Hopeless

Hopeless
chapt 121



Darrel berjalan dengan senang menuju kamarnya, akhirnya satu masalah besar dalam hidupnya sudah berakhir. Darrel teridam melihat kamarnya yang antah berantah. Darrel keluar lagi dari tempat itu dan memastikan bahwa pintu yang tertulis di pintu adalah " Darel's room"


" Bener Kok kamar gue, tapi kok berantakan ya?" tanya Darrel heran pada dirinya sendiri, lelaki itu berjalan menuju kamar sebelah dan mengetoknya.


" Dar! Dara! Dara! Lo yang berantakin kamar gue?" tanya Darrel sambil menggedor kamar Dara. Tak lama pintu terbuka menampakkan Dara yang memakai handuk di atas kepalanya.


" Apa sih kak? Dara habis mandi," ujar Dara dengan wajah kesalnya. Baru seminggu dia ada di tempat ini, namun dia harus terus melihat pemandangan tak mengenakkan yang ditunjukkan oleh bapak dan anak ini.


" Lo yang berantakin kamar gue? Kok kamar gue berantakan banget?" tanya Darrel menunjuk ke arah kamarnya. Dara membuka mulutnya dan menggeleng.


" Kak Darrel beneran gak ingat?" tanya Dara dengan wajah khawatirnya.


" Ingat apa?" jawab Darrel yang malah baik bertanya.


" Kak Darrel sendiri loh yang berantakin itu semua, tiap malem Dara dengar suara barang pecah sama suara kak Darrel teriak – teriak," ujar Dara menjelaskan yang membuat Darrel malah menjadi bingung. Apakah dia sampai semarah dan sedepresi itu? Astaga.


" Itu juga tangan kenapa sampai kayak gitu bentukannya?" tanya Dara menunjuk lengan Darrel dengan dagunya, Darrel menatap tangannya dan terkekeh sambil menyembunyikan tangannya. Dia tidak mau melepas perban itu meski Luna sudah memaksa tadi.


Luna hanay berniat iseng pada Darrel, dan saat Luna hendak melepaskannya kembali, Darrel malah menolak dengan dalih ingin dimanjakan oleh Luna di kemudian hari. Setelah perdebatan panjang dan tak bermutu, akhirnya Luna menyerah dan membiarkan Darrel melakukan sesukanya, bahkan Darrel juga menyetir mobil sendiri meski tahu bahwa hal itu bahaya.


" Mimpi apa punya kembaran macam kau kak, pokoknya bukan Dara yang berantakin kamar kak Darrel," ujar Dara dengan wajah malasnya, sungguh dia sudah mulai terbiasa dengan drama remaja antara Luna dan Darrel, awalnya memang kaget, namun lama – lama dia biasa saja.


" Tapi masak gue berantakin sampai separah itu sih?"


" Logika aja sih, kamar kak Darrel selalu dikunci dan yang bawa kuncinya Cuma kak Darrel, siapa lagi yang bisa buka kamar kak Darrel?" tanya Dara memegang kepalanya karna Darrel langsung menjadi bodoh.


" Iya juga ya, berarti bener dong gue yang berantakin, gilak, hancur banget kamar gue, Lo mau lihat gak?" tanya Darrel dengan wajah lugunya, Dara terdiam seketika, jika Darrel adalah kulkas berjalan, maka Dara adalah balok kutub selatan, jauh lebih cuek dan dingin.


" Gak usah kak, Makasih," jawab Dara dengan singkat dan langsung menutup pintu kamarnya.


" Ish, dasar. Cewek kok cuek banget, awas Lo ntar jadi Jomblo sampai kiamat, semua juga takut kalau deketin atau mau jadiin Lo pacarnya, seram! Hiii!!" Seru Darrel dengan bibir yang nyaris ditempelkan ke pintu kamar Dara.


~ Brakk


Dan Dara pun menendang pintu itu dari dalam membuat Darrel melonjak kaget dan memegang dadanya yang langsung berdebar kencang.


