
Luna duduk di kursinya saat sudah mengemasi barang barangnya. Gadis itu segera mengambil ponsel dan mengabari Darrel dia tidak bisa ikut rapat rutin hari ini.
Dia mengirim pesan melalui nomor pribadi Darrel, tampak Darrel membaca pesannya tanpa berniat membalas, membuat Luna menghela nafas dan akhirnya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Gadis itu berjalan menuju parkiran dimana teman satu kelompok sudah menunggunya, semoga saja dia bisa satu motor dengan Gio atau Aldi. Kalau sampai dia bersama Radith, mungkin saja malah membuat Darrel lebih salah paham kepadanya.
" Lun, Lo sama Radith ya," ujar Aldi yang sudah naik ke motor Gio, membuat Luna menghela napas dan mengangguk lesu.
Entah mengapa apa yang menjadi permintaannya sulit sekali terkabul belakangan ini. Padahal dia selalu mendapat apa yang dia harapkan dan dia mau selama ini.
Luna naik ke motor Radith dan mereka segera meninggalkan Sekolah sebelum ada guru yang menyadari mereka. Siswa yang diperbolehkan untuk membawa motor adalah mereka yang sudah memiliki Surat Ijin Mengemudi, sementara umur mereka saja masih 15 dan 16 tahun.
Gadis itu sedikit membeku melihat pemandangan di depan gerbang. Dilihatnya Darrel yang sedang membeli jajanan bersama dengan salah satu anak OSIS yang satu angkatan dengan lelaki itu.
Ingin rasanya Luna memaki dan menghampiri Darrel, namun pandangan mata lelaki itu membuat Luna mengurungkan niatnya.
Darrel melihat Luna yang duduk di jok belakang motor Radith, jika Luna marah pada Darrel, tentu Darrel akan jauh lebih marah padanya. Luna hanya membiarkan Darrel seolah tak melihat lelaki itu.
Namun matanya tetap mengawasi Darrel yang bersenda gurau dengan lelaki itu sampai akhirnya Radith melajukan motornya saat jalanan lenggang dan meninggalkan sekolah.
" Lo gak marah atau negur pacar Lo?" tanya gadis yang ada di sebelah Darrel. Lelaki itu hanya menggeleng sebagai jawaban dan mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam sekolah karena rapat akan segera dimulai.
*
" Cari makan dulu yuk, udah lapar banget nih gue," ujar Aldi dari atas motor, saat ini mereka sedang menunggu lampu lalulintas berubah warna menjadi hijau.
" Yaudah, gue ngikut aja," ujar Radith yang membuka kaca helmnya. Aldi dan Gio mengangguk dan mulai menjalankan motornya setelah lampu berubah warna menjadi hijau.
Motor Gio berbelok ke salah satu rumah makan padang diikuti oleh Radith yang membonceng Luna. Mereka segera turun dan masuk ke rumah makan itu.
" Ambil nasi sendiri?" tanya Luna dengan bingung, baru kali ini dia berada di tempat makan yang prasmanan seperti ini.
" Iyalah, ambil sendiri, nasinya sebebasnya, lauknya murah murah," jawab Radith menjelaskan agar Luna paham.
" Namanya juga padang murah, pasti murah semua lah menunya," sahut Gio yang ada di depan Radith. Luna hanya mengangguk angguk paham dan mulai menyendok nasi kemudian memaindahkannya ke piringnya.
Gadis itu meminta lauk ikan goreng dengan kuah saos padang, serta telur dadar besar yang menggiurkan. Luna bahkan sampai melongo mengetahui harga lauknya sangat murah.
Mereka mencari meja kosong dan segera menyantap makanan mereka, Luna tak henti tersenyum san menikmati setiap sendok makanan yang masuk ke mulutnya.
" Lo gak pernah makan kayak gini ya?" tanya Aldi yang heran melihat ekspresi berlebihan yang Luna tunjukkan.
" Hmmm, enak, murah lagi. Baru tahu gue di Ibu kota kayak gini ada makanan macam ini," ujar Luna yang kemudian menyendokkan makanan ke mulutnya lagi.
" Makanya Lo main yang jauh, main Lo cuma sebatas halaman depan rumah sih," ujar Gio menyahuti Luna.
