
" Bang, sebenernya tadi setelah borong boneka Luna sama kak Darrel ke makam mama. Tapi anehnya Luna gak sadar kalau Luna ketiduran. Terus.." Luna masih berpikir untuk menceritakan masalah ini atau tidak. Gadis itu bimbang sendiri dan takut membuat yang lain khawatir, namun dia sendiri bingung dengan maksud mimpi itu. Mengapa mimpi itu terasa sangat nyata?
" Tapi kenapa? Darrel ninggalin kamu? Atau kamu dikerubung semut? Kan di makam mama ada pohon mangganya," ujar Jordan yang membuat Luna menggeleng cepat beberapa kali, gadis itu coba menimang baik – buruknya, namun akhirnya gadis itu menceritakan semua yang dia mimpikan tak terkecuali. Jordan tampak menyimak dengan serius apa yang Luna katakan.
" Besok lagikalau kamu mimpi kayak gitu, diajak sama siapapun, kamu jangan pernah ikut, kalau ada abang atau papa atau siapapun itu yang minta kamu kembali, kamu harus langsung kembali, kamu paham kan apa yang abang minta?" tanya Jordan memegang pundak Luna erat dan menatap tepat di retina gadis itu.
Luna yang bingung dengan sikap Jordan hanya dapat mengangguk, barangkali mimpinya terlalu buruk untuk menjadi kenyataan. Barangkali gadis itu membuat Jordan khawatir dan menjadi sepanik ini. Jordan melega saat Luna menurutinya, lelaki itu mengulurkan Luna minum setelah Luna mnelan obatnya. Sepertinya Luna akan segera terbiasa dengan obat – obat itu.
" besok pulang sekolah kamu harus terapi, abang udah buat janji sama dokter khususnya, kalau nanti selama satu bulan kamu gak kambuh, kamu gak harus terapi lagi, jadi besok pulang sekolah kamu abang jemput, akamu kalau udah pulang langsung kelaur," ujar Jordan sambil memberesi piring dan gelas yang tadi Luna gunakan.
" Loh? Kan besok abang katanya mau ke luar kota dulu, kalau nanti abang jemput Luna apa gak abang capek? Luna sama kak Darrel aja kan juga gak papa," ujar Luna sambil mengambil salah satu boneka barunya dan memeluk boneka itu. Luna menyukai bau boneka baru, tidak wangi, hanya membuat ketagihan saja.
" Kasihan sama Darrelnya, dia nanti malah dimarahin papanya karna terlalu abang suruh – suruh, lagian kan malah harusnya lebih bertanggung jawab abang daripada dia. Biar abang aja yang antar kamu," ujar Jordan yang keukeuh. Luna dengans senang hati menerima perintah itu. Toh dia sendiri juga ingin melakukan terai bersama Jordan untuk mengurangi rasa takutnya.
*
*
*
" Dith, nanti pulang sekolah gue pergi ke rumah sakit dong buat pemeriksaan lanjut penyakit gue sekaligus terapi. Lo mau ikut gak?" tanya Luna dengan nada riang tan[a beban. Radith memandang Luna dengan aneh, rasanya gadis itu sedang tak sehat. Dia akan terapi, namun tak ada beban di wajahnya.
" Gue tahu yang Lo pikirin dith, udah kebaca. Gue sebenernya takut banget dith, karna ataksia itu ada tingkatannya, kalau ternyata kondisi gue parah, ya lama kelamaan gue bisa lumpuh, tapi semakin gue pikirin ketakutan gue itu, gue semakin gak percaya kalau gue bisa pulih, yah walau sampai kapanpun gue gak bisa sembuh sih," ujar Luna mengedikkan bahunya dengan tenang.
" Kantin Yuk, gue yang traktir kali ini," ajak Radith yang langsung menarik kerah seragam Luna. Gadis itu memekik dan memukul – mukul tangan Radith. Memang dia kucing? Dia kan makhluk Tuhan yang paling baik, bukan spesies hewan – hewan lucu itu.