" Gilak! Punya kembaran satu kok gini amat, hii," ujar lelaki itu menggeleng jijik dan kembali ke kamarnya. Darrel menghela napasnya dan memilih untuk mengambil ponsel.


" Halo, kamar Darrel ancur nih, kirim orang buat beresin kamar ya, Darrel tidur di kamar lain aja," ujar Darrel tanpa mendengar jawaban dari seberang dan langsung mematikan panggilan secara sepihak.


*


*


*


" Sebentar lagi gue tunangan sama Darrel, gue seneng banget karna gue bisa tunangan sama cowok impian gue demi apa deh." Seorang gadis tampak duduk tenang di sebuah sofa dengan ponsel yang dia taruh di meja dan sebuah headset yang menempel pada kupingnya.


" Hahahaha iya Lo beruntung banget, apalagi cowok impian Lo udah ganteng, tajir pula," jawab orang yang ada di seberang sana, mereka tampak terkekeh bersama, sudah lama mereka tak berjumpa karna gadis ini memlih untuk kembali ke kota asalnya dan mencari Darrel.


" Tapi Fer, gimana sama Ando? Kalian kan udah pacaran dan bahkan udah…"


" Lo pikir gue bakal pilih dia kalau gue udah dapat Darrel? Calon Milyader dia coy," ujar Fera terkekeh, orang yang ada di seberang sana tampak ragu, dari wajahnya sangat nampak dia sedang memikirkan sesuatu.


" Emang Darrel mau gitu kalau dia tahu Lo udah punya pacar dan pernah begituan? Apalagi sampai sekarang Aldo masih jadi pacar Lo, Aldo teror gue terus njir, nyariin Lo ada dimana," ujar orang di seberang sana dengan wajah kesal di akhir kalimat, membayangkan dirinya yang selalu dibuntuti oleh lelaki bernama Aldo.


" Dia mah tahunya gue masih polos, alim pula, naif banget sih, tapi keuntungan dong buat gue, hahaha. Pasti dia gak akan menyangka hal itu, dan kalaupun nanti dia tahu, ada lah gue gampang bikin cerita sedih menyayat hati biar dia gak marah dan malah kasihan sama gue," ujar Fera mengibaskan rambutnya dan tertawa.


" Parah Lo, tapi yaudah deh gue dukung Lo aja, masalah Aldo gak usah khawatir, ntar gue aja yang nahan dia disini," ujar gadis itu pasrah dan setuju, Fera pun mengangguk dan mematikan sambungan telponnya. Dia berjalan menuju kamarnya untuk mempersiapkan diri karna hari ini dia akan pergi bersama Dara untuk perawatan.


Yah, orang yang mendukung hubungannya dengan Darrel adalah Dara, gadis itu hanya menuruti apa yang ada di depannya tanpa protes, sungguh seperti air yang mengalir, jika dibutuhkan, Fera bisa memanfaatkan Dara suatu hari nanti.


Sementara itu di tempat lain, Darrel tampak terkejut dan marah karna pertunangan yang direncakan akan dilaksanakan satu bulan lagi dipercepat menjadi akhir minggu ini karna semua persiapan sudah selesai dan ayah Fera berkata tak perlu ditunda lagi.


" Lo tahu kan kalau gue tunangan? Pertunangan itu dipercepat dan sekarang gue pusing banget. Hubungan gue sama Luna udah membaik, tapi malah ada masalah kayak gini, pusin gue Ngga," ujar Darrel memijit pelipisnya, mengapa amsalah terus datang diantara mereka?


" Kenapa gak Lo minta sendiri ke Fera sih? Kalau dia beneran sayang atau apalah itu pasti dia mau lepasin Lo di saat dia tahu Lo gak suka lagi sama dia," ujar Angga ikut gemas dan emosi dengan gadis bernama Fera ini, membuat hidup tenangnya menjadi riwuh karna Darrel yang berubah drastis.


