
Darrel berdiri di ambang pintu rumah Luna, membuat gadis itu terkejut saat keluar dari
dalam untuk memakai sepatu. Lelaki itu tampak memandang Luna dari atas sampai
ke bawah.
“ Ayo berangkat bareng,” ujar Darrel tersenyum tipis pada Luna, namun gadis itu tk
membalas senyumnya.
Luna mengabaikan Darrel dan memilih untuk memakai sepatu agar dapat segera pergi
dari hadapan Darrel. Semalaman Luna menangisi lelaki itu, dan kini lelaki itu
dengan beraninya muncul dihadapannya tanpa dosa.
Gadis itu langsung berdiri dan beranjak menuju pak Jono yang sudah menyiapkan mobilnya,
namun Darrel menahan tangan Luna agar gadis itu tidak melangkah lebih jauh
lagi.
“ Kak Darrel mau apa sih kak?” Tanya Luna dengan jengah. Kelopak matanya menghitam
dan mengendur karena menangis semalaman, dia sangat mengantuk dan tidak
bertenaga, enggan menanggapi Darrel yang membuatnya muak.
“ Ayo berangkat sama aku, sekalian kalau ada yang mau kamu tanyain tentang aku,” ujar
Darrel masih mempertahankan senyumnya, senyum yang membuat Luna berbunga –
bunga, namun kini malah membuat Luna jengah dan malas menatapnya lama – lama.
“ Luna sama pak Jono kak, kasihan udah nyiapin mobil. Mending kakak berangkat sama tunangan
kakak.”
Darrel mematung saat Luna mengatakan hal itu. Ternyata benar dugaannya, Luna sudah
memergokinya, kini Darrel tidak memiliki alasan lagi untuk lari dari semua
kenyataan ini.
Lelaki itu melepaskan tangan Luna, membuat Luna tersenyum penuh kepahitan. Bahkan Darrel
tidak menyangkal sama sekali, lelaki itu bahkan terdiam dan terkaget saat Luna
mengatakan itu.
“ Luna berangkat dulu kak, pintunya gak usah dikunci,” ujar Luna santai dan berjalan
menjauhi Darrel, untuk menangis pun rasanya Luna sudah tidak sanggup lagi, dia
hanya mampu membiarkan Darrel bertindak semaunya.
“ Kok jadi gini sih?” Tanya Darrel pada dirinya sendiri. Lelaki itu menjambaki rambutnya
dengan frustasi karena rencananya harus terbongkar di tengah jalan.
“ Bodo amat lah, biar nanti bang Jordan aja yang ngurus, selama ada di ague pasti aman,”
ujar Darrel sambil mengambil kunci mobilnya yang ada di sakunya dan melangkah
meninggalkan rumah Luna untuk pergi ke sekolah.
“ Lo kenapa sih Lun? Kok ngelamun mulu dari tadi?” Tanya Radith yang duduk di sebelah Luna,
melihat wajah suntuk Luna membuat Radith tak tahan.
“ Lo percaya gak kak Darrel bisa selingkuh?” Tanya Luna menatap Radith, Luna bisa
melihat wajah kaget dan bingung yang Radith tunjukkan.
“ Menurut gue? Mungkin aja, semua cowok juga ada kemungkinan selingkuh. Gak tahu ya kalau
cewek,” ujar Radith sambil mngedikkan bahunya.
Dengan kesal Luna memukul kepala Radith, lelaki itu tentu tak terima ditempeleng tanpa alasan
yang jelas. Dia memandang Luna dengan raut bertanya, namun enggan memprotes
karena wajah Luna yang terlihat melas
“ Kak Darrel selingkuh dith,” ujar Luna mengungkapkan hal yang membuatnya murung.
“ Lo lihat sendiri? Atau dikasih tahu orang lain?” Tanya Radith yang enggan memihak, toh
hal ini bukan urusannya.
