
Luna menarik napasnya dalam dan mengikuti lantunan melodi yang dipetik oleh Radith. Gadis itu memejamkan matanya untuk merasakan setiap lirik yang akan dia nyanyikan.
Jangan tanyakan perasaanku
🎶Jika kau pun tak bisa beralih
🎶Dari masa lalu yang menghantuimu
🎶Karena sungguh ini tidak adil***
Pandangan mata terluka yang ada di mata Luna membuat Radith nyaris saja menahan senyum gelinya, gadis itu baik juga dalam memainkan ekspresi, Radith tentu merasa harus bisa mengimbangi Luna yang sudah keren dalam menyanyikan lagu ini.
🎶Bukan maksudku menyakitimu
Semua penonton bersorak mendengar suara Radith, mereka sudah pernah mendengar suara Luna sebelumya, gadis itu memang mengagumkan, namun untuk Radith, ini pertama kalinya mereka mendengar Radith bernyanyi, dan ternyata kualitas suaranya pun tak di ragukan lagi.
🎶Namun tak mudah 'tuk melupakan
🎶Cerita panjang yang pernah aku lalui
🎶Tolong yakinkan saja raguku***
Luna memandang Radith yang juga memandangnya. Gadis itu mengambil napasnya dan masih menatap lurus ke arah mata Radith. Mereka tersenyum sedikit geli, namun tetap melanjutkan lagu mereka ke bagian reff. Luna yang mengambil bagian bait pertama pada Reff yang pertama.
🎶***Pergi saja engkau pergi dariku
🎶Biar kubunuh perasaan untukmu
🎶Meski berat melangkah
🎶Hatiku hanya tak siap terluka***
Radith menggeleng dengan tempo pelan dan seolah mengatakan pada Luna untuk tenang. Luna bahkan sampai tak berani lagi memandang ke aarah Radith, gadis itu memilih untuk memandang ke arah penonton yang kebaperan dengan penamplan mereka.
🎶***Beri kisah kita sedikit waktu
🎶Semesta mengirim dirimu untukku
🎶Kita adalah rasa yang tepat
🎶Di waktu yang salah***
Serasa dihipnotis, mata Radith menarik mata Luna untuk saling berpandangan. Mereka saling memandang satu sama lain. Radith mengode Luna untuk segera melanjutkan bagiannya, gadis itu terhanyut dalam pikirannya saat memandang Radith yang entah mengapa sangat menjiwai lagu ini, padahal beberapa kali latihan, lelaki itu tak pernah niat dan bahkan seakan enggan untuk melakukan semua ini.
🎶***Hidup memang sebuah pilihan
🎶Tapi hati bukan 'tuk dipilih***
Radith langsung melihat ke arah gitarnya karna tak kuasa menatap Luna yang seakan menyampaikan rasa protes untuknya.
🎶***Bila hanya setengah dirimu hadir
🎶Dan setengah lagi untuk dia***
( Fiersa Besari – Waktu yang salah ~ Versi duet Cover~)
Radith tersenyum puas karna berhasil menyindir Luna lewat lagunya. Luna ingin memukul Radith saat ini juga, namun dia tak mungkin melakukannya saat ini. Luna berjanji akan memukul lelaki itu setelah mereka selesai dari sini.
Mereka melanjutkan lagu sampai selesai, diiringi tepuk tangan baper dari semua penonton yang ada di sana. Namun dari sekian banyak penonton, hanya ada satu orang yang tampak tak nyaman dengan penampilan mereka, orang itu memaksakan diri untuk tersenyum dan berlalu dari sana agar tak membuat hatinya lebih kesal lagi.
" EEEHH."
Namun suara itu membuat tubuhnya berbalik, menatap kaget dan tajam ke arah Luna yang sudah ada di dekapan lengan Radith. Dia tak mengetahui apa yang terjadi, namun pasti bukan sesuatu yang baik. Ketika hendak melangkah menghampiri mereka, orang itu memilih untuk memundurkan langkahnya dan pergi darisana. Luna aman bersama Radith, ada hal yang lebih penting untuk diselesaikan dibanding masalah ini.
