
Luna menengok ke arah belakang, masih tidak ada sesuatu di belakangnya, gadis itu memejamkan mata dan berdoa, dia tidak ingin bertemu hantu, apalagi di suasana senja seperti ini. Bahkan langit tampak menggelap meski tak ada awan.
Setelah merasa tak ada gangguan, Luna mulai membuka matanya perlahan. Terdapat siluet hitam di depannya.
“ BAAA!!” Seru siluet itu yang membuat Luna tersadar di depannya masih manusia.
“ RADITH! Lo Radith kan?” Tanya Luna yang hafal dengan suara Radith, tak ada jawaban, artinya memang sungguh lelaki itu, Luna tak dapat melihat dengan jelas karena matanya memang sedikit sakit, entah karena apa, atau mungkin Luna rabun senja? semoga saja tidak.
“ Iya ini gue, Lo kok ketakutan gitu sih gue tiupin dari belakang?” Tanya Radith yang sudah duduk di sebelah Luna.
“ Parno lah gue, udah senja gini, bentar lagi malem, tiba – tiba ada yang niupin gitu, Lo jahat banget sih dith,” ujar Luna melirih sambil menekuk kakinya, membuat Radith malah merasa bersalah pada Luna.
“ Maaf ya Lun, gue bercanda, bener deh. Gue gak ada maksud bikin Lo sampai kayak gini. Jangan nangis dong,” ujar Radith menggoyang goyangkan lengan Luna yang tak ingin mentapnya.
Respon Luna membuat Radith semkain bingung. Gadis itu malah menundukkan kepalanya diantara dua kaki, membuat Radith tak bisa melihat wajahnya, saat Radith berusaha mengangkat kepala Luna, gadis itu menggeliat dan berusaha melepaskan diri.
“ Lun, gak usah nangis sih, iya gue salah, gue minta maaf. Kalau Lo nangis nanti yang ada jadi masalah sama pelatih,” ujar Radith yang semakin panik dan melihat sekitar, takut ada pelatih yang melihat mereka dan menjadikan Radith tersangka.
“ Gak enak kan dith,” ujar Luna dengan pelan, namun Radith masih bisa mendengar gadis itu.
“ Apanya yang gak enak?” Tanya Radith dengan bingung, pasalnya mereka tidak sedang memakan apa apa.
“ Gak enak kan dikerjain?” ujar Luna yang menegakkan kepalanya dan menatap Radith yang melihatnya dengan ekspresi wajah cengo, Luna sampai terkekeh melihatnya. Ingin gadis itu tertawa, namun takut akan mengundang perhatian.
“ Sukses Lo, bener deh,” ujar Radith dengan kesal dan memalingkan wajahnya.
“ Ciye yang malu malah jadi ngambek ciye,” ujar Luna yang malah gencar menggoda Radith, lelaki itu menghela napas dan menatap ke arah Luna, paras wajah yang sangat dia suka, sayang saja milik orang lain, kalau tidak pasti Radith bawa pulang dan dijadikan pajangan.
“ Anak –anak, setelah ini kalian akan makan dan minum, harap dikenyangi dan jangan sampai diperjalanan nanti kalian merasa haus karena tidak akan ada minum lagi,” ujar pelatih yang menginterupsi mereka sehingga suasana menjadi hening.
Luna menatap nasi bungkus di hadapannya dengan ragu, entah apa isi di dalam nasi itu, sebenarnya Luna masih merasa kenyang hingga enggan untuk makan, namun jika menelaah apa yang dikatakan oleh pelatih, pastilah setelah ini ada perjalanan panjang yang membuat mereka membutuhkan tenaga lebih.
Tentu saja Luna tak ingin mengambil resiko dan akhirnya dia tepar di jalanan, Luna tak akan membiarkan hal itu terjadi. Gadis itu akhirnya membuka nasi bungkus di depannya dan menatap isinya. Benar saja, Luna hanya tahu ayam goring dan nasi, sisanya entah apa itu.
“ Lo gak doyan nasi gudangan?” Tanya Radith yang melihat Luna hanya memandang makanannya tanpa berniat memakan nasi itu.
“ Apa itu nasi gudangan?” Tanya Luna dengan bingung dan menatap Radith dengan kepala miring, ini pertama kalinya Luna mendengar ada makanan bernama Gudang.
“ Yah itu yang ada dibungkusan, namanya nasi gudangan,” jawab Radith yang dengan nikmat memakan makanannya dan menyisakan sepotong ayam, mungkin akan dimakan terakhir sebagai pamungkas agar bau mulutnya tetap bau ayam goring.
