Hopeless

Hopeless
Chapter 66



Darrel dan Luna langsung membawa daging yang sudah makan ke atas meja untuk disantap bersama. Radith yang mencium bau sedap pun merasa terpanggil dan mendekat ke arah meja.


Sementara Jordan masih marah dan enggan mendekat. Ah lelaki itu, entah apa yang terjadi padanya hari ini, sepertinya dia sedang kesal. Atau pekerjaannya hari ini kacau?


Luna yang melihat Jordan enggan mendekat pun berinisiatif untuk membawakan sepiring daging panggang untuk pria itu.


Gadis itu menyodorkan daging yang sudah ada di garpu ke arah mulut lelaki itu, namun Jordan hanya meliriknya dan enggan untuk membuka mulutnya.


" Luna gak mau nawarin dua kali loh bang," ujar Luna sedikit mengancam.


Jordan melirik Luna dan membuka mulutnya agar Luna dapat memasukkan daging itu ke mulutnya. Jordan mengunyahnya perlahan dan menelannya tanpa minat.


" Dagingnya gak enak bang?" tanya Luna yang melihat ekspresi Jordan. Padahal Luna merasakan dagingnya sangat lembut dan penuh rasa.


Jordan hanya menggeleng sebagai jawaban, entah itu berarti 'ya' atau 'tidak'. Luna mulai melihat hawa tidak enak, gadis itu yakin sesuatu pasti terjadi.


" Abang kenapa sih? Kalau ada masalah cerita lah sama Luna," ujar Luna yang akhirnya menyerah karena tidak bisa menebak.


" Abang ditolak," ujar Jordan dengan lesu, pria itu hanya memandang ponselnya yang saat ini dalam mode mati.


" Ditolak? Maksudnya proyek abang gagal?" tanya Luna yang gagal paham dengan pernyataan Jordan.


" Bukan, abang ditolak, bener bener ditolak," ujar Jordan yang masih enggan berterus terang pada Luna. Mungkin Jordan Luna adiknya memiliki otak pentium 3 yang sulit mencerna kode dari seseorang.


" Ditolak apa sih? Kuliah? Kerja? Apaan?"  tanya Luna yang mulai tak sabar. Jordan hanya menghela napas saat teringat dan menyadari dia sedang berbicara dengan Luna.


Lelaki itu memejamkan matanya dan memijit pelipisnya, lebih baik berhadapan dengan puluhan pesaing tender dibanding harus menghadapi masalah ini.


" Abang ditolak sama cewek," ujar Jordan setelah diam beberapa saat.


" Oohh, kirain apaan," jawab Luna dengan santai sambil memakan daging yang seharusnya untuk Jordan. Sesaat kemudian Gadis itu melotot saat menyadari perkataan Jordan.


" Hah? Maksud abang? pfftt." Jordan segera membekap mulut Luna sebelum semua orang di situ mendengar teriakan gadis itu.


" Gak usah teria," ujar Jordan dengan wajah malas, membuat Luna  menyengir dan meminta maaf pada pria itu.


" Memang abang kapan nembaknya?" tanya Luna dengan hati - hati, Luna tak ingin menyinggung masalah mendiang Nayshila, mungkin membahas itu akan menyakiti hati Jordan.


" Tadi siang, abang udah beli balon banyak banget, dekor taman ala ala drama korea, terus juga udah sewa pemain biola biar romantis, eh dia malah bilang abang boros, terus abang ditolak," ujar Jordan dengan murung, membuat Luna jadi tak tega.


" Bagus dong, gebetan abang gak suka pemborosan," ujar Luna dengan lembut, bahkan gadis itu mengelus kepala Jordan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang garpu berisi potongan daging.


" Tapi sekarang abang bingung, gimana caranya abang nembak dia," ujar Jordan dengan pelan.


" Tanya kak ganteng aja, siapa namanya, Jo... Jojo, iyah, tanya kak Jojo aja, dia kan pengalaman," ujar Luna memberi saran.


Luna tahu Jordan tidak memiliki banyak teman dekat, dan sahabat terdekatnya adalah Jojo, setidaknya hanya Jojo yang Luna tahu.


" Justru abang gak berani nanya dia," ujar Jordan semakin lirih.


" Memang kenapa bang?" tanya Luna dengan bingung, bukankah masalah lelaki ada baiknya dibicarakan dengan lelaki?


" Ya orang yang abang suka mantannya si Jojo."


" HAH?! KOK BISA?!" Seru Luna dengan terkejut mendengar penjelasan Jordan yang kelewat santai.




*


" Luna bantu cuci piring kak," ujar Luna saat Darrel mulai mengangkat piring kotor yang tadi mereka gunakan.


Radith tidak bisa membantu karena tadi tiba - tiba saja dia mendapat telpon dari rumah sakit, membuatnya terburu - buru meninggalkan tempat itu.


