Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 38



Setelah balon yang Darrel pegang sudah habis, lelaki itu segera melepas dan mengemblikan kostum yang dia pinjam kepada pemiliknya. Pemilik itu menerima dengan senang hati dan penuh kebahagiaan melihat Darrel yang sangat menghibur anak – anak itu. Lelaki itu langsung memanggil pengawalnya dan pengawal itu membawa sebuah amplop berisi sejumlah uang yang Darrel minta.


" Bagi sebagian orang, uang satu juta, spuluh juta bahkan seratur juta, adalah hal biasa. Tapi ada orang yang merasa bahwa uang itu adalah jumlah yang besar. Untuk itu, karna kami melihat kebaikan hati bapak dan ketekunan bapak untuk bekerja. Kami memberikan bapak uang dua puluh juta cash, terserah untuk apa," ujar Drrel menyerahkan uang kepada bapak itu dengan wajah yang dingin dan galak.


Lelaki itu menirukan dialog pembuka sebuah acara yang suka sekali mengagetkan dan beberapa kali viral karna membuat 'kerusuhan'. Sementara bapak yang menerima uang tersebut tampak kaget dan tangannya pun langsung bergetar hingga semua uang yang dia pegang jatuh berhamburan.


Angin kencang bertiup, membuat beberapa lembar uang itu terbang ke sana kemari. Darrel dan Luna sampai kaget dan langsung membantu untuk memungut uang – uang itu dan menghitungnya kembali untuk memastikan tak ada lembar yang hilang. Bapak itu tampak semakin gugup dan tidak berani memegang tumpukan uang itu.


" Sa.. saya tidak melakukan apapun untuk pantas mendapat uang sebanyak itu. Saya bukan siapa – siapa, kenapa saya diberi uang sebanyak itu?" tanya bapak itu dengan takut. Darrel tertawa dan langsung menjelaskan bukan begitu maksud dia memberikan uang pada bapak tadi. Mungkin bapak tadi mengira Darrel menipunya karna wajahnya sangat ketakutan.


" Bapak tenang aja, kami bukan rentenir, kami juga ngasih uang ini asli kok, bukan uang palsu. Ini semua murni untuk bapak karna saya tahu kerja bapak gak ringan, saya hanya mau mengapresiasi ketekunan bapak selama ini. Anggap saja sebagai biaya sewa kostum dan juga ongkos untuk melaundry kostum ini karna baunya sudah tidak umum," ujar Darrel pelan karna merasa tak enak.


Bapak itu tak bisa tertawa, beliau malah bersujud di bawah kaki Darrel dengan cepat, membuat lelaki itu menjadi tak enak dan meminta bapak itu untuk berdiri. Bapak itu menangis dan mau menerima uang yang diberikan oleh Darrel. Bapak itu langsung mengucapkan terima kasih berkali – kali.


" Terima kasih sudah menunjukkan pada kami bahwa pekerjaan itu berat dan kami harus banyak bersyukur. Bapak sangat hebat di usia yang tak muda lagi. Semoga sedikit uang ini bisa membantu bapak untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Bapak bisa gunakan uang itu untuk bersenang – senang atau untuk memulai usaha, satu saja pesan saya pak," ujar Darrel yang menyorot kedua mata bapak yang sudah berkaca – kaca itu.


" Apa itu nak? Bapak pasti akan jalankan," ujar bapak itu dengan napas yang tersendat, Darrel tersenyum dan mendekatkan kepalanya ke bapak itu agar Luna tak mendengar apa yang hendak dia katakan.


" Jangan dibuat pasang nomor pak, takutnya kalau kalah malah uangnya gak balik. Oke pak?" tanya Darrel sambil menunjukkan simbol Oke. Bapak itu tertawa pelan sambil mengelap air matanya lalu menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Darrel.


" Ah iya, bapak bisa mengurus kebun tidak? Kalau bapak mau, bapak bisa jadi pengurus kebun di rumah saya. Dari pada bapak kerja berat seperti ini. Saya bisa jamin kerjanya jauh lebih ringan dan gajinya jauh lebih manusiawi, itu pun jika bapak berminat," ujar Darrel yang membuat Luna menengok kaget. Rencana mereka bahkan tak sejauh ini.


" Ka.. kamu serius nak? Saya bahkan merasa sangat bersyukur mendapat rekeji yang sebesar ini, ini bahkan lebih besar dari gaji saya dua tahun. Sekarang kamu mau kasih bapak kerjaan? Kamu ini manusia atau malaikat nak?" tanya bapak itu yang kembali berkaca – kaca. Darrel tersenyum senang karna pujian itu.


" Kalau bapak berminat, besok pagi pengawal saya akan mnjemput bapak dari rumah, nanti bapak akan diantar ke rumah saya. Sekarang bapak bisa pulang, akan diantar sama pengawal saya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, semoga berkah ya pak," ujar Darrel yang langsung pamit dari hadapan bapak itu bersama Luna.