Luna menatap makanan yang ada di bungkus itu. Inikah nasi gudangan? Nasi yang dberi potongan kecil ayam, telur rebus yang hanya setengah serta sayur mayur berupa bayam, kenikir, kacang panjang dan kecambah yang dibaluri kelapa namun ada warna merahnya di kelapa itu, mungkin cabai dan bumbu yang dihaluskan.
“ Radith, gue gak doyan,” ujar Luna menyerahkan bungkusan miliknya pada Radth yang juga masih belum selesai makan.
“ Gue udah tahu,” jawab Radith singkat yang menggeser bungkusan makanaannya, membuat Luna memindahkan sebagian besar isi bungkusan miliknya ke Radith. Lelaki itu tampak kaget karena Luna seperti memindahkan makanan saja.
“ Nasi, ayam sama Telur ambil, makan. Gudangannya biarg ue yang makan,” uajr Radith dengaan tegas karna melihat Luna hanya menyisakan temped an tahu goreng untuk makanannya sendiri. Luna menurut dan mengambil kembali apa yang diinstruksikan oleh Radith dan mulai makan dengan kenyang.
“ Nih, Lo makan ini juga, gue gak doyan ayam goring ginian,” ujar Radith menyerahkan ayam gorengnya pada Luna, membuat gadis itu menatap Radith dengan tatapan Tanya.
“ Lah terus Lo makan apa dith? Kan yang paling enak aya,” ujar Luna yang menyuapkan kembali nasi ke dalam mulutnya. Luna takut jika nanti tiba tiba mereka diminta untuk berkumpul edangkan Luna masih belum menghabaiskan makanannya, yang ad dia akan dihukum nantinya.
“ Silakan untuk yang sudah selesai makan kemari,” ujar Pelatih yang berdiri di sebelah spanduk cukup besar yang membentuk sebuah peta.
“ Lo tunggu sini,” ujar Radith yang sudah berdiri dan meninggalkan Luna yang asik dengan makanannya. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Radith yang melihat peta itu untuknya. Perlu waktu sepuluh menit Radith untuk kembali ke tempatnya hingga Luna melihat lelaki itu kembali dengan wajah yang serius.
“ Peta apa dith itu?” Tanya Luna yang sudah menyelesaikan makannya meski dipaksa dan kini perutnya sudah terassa sangat buruk.
“ Itu peta rute kita acara setelah ini, kita diminta buat bawain pesan rahasia ke pelatih yang nanti ada di tempat sesuai peta, berkelompok kok, Cuma pesannya secara Individu jdi Lo gak perlu takut bakal nyadar,” jawab Radith yang membuat Luna semakin tak mengerti, memangnya mereka akan kemana dan mau apa?
“ Udah gak usah nanya mulu, nanti juga Lo tahu, gue buang sampah dulu, Lo disini dulu ya, mana sampah Lo,” ujar Radith mengulurkan tangannya dan meenrima bungkusan kosong milik Luna.
Luna mendengar rebut – rebut yang datang dari arah belakang, ternyata mereka sedang menggambar satu sama lain hingga wajah mereka berlumuran krim hitam, entah apa itu.
“ Kalian ngapain?” tanay Luna mendekat dan bingung apa yang mereka lakukan.
“ Kita diwajibin gambar wajah kita bukan penyamaran biar gak ditangkap sama musuh. Instruksi dari pelatih gitu sih, sebenrnya gua juga gak paham maksudnya apa,” jawab Orang itu mengedikkan bahu namun cukup membuat Luna paham.
“ Lun, Lo bantuin gue ya, dandanin gue, tapi gak usah tebel tebel ye njir,” ujar Radith yang ternyata sudah membawa benda berwarna hitam itu. Luna mencolek benda itu sedikit dan mengoleskannya ke wajah Radith lalu tersenyum.
Radith seperti orang yang akan berperang, wajahnya cemat cemot oleh benda itu, Luna sendiri memilih untuk meratakan benda itu ke wajah Radith dengan wajah yang serius. Radith yang menjadi korban keisengan Luna pun hanya dapat pasrah dan menunggu hingga gadis itu menyelesaikan urusannya.
“ Done, ganteng banget Radithnya gue,” ujar Luna dengan riang dan tanpa sadar menceploskan hal itu, membuatnya dilirik tajam oleh orang disana, Luna yakin mereka adalah #TeamDarrel dan semua orang yang terlibat dalam grub Darrel
“ Sini, gentian Lo gue make up in biar hitam, gak bosen Lo putih mulu wajahnya?” Tanya Radith menyindir Luna, meski sebenarnya Radith harus berkaca.
Luna memang gadis berdarah Jerman hingga memiliki postur tubuh yang tinggi dari gen papanya, rambutnya yang kecoklatan dan hidung yang mancungpun membuatnya disebut ‘ Londo’ oleh teman – temannya di tempat ini.