" Main gue biasanya kalau gak ke singapore ya ke Ausie, dan disana gak ada makanan kayak gini," ujar Luna dengan santai, membuat ketiga orang disana menggeleng dramatis.
" Mainnya orang kaya beda ya, gue main ke tugu Monas aja udah kegirangan selfie sana sini," gumam Gio yang mendapat lirikan dari Radith.
" Lo nya aja yang kampungan kalau itu, cowok kok isi galerinya selfie semua," ujar Radith mengejek Gio.
" Daripada Lo isi galerinya biru semua," ujar Gio yang tidak terima diejek oleh Radith.
Aldi dan Radith tertawa menanggapi sahutan Gio, sementara Luna mengernyitkan dahinya karena tidak paham apa yang Gio katakan.
" Biru semua itu yang gimana?" tanya Luna dengan wajah polosnya, membuat Gio tersenyum iblis meski sedikit.
" Film biru, Radith kan koleksi tuh," ujar Gio yang dihadiahi tabokan dari Radith.
" Mulut Lo sembarangan," jawab Radith dengan kesal, Luna itu bodoh, bagaimana jika dia menganggapnya serius dan menanyakan hal itu pada Jordan? Bisa habis urat malunya.
" Memang film biru itu apa?" tanya Luna yang masih tidak tahu arti kata itu.
" Film yang layarnya biru semua," ujar Radith asal agar Gio tidak menjawab duluan.
" Bohong Lun, film biru tuh..."
Gio menggantungkan kata katanya saat melihat Radith yang menatapnya galak, seakan mengancam bila Gio berani bicara lagi, dia akan mati.
" Film yang pemainnya biru semua," ujar Gio sambil menggaruk lehernya.
" Ooohh, kayak Avatar yang biru biru itu ya?" tanya Luna dengan antusias, gadis itu mengangguk paham saat ketiga pria di depannya membenarkan perkataannya.
" Gilak, polos banget nih cewek, ramein aja gimana?" Usul Aldi dengan ngawur, membuat Radith menatapnya tak suka, jangan ajari Luna kata kata baru yang seperti itu, tolonglah.
" Kalau ngomong yang bener sat! Luna itu bego, dia bakal rekam apa yang Lo bilang. Gak usah aneh aneh anjir," ujar Radith yang membuat Luna cemberut sementara Aldi dan Gio tertawa ngakak.
" Ayo buruan selesaiin makannya, keburu sore ntar susah lagi," ujar Gio setelah melihat jam di tangannya.
Mereka segera meninggalkan tempat itu, tak lupa membayar makanan mereka tentunya. Ke empat anak itu segera naik ke atas motor dan pergi ke tempat yang sudah direncanakan akan mereka tuju.
" Lun, Lo udah bawa nota yang waktu itu kan?" tanya Radith saat mereka sampai di tempat penjualan kain. Mereka sudah pernah membeli kain disini, namun karena barang kosong, mereka hanya diberi nota dan harus kembali untuk menukar Nota dengan kain tersebut.
Luna mendelik dan menepuk jidatnya, membuat Radith yakin Luna lupa tidak membawa nota tersebut.
" Kenapa? Luna lupa gak bawa nota?" tanya Gio menebak ekspresi wajah Luna, membuat Luna mengangguk dan merasa bersalah.
" Sia sia kita kesini dong njir, Lo gimana sih Lun?" tanya Aldi dengan kesal, jarak sekolah ke tempat ini cukup jauh, dan kini mereka hanya melakukan hal yang sia sia.
" Kebiasaan Lo tuh nyusahin tau gak," ujar Radith dengan kesal. Membuat Luna menjadi sedih dan semakin merasa bersalah.
" Udah udah, Lo telpon orang rumah, suruh bawa nota kesini, buruan keburu sore," ujar Gio setelah melihat kekesalan Radith.
Luna mengangguk dan segera menelpon orang rumahnya, meminta orang rumah itu membawakan nota yang ketinggalan.
Luna segera menuju bagian kasir dan menanyakan ketersediaan kain yang hendak mereka beli, dan setelah memastikan kain tersebut tersedia, Luna mengeluarkan debit card miliknya dan membeli kain tersebut karena akan memakan waktu lama untuk menunggu orang rumahnya mencari nota yang dia sendiri Lupa ada dimana.
