
Semua pesta berakhir. Luna kembali ke kamarnya untuk tidur, tentu saja setelah minum obatnya. Gadis itu merapikan selimutnya dan menutup gorden yang ternyata dia biarkan terbuka. Gadis itu menyetel pendingin ruangan dan langsung tidur setelah membersihkan mukanya.
Tak ada skincare di kulitnya, karna yang dia tahu, kulit akan meregenerasi dengan sendirinya saat kita tertidur, meski sebenarnya itu hanya alibi untuk Luna yang malas.
Rasanya baru sebentar dia memejamkan mata, namun nyatanya mentari sangat mencintainya dan menyapa serta memaksanya untuk membuka mata meski dia sangat malas untuk melakukannya.
Gadis itu menatap matahari dengan mata yang setengah terbuka. Jika oleh, dia ingin melanjutkan tidurnya lagi, namun dia harus bersekolah dan harus bersiap jika tak ingin terlambat.
" Duh, kembarannya Radith. Radith aja dingin banget, kok Lo panas banget sih, silau lagi. Gue kan jadi gak bisa tidur lagi," ujar Luna sambil menyibakkan selimut yang menutupi kakinya. Gadis itu hendak turun dari kasur, namun kakinya kembali tak bsia digerakkan. Seketika Luna elihat jam yang ada di nakas.
" Belum telat sarapan, tapi kok gak bisa digerakin ya?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi Jordan, meminta lelaki itu mengantarkan sarapannya ke kamar karna dia tak bisa menggerakkan kakinya. Makin lama gadis itu makin terbiasa dengan keadaan ini dan memilih untuk menjalaninya dibanding terus mengeluh.
Jordan datang ke dalam kamar Luna, namun tak membawa sarapan seperti yang Luna minta. Lelaki itu langsung mengangkat tubuh Luna dan membawa Luna keluar kamar. Hal itu tentu membuat Luna jadi terkejut dan tak mengira Jordan memilih membawanya ke meja makan dibanding membawa makan ke kamarnya.
" Kita ke rumah sakit sekarang, harusnya kamu gak kambuh karna kamu gak kecapekan, kamu gak banyak pikiran dan kamu gak telat minum obat," ujar Jordan dengan sedikit lemas. Sebenarnya dia masih mengantuk dan bahkan masih memejamkan mata saat Luna mengiriminya pesan.
Luna baru menaydari Jordan masih memakai pakaian tidurnya dan langsung membawa Luna ke lantai satu tanpa mengganti pakaiannya. Lelaki itu membawa Luna ke mobil dan memasukkan gadis itu, sementara dia duduk di sebelah Luna di bangku belakang. Jordan memilih untuk menggunakan supir dibanding menyetir dengan keadaan seperti ini.
Jordan kembali memejamkan matanya dan menyender di pundak luna yang senang hati menerima kepala lelaki itu sambil mengelusnya pelan. Luna yakin abangnya tidak tidur semalaman karna urusan perusahaan dan kuliah yang tidak bisa dia tunda. Lelaki itu berencana menunda kuliahnya dan tetap berada di Indonesia. Hal yang sebenarnya dilarang oleh Luna, namun lelaki itu tetap ingin tinggal di Indonesia.
Mereka sampai ke rumah sakit dan Jordan kembali menggendong Luna untuk bertemu dengan dokter yang khusus menangani Luna. Dokter itu sudah diminta oleh Mr. Wilkinson menjadikan Luna prioritasnya dan harus memiliki waktu untuk gadis itu. Mereka langsung masuk ke ruang dokter itu dan Jordan mendudukkan Luna di sofa yang ada di sana.
" Dokter, maaf kami kemari masih memakai baju tidur. Pagi ini Luna kembali tidak bisa menggerakkan kakinya, saya takut terjadi apa – apa dengan kaki Luna. Makanya saya langsung bawa kemari, maaf ya dok," ujar Jordan yang sebenarnya tak enak 'bertamu' dengan pakaian seperti ini.
" Hahaha, tidak apa – apa, saya mengerti. Asal kamu masih memakai baju juga bagi saya tidak masalah. Jadi Luna, kaki kamu bener – bener gak bisa digerakkan lagi?" tanya Dokter itu sambil berjongkok dan memegang kaki Luna. Gadis itu menggeleng tenang, seolah hal itu bukan perkara yag besar.