" Kak Darrel, Luna lapar, kita beli corn dog atau sosis jumbo gitu yuk kak," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam. Dia sudah tidak bisa makan dengan posri besar dan sembarangan. Lelaki itu hanya bisa makan sedikit nasi dan sayur. Bagaimana jika Luna curiga dan menanyakan mengenai perubahan porsi makannya pada gadis itu?


" Kak Darrel, kita langsung ke stan makanan aja yuk, Luna lagi gak pingin main apa – apa kak. Ayo kak," ajak Luna yang langsung menggeret tangan Darrel untuk mencari stan makanan yang menjual corn dog atau sosis Jumbo yang Luna inginkan. Darrel diam saja dan mengikuti Luna yang semangat sambil memikirkan alasan untuk menolak jika Luna menawarinya makan.


Akhirnya mereka sampai di salah satu stan yang menjual makanan yang Luna inginkan. Gadis itu dengan semangat mengantre dan tak hentinya tersenyum. Persis seperti remaja atau bahkan anak kecil yang baru pertama kali mencoba hal baru, dan Darrel sama sekali tak keberatan dengan semua hal itu. Darrel malah semakin gemas dengan Luna.


" Pak, Corn dognya dua ya," ujar Luna semangat saat tiba giliran mereka untuk memesan. Luna melihat sekitar dan mendapati beberapa orang memandangnya dengan sinis dan tak enak. Padahal Luna tak melakukan apapun pada mereka.


" Mereka Cuma iri kamu bisa berdiri di samping orang cakep kayak aku. Mereka kan juga mau duduk di samping aku. Makanya kamu peluk aku dari samping gini biar aku gak diambil atau dilirik sama orang lain," ujar Darrel tepat di telinga Luna, membuat gadis itu kaget karna Darrel melakukannya tiba – tiba.


Lelaki itu menarik tangan Luna dan melingkarkan tangan itu melewati punggungnya dan menyentuh sisi lain tubuhnya, membuat Luna seakan memeluk lelaki itu dari samping. Sementara Darrel langsung merangkulkan tangannya ke leher Luna dan mencium telinga gadis itu dengan gemas, membuat orang – orang tadi memekik pelan melihat Darrel.


" Kak Darrel apaan sih, norak banget tahu gak sih, sana ih jauh – jauh, lebay ih," ujar Luna yang menggeliat, namun Darrel malah mengeratkan rangkulannya dan berbisik pada Luna, membuat gadis itu merengut dan tak melakukan apapun lagi. Lelaki itu bilang mereka akan membawa Darrel jika dia melepaskan rangkulannya.


" Ini mas, ini neng, semua jadi seratus ribu," ujar orang itu yang membuat Luna melongo. Orang ini berencana berlibur ke luar negeri dan mengumpulkan uang saku atau bagaimana? Mana mungkin camilan kecil seperti ini seharga lima puluh ribu satunya? Sangat tidak mungkin, bahkan Luna bisa menghabiskan semua dalam satu suap.


" Kamu mau kemana lagi habis ini?" tanya Darrel yang dengan sengaja tetap merangkul Luna meski mereka sudah jauh dari penjual tadi. Luna sudah menghabiskan setengah dari corndog yang dia beli, namun Darrel tak memakannya sama sekali. Luna tampak bingung dan meminta Darrel untuk melihat peta tempat ini agar mereka tak tersesat.


" Ini kak, Luna mau ke rumah boneka. Terus habis ini kita ke rumah kaca, rumah terbalik, pokoknya Luna mau main rumah – rumahan," ujar Luna yang menghabiskan setengah lagi makanan yang dia bawa dengan sekali suap. Benar saja, makanan seperti ini tak akan mengenyangkan bagi Luna.


" Rumah hantu juga masuk list ya berarti. Itu kan tetap rumah," ujar Darrel sambil menaik turunkan alisnya. Dia tahu Luna membenci rumah hantu, dirinya sendiri tak begitu menyukai rumah hantu karna mereka pandai membuatnya kaget, jadi dia lebih memilih wahana lain jika pergi ke suatu taman hiburan.


" Kaihan hantunya kalau nanti ditonjok sama kak Darrel, nanti mereka gak usah pakai make up udah seram karna lebam, haha," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa. Mereka terus berjalan, namun Luna menaydari Darrel sama sekali tak memakan atau bahkan mencicipi makanan yang tadi dia beli, padahal Darrel ingin membuat Luna lupa dan memerikan makanan itu ke pengawalnya.


" Itu makanannya kenapa gak dimakan? Gak doyan makanan mahal? Atau mau Luna aja sini yang habisin, Luna masih lapar," ujar Luna yang membuat Darrel berterima kasih dalam hati dan mengulurkan makanan itu ke arah Luna. Gadis itu tak menolak dan langsung menggigitnya dengan nikmat.


" Makanannya berlemak, aaku gak mau usaha aku nge gym selama ini jadi sia – sia karna dia, pertu aku gak sobek – sobek lagi setelah ini," ujar Darrel mengelus perutnya yang rata. Lelaki itu mengelus perut bagian kirinya untuk mengucapkan maaf pada organ yang sangat dia sayangi namun kini sedang tidak sehat.