" Lo gak papa? Kok Lo bisa meleng gitu sih?" tanya Radith dengan cemas, untung saja dia ada persis di belakang Luna dan bisa menangkap gadis yang nyaris terjungkal ke bawah sana. Radith hendak mengomeli Luna, namun ekspresi kaku gadis itu membuat Radith diam dan ikut terbawa dalam suasana serius.
" Lo, Lo gak papa kan Lun?" tanya Radith dengan nada yang berubah khawatir, Luna menggeleng, namun pandangannya tetap kosong, dia melihat ke arah bawah dan tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Hal itu tentu membuat Radith lebih khawatir dari sebelumnya, lelaki itu berinisiatif untuk menggendong Luna, namun gadis itu menolak dan melangkah menuruni tangga kecil yang digunakan untuk baik – turun panggung.
" Lah? Beneran gak papa? Anjir, bikin panik aja sih dia," ujar Radith dengan pelan, wajah lelaki itu tampak sekali sedang kesal. Dia tak suka dipermainkan oleh siapaun, terlebih gadis itu. Namun Radith masih memiiki feeling Luna sungguh kelihangan pikiran dan fokusnya tadi. Meski begitu dia tak ingin menanggapi hal ini lebih jauh.
" YAAAK!!! Tiba saat yang ditunggu, sebenarnya kami sudah menyiapkan Guess Star rahasia, dan saat ini adalah waktunya untuk guess star Rahasia itu tampil, penasaran gak?!!" Teriak pembawa acara yang membuat Radith menengok dan otomatis ikut terkejut. Hebat juga Luna bisa mendapat Guess star yang cukup terkenal itu.
" INILAH DIAAAA!!!"
" Anjir Sheila On Seven!"
" Parah! Parah!"
Begitulah respon orang – orang yang ada di sana. Mereka bersemangat dan bahkan sampai berdiri mendekat ke arah panggung. Mengarahkan kamera ponsel mereka untuk menyorot dan mengabadikan moment yang mungkin langka di hidup mereka. Merasa disambut dengan baik, guess star ini lantas menyapa mereka sebelum memulai penampilan mereka.
Saat lagu mulai dinyanyikan, siswa siswi tampak antusias mengikuti lirik dan irama yang ada, mereka masih merasa terkejut dengan kehadiran band yang bisa dibilang legendaris di Indonesia, bahkan pamornya tak turun dikikis waktu. Luna yang menonton dari bangku penonton ikut merasa puas dan bahagia dengan respon mereka.
" Keren juga Lo bisa datengin mereka? Ngebayar berapa Lo njir?" tanya Radith yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya. Lelaki itu menikmati lagu yang dibawakan, lagu familiar yang enak di dengar. Itulah salah satu faktor yang membuat band ' lawas' justru lebih terkenal dan bertahan lama karna mereka menciptakan karya yang epic dan bisa diterima oleh publik serta tak mudah dilupakan.
" Hehehe, kak Darrel yang undang mereka, gak tahu deh dia gimana caranya, apalagi mereka kan pasti sibuk dan punya jadwal padat, masih mau loh datang ke acara pensi sekolah biasa gini, gak paham lagi gue sama kak Darrel, hebat banget," ujar Luna dengan wajah gembira. Meski berkata dia gembira, Radith mengetahui ada sesuatu yang membuat gadis itu tak lepas.
" Lo kenapa? Lo mending jujur karna Lo tahu kan Lo gak bisa bohong di depan gue? Lo juga tahu kan kalau Lo punya masalah gue bisa bantu? Buruan cerita," ujar Radith yang terkesan mendesak Luna, namun gadis itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng.
" Gak papa, gue lagi kangen sama Kak Darrel, kangen sama bang Jordan, gak tahu deh, lagi mellow gue, mungkin bener kata Adel, bentar lagi gue period," ujar Luna dengan mata yang berkaca- kaca, hal itu membuat Radith terdiam seketika. Jika masalahnya tentang Period, Radith tak mungkin bisa membantu.