" Kapan terakhir kali kaki kamu gak bisa digerakkan sebelum ini?" tanya dokter itu dengan wajah yang serius. Luna tampak mengingat – ingat kapan terakhir kali dia tak bisa menggerakkan kakinya, dan akhirnya dia menjawab saat dia bersama Darrel tempo hari. Dokter itu tampak kaget dengan jawaban Luna, membuat Luna yakin hal itu bukan hal baik.
" Saya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut jika sudah seperti ini, saya tidak berani menyimpulkan sendiri, seharusnya kamu langsung ke rumah sakit jika kaki kamu tidak bisa digerakkan, saya takut saraf kamu tiba – tiba tidak berfungsi dan kamu akan lumpuh permanen. Sebentar, saya akan menghubungi bagian saraf untuk menyiapkan pemeriksaan."
Penjelasan yang dokter berikan membuat Luna terdiam, sepertinya Luna terlalu menyepelekan penyakit ini. Dia kira saat dia tak bisa menggerakkan kakinya, kakinya kembali dalam kondisi normal dan tidak berpengaruh sama sekali di kemudian hari. Padahal belakangan kakinya memang sering kambuh meski hanya sebentar.
Setelah Luna melakukan serangkaian pemeriksaan yang rumit dan tak dia mengerti, gadis itu duduk di kursi roda dan kemudian Jordan mendorongnya lagi menuju ruangan dokter. Wajah Jordan tamapk tegang, apalagi dia melihat dokter saraf tidak menunjukkan wajah puas dengan hasil pemeriksaan. Lelaki itu takut hasilnya akan membuat Luna atau dirinya kecewa.
" Maaf karna saya harus mengatakan hal ini. Menurut dokter saraf, saraf kaki Luna sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Kedepannya Luna harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Tapi tidak menutup kemungkinan Luna bisa berjalan lagi, Luna akan menjalani terapi yang membantunya menyembuhkan kelumpuhan ini. Saya harap Luna tidak patah semangat dan terus berjuang untuk pulih."
" Tapi dok, dokter bilang kalau Luna akan baik – baik saja. Saya juga lihat di google kalau penderita Ataksia akan mengalami kelumpuhan paling tidak sepuluh tahun setelah diagnosis, Dokter. Tapi kenapa adik saya mengalami hal itu kurang dari satu tahun dok?" tanya Jordan yang tak mengerti dan tak terima dengan kenyataan yang dia dapat.
" Hal itu di luar kemampuan saya. Memang pada umumnya penderita ataksia akan mengalami kelumpuhan paling tidak sepuluh tahun setelah diagnosis, namun ada beberapa khasus dimana kelumpuhan itu lebih dini datang. Justru kondisi seperti ini yang harus diteliti lebih lanjut karna kondisi yang terjadi pada Luna ini sangat jarang ditemukan."
Luna masih terdiam dan tidak bereaksi apapun. Memang apa yang bisa dia lakukan? Protes dengan semua hasilnya? Nyatanya memang hasil itu benar. Dia mengalami kelumpuhan.
Entah mengapa hal itu membuatnya sangat hancur, namun dia tak mau menunjukkan perasaannya di hadapan Jordan, dia tak ingin membuat Jordan tambah khawatir dengan dirinya.
" Abang, udah. Luna gak papa, lagi pula kata dokter kan Luna masih bisa jalan lagi kalau Luna rajin terapi. Luna bakal lakuin itu kok, abang tenang aja ya," ujar Luna yang mencoba menyembunyikan perasaannya sebaik mungkin. Namun mata yang memerah itu tak bisa membohongi Jordan.
" Maaf, maafin abang yang gak bisa jaga kamu dengan baik. Maafin abang yang gak bisa mencegah kamu merasakan semua hal ini. Kamu gak boleh patah semangat ya, bahkan jika kemungkinan untuk sembuh adalah 0,1 persen, abang bakal tetap cari cara untuk mewujudkan kemungkinan itu. Kamu percaya kan sama abang?" tanya Jordan yang diangguki oleh Luna. Gadis itu mengusap matanya dan menarik napas berkali – kali.
