
Satu minggu berlalu, akhirnya Darrel sudah boleh pulang ke rumah dan lelaki itu memutuskan untuk pergi ke kantor karna dia pasti sudah ketinggalan banyak hal selama sakit. Yah, meski dia diberi liburan oleh Mr. Wilkinson, dia tetap memiliki tugas untuk mengontrol jalannya perusahaan yang ada di Indonesia selama dia ada di sini.
Darrel yakin setelah ini dia akan menetap di Indonesia karna ayah Luna tak akan mengijinkannya bepergian ke negara yang berbeda tiap minggunya dengan kondisi seperti ini. Darrel hanya bisa bersyukur ayah Luna itu tak menelponnya langsung untuk meminta hal ini, mungkin mereka sudah tahu tentang kondisi Darrel namun memilih untuk membiarkannya.
" Kak Darrel mau ke kantor? Kok udah rapi gitu?" tanya seseorang yang meembuat Darrel menengok kaget. Dia selalu mengunci pintu kamarnya, namun orang itu bisa masuk begitu saja ke kamar Darrel. Meski setelah mengetahui 'pelakunya', Darrel hanya mengangguk dan kembali pada dasi yang sedang dia bentuk, orang itu berjalan ke arah Darrel dan mengamati lelaki itu.
" Kak Darrel itu keren loh, kak Darrel bisa mandi dan pakai baju, pakai dasi dan bahkan pindah ke kursi roda sendiri, Luna kalau kambuh aja butuh bantuan pelayan buat itu semua, kak Darrel bisa sendiri. Emang idaman kak Darrel mah," ujar Luna yang membuat Darrel menghentikan aktivitasnya.
" Aku tadi minta bantuan pelayan kok, jadi aku gak idaman ya? Iya aku tahu, makanya kamu putusin aku aja," ujar Darrel dengan datar. Luna bahkan sampai terkejut dan memandang Darrel dengan tatapan tak menyangka. Lelaki itu berusaha mengintimidasi Luna dan membuat gadis itu menyerah, tentu saja Luna tak mau melakukannya.
" Luna gak akan nyerah sama keadaan, Luna bakal yakinin kak Darrel kalau semua akan baik – baik aja. Kak Darrel udah sarapan? Mau Luna buatin bubur ayam?" tanya Luna antusias, membuat Darrel menatap Luna dengan alis yang diangkat sebelah. Luna langsung meletakkan jarinya di mulut Darrel saat tahu apa yang akan Darrel katakan.
" Luna pernah disuruh sama kak Key buat bikin bubur ayam waktu dia ngidam. Kak Darrel udah Luna ceritain belum sih? Belum ya? Pokoknya gitu. Kak Darrel mu gak cobain bubur ayam buatan Luna?" tanya Luna yang diangguki oleh Darrel. Lelaki itu hanya ingin Luna lekas keluar dari kamarnya. Luna yang mendapat persetujuan langsung bersorak dan berlari meninggalkan kamar Darrel.
" Tutup sih pintunya," ujar Darrel pelan yang tentu saja tak bisa didengar oleh Luna. Lelaki itu menyelesaikan urusannya dan mengambil tas yang sudah dia siapkan lalu keluar dari kamar itu dengan sedikit sulit karna kursi roda yang cukup besar sedikit sulit keluar lewat pintu.
Darrel memang tak begitu suka kamar yang ini, namun kamar ini kamar yang paling dekat dengan pintu utama, hingga dia bisa mempersingkat waktu untuk sampai di pintu utama. Lelaki itu hendak keluar dari dalam rumah jika saja dia tak mengingat Luna ada di rumah ini untuk memasakkan makanan.
Lelaki itu langsung mendorong roda di kursi rodanya menuju ke arah dapur. Di sana Luna tampak berantakan dan dapurnya seperti medan perang. Baik meja, lantai dan lemari, semua sudah tak tertata lagi. Darrel langsung menggelengkan kepalanya melihat Luna yang memang tak berbakat untuk melakukan hal ini, namun dia harus mengapresiasi Luna yang mau belajar untuknya.