Sementara Tika sedang mempersiapkan tiket untuk berangkat ke Amerika selama tiga hari karena mereka akan segera melaksanakan UAS, Jordan hanya mengijinkan Tika pergi selama 3 hari itu.


Darrel mengangguk dan membiarkan Luna membawa barang yang tidak berat, mana tega dia membiarkan gadisnya merasa berat.


Luna yang tampak murung tentu memanggil perhatian Darrel, lelaki itu mendekat dan memeluk leher Luna dari belakang, membuat gadis itu terkejut dan nyaris saja menjatuhkan piring bila Darrel tak menahannya.


" Kenapa hm?" tanya Darrel memegang pundak Luna dan meletakkan dagunya di kepala Luna.


" Bang Jordan lagi galau, Luna jadi ikut merasa sedih," ujar Luna dengan wajah yang ditekuk, Darrel langsung melepaskan Luna saat melihat wajah itu, dia takut jiwa lelakinya khilaf melihat Luna seimut itu.


" Bang Jordan galau kenapa?" tanya Darrel sambil menyender di meja, mereka hanya perlu mengoper piring ke tempat cucian, biarlah pelayan yang melakukan sisanya.


" Dia ditolak sama cewek, padahal dia udah gagal move on itu lama banget, bahkan dari Luna SD, dan sekarang waktu dia udah move on, malah ditolak sama ceweknya, kan kasihan kak," ujar Luna tanpa beban.


Luna terbiasa tidak bisa menyimpan rahasia, nasib baik Darrel yang mendengar, jika orang lain dan masalah itu penting, pasti akan timbul masalah besar.


" Yaudah gak usah terlalu dipikirin, namanya juga cowok, nanti pasti bang Jordan baik sendiri."


" Hmm, semoga gitu," ujar Luna dengan sedih.


" Memang, bang Jordan kenapa sampai selama itu gagal move on nya?"


Luna tampak ragu untuk menceritakan hal itu kepada Darrel, namun mungkin dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


Flash back on


*"Kakak, Mama Danesya seperti apa?" Gadis itu menunduk sembari mengayunkan kakinya.


Kakak lelaki nya mengayun pelan ayunan yang dia naiki sementara saudara kembarnya bermain bola bersama Teman kakaknya.


"Mama itu Cantiiikkk banget," ujar kakak Danesya sambil memandang keatas untuk menerawang.


"Mama benci sama Nesya? Atau mama marah sama Luna ya kak?" Tanya Gadis itu menatap kakak lelakinya.


"Mama sayang banget sama kalian, kamu gak boleh bilang kayak gitu." Kakak lelakinya itu mengelus pelan kepalanya, memberi keyakinan dan ketenangan.


Danesya selalu suka usapan itu, pandangan mata itu dan bahkan pelukan hangatnya.


"Kenapa mama tinggalin Danesya sama Luna?" Anak berumur 6 tahun itu semakin menunduk dan kembali larut dalam kesedihannya.


"Karna mama sayang sama kita, mama pengen Danesya sama Luna lihat dunia itu sangat indah."


"Eemm gitu ya kak, tapi .."


Tess


"Nesya? Nunduk, kakak ambil sapu tangan dulu. Biarin darahnya keluar."


Anak lelaki itu berlari kedalam rumah, membuat Luna dan teman kakaknya menengok kearah Danesya yang menunduk.


Luna berjalan menghampiri Danesya sementara teman kakaknya itu sudah berlari.


Luna sudah biasa melihat darah keluar dari hidung Danesya, hal itu sudah terjadi sejak mereka berumur 3 tahun.


"Danesya gak papa?" Tanya teman kakaknya yang dijawab anggukan oleh Danesya.


"Danesya sering gini Kak Shila, Danesya udah biasa," jawab Luna yang menatap Danesya.


"Setiap Danesya hidungnya berdarah, pasti bang Jordan panik dan khawatir, bahkan papa dulu sering pulang, Tapi setiap Luna jatuh terus berdarah, Bibi yang urus Luna, gak ada yang mau urus Luna."


"Luna?"


"Luna."


"Luna!"


Tiga orang memanggil gadis itu dengan nada yang berbeda.


Danesya dengan nada kagetnya, Nayshila dengan nada sedihnya dan Jordan selaku abangnya dengan nada marahnya.


Nayshila menatap nanar ke arah Luna dan mengelus puncak kepalanya, seakan tahu apa yang dipikirkan gadis belia ini.


"Bang Jordan gak pernah ajarin Luna buat ngomong kasar kayak gitu! Diajarin siapa kamu?" Jordan berbicara dengan sedikit menaikkan nada bicaranya


Membuat Luna beringsut takut dan mulai mengeluarkan air matanya tanpa suara.


Nayshila yang mengetahui keadaan Luna langsung memberi tanda kepada Jordan untuk diam.


Jordan menatap tak suka kearah Luna dan mulai membersihkan wajah Danesya yang berlumuran darah dengan penuh kasih sayang.