" Tapi gue gak boleh makan sembarangan mulai sekarang, semua harus yang disediain sama chef," ujar Luna yang tak dipedulikan oleh Radith. Lelaki itu ternyata membawa Luna ke taman belakang dimana dulunya mereka sering bertemu. Lalu meninggalkan Luna begitu saja.
Luna tahu Radith akan kembali, Luna memilih untuk menunggu lelaki itu sambil melihat pohon besar yang sangat meneduhkan. Gadis itu menutup matanya dan menikmati hembusan angin yang pelan menerpa wajahnya. Sudah lama sekali gadis itu tak kemari, dulu taman ini sempat tak terurus, namun kini sudah menjadi rapi dan indah kembali.
Gadis itu merasakan dingin di mukanya dan membuka matanya. Tenryata Radith sudah kembali membawa dua air putih dingin untuk Luna dan dirinya. Lelaki itu juga membawa batagor yang masih hangat. Luna berdecih karna Radith tetaplah Radith, lelaki itu berkepala batu dan tak akan pernah mendengar apa yang Luna katakan.
" Gue tahu Lo gak boleh makan beginian, tapi udah lama Lo gak makan ini kan? Ya udah makan aja sekali, lagian ataksia tuh kayaknya gak ngaruh deh makan apa. Sekali – kali nakal boleh ah," ujar Radith mengulurkan batagor itu dan memakan miliknya. Luna terkekeh dan memakan batagor miliknya.
" Gue tahu Lo pasti takut, banyak rasa khawatir yang Lo rasain, tapi di sini gue mau bilang Lun. Lo gak sendiri, Lo gak akan pernah sendiri, apapun yang Lo alami, pasti ada orang lain yang care sama Lo. Lo harus percaya sama gue. Kalau Lo ngerasa gak ada yang peduli, Lo cari gue, gue masih dan pasti terus peduli sama Lo. "
" Dith, Lo jangan sweet kayak gini, gue takut kalau gue salah paham lagi Dith, gue takut kalau gue suka lagi sama Lo, gue takut gak bisa kendaliin perasaan gue dith," ujar Luna menunduk dan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
" Gak papa, gue siap tanggung jawab kok," ujar Radith pelan namun tak melihat ke arah Luna. Lelaki itu merasa suasana menjadi canggung. Bahkan dia sendiri tak sadar mengatakan hal tadi pada Luna. Sejak kapan Radith menjadi agresif seperti ini? Ini bukan gayanya.
" Ayo kita balik ke kelas aja, bentar lagi pelajaran guru killer. Apalagi bentar lagi udah UTS, pasti bakal banyak tugas dan ulangan, yok balik," ujar Radith yang berdiri dan menarik pundak Luna agar berdiri. Luna berjalan mengikuti Radith yang berada di depannya. Mereka pergi dari taman itu dengan perasaan campur aduk yang masing – masing dari mereka rasakan.
*
*
" Kamu kok baru keluar sih? Abang udah di sini dari tadi Loh." Baru saja Luna masuk ke dalam mobil, Jordan sudah mengomeli gadis itu bahkan sampai membuat Luna melongo. Gadiss itu memakai sabuk pengaman dan duduk dengan tenang di kursinya.
" Baru keluar dimarahin, ngajak berantem?" tanya Luna menirukan iklan permen susu asli yang mahal, gadis itu mengambil ponselnya dan memberi kabar pada Darrel tentang kegiatannya hari ini, yah, selayaknya pasangan kekasih pada umumnya. Luna bertukar pesan dengan lelaki itu, sesekali dengan Radith dan grub yang ada di ponselnya.
" Kita udah sampai, yok kamu turun dulu, abang mau parkir, tunggu di dalam nanti abang susul," ujar Jordan yang diiyakan oleh Luna. Gadis itu turun menunggu Jordan memarkirkan mobilnya dan menghampirinya sebelum akhrinya mereka bersama – sama menemui dokter yang sebelumnya sudah berjanjian dengan mereka.