" hahaha, Lo gak usah bingung gitu, gue tahu apa yang Lo pikirin. Emang kali ini Lo gak bisa bantu gue, makanya gue gak minta bantuan Lo," ujar Luna dengan santai. Radith mengangguk lega, karna memang tak terjadi sesuatu yang buruk pada Luna.
" Kok Lo bisa keren gitu dith nyanyinya? Padahal waktu latihan gak pernah seniat itu loh," tanya Luna dengan wajah penarasan karna mereka hanya diam dan menonton pengisi acara yang ada di depan.
" Bisa dong, kalau latihannya gue niat, Lo gak akan sekagum ini sama gue. Lagian awalnya emang gue gak niat sih, tapi karna temen – temen udah siapin kostum juga, gue jadi gak enak, ya udah deh gue mencoba niat gitu jadinya. Bener kan Lo jadi terkagum sama gue," ujar Radith dengan wajah tengil dan sombong, hampir saja Luna menabok wajah lelaki itu.
" Gak jadi keren Lo, udah burik, buluk, suara Lo jelek, nyebelin pula," ujar Luna dengan sengit dan langsung bangun dari sana untuk kembali ke kelas. Tugasnya sudah selesai, kini saatnya dia bersantai dan tak membiarkan pikirannya bergelut dengan pikirannya yang lain.
Radith terkekeh melihat Luna yang marah padanya, meski begitu rasa percaya diri karna dikagumi oleh Luna tak akan pernah luntur lagi. Lelaki itu juga bangkit hendak kembali ke kelas, saat hampir semua siswa ingin menonton band terkenal itu, dia malah ingin mengistirahatkan dirinya dan tidur nyenyak di dalam kelas yang sepi.
" Eh, Lo lihat yang tadi nyanyi duet gak? Kayaknya anak kelas sebelas, gue gak asing sama wajahnya," ujar salah seorang siswa yang membuat Luna berhenti melangkah dan duduk tak jauh dari mereka. Luna langsung memakai cardigannya hingga orang itu tak tahu bahwa dialah yang menyanyi. Entah tidak sadar atau memang bodoh sih.
" Kayaknya yang waktu itu perkenalan bukan sih? Anak OSIS? Yang langsung ditaksir sama cowok – cowok kelas kita, iya gak?" jawab sekaligus tanya seorang yang lain untuk memastikan ingatannya. Gadis yang tadi mengingat – ingat langsung sadar dan ngeuh bahwa mereka melihat Luna saat MOS.
" Tapi cowoknya beda kan ya?"
" Iya deh cowoknya beda, gue ingat banget wajah ketos kita, secara dia ganteng banget. Tapi bukan yang tadi nyanyi deh, padahal Lo lihat gak waktu ketos megang tangan dia terus ditarik keluar, gue pikir dia pacarnya ketos tau gak sih," ujar gadis itu dengan heboh, Luna menahan tawanya agar tidak ketahuan, masih kelas sepuluh sudah berani menggunjing kakak kelasnya.
" Tapi emang kayaknya pacaran gitu, masak dia mau mau aja ditarik tarik gitu sama ketos, kayaknya lagi berantem gitu."
" Terus menatng – mentang lagi berantem jadi sama cowok lain gitu ya, gilak, murahan banget. Enak ya jadi cewek cakep, bisa lompat kesana kemari."
" kalau gue sih malu coy, percuma aja wajahnya cantik tapi kayak tupai kesepian, harusnya dia tuh bersyukur punya pacar cakep, ketos lagi."
" Eh tapi cowoknya yang tadi duet juga cakep, bagus lagi suaranya. Sebenernya beruntung sih dia bisa dapet dua – duanya."
" Halah, paling udah dikasih jatah, hahahaha."
" Kalau kalian gak tahu ceritanya tuh mending tanya daripada gosip, mau mulutnya gue sobek?" Tanya Luna yang langsung berdiri menghampiri mereka dan berhenti tepat di hadapan mereka. Mereka tampak terkejut dan tak menyangka Luna mendengar semua dan sengaja tak menegur mereka dari awal.
