
Senyum di wajah Beni tidak pudar sama sekali sejak Kinan mengikuti inginnya. Bahagia, lega, itulah yang dirasakan Beni. Ia tidak memikirkan ke depannya seperti apa. Yang penting baginya, saat ini Kinan ada bersamanya, itu saja.
"Hapenya dinyalakan, jangan dimatikan lagi," pinta Beni begitu mereka sampai di depan rumah Kinan. Kinan hanya menganggukkan kepala seraya meliriki ke tangan Beni yang sudah diperban.
"Bukannya Abang tidak percaya, tapi biar Abang lega, Sayang tolong ambil hapenya." Maksud hati Beni, biar ia yang mengaktifkan secara langsung.
Kinan segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponsel yang sudah lama ia abaikan. Pun ia memberikannya kepada Beni dan begitu ponsel itu menyala, notif masuk secara beruntun. Sebagian besar berasal dari Beni.
"Jangn hilang lagi dan ponselnya jangan dimatikan lagi," pinta Beni dengan nada memohon.
Kinan hanya bisa menganggukkan kepala. Sunggung Kinan tidak tahu harus berkata apa. Melihat Beni mengamuk seperti tadi.
"Ya sudah, Abang pulang."
"Hati-hati."
"Ya, nanti Abang hubungi, diangkat, ya, Sayang."
"Iya."
Sepeninggalan Beni, Kinan segera masuk ke kamar, memainkan ponsel dan membaca semua pesan yang dikirim Beni kepadanya. Hatinya berdenyut membaca semua pesan yang dikirim Beni kepadanya. Jujurly, perasaannya terhadap Beni juga masih sama. Tapi ia sadar jika hubungan mereka tidak memiliki ujung dan tujuan.
Lantas, apa yang harus ia lakukan sekarang? Entahlah, Kinan juga merasa bingung.
Ting
Sebuah pesan masuk. Kinan segera membuka ponsel mengira jika mungkin itu pesan dari Beni. Keningnya mengernyit saat melihat nomor baru. Mengirim pesan singkat mengajak berkenalan. Kinan mengabaikan pesan tersebut. Kemudian panggilannya datang, Kinan tetap mengabaikannya. Ia bukan gadis yang mau berbasa basi sama nomor asing.
Ternyata setelah satu minggu berlalu, nomor tersebut terus saja menghubungi. Pesan yang dikirim juga sama saja. Mengajak kenalan.
"Siapa?" Beni bertanya begitu mendengar notif pesan masuk.
"Tidak tahu," sahut Kinan sejujurnya.
Beni yang over protektif segera merebut ponsel Kinan, memeriksa panggilan juga pesan dari si anonim itu.
"Panggilannya banyak. Masa tidak tahu?"
"Kan Kinan tidak meladeni, jadi memang tidak tahu siapa. Udahlah, abaikan saja. Paling cuma iseng."
"Iseng tidak mungkin begini juga, udah diabaikan tetap saja pantang menyerah." Beni menarikan jemarinya membalas pesan tersebut.
•Siapa?
Tidak lama, pesan tersebut langsung dijawab.
^^^•Masa lupa?^^^
•Siapa?
Beni mengulang pertanyaannya.
^^^•Kinan 'kan?^^^
Wajah Beni berubah masam. Ia menoleh pada Kinan sekilas dan kemudian membalas pesan itu lagi.
•Iya, kenapa?
Balasan dari si anonim itu langsung masuk.
^^^•Anaknya Pak Mustofa, preman kampung yang suka main perempuan. Menggelikan dan memalukan.^^^
Kening Beni mengerut seketika. Melihat perubahan ekspresi wajah Beni, Kinan penasaran untuk mengetahui pesan teks tersebut. Ia merebut ponsel dan begitu membaca isi pesan tersebut, wajah Kinan merah menahan marah dan kesal.
Bukan Beni lagi yang menjawab isi pesan tersebut melainkan Kinan.