" Seperti diagnosis awal, Luna menderita Ataksia karna faktor genetik. Kondisi Luna tidak parah. Memang ataksia tidak dapat disembuhkan secara total, namun jika Luna meminum obatnya dengan rutin, kemungkinan untuk kambuh sangat sedikit. Namun Luna tetap harus melakukan pemeriksaan rutin untuk melihat perkembangan kondisi Luna."
Luna tersenyum lega mendengar penjelasan dari dokter. Setidaknya dia bisa beraktivitas seperti orang normal selama dia meminum obatnya secara rutin. Lebih bagus lagi, karna kondisi Luna baik, gadis itu tak perlu melakukan terapi dan diperbolehkan untuk pulang.
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, entah mengapa Luna merasa penarasan dan ingin singgah ke satu tempat karna tiba – tiba saja dia teringat pada Blenda. Gadis itu langsung melangkah menuju lantai lima di gedung itu. Jordan yang tahu isi pikiran Luna hanya mengikuti langkah gadis itu.
Luna melihat salah satu bagian ruang yang ada di sana dipenuhi oleh gambar yang lucu dan menyenangkan. Luna disambut oleh suster yang ada di sana. Mereka meminta Luna untuk memakai pakaian khusus sebelum masuk ke dalam ruangan steril itu. Luna mengikuti prosedur yang dianjurkan dan masuk ke dalam ruangan itu bersama Jordan.
Seketika kaki gadis itu melemas melihat pemandangan yang ada di depannya. Jordan bahkan harus menahan badan Luna agar tidak jatuh. Gadis itu dibawa oleh Luna menuju sofa kecil yang ada disana.
" Yang ada di ruangan ini adalah mereka yang ditinggal oleh orang tuanya saat orang tua mereka tahu mereka mengidap kanker. Tuan Wilkinson meminta kami untuk merawat mereka semaksimal mungkin tanpa dipungut biaya apapun."
" Ya bener lah tanpa biaya, kalau ditarik biaya memang yang bakal bayar siapa? Kan mereka ditinggal orang tuanya, suster mah suka lucu," ujar Jordan yang membuat suasana di sana berubah seketika. Luna menyenggol tangan Jordan agar lelaki itu diam dan tak merusak suasana lebih lanjut.
" kakak cantik, kok kakak cantik banget sih?"
Luna menengok ke bawah dan mendapati gadis kecil dengan boneka kecil di gendongannya. Wajah gadis itu tampak pucat dengan lingkar mata yang cukup hitam untuk seukuran anak kecil. Bahkan rambut gadis itu tampak mulai hilang. Gadis kecil itu menarik – narik rok seragam Luna untuk menarik perhatian Luna. Luna sendiri langsung berlutut dan mengelus pipi gadis kecil itu.
" Halo cantik, nama kamu siapa?" tanya Luna dengan ramah. Gadis itu langsung tampak sedih, seakan tak suka dengan apa yang Luna katakan. Apakah Luna mengatakan sesuatu yang salah dan menyakiti hati gadis itu? Rasanya yang Luna katakan adalah standart orang dewasa berkenalan dengan anak kecil.
" Nama aku Tasya. Tapi kakak cantik gak usah panggil Tasya cantik, karna Tasya gak cantik, rambut Tasya bahkan udah lepas semua, gak kayak kakak cantik, Rambutnya bagus," ujar gadis kecil itu memegang rambut Luna yang lembut terawat. Mendengar hal itu tentu Luna menjadi kaget dan tak menyangka kata pujian itu justru menyakiti hati seorang gadis kecil.