" Lo beli lagi? gilak, harganya gak murah Loh," ujar Gio yang kaget dengan apa yang Luna lakukan.
" Yah, sebagai bagian dari tanggung jawab gue aja, gue juga lupa notanya ada dimana, kalau ketemu tinggal gue tuker dan gue manfaatin buat hal lain," jawab Luna dengan enteng.
" Dasar anak orang kaya, gak ngerti susahnya nyari uang, sembrono kok dipelihara," gumam Radith pelan dengan pedas. Meski pelan, Radith memastikan Luna bisa mendengar apa yang dia katakan.
Mereka segera menuju penjahit yang kala itu mereka ajak bekerja sama, mengingat hari sudah mulai gelap, mereka tidak boleh membuang - buang waktu lagi.
" Bisa dijelaskan lagi maksud desain yang kalian inginkan?" tanya penjahit itu saat melihat gambar rancu yang mereka bawa.
Radith mengambil alih dan menjelaskan secara rinci yang mereka inginkan, sementara penjahit itu mengangguk dan mulai menggambar ulang desain tersebut.
Mereka berterima kasih dan memberi uang muka untuk penjahit itu, lalu segera pulang sebelum hari semakin larut dan mereka akan tercegat operasi gabungan yang sering diadakan pihak polisi lalu lintas.
Radith membawa motornya dengan tak nyaman, sepertinya motor maticnya sedikit ada gangguan, padahal tadinya tidak begitu terasa. Luna yang melihat itu tentu menjadi bingung dan menengok ke arah Radith.
" Kenapa dith?" tanya Luna dengan bingung.
" Rantainya bunyi, harus cepat sampai rumah Lo," ujar Radith dengan singkat membuat Luna semakin tidak mengerti. Namun gadis itu memilih diam dibanding membuat Radith kesal.
Tak lama kemudian motor Radith benar - benar tidak bisa berjalan meski Radith sudah mengegas sekuat tenaga, mesin hanys berbunyi, nakun motor tidak berlari.
Radith mematikan motornya dan menggoyang goyangkan motornya setelah Luna turun dari motor. Luna sendiri hanya menatap Radith panik saat lelaki itu tampak kebingungan.
" Lo buruan telpon orang rumah minta jemput, motor gue rantainya putus, gak tahu bengkel deket sini, buruan," ujar Radith memberi Instruksi pada Luna. Gadis itu menurut dan mengangguk.
Luna berdecak kesal saat mendapati ponselnya sudah mati, bagaimana dia bisa memberi kabar jika ponselnya mati?
" Dith, ponsel gue mati. Pakai ponsel Lo dong kabarin bang Jordan atau kak Darrel," ujar Luna dengan panik. Radith langsung mendesah saat Luna mengatakan itu.
" Kalau Ponsel gue nyala, gue gak bakal minta Lo buat hubungin mereka," jawab Radith sambil membuka helmnya. Luna melakukan hal yang sama dengan Radith.
" Terpaksa kita dorong motor sampai ketemu bengkel, Lo gakpapa?" tanya Radith menatap Luna khawatir. Apakah Luna sanggup berjalan yang entah sejauh mana?
" Ya mau gimana lagi, jalanin aja," ujar Luna sambil mengedikkan bahunya.
Radith mengangguk dan mulai mendorong motornya, sementara Luna berjalan disamping lelaki itu sambil membawa dua helm. Luna berjalan dengan tenang dan menikmati angin malam yang semilir.
" Lo capek gak?" tanya Radith menengok ke arah Luna. Radith yakin gadis itu tidak pernah berjalan jauh, namun mengapa gadis itu belum mengeluh?
" Enggak capek, malah seru. Gue gak pernah jalan malem malem di pinggir jalan raya kayak gini," ujar Luna dengan santainya membuat Radith melega sekaligus heran.
Saat dirinya kesal karena rantai motor yang tiba tiba putus, bagaimana gadis itu malah menikmati keadaan seperti ini?
" Gue sering dith lihat di Instagram kayak meme gitu, Kesetiaan diuji waktu naik motor dan ban motornya bocor, dan malah sekarang gue ada diposisi itu," ujar Luna mulai mengoceh dan berjalan riang.
Radith yang tidak mengerti arah pembicaraan Luna hanya memilih diam, entah apa yang gadis itu buka di aplikasi itu hingga menemukan hal semacam itu.