“ gue lihat sendiri mereka beli cincin berdua gitu, sama kalung yang ada liontinnya. Sedih gue
dith kalau gu akhirnya diselingkuhi sama dia,” ujar Luna dengan lesu dan
menundukan kepalanya.
“ Menurut gue dia bukannya selingkuh dari Lo, tapi Lo yang selingkuhannya. Nyatanya dia
lebih dekat sama cewek itu,” ujar Radith setelah terdiam dan menganalisis
keadaa.
“ Lo kok nyebelin banget sih dith! Mending Lo pergi dari sini deh,” ujar Luna dengan galak dan
kesal, membuat Radith terkekeh dan memilih kembali ke kursinya. Luna bisa saja
mengamuk dan menjambaki rambut indahnya jika dia terus menggoda gadis itu.
“ Apa bener ya sebenernya gue yang selingkuhannya kak Darrel? Tapi masak iya kayak gitu?” Tanya
Luna pelan pada dirinya sendiri.
“ Selamat pagi anak – anak,” sapa guru Bahasa Indonesia
yang membuat Luna tersentak kaget. Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan
memberi salam pada guru itu mengikuti teman – temannya.
“ Silakan siapkan satu sobekan kertas,” ujar guru itu tiba – tiba membuat semua siswa panik
karena merasa aka nada ulangan dadakan, guru itu hanya tersenyum melihat
tingkah muridnya.
“ Pak, ada ulangan dadakan?” Celetuk Arka dari meja paling belakang. Guru itu menoleh dan
tersenyum penuh arti lalu mengangguk, membuat semua siswa mendesah kecewa.
Mereka bahkan tidak tahu selama ini belajar apa, lebih parah lagi mereka tidak ingat kalau hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia.
Maafkanlah, namanya juga STM – ( Sekolah Terserah Murid)
“ Benar, untuk soal nanti akan saya berikan. Silakan lakukan dulu sesuai instruksi saya,”
ujar guru itu dengan tenang, membuat semua siswa menjadi kelabakan sendiri.
Mereka pasrah dan menuruti instruksi guru itu, mereka segera menyobek kertas tengah
yang ada di buku mereka, sebagian besar hanya berkata ‘ gue minta kertas sama
pinjam pulpen dong.’ ( Yakin deh, pasti banyak yang seperti ini.)
“ Sudah semua? Sekarang, materi ulangan hari ini adalah puisi, tugas kalian sangat
mudah. Silakan buat puisi kalian sendiri, dengan tema bebas. Minimal 7 baris, satu
paragraph, jika bisa lebih malah lebih baik. Saya beri waktu setengah jam,
setelah itu silakan kumpulkan ke saya.”
Siswa yang pandai membuat puisi tentu bersorak gembira, sementara yang bukan langsung
mendesah kesal. Lebih baik ulangan materi, karena semua siswa tidak akan bisa
mengerjakan, alhasil satu kelas akan mengikuti remedial.
Jika seperti ini hanya mereka yang sedang tidak mendapat inspirasi yang terancam
untuk mengikuti remedial. Menyebalkan sekali.
Luna terdiam dan meletakkan pulpennya, kebiasaan yang dia lakukan untuk berpikir dan mencari
inspirasi. Gadis itu memejamkan mata dan menarik napasnya beberapa kali,
kemudian mengambil pulpennya dan mulai menuliskan kata – katanya.
Tak butuh waktu sepuluh menit, Luna berhasil menuliskan puisi sederhananya, mungkin tak
ada kata – kata indah, atau mungkin kalimat romantis yang menggugah hati. Hanya
rentetan kata yang mengungkapkan perasaannya saat ini
Hembusan napas
kini terasa kelu
Sebab kini hadirmu hanyalah semu
Senyum yang dahulu hanya untukku
Kini kau beri tuk pujaan hatimu yang baru
Mungkin kurangku tak dapat setulusnya untukmu
Mungkin egoku yang ingin terus memilikimu
Maafkan diriku, maafkan khilafku.