" Perlu bantuan kah?" tanya Darrel yang membuat Luna terkejut. Luna langsung melambaikan tangannya agar Darrel tak mendekat, dia akan menyelesaikan masakan ini sendiri dan membiarkan Darrel jadi jurinya. Gadis itu akan berusaha keras sambil mengingat langkah membuat bubur ayam yang kala itu dia pelajari. Meski belum cukup lama, Luna sudah mulai melupakan langkahnya.
" Masih lama ya? Aku harus ke kantor loh," ujar Darrel mengingatkan sambil melihat ke arah jam di tangannya. Luna langsung menengok ke arah Darrel dan mengerucutkan bibirnya. Gadis itu mengelap keringat di dahinya dengan tissue dan membuang tissue itu di tempat sampah.
" Jangan bicara seolah kak Darrel itu karyawan biasa yang harus datang ke akntor tepat waktu. Kak Darrel bahkan gak harus kan pergi ke kantor? Kak Darrel kan bisa kerja dari rumah. Mau ketemu siapa memang?" tanya Luna dengan sinis. Darrel menghela napasnya mendengar ocehan Luna.
" Aku tunggu di meja makan aja," ujar Darrel pelan sambil pergi dari sana. Dia tak mau membuat Luna merasa diawasi dan membuat gadis itu grogi, sementara Luna sendiri bahkan tak sadar Darrel telah berjalan pergi karna terlalu fokus pada 'calon bubur' yang ada di panci. Dia harus terus mengaduk agar tidak gosong.
Sepuluh menit kemudian, Luna berhasil menyelesaikan hasil karyanya dengan cantik dan membawa mangkok itu ke meja makan. Darrel bahkan nyaris memejamkan matanya menunggu Luna menyelesaikan pekerjaannya. Namun lelaki itu langsung tersenyum saat Luna kahirnya berhasil menyelesaikannya.
Darrel mengambil sendok dan langsung menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Luna menatap Darrel dengan cemas, bahkan gadis itu tak berani mencicipi bubur tersebut karna takut dengan rasanya. Gadis itu menatap ekspresi Darrel yang langsung mengerutkan alisnya. Lalu mengangguk – angguk, membuat Luna tersenyum bangga dan memiringkan wajahnya dengan wajah yang sumringah.
" Enak kan kak? Ini Luna bikinnya sepenuh hati loh kak, itu sebagai rasa cinta Luna buat kak Darrel, enak banget kan?" tanya Luna dengan bangga. Darrel mengangguk dan meminta Luna mendekat, lalu menyuapi gadis itu dengan bubur yang tadi dia makan. Luna awalnya merasa antusias, namun saat bubur itu menyentuh lidahnya, ekspresi gadis itu langsung berubah.
" Jangan dimakan kak, nanti kak Darrel bisa keracunan, yuck! Asin banget," ujar Luna yang menggelengkan kepalanya dan mengambil mangkok bubur di hadapan Darrel. Lelaki itu tertawa dan membiarkan Luna mengambil mangkok yang dia bawa. Lelaki itu langsung mengambil air putih dan meminumnya untuk menetralkan rasa asin di lidahnya.
" Terima kasih, aku gak nyangka rasa cinta kamu ke aku sebesar itu, garamnya sampai sangat berlebihan gitu," ujar Darrel tersenyum menggoda, membuat Luna berdecak tanpa melihat ke arah lelaki itu, membawa mangkok bubur ke dapur dan kembali secepat mungkin setelahnya. Luna langsung merasa tak enak, dia sudah membuang waktu Darrel dengan percuma.
" Makan di luar aja mau gak ka?" tanya Luna pelan dan takut – takut. Darrel tentu mengangguk, membuat Luna tersenyum senang dan mulai mendorong kuri roda Darrel dengan sabar. Saat ini waktunya bagi Luna menunjukkan pada Darrel bahwa gadis itu tak memandang fisik atau hal semacam itu pada kekasihnya ini.