" Gue udah ketawan setia kan dith?" tanya Luna menatap ke arah Radith, lelaki itu memandang Luna aneh, namun segera dia mengedikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya.
" Gak tahu gue, gak paham," ujar Radith mencari jawaban yang aman.
" Kalau gue setia, kenapa kak Darrel mandang gue ada apa apa sama Lo ya dith? Padahal kan gue gak ada apa apa sama Lo, Lo juga gak suka sama gue kan?" tanya Luna dengan acak.
Entah mengapa Luna kembali memikirkan Darrel yang mulai cuek padanya, dan bahkan hari ini dia melihat sendiri Darrel bersama gadis lain.
" Tadi gue lihat dia sama cewek lain dith, bercandaan gitu, rasanya sakit," ujar Luna mengungkapkan isi hatinya kepada Radith.
" Memang mereka ngapain?" tanya Radith yang mencoba memahami apa yang Luna bicarakan.
" Mereka jajan bareng di gerbang, tapi mereka ketawa - tawa gitu, gue gak suka lihatnya dith, rasanya sakit," ujar Luna sambil menghela nafasnya.
" Kayak gitu Lo ngerasa cemburu?" tanya Radith dengan heran. Luna mengangguk sebagai jawaban.
" Iyalah gue cemburu, lihat pacar gue dua dua an sama cowok lain, sampai bercandaan kayak gitu, masak gak wajar gue cemburu?" tanya Luna sedikit protes.
" Lah Lo gak pikirin perasaan Darrel waktu Lo selalu manja sama gue?" tanya Radith tepat sasaran. Nyatanya Luna langsung terdiam mendengar hal itu.
" Memang dia ngerasa cemburu? Kan dia tahu kita cuma teman," ujar Luna tak merasa bersalah sama sekali, membiat Radith jujur saja merasa kesal dengan gadis itu.
" Lo cemburu lihat dia sama cewek lain, tapi Lo gak bolehin dia cemburu lihat Lo sama cowok lain. Lo tahu? Itu egois banget," ujar Radith tanpa rasa kasihan. Menurutnya Luna sudah keterlaluan untuk kali ini.
" Tapi kan kita gak ada apa apa dan dia tahu itu, kalau gue kan gak tahu dia ada apa sama cewek itu, apalagi dia cuek banget sama gue," ujar Luna membela diri.
" Lo Egois," ujar Radith tanpa menjawab protes dari Luna, membuat Luna berdecak kesal. Tidak pernah ada orang yang mengatainya egois.
" Coba Lo pikirin perasaan Darrel, coba Lo posisiin diri Lo di dia. Lo lihat pacar Lo bareng sama orang yang Lo tahu pacar Lo suka sama dia."
Luna mengernyit tak paham dengan perkataan Radith, membuat Radith menghela nafasnya dengan lelah.
" Dia tahu Lo suka sama gue dan dia tetap diam selama ini. Coba lo pikir, apa dia gak akan ngerasa sakit kalau sering Lihat Lo bareng gue disaat dia tahu Lo suka sama Gue?"
Luna terdiam meresapi hal ysng dikatakan Radith. Benarkah apa yang dikatakan Radith? Apakah dirinya seketerlaluan itu pada Darrel?
" Apa kak Darrel selama ini sesakit itu ya Dith? Tapi kenapa dia gak bilang?" tanya Luna yang masih saja tak paham
" Karna dia sayang sama Lo dan dia gak mau Lo ngerasa terkekang. Apalagi dia tahu hati Lo belum buat dia. Harusnya Lo yang nyadar."
" Gue udah coba cuek dan gak respon Lo. Tapi Lo nya makin kayak cicak yang nempel mulu, makanya gue biarin aja sampai ada masalah kayak gini, biar Lo sadar dan paham sendiri."
Luna terdiam tanpa berniat menjawab pernyataan Radith. Entah mengapa perkataan Radith bagai air yang mengguyur tubuhnya, membuatnya tersadar akan kesalahannya. Guyuran air itu terasa sangat nyata, Luna bahkan merasakan tubuhnya basah dan dingin hingga akhirnya menyadari sesuatu.
" RADITH! HUJAN!" Seru Luna dengan panik sementara Radith sudah berteduh di toko yang sudah tutup.