Radith langsung mengabil alih benda di depan Luna dan mengolesnnya ke wajah Luna dengan tahi tahi agar gadis itu tak memberontak. Tak berapa Lama Radith pun selesai dengan perasaan puas terhadap karyanya.
“ Lo gak lagi ngerjain gue kan dith?” Tanya Luna dengan wajah curiga. Radith menggeleng semangat sebagai jawaban, seakan tak akan berani mengerjai Luna.
“ Mana berani gue kerjain belahan hatinya Ketua OSIS, kelar lah hidup gue,” ujar Radith dengan sengaja membawa nama Darrel yang bahkan tak ada di tempat ini,.
“ Awa ya Lo kalau berani macem macem sama gue,” ujar Luna dengan kesal dan mengancam, Radith hanya mengangguk dan menahan tawanya, untung saja hari sudah gelap sehingga Luna tidak tahu Radith sedang menertawakannya dalam diam.
Mereka semua diminta untuk berkumpul dan menunggu giliran berangkat menyusuri jalan hutan dengan kelompok yang nantinya ditentukan oleh pihak TNI. Luna bahkan sampai tertidur di kaki Sheila karna lamanya menunggu Antrean.
Luna menunggu selama hampir dua jam sebelum akhirnya barisannya dipanggil dan diminta berkumpul lima orang dalam satu kelompok yang harus ada siswa putra dan putrinya. Luna mendapat kelompok yang berisi satu perempuan dan tiga lelaki lain.
“ Hai, namaku Niken, dari jurusan Listrik,” ujar seorang yang menjadi teman kelompok Luna. Luna mulai memperkenalkan diri dan akhirnya mendapati info bahwa masing masing dari mereka bernama Rio, Fuad, Haidar dan Niken.
Mereka berangkat dan mulai berjalan menyusuri setapak yang remang – remang. Tak ada lampu jalanan, hanya penerangan yang ada di rumah tiap warga, itupun tak begitu terangnya. Luna merasa takut, namun dia tidak mau mengungkapkannya karena tak ingin satu anggota menjadi takut.
Mereka menyusuri jalan sesuai peta yang diawal tadi sudah ditunjukkan, sampai akhirnya jalan pemukiman berhenti dan di hadapan Luna seperti jalan untuk memasuki hutan.
“ Ini bener jalannya kesini?” Tanya Fuad yang ada di belakang untuk menjaga barisan.
“ Bener kok, tapi kok gelap banget ya? Apa emnag jalurnya kita disuruh masuk hutan?” Tanya Rio yang juga bingung karena dia yang bertugas memimpin barisan.
“ Yaudah jalan aja dulu, ini jalan satu satunya kok,” ujar Niken yang memberi usul. Akhirnya dengan modal memberanikan diri mereka mulai masuk ke dalam hutan itu.
Nasib baik purnama sedang bersinar terang, jalan setapak yang dari luar tampak sangat gelap ternyata cukup terang dan terlihat. Mereka berhenti karena melihat segerombolan orang ada di depan mereka, sepertinya itu rombongan sebelum mereka, syukurlah mereka tidak menyasar.
Kelompok Luna diminta untuk beristirahat sejenak di tempat itu, rupanya tempat yang tadi Luna lihat juga ada beberapa tentara, sepertinya tentara itu memastikan tidak ada yang celaka atau terluka. Setelah sedikit berbincang dan cukup jauh dari kelompok depan, Luna dan kelompoknya diarahkan untuk belok kearah kiri dan mengikuti tali yang akan memandu jalan mereka .
“ Demi apa lewat sini?” Tanya Luna yang meyakinkan diri dan kelompoknya, di depannya membentang perumahan bagi mereka yang telah usai tugasnya di dunia ini, dan mereka harus melewati tempat ini? Di malam hari seperti ini? Yang benar saja!
“ Iya bener, ini ada talinya kok, jangan kepisah ya, pegangan tangan kalau perlu, gue yang pandu jalannya,” ujar Rio layaknya kapten dalam tim, mereka semua mengangguk percaya pada Rio. Mereka mulai menyusuri jalan dan tak lupa selalu bilang permisi pada mereka yang terbaring di bawah sana.
Luna melihat ada satu makam yang ditutup oleh paying kecil, memangnya untuk apa? Apakah ini property yang mereka gunakan untuk menakut nakuti mereka?
Namun entah mengapa Luna tak merasa takut, justru adrenalinnya diuji saat dia harus merasakan adegan film horror yang sering dia tonotn, ternyata begini rasanya masuk ke dalam makam di malam hari.