" Lo pikir gue gak ngelakuin hal itu? Gue udah lakuin semua njir, tapi dia yang gak mau, sekarang gue harus gimana dong? Mana bokap gak mau tahu dan biarin gue urus semua sendiri," ujar Darrel dengan murung.


" Perlu gue bunuh kah dia? Terserah Lo deh mau cara halus atau kasar, gue jamin dia mati seketika," ujar Angga memberi tawaran, dia mudah melakukan gal itu dan Darrel pasti tahu, hahaha.


" Gila Lo, jangan sampai bunuh bunuhan lah njir, gue gak mau ah mengotori tangan gue lagi, gak tahu deh dosa gue sama Lo masalah bunuh bunuh ini udah seberapa," ujar Darrel terkekeh dan menggeleng, Angga pun hanya terkekeh menanggapi Darrel.


" Gue ada ide lain Rel, gimana kalau kita cari cara buat ke tempat selama ini dia tinggal. Maksud gue ke kota dia tinggal dan cari apapun yang bisa dijadiin alasan pertunangan kalian batal, memang bakal agak susah, tapi daripada engga sama sekali kan, gue rasa itu satu – satunya cara," ujar Angga dengan wajah serius.


Darrel tampak berpikir dan menimbang apa yang disampaikan oleh Angga, apakah dengan waktu seminggu mereka bisa menadapatkan bukti? Lantas bagaimana kalau mereka tak menemukan apapun dan hidup Fera lurus lurus saja, mereka akan melakukan hal yang sia sia dan membuang waktu.


Keraguan Darrel mendominasi, namun semua berubah saat seseorang masuk ke dalam café itu dan mendekat ke arah mereka. Tampak Darrel dan Angga terkejut dengan kehadiran orang itu, terutama Angga karna dia pun belum tahu kalau orang ini memiliki hubungan khusus dengan Darrel.


" Dara, Lo kok di sini? Mau ketemu gue ya? Astaga, atau Lo mau ketemu Darrel? Jangan dekat – dekat sama Darrel, Dar. Dia udah pusing ada masalah sama dua cewek, mana yang satu gia pula, Lo gak mau kan malah jadi istri ketiganya?"


~ ctaakkk


" Kalau ngomong jangan sembarangan, Dara ini kembaran gue,mana mungkin jadi istri gue, gila aja Lo," ujar Darrel setelah memukul Angga dengan tempat tissue yang ada di depannya. Pernyataan Darrel kembali membuat Angga terkejut dan hendak membuka suara.


" gak usah banyak tanya dulu, ntar lain waktu gue jelasin semua ke Lo sampai ke akar – akarnya," ujar Darrel saat Angga membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu.


" Lo tahu darimana gue disini?" tanya Darrel pada Dara yang sedari tadi diam. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan tampilan GPS.


" Dara ngelacak nomor ponsel kak Darrel, gak usah se kuno itu deh, ponsel sekarang canggih dan bisa lakuin itu kak, hahahha," ujar Dara dengan wajah dinginnya, bahkan Angga sampai terkejut akrna ada yang berani sepedas itu pada Darrel dan Darrel tak mampu mengatakn apapun.


" Dara kesini mau ngasihin ini," ujar Dara membuka buka ponselnya dan menunjukkan sebuah Video. Angga dan Darrel langsung mendekat untuk melihat isi Video itu.