" Semangat Lunetta," ujar Luna dengan lirih sambil memandang kakinya yang kini tak bisa lagi untuk dia gerakkan entah sampai kapan. Dia sama sekali tak menyangka hal ini sangat cepat terjadi padanya. Seperti Jordan, dia mengira akan mengalami kelumpuhan belasan atau bahkan puluhan tahun yang akan datang.
Luna memasuki rumahnya dan diiringi tatapan kasihan oleh pelayan yang ada di rumahnya. Entah mengapa Luna membenci tatapan kasihan yang mereka berikan, Luna tak menyukai ada seseorang yang menaruh belas kasihan padanya, serasa dia sangat menyedihkan dan butuh dikasihani.
Ternyata apa yang dilihat dan dirasakan Luna bisa sampai pada Jordan. Lelaki itu mendorong kursi roda Luna ke arah pelayan yang kini menunduk dan menunggu mereka lewat. Namun Jordan tak langsung melewati mereka, Jordan berhenti dan meminta orang itu menatap ke arah Luna.
" Kamu lihat adik saya? Kamu Lihat Luna sekarang . Apa yang kamu rasakan?" tanya Jordan dengan nada tenang, pelayan itu tampak terkejut dengan pertanyaan Jordan. Dia bingung harus menjawab apa, dia kembali memandang Luna yang masih duduk di kursi roda tanpa memandang ke arahnya, pelayan itu menghela napas dan menatap Jordan.
" Saya merasa kasihan pada nona Lunetta tuan muda, di usia yang masih muda harus mengalami hal seperti ini, saya turut prihatin tuan muda." Jawaban itu membuat Jordan tersenyum hangat dan mengangguk. Wanita itu bernapas lega karna Jordan suka dengan jawabannya, dia akan mendapat posisi yang enak jika sampai anggota keluarga ini ada yang notice padanya.
" Jawaban yang bagus, saya jadi yakin untuk memecat kamu. Mulai hari ini kamu dipecat, silakan pergi dari rumah ini saat ini juga. Satu hal yang perlu kamu ingat, adik saya tidak butuh rasa kasihan kamu, dia bahkan hidup jauh lebih baik dibanding kamu. Kamu sudah memandang adik saya dengan kesedihan, kamu tidak layak bekerja di sini."
Pelayan itu tampak melongo dan bahkan membuka mulutnya sempurna. Bahkan luna sampai kaget dengan apa yang Jordan katakan. Luna hendak menjawab dan meminta Jordan untuk membatalkan niatnya, bagi Luna hal itu berlebihan. Namun Jordan menatapnya tajam dan meminta Luna tidak berkomentar.
" kamu tahu abang gak bisa nolak permintaan kamu. Tapi tolong, untuk kali ini abang gak bisa, sekarang kita ke kamar kamu," ujar Jordan tak mau tahu dan mendorong kursi roda menjauh, sementara satu pengawal mengiring pelayan itu menuju ke kamarnya agar lekas meninggalkan rumah ini. Tentu pelayan itu masih tak menyangka dan bingung dengan apa yang terjadi, ternyata Jordan jauh lebih menyeramkan dari apa yang dia bayangkan.
" Maaf abang gak bisa temenin kamu setelah ini, Abang udah tanya Darrel, dia bisa temenin kamu sekarang, abang harus berangkat ke bogor setelah ini. Kamu gak papa kan?" tanya Jordan yang diangguki oleh Luna.
" Luna Cuma lumpuh sementara kan bang? Luna bakal bisa jalan lagi kan bang? Luna gak mau dikasihani sama orang lain bang, Luna gak suka ornag – orang natap Luna dengan kepedihan, Luna gak suka," ujar Luna dengan tatapan sedih. Jordan mengacak rambut Luna dengan penuh kasih sayang.
" Kamu bukan orang yang harus dikasihani. Kamu kan adik abang, kuat, kaya raya, punya segalanya, harusnya mereka yang kasihan karna gak bisa seperti kamu. Kalau ada yang mandang kamu kayak gitu lagi, bilang sama abang, abang bakal buat dia tahu apa makna kasihan dan dikasihani." Luna tertawa dan mengangguk percaya, dia percaya Jordan mampu melakukan semua itu.