" Wuu, sok sok an mau sobek – sobek, sini Luna sobek pakai parang atau clurit. Orang kok narsisnya kebangetan," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa. Lelaki itu tak menyangka Luna percaya dan tak menanyakan lebih lanjut masalah ini meski alasan yang dia berikan sangat tak masuk akal.


" Eh kak, kalau di lihat – lihat, kak Darrel itu tambah kurus loh kak. Kak Darrel harusnya gak usah pikirin masalah ABS kak, Kak Darrel makan aja yang banyak karna kalau kurus gini tuh jelek, kayak cowok kurang gizi," ujar Luna memegang lengan Darrel yang terasa keras namun bertambah kecil.


" Aku udah kebiasaan makan sedikit, jadi kalau makan banyak malah gak enak. Lagian aku mah terbiasa jam makannya teratur, gak kayak kamu tuh, berantakan, segala juga dimakan, mirip sama Jerry," ujar Darrel yang membuat Luna berdecih. Gadis itu tak menjawab lagi dn memilih untuk mengantre agar bisa masuk ke istana boneka.


" Kamu mau aku belikan boneka ini gak? Besar loh ini, bahkan sama kamu juga masih gede dia nih," ujar Darrel menunjuk sebuah boneka yag ada di lemari kaca. Luna tampak kagum dengan boneka itu, dia ingin memilikinya, namun dia tak mau kesusahan dalam membawanya. Darrel langsung mengerti dan meminta orang – orangnya mendekat.


" Kalian belikan boneka yang persis sama boneka kayak gini. Antar ke rumah Luna. Mengerti?" tanya Darrel yang membuat dua orang itu berjalan cepat untuk keluar dari ruang boneka. Sementara Luna dan Darrel serta pengwal yang tersisa melewati ruangan yang penuh dengan nuansa pink itu dengan melihat dan mengomentari boneka yang ada di sana.


" Kak Darrel kok betah aja sih lihat boneka yang beginian? Biasanya cowok kan gak suka lihat yang gini. Atau kak Darrel kelainan dan suka hal yang kecewek – cewekan gini ya? " tuduh Luna yang membuat Darrel menarik mulut gadis itu ke depan agar tidak berbicara sembarangan. Luna sendiri langsung menutupi mulutnya setelah ditarik oleh Darrel.


" Kalau bukan karna kamu, aku juga gak minat masuk ke tempat kayak gini. Kamu kan suka banget sam ayang kayak begini, jadi aku buatin khusus buat kamu. Gimana? Baik kan aku?" tanya Darrel dengan bangganya, membuat Luna memutar bola matanya dan menatap lelaki itu dengan malas.


" Salah Luna mah tanya yang beginian," ujar Luna yang kembali berjalan dan mengambil foto pada spot yang disediakan. Mereka berdua banyak mengambil foto bersama dibantu oleh salah satu pengawal yang selalu mengikuti mereka kemanapun. Luna dan Darrel akhirnya menemukan jalan keluar dan segra keluar dari tempat itu.


Mereka melanjutkan langkah menuju rumah kaca. Luna mencoba untuk mengajak Darrel balapan, namun malah mereka menabrak kaca beberapa kali bahkan sampai terjatuh karna tidak berhati – bati. Meski jidatnya memerah, Luna tak mengeluh sama sekali, dia snagat bahagia bisa merasakan liburan singkat meski hanay di taman bermain.


" Eh, yuk foto di sini aja. Tapi selfie aja, mumpung aku punya banyak kembaran yang tampannya sama persis kayak aku," ujar Darrel yang mengeluarkan ponselnya dan mencari fitur kamera. Lelaki itu mengajak Luna mendekat dan mengambil foto bersama gadis itu. Mereka banyak mengambil foto di tempat itu sebelum akhirnya menemukan jalan keluar setelah beberapa lama.


Darrel memegangi perut sebelah kirinya yang terasa snagat sakit. Pengawal yan gada di belakang Luna mencoba membantu, namun langsung dicegah oleh Darrel, lelaki itu tak mau Luna jadi khawatir dan tahu tentang kondisinya, lebih baik dia segera pergi dari hadapan Luna untuk saat ini.


" Eh Lun, kamu duduk di itu dulu ya, aku butuh toilet nih kayaknya, kemarin habis makan pedas, tiba – tiba sakit," ujar Darrel dengan asal, dia berahap Luna akan percaya meski hal itu sedikit mustahil. Namun nyatanya Luna menganggukan kepalanya dengan polos dan patuh. Gadis itu duduk di sebuah kursi sambil memeluk boneka kecilnya.


Darrel segera pergi dari hadapan Luna dan mencari kamar mandi smenetara Luna mulai mengobrol dengan boneka yang dia bawa.


" Kamu bakal jadi yang laing istimewa dibanding boneka aku yang lain. Nama kamu pong pong. Hai pong pong," ujar Luna sambil memeluk bonekanya dengan penuh kasih sayang tanpa tahu apa yang dialami Darrel saat ini.