
" DADDY?!!" Teriak Lunetta dengan kaget, gadis itu bahkan mematung dan tak tahu harus melakukan apa, sementara Daddynya hanya terkekeh atas ekspresi gadis itu bertemu dengannya. Ayolah, dia hanya seorang ayah, bukan selebriti apalagi Presiden, mengapa anakanya harus sekaget dan sehisteris itu bertemu dengannya? Padahal Jordan dan Danesya pun biasa saja meski dia tak memberi tahu mereka semua tentang kedatangannya.
" Tumben dalam setahun ini daddy ke Indonesia sampai tiga kali? Biasanya Cuma satu kali loh Dad, Luna kaget lah. Ini bener Daddy kan?" tanya gadis itu yang beranjak dan langsung meraba – raba pipi ayahnya. Tak apa lah sekali – kali, toh dia memang sangat jarang bertemu daddynya, selama tidak kurang ajar, rasanya pantas saja dia melakukan itu.
" Mulai hari ini dan seterusnya, Daddy bakal tinggal di Indonesia, perusahaan pusat bakal daddy pindah di Indonesia, yang Inggris bakkal diurus sama orang kepercayaan Daddy. Daddy sadar selama ini Daddy gak pernah punya waktu untuk kalian semua, makanya Daddy mau minta kalian semua ke Indonesia dan menetap di sini," ujar Mr. Wilkinson dengan lembut.
" Tapi Pa, Jordan kan harus menyelesaikan urusan kuliah Jordan, Jordan gak bisa menetap di Indoensia dulu dong," ujar Jordan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar Televisi, sementara Radith merasa tak enak karna harus terus bermain padahal orang pnting itu berdiri tegak di depan Pintu.
" Iya, setelah kuliah kamu beres, kamu harus kembali ke Indonesia, sekalian kamu nikahin tuh Keysha, udah kamu bawa ke sana kemari tapi masih digantungin, kasihan itu anak orang, masak kamu kalah sama aDarrel? Dia berani loh ngajak Luna tunangan padahal masih sekolah."
Jordan memutar bola matanya karna papanya tak pernah bosan untuk membandingkan dirinya dengan Darrel yang dia sebut mantu idaman. Menikah bukan hal yang sesederhana itu, apalagi dia baru mengenal Keysha, dan jujur saja, masih ada bagian dalam hatinya yang menyimpan rasa untuk Nayshilla, dia tak akan mengambil keputusan penting itu di saat hatinya belum teguh dan utuh untuk satu orang.
Setidaknya Jordan paham, dia bukannya orang yang memberikan hatinya untuk banyak orang. Dia sangat menghargai perasaan wanita, hal itulah yang membuatnya memilih untuk sendiri. Tak mungkin dia melukai hati gadis yang dijaga sepenuh hati oleh orang tuanya hanya demi kepuasan hatinya.
" Dia belum tahu aja arti pernikahan, masih bocil dia, paling juga nanti kalau udah seumur Jordan bakal putus, atau malah sebelum itu, mereka mah mikir nikah enak, padahal," ujar Jordan dengan sinis, dia tak suka papanya membandingkan dirinya dengan bocah ingusan seperti Darrel. Bahkan hidup Darrel masih dikontrol olehnya.
" Doanya jahat banget, bukannya doa yang baik – baik buat adeknya, malah kayak gitu, abang macam apa tuh," ujar Luna dengan galak, Jordan tak peduli, sementara Mr. Wilkinson langsung tertawa geli karna pertengkaran tak berarti ini. Dia sangat tahu watak Jordan yang tak mau kalah, tak mau ada saingan, dan selalu ingin lebih unggul.
Merasa direndahkan dan dibandingkan oleh orang yang senenarnya masih jauh di bawahnya, tentu akan membuat lelaki itu kesal, apalagi yang mengatakannya adalah Mr. Wilkinson yang berstatus ayah kandungnya, Bos Besar Wilkin's Coorp, pria yang disegani banyak orang dimana pendapatnya akan dianggap penting oleh banyak orang.