" Suara kalian udah ada di ponsel gue. Jelas banget loh suaranya, gue bakal laporin ini ke orang – orang gue dan kalian semua bakal dapat hukuman setimpal, kalian ingat ya apa yang gue bilang ini, tunggu aja waktunya," ujar Luna dengan sinis dambil memutar mutar IP terbaru yang dia beli.
" Emang Lo siapa bisa ngelakuin itu ke kami? Cuma pengurus OSIS gak penting aja lagaknya selangit," ujar Orang itu tak kalah sengit dari Luna, namun tak membuat Luna takut sedikitpun, gadis itu malah merasa kasihan pada gadis kecil yang ada di hadapannya ini.
" Lo berani ngegunjing gue, ngejelek – jelekin gue dan nuduh gue tanpa tahu gue siapa? Selamat ya anak kecil, Lo berhasil berurusan sama Puteri keluarga Wilkinson. Ah ya, pacar gue yang ketos itu anak keluarga Atmaja. Lo pikir itu gak cukup buat ngehukum Lo? Gue bahkan sanggup hancurin seluruh keluarga Lo sampai keturunan ke 7."
" Wil.. Wilkinson? Kak, kak ampun kak, kami gak tahu kalau kakak keluarga Wilkinson, ampun kak, ka.. kami salah, kami minta maaf, ampun kak," ujar kedua orang itu yang kini berlutut di kaki Luna. Enath mengapa perasaan Luna sangat kacau dan dipenuhi rasa kesal. Gadis itu hanya menyentak kedua orang itu dengan kakinya dan pergi dari sana.
Dari belakang Radith mengikutinya, namun sebelum melangkah orang itu jongkok dan menatap dua adik kelasnya yang malang. Mereka tak tahu jika mereka sudah berurusan dengan orang yang salah, parahnya mereka malah mengancam Luna dan membuat gadis itu tak nyaman. Ya sudah, matilah mereka.
" Lain kali ya dek, gak usah cari masalah, masih kecil udah kelihatan masa depannya, suraamm," ujar Radith melambaikan tanngan di depan mukanya membentuk pelangi. Radith langsung pergi dari sana dengan tawa kecilnya. Membuat dua orang itu makin kesal dibuatnya. Jika tahu yang mereka hadapi adalah orang sepenting itu, mereka tak akan berani melawan.
Sementara itu di dalam kelas Luna sudah menidurkan dirinya beralaskan dua kursi yang disatukan. Melihat hal itu tentu Radith menjadi heran, tak biasanya Luna seperti ini. Apakah bulan ini adalah masa period yang mengerikan? Apakah Radith juga akan kena imbasnya?
Radith memilih untuk mengabaikan pikiran ngawurnya dan tidur di atas meja dimana dia bisa melihat Luna yang memakai tas miliknya sebagai bantal, jaket miliknya sebagai selimut, serta jaket milik gadis itu sendiri sebagai bahan tambahan bantal agar lebih empuk.
" Lo bakal kasih rekaman suara itu beneran?" tanya Radith memastikan, dia tahu Luna tak akan senekat itu, namun melihat Luna menyentak kedua orang itu dengan kakinya membuatnya sedikit Ragu Luna tak akan melakukannya.
" Enggak lah, buang buang waktu. Setidaknya setelah ini mereka gak bakal hidup tenang, mereka gak bakal berani macem – macem, dan mereka bakal jaga sikap ke siapapun, masih adik kelas kok udah songong gitu," ujar Luna tak santai. Bahkan Radith sampai tak berani menjawab gadis itu, dia takut akan menjadi obyek amukan gadis itu.
" Kenapa sih banyak banget orang yang pikirannya pendek? Mereka gak bisa bedain mana profesional mana bawa perasaan? Sesukanya aja nyebarin gosip gak enak gitu, ngeselin banget."
" Lo udah digunjing dari kelas satu, dan Lo baru marah sekarang, emang cewek lagi bulanan tuh galaknya kayak macan, sensinya kayak beruang," ujar Radith dengan lancar dan mulus tanpa halangan.
" APA LO BILANG?!" Ya, mulus, sampai Luna menyentak dan menatapnya tajam, bahkan sampai membuatnya tak berkutik dan tak berani membalas tatapan mata gadis itu.