" Kata siapa Tasya gak cantik? Tasya cantik kok, apalagi kalau Tasya senyum, uuhh cantiknya nambah. Coba kakak mau lihat senyumnya?" bujuk Jordan yang jug ikut berlutut agar bisa berkomunikasi dengan Tasya. Gadis kecil itu tampak berbinar saat menyadari kehadiran Jordan.
" Kakak ganteng banget," ujar gadis itu dengan wajah yang melongo sambil memegang pipi mulus Jordan. Jordan tentu terkekeh dengan respon gadis itu, Jordan juga mengelus pipi gadis itu dengan lembut, membuat gadis itu memekik gembira karna perlakuan Jordan.
" Lun, tahu gak? Dulu waktu abang tinggal di panti asuhan, semua anak kecil yang ada di sana tuh suka dan tergila – gila sama abang Loh Lun. Abang ingat banget ada anak namanya Chelsea yang udah terlalu cinta sama abang bahkan maksa abang buat nikahin dia, keren gak tuh? Abang dilamar sama anak umur lima tahun waktu abang umur 16 tahun." Sombong Jordan dengan riang dan antusias.
" Bukan keren itu bang, itu tuh pedofil namanya, masak abang suka sama anak umur lima tahun. Gila aja," ujar Luna menggedikkan bahunya dengan geli.
" Tasya mengidap penyakit kanker otak stadium tiga saat dibawa ke rumah sakit ini. Dulu rambutnya panjang, cantik sekali. Namun lama – kelamaan rambut itu rontok karna Tasya harus menjalani kemoterapi."
" Kasihan sekali, gadis semanis itu harus menderita sebegininya," ujar Luna dengan sedih.
" Kamu harusnya contoh mereka tuh, mereka yang sakit sampai kayak gitu tapi masih bisa senang, masih bisa menghibur satu sama lain dan hidup selayaknya hari esok tak pernah ada lagi, jadi mereka puas – puasin bahagia untuk hari ini. Kamu harus bisa tiru mereka, semangat buat sembuh dan bertahan hidup."
Luna merasa ucapan Jordan itu menyentil hati kecilnya. Dia terlalu banyak mengeluh untuk maslaah kecil yang dia hadapi, dia tak pernah melihat mereka yang lebih menderita namun masih bisa tersenyum dan bermain bahagia.
" Yuk main sama kakak aja," ujar Luna setelah menglengkan kepalanya dan menghapus sedikit air mata yang nyaris jatuh dari tempatnya. Gadis itu menghampiri mereka dan memainkan apa yang tadi mereka mainkan. Ada yang bermain mobil – mobilan, boneka, dan ada pula yang bermain dokter – dokteran.
" Wah, nama kamu siapa? Kamu pengen jadi dokter ya?" tanya Luna sambil memegang dan melihat peralatan kedokteran yang dimainkan oleh lelaki kecil itu. Lelaki itu mengangguk senang dan memasang stetoskop mainan di telinganya.
" Guntur mau jadi dokter, Guntur mau ngobatin teman – teman yang sam akayak Guntur di luar sana. Guntur mau obatin mereka semua biar mereka gak kesakitan lagi," ujar lelaki itu dengan ceria dan penuh percaya diri. Luna tersenyum hangat dan mengusap kepala lelaki itu dengan penuh kasih sayang.
" Cita – cita Guntur bagus sekali, Guntur pasti jadi dokter yang hebat, kakak Doain yang terbaik buat Guntur ya," ujar Luna dengan penuh semangat.
Mereka bermain sampai puas sampai akhirnya Luna harus pulang ke rumahnya. Luna berpamitan dengan mereka semua, meski sedih, mereka akhirnya melepas Luna untuk pulang. Apalagi mereka juga harus segera beristirahat agar kondisi mereka sendiri tidak drop. Sampai di mobil Luna memikirkan sesuatu dan mengambil ponselnya.
' Kak Darrel, Luna udah tahu permintaan pertama Luna.' – itulah pesan yang dikirimkan Luna kepada Darrel, kekasihnya.