna untuk melepaskan sesuatu yang tertahan karna obat itu.
Tak terasa mata Darrel kian memberat dan akhirnya lelaki itu tidur dengan posisi duduk. Kepalanya dia sandankar ke kasur dan tangannya masih menggenggam tangan Luna yang sudah tenang dalam tidurnya.
*
*
" Aaaahhhh!!! Siapa yang gantiin baju Luna? Kenapa Luna pakai baju yang kayak gini? Kenapa Luna udah ada di kamar Luna?!" teriakan demi teriakan itu tentu membuat Darrel merasa tak nyaman. Lelaki itu menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan. Dia menatap Luna yang panik dan menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut. Darrel yang masih setengah sadar hanya melihat tanpa merespon.
" Luna tadi malam minum sirup yang bikin tenggorokan Luna hangat. Terus ada laki – laki yang bilang kalau minumnya dicampur permen rasanya bakal lebih enak, Luna turutin lah, Luna kan gak pernah minum yang seperti itu. Terus Luna gak ingat apa – apa," ujar Luna dengan polosnya.
" Kamu yakin gak ingat apa – pa? coba diingat pelan – pelan, kamu udah ngapain aja ke aku? kamu nyaris ambil kesucian aku loh tadi malam," ujar Darrel dengan nada heboh yang dibuat – buat. Perkataan Darrel tentu membuat Luna bingung. Gadis itu berusaha mengingat apa yang terjadi, namun tetap tak bisa membayangkan apapun.
Hingga sebuah bayangan melintas di kepala Luna. Bayangan apa saja yang sudah dia lakukan selama di mobil dan bahkan saat di kamarnya tadi malam. Pipi gadis itu langsung memerah saat mengingatnya. Dia langsung menutup tubuhnya dengan seimut dan membelakangi Darrel.
" Kamu boleh aja coba minuman begitu, tapi pastikan ada aku. kamu gak pernah minum, minum dikit aja pasti udah ada efek ke kamu. Ini kamu minum berapa gelas? Terus juga, kalau ada orang asing yang nawarin apapun buat kamu makan atau minum, jangan mau. Ini masih obat perangsang, kalau yang dikasih narkoba gimana?"
Luna terdiam karna dia mengaku bahwa dia bersalah untuk hal ini. Dia sendiri sudah setengah mabuk saat menerima tawaran lelaki asing tadi malam. Luna tak bisa membayangkan apa ynag terjadi padanya jika Darrel terlambat menjemputnya. Lelaki itu menyelamatkan kehormatan yang dia lindungi selama ini, jika tak ada Darrel, entahlah apa yang sudah terjadi.
Ponsel Darrel berbunyi setelah dia selesai bicara. Lelaki itu langsung mengangkat panggilan dan tersenyum puas. Ternyata musuh yang bagai kerikil di hidupnya malah menyerahkan diri dan mencari masalah dengannya, membuatnya memiliki alasan untuk menyingkirkan kerikil itu dari dalam hidupnya. Luna yang melihat Darrel tersenyum aneh bahkan sempat merinding.
" Buat dia mengakui perbuatannya. Kalau dia tidak mau mengakui, potong saja kedua tangannya. Kalau dia mengakui perbuatannya, potong salah satu dari sepuluh jari di tangannya agar dia bisa mengingat untuk tidak berperilaku bejat di kemudian hari," ujar Darrel dengan tegas. Lelaki itu mematikan panggilan dan menatap ke arah Luna yang menunggu jawabannya.
" Laki – laki yang bikin kamu kayak gini udah ketangkap. Aku bakal buat dia membayar buat semuanya. Aku gak akan biarin orang yang udah nyakitin kamu hidup dengan normal. Setidaknya dia akan mengingat peristiwa ini dalam hidupnya," ujar Darrel dengan santai. Luna melihat sorot mata Darrel yang snagat tenang, namun malah membuat Luna merasa takut.