" Emang Darrel mau gitu kalau dia tahu Lo udah punya pacar dan pernah begituan? Apalagi sampai sekarang Aldo masih jadi pacar Lo, Aldo teror gue terus njir, nyariin Lo ada dimana,"


" Dia mah tahunya gue masih polos, alim pula, naif banget sih, tapi keuntungan dong buat gue, hahaha. Pasti dia gak akan menyangka hal itu, dan kalaupun nanti dia tahu, ada lah gue gampang bikin cerita sedih menyayat hati biar dia gak marah dan malah kasihan sama gue,"


" Parah Lo, tapi yaudah deh gue dukung Lo aja, masalah Aldo gak usah khawatir, ntar gue aja yang nahan dia disini,"


" Tadi Dara ke rumah Fera mau karna dia ngajakin Dara buat perawatan, tapi waktu Dara masuk, dia lagi telponan sama orang, Dara langsung aja rekam tanpa dia tahu. Awalnya Dara gak tahu bakal dapat bukti kayak gini, tapi ternyata ada untungnya juga kan," ujar Dara mengangkat ponselnya ke atas.


Darrel langsung mengepalkan tangannnya dan nyaris membanting ponsel Dara jika tak segera direbut oleh gadis itu. Angga bahkan ikut emosi dan tak menyangka semua ini. Darrel sampai tertipu dan nyaris ragu pada perasaannya, untung hatinya memilih Lunetta, atau dia akan menyesali hal ini seumur hidupnya.


" Apa rencana Lo selanjutnya?" tanya Angga pada Darrel, dia ingin tahu apa yang ada di pikiran Darrel, begitu pula Dara.


" Gue bakal jadiin ini bukti buat batalin pertunangan gue sama Fera," ujar Darrel menyampaikani denya, Dara menghela napasnya lelah, merasa malu menjadi kembaran Darrel yang sepertinya saja pintar, namun dia memiliki pikiran yang pendek jika panik dan tergesa gesa.


" Kalau Dara jadi kak Darrel, Dara lebih milih buat cari lelaki bernama Aldo dan paksa dia buat jadi saksi, kalau video mah blum akurat kak," ujar Dara menyampaikan apa yang ada di benakknya.


" Kok Lo daritadi panggil Darrel kak sih? Kalian kn seumuran," ujar Angga yang merasa tak nyaman karna Dara terus memanggil Darrel kak. Gadis itu menggeleng polos sebagai jawaban.


" Dara sama Kak Darrel beda lima menit lebih tua kak Darrel, jadi Dara lebih muda dan panggil kak Darrel itu kak," jawab Dara dengan polos, Angga sampai menganga dan tak menyangka hal itu yang menjadi alasan. Bahkan dia dan Darrel berbeda lima bulan lebih tua Darrel, namun dia tak sudi memanggil Darrel kak dan menganggap mereka seumuran.


" Tapi apa kita bisa temuin lelaki yang namanya Aldo itu?" kalau gak berhasil ketemu gimana dong?" tanya Darrel dengan wajah bingungnya.


" apa hal itu mungkin? Tinggal suruh aja intel yang kita punya buat lacak dan cari Aldo, kalau masih susah kita minta bantuan intelnya keluarga Wilkinson, gak ada waktu satu jam pasti ketangkap tuh cowok yang namanya Aldo," ujar Dara kembali memberikan usulnya di saat Darrel tidak bisa diandalkan.


" Wah, Lo cerdas banget ya ternyata. Rel, kalau gue jadi adik ipar Lo, Lo iklas kan?" tanya Angga yang tak tahu situasi, Darrel hanya mengangguk - angguk , bukan membenarkan Angga, namun membenarkan apa yang dikatakan Dara. Namun nampaknya Angga salah paham dan malah memasang wajah gembira karna merasa direstui oleh Darrel.


" Makasih ya Rel, Lo emang sahabat gue. Dara, tunggu abang ya neng," ujar Angga dengan genit membuat Dara memasang wajah jijiknya dan menatap ke arah Angga.


" Kalau gitu kita harus segera bertindak, gue gak mau lama – alam dan tolong amsalah ini cukup kita bertiga yang tahu," ujar Darrel mengabaikan apa yang Angga katakan dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Sementara Angga menumpukan kedua tangan ke dagu dan menatap Dara, dan Dara yang tetap setia dengan wajah dinginnya pada Angga.