“ Anjir, ada pocongan di depan, jangan kaget,” ujar Rio yang membuat Luna menengok dan benar saja, ada sebuah guling yang dibalut oleh kain kafan, membuat guling itu terlihat persis seperti pocongan, Jika Luna tidak diberi tahu, gadis itu pasti sudah menjerit ketakutan.
“ Aduh,” ujar Fuad yang membuat kelompok itu berhenti dan menengok kearah lelaki itu.
“ Kenapa?” Tanya Niken yang ada di depan Fuad.
“ Ada yang tiup leher gue, gak tahu deh siapa<” ujar Fuad dengan takut dan memegang lehernya, Luna yang melihat itu reflek menengok kearah belakang Fuad, Luna sontak terkekeh pelan seketika.
“ Kenapa Lo malah ketawa? Lo gak lagi kesurupan kan Lun?” Tanya Haidar dengan bingung karena Luna tertawa geli.
“ Yang niup si Fuad tuh pak Tentaranya, tadi gue lihat ada orang disana, waktu gue lihat langsung jongkok, mana ada setan jongkok waktu kepergok?” Tanya Luna yang membuat teman – temannya heran dan ikut menengok kearah Belakang.
“ Yaudah yuk ah, lanjut jalan keburu kita main dikerjain disini,” ujar Rio yang kembali memegang tali dan menyusuri jalan agar tidak menginjak atau menendang patok yang ada disana, kasihan kan kepala ‘ mereka’ ditendang- tendang.
Tak jauh setelah mereka mendapat ‘ gangguan’ di depan mereka terdapat pocong yang terbang kesana kemari, pocong tersebut memiliki wajah yang hancur berantakan, namun anehnya, suara yang terdengar adalah suara tawa kuntilanak. Jadi, dia itu pocong atau kunti?
“ Wah, gak pro nih yang ngerjain kita, masak pocong terbang? Pakai Charm yang sayap kah?” Tanya Rio menggeleng takjub melihat pocong terbang itu. Haidar sendiri malah mengikuti arah suara kuntilanak dengan telinganya dan mendapati sesuatu dari arah bawah pocong itu.
“ Selamat malam pelatih,” ujar Haidar dengan senyum gelinya, Luna dan yang lain pun juga langsung melihat kearah yang dilihat oleh Haidar. Mereka tertawa kecil melihat seseorang yang tiarap dengan memegang tali pengendali pocong terbang ini.
“ Selamat malam pelatih,” ujar empat orang lain secara bersamaan. Mungkin hal ini yang membuat hantu taka da harga dirinya di Indonesia. Orang – orang cenderung akan menertawakan hantu dibanding takut karena banyaknya Prank menggunakan hantu lokal, apalagi prank yang dilakukan sangat tak masuk akal.
“ Permisi pelatih, kami mohon ijin lewat dulu,” ujar Rio yang mengangguk sopan diikuti teman temannya menuju pintu keluar makam yang sudah terlihat.
“ Kalian kemari!”
“ Anjir kaget!” ujar Rio pean saat eseorang berkata dnegan tegas dari arah kanan, rupanya ada seorang tentara yang menyegat mereka.
“ Kalian push up lima belas kali karna sudah banyak bicara di dalam kuburan sana, apalagi sampai mengejek tentara yang bertugas disana,” ujar Tentara itu tanpa basa basi. Mereka tentu bingung dan linglung meski tetap melaksanakan perintah tentara itu.
Mereka diminta untuk melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi usai setelah selesai push up, Luna dengan sisa tenaganya berjalan mengikuti Rio yang juga tampak lemas.
Tak lama setelah mereka keluar dan berjalan menjauh dari kuburan, mereka menemukan lagi pemukiman penduduk, yang artinya perjalanan mereka hampir selesai.
“ Akhirnya kita sampai,” ujar Rio melega saat melihat serombongan besar orang sedang berduduk di sebuah tanah lapang yang Luas. Luna sendiri langsung berjalan mencari tempat kosong bersama kelompoknya, namun tangan gadis itu ditarik oleh seseorang.
“ Radith?” Tanya Luna yang mengenali bentuk wajah Radith.”
“ Hmmm, duduk sini aja sama gue, udah daritadi banget gue sampai,” ujar Radith yang memaksa Luna duduk di dekatnya. Luna yang merasa lelah malah langsung menidurkan diri dengan berbantal kaki Radith, tidak peduli dengan bajunya yang akan kotor.
“ Bintangnya indah,” ujar Luna sesaat sebelum memejamkan matanya, Radith menatap langit dan tersenyum, langit seperti dibalur Kristal yang berkilauan. Pandangan lelaki itu turun dan memandang wajah Luna yang sudah terlelap karna memang malam sudah larut.
“ Bintangnya indah, tapi Lo jauh lebih indah.”