" Tadi kamu bilang mau liburan kan? Kamu mau liburan yang kayak gimana? Jangan ke daerah yang banyak debunya, kasihan kakak kamu, dia kan alergi debu yang berlebihan, makanya dia yang paling rewel waktu diminta pulang ke Indonesia," ujar Mr. Wilkinson yang diacungi jempol oleh Danesya.
Saat berada di Inggris, dia nyaris tak pernah keluar dari rumah jika tak ada keperluan penting, apalagi untuk sekadar liburan, tak pernah dia lakukan. Dia hanya keluar rumah untuk pemotretan dan keperluan kerja lain, jadi jika Luna iri pada hidupnya, rasanya kurang tepat, Danesya lah yang sebenarnya lebih iri dengan Luna yang bebas di Indonesia.
" Pantai Dad? Atau laut aja, Luna mau Daddy beli kapal pesiar, kapal kapal biasa juga boleh Dad, nanti kita semua piknik di laut, kan gak pernah tuh yang kayak gitu, Luna pengen baanget Dad," ujar Luna dengan mata yang berbinar. Namun tidak dengan ke empat orang lain yang ada di sana. Mereka malah menatap Luna dengan bingung.
" Kamu dapat dari mana Ide kayak gitu? Perasaan Daddy gak pernah bilang kalau Daddy punya kapal pesiar," ujar Mr. Wilkinson dengan nada bingung, membuat ke tiga orang yang lain yang daritadi hanya menyimak tambah bingung. Mr. Wilkinson punya kapal pesiar? Mereka bahkan tak tahu fakta itu.
" Lunetta gak tahu Daddy punya kapal pesiar, Lunetta pengen karna Lunetta lihat di medsos cuplikan film titans, terus Lunetta pengana kayak gitu, kan romantis gitu dad, tapi kalau kita mah romantisnya grub, seru juga kan kalau piknik diatas kapal pesiar?"
" Titans? Titans tuh film isinya monster semua loh Lun. Kamu nonton film monster kok malah pengen naik kapal pesiar?" tanya Jordan yang menyahut dan menjeda permainan yang dia mainkan dengan Radith untuk fokus pada pembicaraan mereka. Radith sendiri hanya menurut dan ikut bergabung dalam pembicaraan ini.
" Titanic bang maksud dia tuh," ujar Danesya sambil tetap fokus pada ponselnya. Jordan membulatkan mulutnya dan mengangguk paham, sementara Mr. Wilkinson masih menimang baik buruknya keinginan Luna untuk mereka. Tak lama setelah berpikir, Mr. Wilkinson mengaangguk setuju dan meminta persetujuan manusia lain yang ada di sana, dan mereka semua juga setuju dengan ide itu.
" Tapi untuk sekolah Radith sama Kak Darrel gimana om? Takutnya kalau gak bisa ijin – ijin terus, apalagi Radith masih harus ikut LKS Nasional, kak Darrel juga udah sering ijin," ujar Jordan yang membuat Darrel menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan curiga.
" Dari mana Lo tahu kalau gue sering absen? Lo jadi penguntit ya selama ini? Wah parah Lo," ujar Darrel menggelengkan kepalanya dengan horror saat tahu Radith mengetahui aktivitasnya, namun Radith maalah memandangnya dengan cringe, apakah dia memiliki wajah yang berpotensi menjadi seorang penguntit? Apakah tak ada pekerjaan lain? Tidak penting sekali.
" Telinga gue tiap pagi panas karna ada anak ayam ngoceh mulu karna tunagannya udah sibuk urusan Jepang lah, sibuk sama perusahaan lah, ya gimana gue gak dengar kalau ngomongnya aja sampai bangunin gue tidur?" sindir Radith pada Luna yang terkekeh, Luna sangat tahu yang disindir Radith adalah dirinya dan dia tak keberatan sama sekali.