^^^•Maksudku itu jelas, Bapak kamu tukang kawin dan tahunya numpang hidup sama lacurnya. Dasar tidak tahu malu. Mimpi kamu mau bersanding sama Beni? Heh! Biar aku kasih tahu, ya, Beni itu sudah punya tunangan. Sampai mati pun, kamu tidak akan mendapat restu dari orang tuanya. Kamu pikir mereka bodoh, mengira tidak tahu akal bulusmu yang hanya ingin mengeruk hartanya si Beni. Kamu menghasut Beni agar durhaka sama kedua orang tuanya. Kamu pikir dengan Beni bersama kamu sekarang, kamu menang. Begini, ya, hasil didikan Bapak kamu? Dasar cewe murahan kamu!^^^
Air mata Kinan menetes seketika membaca isi pesan tersebut. Kenapa Ayahnya mesti dibawa-bawa. Apa salah Ayahnya di sini? Apa hak mereka menghina Ayahnya. Andai semua yang dikatakan mereka benar, bukan berarti mereka layak menghakimi. Baik buruknya sifat Ayahnya, tetap saja tidak membawa kerugian kepada mereka, siapa pun yang sedang mengirim pesan tersebut kepadanya.
"Apakah dia sangat suci?" Kinan bergumam. "Merasa menjadi manusia paling baik, tidak ada cela. Lalu, apakah Ayahku manusia paling hina?" Kinan menoleh kepada Beni. Pria itu menatapnya dengan wajah memelas. Tangan Beni terulur, mengusap air mata di wajahnya.
"Apakah aku pernah menghasut kamu untuk durhaka kepada orang tua kamu? Dan kau lihat, begini lah keluargaku. Bukan keluarga harmonis dan terpandang. Apa yang kamu lihat di sini? Tidak ada! Tapi kenapa kamu masih bertahan di sini? Bukankah kamu juga sudah mempunyai tunangan. Harusnya kita memang mengakhiri. Mungkin bagimu itu bukan jalan terbaik, tapi hanya itu pilihan yang ada."
"Tolong jangan bilang berakhir, putus dan sejenisnya, Sayang. Tidak ada tunangan, aku berani bersumpah."
"Aku tidak ingin membencimu, tidak juga ingin membenci keluargamu.Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bersabar dan menerima perlakuan yang dihinakan seperti ini. Mau Ayah tukang kawin, pengangguran, atau apa pun. Apakah Ayahku merepotkan kalian? Apakah Ayahku mengemis beras sama Ibu Bapakmu hanya karena Ayah menganggur? Katakan, apakah aku pernah mengeruk hartamu? Jika semua pemberian yang kau berikan disebut dengan mengeruk harta, aku bisa mengembalikannya. Jika uang jajan yang kau berikan termasuk menguras hartamu, apa aku pernah meminta? Jika kamu tidak ingin aku membencimu juga orang tuamu, pergilah. Pergi dari sini, jangan muncul lagi. Bawa ini barang pemberianmu!" Kinan melemparkan ponsel juga melepaskan kalung juga dua cincin yang diberikan Beni.
"Abang minta maaf, Sayang. Minta maaf mewakili orang tua Abang. Tapi tolong, jangan mengakhiri hubungan ini hanya karena ulah mereka. Masalah tunangan, itu tidak benar. Sumpah."
Kinan bergeming, ia tidak ingin membuka suara lagi, khawatir lidahnya mengeluarkan sumpah serapah yang nantinya membuat Beni sakit hati.
Beni mengambil ponsel Kinan, segera ia menghubungi nomor anonim pengacau tersebut. Tidak menunggu lama, di deringan pertama, panggilannya langsung dijawab.
"Halo, siapa ini? Halo... Heh, Monyet, dengar kau, anjing! Tidak usah bermimpi kau menjadi tunanganku. Kau kira aku tidak tahu kau siapa, setan!"
Panggilan terputus. Diputuskan sepihak oleh si anonim.