Kini bersama deru langit yang tak lagi biru
Kan ku sampaikan rasa rinduku
Melalui angin kusampaikan senduku
Melalui hujan ku alirkan sepiku
Yang kini ku rasa tanpa hadirmu
Duhai jiwa yang dulu bersama
Kembalilah,
karna ku sadar telah mencinta.
Luna tersenyum miris saat membaca lagi puisi buatannya, dia menulis semua tanpa
sadar dan hanya mengandalkan perasaannya. Namun dia menyadari ssuatu saat
membaca lagi puisi itu.
“ Gue udah jatuh cinta?” Tanya Luna pelan saat membaca kalimat terakhir puisi itu. Luna
menggelengkan kepalanya dan menutup ketas itu, tidak ingin merevisi atau membaca
rentetan kalimat tidak berguna itu.
“ baiklah, silakan kumpulkan bagi yang sudah selesai, kalian bisa langsung istirahat,
sepertinya akan pulang lebih awal Karena semua guru akan mengadakan acara pelepasan
beberapa guru yang pensiun.”
Semua siswa bersorak gembira mengetahui hal itu, kurang enak apa sekolah di tempat ini? Setiap
hari selalu ada saja jam kosong, banyak acara hingga sering freeclass dan tentu
banyak rapat dan acara lain yang membuat siswa pulang lebih awal.
( Author : Mereka belum tahu saja apa yang akan mereka hadapi jika bersekolah disini, silakan
nikmati waktu untuk bersenang – senang sedikit lagi.)
“ Lun, mau pulang bareng gue gak? Ada taman hiburan seru, mau kesana?” Tanya Radith yang mencegat Luna di depan pintu. Luna tampak berpikir beberapa saat, akhirnya gadis itu mengangguk dan
mengiyakan saja
“ Yok lah, suntuk juga gue hari ini, siapa tahu kalau bareng Lo jadi balik lagi mood gue,”
ujar Luna menggendong tasnya dan mengikuti Radith menuju parkiran motor.
“ Lo bawa helm dua? Satu lagi buat siapa?” Tanya Luna yang menerima uluran helm dari
Radith.
menaiki motornya. Luna sedikit kesal akrena Radith menaiki motor sport pria,
bukan moto matic biasanya.
“ Motor siapa ini dith?” Tanya Luna yang sedikit maju agar Radith mendengarnya.
“ Gak tahu, dikirimin sama bang Jordan, katanya buat gantiin motor gue yang lagi di
bengkel,” jawab Radith dengan jujur, Luna pun mengangguk paham dan duduk dengan
tenang sampai lelaki itu meninggalkan gerbang Sekolah menuju tempat yang mereka
rencanakan.
Radith memarkirkan motornya dan menggandeng Luna menuju berbagai wahana yang sangat
menyenangkan, sejenak Luna dapat melupakan berbagai masalah yang tumpeng tindih
dalam hidupnya.
“ Dith, gue mau makan permen kapas dong,” ujar Luna menunjuk antrean permen kapas yang
dibentuk lucu, membuat Radith menggeleng malas karena banyak orang berjejer
ingin membeli permen itu juga.
“ Radith baik deh,” ujar Luna mengeluarkan wajah melasnya menatap Radith dengan tangan
yang memohon, membuat Radith menatap Luna kesal dan bangkit untuk ikut
mengantre bersama yang lain.
Tak lama lelaki itu kembali membawa permen kapas berbentuk karakter animasi kucing masa
depan berwarna biru, membuat Luna memekik girang dan perlahan memakan mata
kucing itu hingga hilang sebelah.
“ Lo sadis ya, makan tuh dari pojok kek, atau gimana. Ini Lo makan malah dari matanya,”
ujar Radith menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat. Luna sendiri
hanya terkekeh sebagai responnya.
Gadis itu terus asyik memakan permen kapas yang ada ditangannya, bahkan sengaja memasukkannya
banyak agar mendapat sensasi saat permen itu meleleh terkena air liurnya.