" Kamu mengatai anak saya anak ayam? Lalu kamu mau mengatai saya ayam? Bosan hidup kamu?" sentak Mr. Wilkinson dengan tegasnya, namun tak membuat Radith gentar, yah meski sebenarnya dia merinding juga karna disentak oleh orang itu, apalagi nyam\=wanya bagai seekor ikan di tangan Mr. Wilkinson, sangat rapuh dan empuk untuk dibunuh.
" Saya kan gak sebut nama Om, saya gak bilang kalau anak ayam itu anak Om, kok Om yang tersinggung sih Om?" Goda Radith yang membuat Mr. Wilkinson geli dan tertawa dengan sendirinya. Mereka mengakhiri pertemuan itu dan membahas rencana mereka serta surat ijin yang diperlukan untuk mereka semua.
*
*
*
Luna berteriak gembira melihat luasnya lautan yang menyejukkan, dengan ombak yang membuat kapal yang mereka tumpangi jadi berayun ke kiri dan kanan dengan riangnya. Gadis itu bertepuk tangan bahagia bahkan sampai membuat Darrel gemas. Lelaki itu menemani Luna dan berdiri di atas kapal itu.
" Lebih cakep Laut atau aku nya Lun?" tanya Darrel dengan wajah tengilnya, bahkan pandangan matanya naik – turun antara Luna dan laut, dengan alis yang dia mainkan. Luna tertawa melihat Darrel melakukan hal itu, suasana hatinya sedang baik, dia ingin setiap moment dalam sisa hidupnya lebih indah dan berarti, hingga dia dapat menceritakan kisah itu pada generasi Wilkinson yang selanjutnya.
" Lepaskan anakku jika kamu gak mau jadi makanan ikan yang ada di laut sana," ujar seseorang dari arah belakang yang membuat Darrel terkaget dan langsung menengok ke belakang. Tampak ayah Luna sedang memandangnya dengan pandangan tak suka. Dia mendekat ke arah Darrel dan Darrel langsung mengikuti pria itu.
" Mau kemana kak?" tanya Luna dengan bingung, Darrel tersenyum sebagai jawaban, untuk memastikan Luna tak khawatir karna dia akan baik – baik saja. Luna berdoa agar lelaki itu masih memiliki nyawa saat kembali lagi kemari, apalagi pandangan mata papanya yang serius membuat gadis itu sedikit ngeri karnanya.
*
*
" Kamu sudah tahu tentang kondisi Luna kan?" tanya Mr. Wilkinson dengan tegang dan wajah yang datar, Darrel mengangguk sebagai jawaban.
" Apa kamu yakin masih mau bertahan di sisi dia? Saya tidak membutuhkan kamu lagi untuk menjaga dia karna saya sendiri yang akan ada di samping dia setelah ini. Jadi kalau kamu mau pergi atau bagaimana, saya akan mempersilakan dengan senang hati," ujar Mr. Wilkinson dengan tanpa dosanya.
" Selama anda tidak meminta saya untuk meninggalkan Lunetta, saya gak akan pernah berpikir apalagi melakukan hal itu, Lunetta sudah menjadi bagian dalam hidup saya, saya gak akan melepaskan dia begitu saja, entah apa alasannya."
" Kau tahu kau akan berada di posisi yang sulit jika kau terus ada di sisi dia, apa kau bisa mengatasi hal itu? Apalagi kau masih terlalu muda, saya rasa kau harus mendapat hal yang lebih baik dari ini," ujar Mr. Wilkinson menyatukan tangannya dan menatap Darrel dengan tatapan kasihan.
" Tak ada yang lebih baik dari Lunetta bagi saya. Bahkan saat saya tahu dia masih menyukai teman kelasnya dibanding saya, saya tetap bertahan. Karna saya mau mencintai dan menjaga dia, bukan untuk menghakimi dan mmeaksa dia untuk membalas perasaan saya. Walau terkadang saya merasa lelah dan ingin berhenti, tapi saya gak akan pernah lakuin hal itu."