^^^•***** seperti si Kinan itu kau bela dan kau lindungi. Sakit hati Ibu Bapak tidak kau pikirkan. Jangan bego' Ben!"^^^
Kinan tertawa miris. "Kini aku jadi *****. Siapa? Novi..." Kinan menebak tepat sasaran membuat Beni terdiam dan menunduk.
Ya, Kinan sudah menebak dari cara Novi mengagungkan orang tua Beni. Lagi pula, darimana orang tua Beni tahu bahwa Kinan putri dari Pak Mustofa yang pengangguran dan tukang kawin.
"Abang akan membuat perhitungan dengan wanita sialan itu," Beni segera berdiri. Pun Kinan ikut berdiri. Ia juga ingin melihat wanita yang ia anggap teman ternyata tidak lebih dari rubah licik berbulu kelinci.
Kinan dan Beni segera menuju rumah Novi. Sampai di sana, Beni langsung meminta Novi keluar.
"Eh, ada apa, nih? Tumben mampir kemari. Udah balikan nih? Ciyeee..."
"Bacrit!" Beni langsung menyela dengan wajah bengis. "Mana hape?"
"Hape?" Kening Novi mengernyit bingung.
"Tidak usah drama kau, Babih! Maksudmu apaan kirim teror-teror seperti itu untuk Kinan. Tidak laku?! Ciihhh!!"
Wajah Novi pucat seketika. Gadis itu menoleh pada Kinan untuk meminta bantuan. "Pacar kamu kenapa, Kinan? Saraf, ya?"
"Kamu yang kenapa?" Kinan balik bertanya. "Kalau kamu suka Beni, tidak begini caranya. Aku anggap kamu teman, tapi kenapa cara kamu seperti ini. Kamu tahu masalah keluargaku, tapi kamu tidak punya hak untuk membeberkan keburukan Ayahku kemana-mana? Kamu sudah merasa suci? Merasa sudah paling benar? Kalau kamu mau Beni, ambil! Kubuang dengan suka rela. Tapi laki-laki yang kubuang cuma-cuma sepertinya juga enggan menoleh ke arahmu. Bersihkan hatimu, jangan busuk begitu."
"Jangan asal nuduh kamu, Kinan? Punya bukti apa, kamu?"
"Aku tidak perlu bukti apa-apa. Kamu jelas tahu apa yang kamu lakukan. Terlanjur malu? Nih, ambil Beni." Kinan menatap Novi dan Beni silih berganti. "Cukup, ya, aku tidak mau direcoki lagi oleh keluargamu." Ucap Kinan dengan sinis kepada Beni.
Kinan melangkah pergi, meninggalkan Beni dan Novi. Bodoh amat dia tidak punya uang buat ongkos, nanti dia bisa ngutang ke tetangga buat ongkos beca.
"Kinan, Kinan, jangan begini, Sayang..." Beni menahan langkah Kinan dengan menarik tangannya. Kinan menghempaskannya dengan kasar.
"Tuli kamu, ya. Lama-lama aku muak sama kamu."
"Jangan salahkan aku hanya karena kelakuan keluargaku juga Novi." Beni kembali melayangkan tatapan membunuh kepada Novi. "Tidak sekalian kau ambil vidio, aku lagi mohon-mohon seperti ini dan kirim ke mereka." Sarkasnya.
"Kinan, Abang mohon, Sayang." Beni kembali menahan tangan Kinan.
"Udahlah, jangan libatkan aku dalam drama ini. Hebatnya kalian semua dimana? Kaya? Hah?" Kinan benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Selama ini, ia berusaha tenang dan mengubur semua hinaan yang dilayangkan keluarganya. Tapi, sekarang sepertinya ia berada pada titik lelah.
"Yang menjijikkan itu kalian semua. Fiuuhh!!" Kinan meludah, maksud hati agar Beni menjauh dan melepaskan tangannya. Entah Beni yang sial atau bagaimana, ludah Kinan mendarat di pipinya, dekat dengan sudut bibirnya.
Beni dengan santainya menjilaat ludah tersebut, "Manis, Sayang."