Radith tidak bisa menahan geli melihat Luna yang sebegitu gembiranya hanya
dengan memakan permen kapas.
“ Mau gak? Gue suapin,” tawar Luna saat menyadari Radith yang menatapnya dengan tersneyum,
Radith pun mengangguk dan membuka mulutnya menunggu Luna memasukkan permen itu
ke dalam mulutnya.
Luna tersenyum iseng dan mengambil potongan besar lalu menyumpalkannya ke mulut
Radith, membuat lelaki itu kesusahan memakan permen tersebut dan memandang Luna
dengan kesal.
“ Dasar ibu tiri,” ujar Radith melirik Luna yang masih menertawakannya
“ Kok bisa?” Tanya Luna dengan wajah geli bercampur bingungnya
“ Kejam.” Jawaban yang ketus dan singkat itu suskes membuat Luna tertawa sampai terbahak – bahak,
bahkan tidak mempedulikan tatapan aneh dari orang sekitarnya.
Luna merasakan ponselnya berbunyi, gadis itu memberikan sisa permen kapasnya pada Radith
dan merogoh ponselnya yang ada di dalam tas. Gadis itu mengerutkan keningnya
saat mendapati nama pak Indra ada di layar ponsel.
“ Halo Pak Indra?” sapa Luna saat sudah mengangkat panggilan dan menempelkan ponsel ke
telinganya.
“ Hah? Kok bisa?” wajah Luna yang mulai berubah serius tentu membuat Radith penasaran, dia
berusaha mengode Luna untuk memberitahunya, namun gadis itu memberi isyarat
Radith untuk diam.
Tiba – tiba Luna mematung, entah apa yang mereka bicarakan. Radith dapat melihat Luna mulai
berkaca – kaca dan bahkan langsung meneteskan air matanya
~ praakk
Ponsel berlambang apel setengah gigit dnegan harga tujuh digit pun jatuh mengenaskan,
Luna menggeleng pelan dengan pandangan yang mengambang. Radith yang mengetahui
hal tidak beres pun memungut dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“ Pak Indra, ini Radith, ada Informasi apa pak?” Tanya Radith dengan nada bicara
serius, sementara Luna masih melamun dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Radith mendelik seketika saat mengetahui kabar yang disampaikan Pak Indra. Lelaki itu
langsung memutuskan panggilan telpon dan mengangkat Luna agar menajuh dari
tempat ramai itu.
Luna dengan gamang mengikuti langkah Radith yang memapahnya, nyawanya seakan hilang entah
kemana, berita yang diberikan oleh pak Indra tidak dapat diterima oleh
nalarnya, semua tidak mungkin terjadi.
“ Lunetta, kita pulang ya,” ujar Radith lembut sambil memegang lengan Luna.
“ Dith, gue, gue salah dengar kan? Gue, gue tadi dengar kalau, kalau, kalau bang Jordan
…”
“ Sttttt, kita pulang dulu ya, Lo masih bisa naik motor kan?” Tanya Radith memakaikan
helm pada Luna, gadis itu mengangguk dan naik ke motor Radith.
Dengan sigap dan cepat Radith mengendarai motornya agar cepat sampai ke rumah Luna,
sementara Luna masih menggeleng sepanjang perjalanan dan percaya bahwa dia
hanya salah dengar.
Sesampainya di rumah, Luna disambut pemandangan yang sungguh tidak mengenakkan hatinya,
gadis itu bahkan langsung terduduk seketika, membuat Radith terkaget dan
berjongkok di samping Luna.
“ Dith, gue… gue gak salah denger? Ini … ini..”
Radith langsung memeluk Luna untuk meredam teriakan gadis itu, entah mengapa Radith
merasaa Luna akan berteriak, dan benar saja, gadis itu langsung memekik dan
berteriak keras penuh kesesakan.