" Apalagi saat berada di kondisi sekarang ini, bahkan untuk meninggalkan dia sebentar saja saya merasa bersalah dan khawatir, saya gak mau Luna sendirian dan terpuruk, saya mau sisa hidup saya ntuk gadis itu, itupun jika anda mengijinkan saya."
" Tunggu, kamu bilang anak saya menyukai orang lain saat bersama kamu? Radith maksudnya? Kalau akhirnya saya lebih merestui Radith, kamu mau apa? Karna yang saya tahu, Radith yang ada di saat anak saya butuh bantuan, entah itu di Jurang, atau dimanapun, bahkan saat kau dengan kurang ajarnya malah bertunangan dengan orang lain."
" Yah, anda sangat tahu jika Radith orangnya, bahkan jika anda lebih merestui Radith untuk menjaga Luna, saya akan terima dan ikut menjaga gadis itu dari jauh, tidak masalah siapaun yang ada di sisi dia, asalkan dia bisa bertahan dan bahagia, separuh nyawa saya akan tetap berada di tempatnya."
" Sulit sekali berbicara dengan anak kecil yang sedang jatuh cinta, Kau belum pernah merasakan hancurnya dunia saat seseorang yang kau cinta pergi, apalagi untuk selamanya, jika kau tahu, kau tak akan dengan mudahnya mengatakan sebuah pengorbanan itu," ujar Mr. Wilkinson menurunkan pandangannya.
Ingatan tentang istri yang sangat dia cintai kembali berkeliling dalam rongga pikirannya. Senyum manis yang tulus, bahkan juga mata indah yang murni menunjukkan kasih sayang untuknya dan keluarga kecil mereka. Bukan berarti dia menyalahkan dua malaikat kecilnya, namun tetap saja sampai detik ini dia masih tak menerima seratus persen kenyataan istrinya telah tiada.
" Saya gak akan kehilagan dia, kalaupun saya kehilangan dia, saya pastikan saya akan tetap melihatnya, menua bersama orang yang nantinya menjadi jodohnya."
" Lalu kamu apa? Anak kucing yang nangis di pojokan melihat orang yang dicinta hidup bersama orang lain? Bodoh sekali. Saya tidak menyangka Atmaja memiliki anak sebodoh ini," ujar Mr. Wilkinson dengan memandang remeh ke arah Darrel.
" Apa bedanya dengan pengusaha sukses yang terus mengharpkan satu orang yang tak mungkin pernah dia raih? Padahal dia bisa saja mencari orang lain untuk menemani harinya. Ya saya tahu, karna cinta bukan? Anda tidak bisa mengatai saya bodoh karna saya terlalu cinta. Pada dasarnya semua manusia akan berlaku bodoh di hadapan cinta, anda tahu betul hal itu."
" Hahaha, kau benar. Aku salah menilaimu, kau ternyata sangat pintar, kau bisa membalikkan kartu yang sudah ku lempar ke arahmu, bahkan kau tak takut jika kau sungguh akan menjadi makanan ikan laut jika mengatakan hal itu padaku."
" Saya tahu anda tidak akan melakukan hal itu pada saya. Anda cukup berperasaan dan berpendidikan untuk melakukan hal itu pada manusia. Anda pasti memiliki alasan kuat untuk melakukan suatu hal, salah satunya adalah hal ini."
" Ya, kau benar. Banyak yang menganggapku kejam, namun tak banyak yang tahu alasan dibalik tindakan kejamku. Bahkan untuk Luna saat dia ku masukkan ke sekolah kalian."
" RADITH! SINI LO!"
" Sepertinya kau harus keluar sebelum anakku makin jatuh cinta pada lelaki itu," ujar Mr. Wlkinson menatap geli Darrel yang berusaha menatap ke arah luar.
" Dengan senang hati tuan Wilkinson" ujar Darrel yang langsung keluar dari ruangan itu. Menghampiri Luna yang sedang kejar – kejaran dengan Radith.
~bruukkk
Mata Darrel melotot dan langsung berlari menuju gadisnya seketika.