Mereka mampir di salah satu restoran keluarga yang ada di dekat kantor Darrel. Luna yang dibantu oleh pengawal memindahkan Darrel dari mobil ke kursi roda dan Luna kembali mendorong kursi roda Darrel untuk masuk ke dalam restoran itu. Mereka langsung disambut banyak mata di dalam restoran itu.
Luna tahu Darrel merasa malu dan insecure, namun Luna tak peduli, gadis itu hanya cuek dan mencari tempat duduk kosong lalu duduk di sana. Untung saja meski masih pagi, restoran ini sudah buka hingga mereka tak harus makan di restoran cepat saji yang membuat mereka menimbun lemak jahat di tubuh mereka setelahnya.
" Iya sih ganteng, tapi sayang cacat, kalau gue sih gak mau. Siapa juga yang mau punya suami cacat? Yang ada seumur hidup gue harus ngurus dia, gue harus cari nafkah dan gue gak bahagia di sisa hidup gue," jawab yang lain, Luna langsung menatap ke arah Darrel yang menatap ke ponselnya dengan serius.
Luna kira Darrel tak mendengar, namun dia salah. Dia bisa melihat tangan Darrel gemetar dan dia sedikit meremas ponselnya. Luna yang melihat itu tentu langsung bertindak, dia menggenggam tangan Darrel dan membuat lelaki itu meletakkan ponselnya. Gadis itu mengeluarkan sebuah alat yang bisa menyambungkan dua earphone dalam satu ponsel.
Gadis itu mengeluarkan dua headset dan menancapkannya ke alat yang menyambung ke ponselnya. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Darrel, memasangan headset itu ke telinga Darrel dan kembali duduk. Gadis itu mengangguk – anggukan kepalanya seakan menikmati lagu yang dia putar, namun tidak dengan Darrel, lelaki itu tak bisa mendengar apapun.
Luna tersenyum dan mengetikkan sesuatu ke ponselnya, ternyata gadis itu mengirim pesan pada Darrel. Darrel membca pesan itu dan tersenyum tulus, lelaki itu menganggukkan kepalanya dan mengikuti irama yang sebenarnya tak ada sama sekali. Luna tak menyetel musik apapun pada ponselnya. Gadis itu mengatakan pada Darrel
' Apapun yang terjadi di luar sana, kak Darrel gak perlu peduli. Kalau ada orang yang mengolok – olok, kak Darrel cukup pakai headset ini dan bersikap seolah kak Darrel gak mendengar apapun.' Gadis itu berhasil membuat Darrel terharu, entah siapa yang mengajarkan Luna untuk melakukan ini.
Luna membuka earphonenya terlebih dahulu, membuat Darrel mengikuti gadis itu dan melepas headset yang ada di telinganya. Luna tersenyum senang karna Darrel tak marah ataupun sedih dengan caranya. Gadis itu meminta Darrel mendekat, Darrel mengerutkan keningnya, namun juga mendekatkan wajahnya meski sedikit susah.
" Luna belajar dari drakor 'bermimpi tinggi' di sana tokoh utama ceweknya dibully kak, terus si cowok kasih ide ini ke ceweknya, makanya Luna bisa lakuin ini. Kak Darrel pasti taanya dalam hati kan darimana Luna tahu ide kayak gini?" tanya Luna yang membuat Darrl tertawa, gadis itu berhasil membuatnya trtawa dengan tingkahnya yang tak pernah berubah. Polos dan natural.
Tak lama makanan mereka pun datang dan mereka segera menikmati makanan itu agar mereka bisa segera pergi. Luna sendiri memutuskan untuk ikut ke kantor Darrel, karna dia sama sekali tak pernah tahu bagaimana saat Darrel bekerja. Apakah sama seperti Radith? Ah, mengapa Luna bisa teringat pada Radith?
Mereka masuk kembali ke dalam mobil setelah membayar makanan mereka, bergegas menuju kantor Darrel sebelum jalanan semakin macet. Mereka sampai di kantor cabang yang ada di Jakarta dan Darrel turun dari mobil dengan Luna yang selalu setia ada di belakang lelaki itu, memberi dukungan pada Darrel untuk terus melanjutkan langkahnya.