“ BANG JORDAN!!!” Teriak Luna sengan aliran air mata yang tiada hentinya, dihadapannya
terdapat sebuah rumah besar yang dia sendiri menjadi tak yakin bahwa itu
rumahnya, pasalnya di rumah itu terdapat sebuah tenda dengan bendera kuning
menempel di salah satu sisi tenda tersebut.
“ Gak mungkin, gak mungkin, gak mungkin.” Luna terus berteriak frustasi dan
menggeleng tak percaya, tidak mungkin pria itu meninggalkanya secepat ini. Bahkan
belum ada setahun Luna bertemu dengan Jordan setelah sekian lama.
Radith hanya bisa menenangkan Luna semampunya, pasalnya dia pun tidak menyangka Pak
Indra akan membawa berita seperti itu pada Luna.
Pak Indra mengatakan bahwa Jordan buru buru pulang ke Indonesia karena sudah rindu dengan
negara itu sementara pak Indra masih harus mengurus beberapa hal sehingga harus
tinggal satu malam lagi.
Jordan yang menaiki mobil tidak begitu waspada dengan keadaan sekitar, tanpa dia sadari
sebuah mobil dengan kencang menabraknya dari belakang, membuat mobil Jordan
terbalik dan kepala lelaki itu terbentur dengan keras.
Jordan mengalami gegar otak serius yang membuatnya kritis beberapa jam sebelum
akhirnya meninggal dunia. Siapapun tidak akan menyangka dan percaya pria
seperti Jordan akan meninggal dengancara setragis itu dan waktu sesingkat itu.
“ Nona Lunetta, jenazah Tuan muda akan sampai besok pagi karena keperluan autopsy, Mr.
Wilkinson juga akan sampai di Indonesia besok pagi.”
Luna menangis bertambah keras, semua terlalu cepat. Semua tidak terduga. Mengapa Luna
harus mendapat kisah setragis ini dalam hidupnya?
“ KALIAN SEMUA BOHONG!! KALIAN SEMUA PENIPU!!!” Teriak Luna dengan keras dan mendorong
Radith sampai lelaki itu terjatuh.
Luna berlari menghindari semua orang yang menatapnya kasihan, beberapa pelayan hanya
mampu memandangnya sedih dan menunduk. Membuat Luna semakin geram melihat
ekspresi mereka.
Luna bergegas menaiki tangga sampai ke lantai tiga, hal yang bahkan tidak pernah dia
lakukan seumur hidupnya, gadis itu langsung masuk ke dalam kamar dan menutup
pintunya.
Tubuh gadis itu meluruh, Luna memukul – mukul dadanya yang terasa sakit. Semua seperti
tidak nyata, namun berita dari pak Indra, tenda dan bendera kuning serta berita
kedatangan jenazah membuat kepala Luna terasa pening.
“ GAK MUNGKIN!! GAK MUNGKIN!! BANG JORDAAAAN!!! Hiks hiks hiks hiks.”
Luna mulai berteriak dan menendang nendang dengan kakinya, gadis itu bahkan sampai meringkuk di lantai dengan ketakutan. Dia
tidak mungkin mampu menjalani hidupnya
lagi, tidak tanpa Jordan dihidupnya.
~ tok tok tok
“ PERGI!!
KALIAN SEMUA PERGI!!! PERGIIIIIII!!!!” Seru Luna menahan pintu dengan tubuhnya,
tak ingin seorangpun masuk dan mendapatinya sekacau ini.
Luna merangkak menuju nakas dan mengambil foto Jordan yang sedang merangkulnya,
tampak senyum di wajah tampan itu. Luna mengelus foto itu dan menitikkan air
matanya di atas kaca figura itu.
“ Bang Jordan,” lirih Luna dengan sedih sambil memeluk erat foto tersebut.
Bagaimana
bisa Luna menerima kenyataan sepahit ini? Bagaimana bisa Luna menerima kabar
bahwa orang yang paling dikasihinya telah pergi dari dunia ini?