" Kak Darrel yang sekarang ini kak Darrel yang sebenarnya? Atau kak Darrel yang marah? Luna takut kak lihatnya," ujar Luna yang membuat Darrel tersadar dan tersenyum hangat. Lelaki itu mengusap kepala Luna yang meringkuk takut, bahkan dia naik ke atas kasur dan memeluk hangat tubuh gadis itu.
" Maaf kalau udah bikin kamu takut. Aku Cuma gak mau ornag yang aku sayang dilukai sama orang gak bermoral kayak gitu. Bahkan kalau bukan kamu, aku tetap melakukan hal yang sama. Aku gak mau orang di sekitar aku terluka," ujar Darrel sambil tersenyum.
Luna terdiam dan menganggukan kepalanya. Gadis itu seolah paham kenapa Darrel bertindak kejam. Membayangkan jari atau tagan lelaki yang jahat padanya harus dipotong. Astaga, membayangkan saja sudah membuat Luna ngilu.
" Kak Darrel, gak bisa ya orangnya dimaafin aja? Kalau kak Darrel balasnya kayak gitu, bukannya dia bakal makin dendam sama kak Darrel? Akhirnya kerikil itu bakal jadi batu besar yang mengnhambat langkah kak Darrel. Lagipula Luna kan gak kenapa – napa kak. Gak usah sampai kayak gitu lah," ujar Luna pelan karna takut meembuat Darrel marah.
" Oke, aku batalin sekarang," ujar Darrel santai dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi orang – orangnya. Lelaki itu langsung membatalkan niatnya dan hanya memberi lelaki itu sedikit pelajaran tanpa menghilangkan organ tubuh lelaki itu. Luna tersenyum karna Darrel masih mempertimbangkan keinginannya untuk mengambil keputusan.
" Eem, Lun, kamu gak mau kayak tadi malam lagi? Kalau kamu minta sekarang, aku bakal turutin apa yang kamu minta loh, gimana?" tanya Darrel yang membuat Luna kembali malu dan teringat kejadian tadi malam. Luna langsung mengerucutkan bibirnya, membuat Darrel tertawa karna gemas.
" Aku turun dulu buatin kamu bubur biar kmu mendingan. Kamu kan udah capek bangettadi malam," ujar Darrel yang membuat Luna memekik dan reflek melempar lelaki itu dengan bantal. Darrel menangkis bantal itu dan tertawa puas melihat Luna yang salah tingkah.
Darrel kembali membawa bubur ayam hangat yang meenggiurkan, cocok untuk Luna yang masih merasa pusing karna terlalu banyak minum tadi malam. Gadis itu langsung menghabiskan bubur ayam yang dibawa oleh Darrel dengan penuh nikmat, sementara Darrel keluar lagi dari dalam kamar Luna, entah pergi kemana.
" Habis makannay selesai, kamu minum obat ini. Ini aspirin biar kepala kamu gak pusing lagi. Habis ini kamu istirahat lagi aja, mau nonton drakor juga boleh. Kamu baik – baik dirumah, aku mau balik dulu," ujar Darrel pelan. Luna bisa melihat lelaki itu tampak lelah dan pucat.
" Kak Darrel tidur di rumah ini aja. Baju – baju kak Darrel kan juga ada di sini. Daripada kak Darrel pulang ke rumah kak Darrel dengan keadaan kayak gini? Malah bahaya Loh kak, Kak Darrel udah pucat banget kayak gini," ujar Luna dengan khawatir. Darrel menggelengkan kepalanya dan memilih untuk pulang ke rumahnya.
Luna pun akhirnya menijinkan Darrel untuk pulang karna lelaki itu memaksa. Darrel langsung pergi dari rumah Luna saat memastikan Luna sudah baik – baik saja. Lelaki itu langsung masuk ke dalam mobilnya dengan keadaan yang pucat.
" Semoga kak Darrel baik – baik aja ya kak, terima kasih udah lindungin Luna."