Tak lama kemudian Darrel masuk ke kamar Luna, menggantikan Jordan yang memang harus segera pergi, bahkan lelaki itu berangkat tanpa mengganti pakaiannya , semua keperluannya sudah disiapkan oleh asisten dan dia akan bersiap selama perjalanan saja untuk menghemat waktu.
" Permintaan ke empat kamu?" tanya Darrel setelah mereka berbasa – basi untuk sejenak. Darrel tidak membahas kelumpuhan Luna sama sekali, dia sadar hal itu akan membuat Luna bertambah sedih, dia memilih untuk memberi Luna kebahagiaan agar gadis itu bisa melupakan kondisinya. Apapun akan dia lakukan agar Luna bisa kembali tersenyum dengan tulus.
" Luna mau ke pantai, berdua aja sama kak Darrel," ujar Luna yang disetujui oleh Darrel. Darrel menyiapkan baju ganti dan celana ganti untuk Luna. Lelaki itu tak berani membuka lemari khusus pakaian dalam gadis itu, biar pelayan yang menyiapkan hal itu. Darrel juga menyiapkan obat yang harus diminum Luna, dia tak mau kondisi Luna memburuk jika dia terlambat meminum obatnya.
Mereka segera berangkat menuju pantai terdekat dari sana. Luna tahu Darrel harus ijin dari sekolah saat Jordan menelponnya, sebenarnya Luna tak enak pada Darrel, mengingat sebentar lagi lelaki itu harus menghadapi Ujian, namun dia malah harus membuang waktunya untuk Luna, namun jika Luna mengatakan hal ini pada Darrel lelaki itu akan mengatakan 'kamu prioritas aku.'. hal itu akan membuat Luna semakin tak enak pada Darrel.
" Kenapa kamu suka laut dan pantai sih? Perasaan kamu sering minta ke tempat seperti ini," ujar Darrel sambil mengeluarkan kursi Roda dan membantu Luna duduk di kursi Roda itu. Mereka berjalan menyusuri pantai yang sepi karna bukan waktu liburan.
" Luna gak tahu, pantai itu menenangkan, seakan semua pikiran suntuk Luna ikut hanyut dengan ombak yang kembali ke laut. Angin membawa semua pikiran buruk Luna pergi, dan Luna rasa Luna butuh semua itu kak," ujar Luna sambil menutup matanya. Membiarkan rambutnya menutupi wajah angin karna angin yang berhembus.
" Sayang, aku tahu aku gak seharusnya bilang ini ke kamu karna aku gak tahu rasanya di posisi kamu. Tapi aku mau bilang, kamu kuat, kamu bisa bertahan dan kamu harus bisa terima semua tanpa menyerah dan pasrah. Kamu harus tahu, aku akan selalu ada di dekat kamu untuk support semua tentang kamu."
" Kak, Luna takut kak, Luna sangat takut. Apalagi Luna udah gak bisa sekolah lagi untuk sementara. Mungkin setelah ini Luna bakal home schooling, jadi gak begitu masalah. Tapi tetep aja Luna takut, Luna takut tentang banyak hal. Semua hal buruk terus berputar di pikiran Luna."
Gadis itu tak menangis, gadis itu memandang laut yang luas dengan pandangan kosong, gadis itu akhirnya mengeluarkan uneg – unegnya pada Darrel, entah mengapa lelaki itu membawa ketenangan bagi Luna.
Darrel berjongkok dan menatap ke arah Mata Luna, meminta gadis itu menatap lurus ke arah matanya. Lelaki itu mengambil kedua tangan Luna dan menciumnya. Sedikit menarik kepala Luna mendekat dan dia berjinjit untuk mengecup singkat dahi gadis itu.
" Semua ketakutan itu wajar. Setiap manusia pasti memiliki masa untuk merasakan katakutan. Tapi satu yang harus kamu tahu, banyak yang support kamu, jika kamu merasa gelap, banyak yang membawa cahaya untuk menerangi hari kamu. Kamu gak sendirian, ada aku, ada bang Jordan dan ada banyak orang yang selalu stay di sekeliling kamu."
" Menjaga kamu, menemani kamu, dan memastikan kamu hidup bahagia. Aku pastikan, aku akan melakukan hal itu."