" Eh? Itu siapa?" tanya Admin yang ada di balik meja pada temannya. Teman Admin itu langsung menengok dan terkejut. Wanita itu segera keluar dari mejanya dan menyambut Darrel dengan sopan. Untung saja dia pernah melihat Darrel sebelumnya, jadi dia bisa bertindak pantas terhadap Darrel. Teman wanita tadi pun melakukan hal yang sama.
" Selamat pagi tuan Darrel Atmaja, bagaimana kabar anda hari ini?" tanya orang itu dengan sopan. Darrel pun menjawab sapaan orang itu dengan sopan dan meminta Luna membawanya ke dalam lift. Mereka saling berpandangan saat mereka menuju lift, untung saja Luna melihat gelagat aneh itu dan dia menghentikan langkahnya.
" Apa ada sesuatu yang salah? Kenapa kalian gelisah gitu?" tanya Luna yang membuat Darrel ikut menengok dan menatap kedua orang di hadapannya dengan wajah yang bertanya. Mereka tampak saling berpandangan dan saling dorong untuk menyampaikan sesuatu, hal itu tentu membuat Darrel merasa tak sabar, dia langsung memberi tatapan tajam.
" Kalau tidak ada yang mau bicara, kalian berdua pergi dari gedung ini sekarang juga," ujar Darrel dengan tegas, membuat Luna sedikit terkejut. Ternyata lelaki itu galak juga jika sedang berada di kantor. Wibawanya sangat menunjukkan bahwa dia adalah bos besar, bahkan yang tak mengenalnya pun akan merasakan aura yang sama meski kondisinya sekarang seperti ini.
" Ru.. ruangan CEO saat ini sudah ditempati oleh Direktur yang baru, dia baru dipindahkan dari kanton pusat tuan." Darrel tentu saja terkejut dengan pernyataan itu, ruangan CEO hanya boleh dipakai olehnya, Jordan dan Mr. Wilkinson, semua orang tahu itu, tapi kenapa tiba – tiba ada yang menempatinya?
" Kenapa seorang direktur berani memakai ruangan CEO? Apa dia tidak merasa puas dengan ruangan direktur? Saya rasa ruangan direktur sudah cukup luas dan juga memiliki ruangan pribadi. Kurang luas pun dia bisa meminta staff merenovasinya, kenapa berani memutuskan untuk memakai ruangan CEO?" tanya Darrel dengan nada menyentak, membuat Luna mengelus pundak lelaki itu untuk menenangkannya.
Darrel tak menunggu dua wanita itu menjawab. Dia meminta Luna untuk segera mengantarkannya ke ruang CEO, namun Luna meminta tolong pada pengawal Darrel karna dia masih mau bertanya pada dua wanita yang tampak ketakutan dan bingung. Luna yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini. Darrel pun setuju dan meninggalkan Luna di sana.
" Maaf nona, kami sudah memberi peringatan pada direktur baru itu. Ta.. Tapi beliau bilang kami tidak boleh membantah. Beliau bilang CEO tidak mungkin datang ke perusahaan ini dan beliau akan menjadikan ruang CEO menjadi ruangannya agar ruangan itu tidak Mubazir. Kami tidak bisa melakukan apapun karna beliau bilang akan memecat kami jika kami membantah."
Luna mengangguk dan berjalan menuju lift untuk menyusul Darrel. Emosi lelaki itu sdang tak stabil, Luna tak mau Darrel emosi dan berdampak buruk pada kondisinya. Dia harus mencegah agar hal yang tak diinginkan terjadi. Gadis itu keluar ke lantai tujuh dan melihat Darrel yang sudah menunggu di luar ruangan.
Tampak seseorang keluar dari dalam ruangan CEO dengan wajah yang tak ramah dan menatap Darrel sebelah mata. Mungkin orang itu tak tahu pangkat Darrel jauh berada di atasnya. Luna mendekat dan langsung terkejut menatap orang yang ada di depannya.
" Karin? Kamu direktur di sini?" tanya Luna dengan cukup keras, membuat Darrel dan Karin langsung menengok ke arah Luna dengan wajah terkejut.