Melihat itu membuat Luna tersenyum miris, padahal usianya masih 6 tahun, namun entah mengapa dia bisa merasakan dia dibedakan.


Luna berjalan menjauh dari 3 orang itu, memasuki rumah dan berjalan ke halaman depan. Gadis itu naik ke rumah pohon miliknya.


Ditempat lain, Danesya memandang wajah Jordan yang masih berkutat dengan wajahnya.


"Kak, kakak gak sayang sama Luna?" Tanya Danesya dengan hati-hati.


"Kakak sayang, tapi kakak gak suka sikap dia kayak tadi."


"Kenapa kakak bikin Luna nangis?"


"Luna itu manja, nanti juga baik sendiri." Jordan memunguti tissue yang sudah berlumuran cairan merah, dan memasukkannya ke kresek berwarna hitam.


"Kakak sayang sama Luna?" Tanya Danesya memandang Jordan.


"Sayang dong, Luna kan adeknya kakak Juga."


"Lebih sayang sama Luna atau sama Danesya?" Jordan tersenyum manis sambil mengusap kepala Adik kecilnya.


"Sama besar, kakak sayang sama kalian. Kalau ditimbang sama."


"Tapi.."


"Tapi cara kakak berbeda, karena kalian juga berbeda. Danesya lagi butuh kak Jordan, harusnya Luna mengerti. Kak Jordan sayang Luna juga dengan cara berbeda, dan Luna belum mengerti itu."


Danesya tersenyum dan mengangguk, setidaknya dia tahu kakaknya menyayangi adik kembarnya.


Jordan memang membedakan Luna dan Danesya, yah itu memang benar. Danesya memiliki kelainan sejak lahir, membuat jantungnya lemah dan tidak bisa memompa darah dengan baik, hal itulah yang membuat Jordan mengawasi Danesya lebih ketat.



"Jordan, kasihan Luna kalau kamu kayak gitu ke dia." Nayshila duduk di sebelah Jordan dengan kaki yang dicelupkan ke dalam kolam.


"Aku kalut, aku gak suka dia bilang gitu. Danesya kan lagi sakit."


"Luna gak tahu dan dia belum ngerti kalau Danesya sakit."


"Aku kepancing tadi, kamu tahu kan lagi banyak-banyaknya tugas sama ulangan, Danesya mimisan dan Luna bilang gitu, aku ngerasa gagal jadi kakak mereka."


"Aku, Aku udah ingkar janji sama mama buat jagain mereka dan bikin mereka ketawa, aku gagal Shil."


Shila tersenyum dan memeluk Jordan dari samping dengan sebelah tangan, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jordan dengan nyaman.


"Tunjukkan ke mereka kalau kamu sayang, jangan sampai Luna mikir kalau kamu gak sayang sama dia."


"Luna juga harus bahagia di samping kamu menjaga Danesya." Shila mulai mengutarakan pendapatnya.


"Aku takut aku gak bisa, ini aja Luna udah salah paham dan mungkin benci sama aku."


"Luna belum tahu aja kalau kamu sayang banget sama dia, dia gak menyadari karena tiap hari lihat kamu sama Danesya mulu."


"Ya kan.."


"Dengerin aku ngomong dulu."


"Iya iyaa." Jordan melengos dan kemudian kembali menatap air kolam yang jernih.


"Tunjukkan kalau kamu sayang sama Luna, kasih dia perhatian kecil. Dia memang tidak sedewasa Danesya, cenderung manja. Tapi kamu jangan jadikan alasan biar dia jadi sedewasa Danesya, Luna gak akan bisa." Nayshila terdiam sebentar untuk mengambil nafas.


"Luna ya Luna, Danesya ya Danesya. Kamu gak bisa maksa Luna menjadi Danesya atau Danesya menjadi Luna."


"Beruntungnya punya pacar kamu." Jordan mencubit pelan hidung mancung Nayshila dan terkekeh ringan.


Mungkin Nayshila benar, dia harus menunjukkan kasih sayangnya pada Luna secara langsung agar malaikat kecil itu tidak terluka karena sikapnya.


"BANG JORDAN!! KAK NAY!!!! ABAAANG."


"Suara Luna," ujar Nayshila yang tampak bingung dan khawatir, mereka beranjak dari taman belakang menuju ke depan rumah.


Mata Jordan terbelalak melihat Luna yang tergeletak di bawah, sepertinya gadis itu sangat kesakitan.


Nayshila lebih terkejut saat melihat ke arah yang ditunjuk oleh jari Luna. Nayshila memang jauh lebih peka terhadap keadaan dibanding Jordan.


Nayshila langsung berlari ke jalan saat mendapati Danesya tergeletak dan tampak dari kejauhan mobil melaju kencang ke arah anak itu.


Nayshila semakin panik karena pengemudi itu tidak berhenti, bahkan semakin kencang.


"Pengemudi Gila! PAK BERHENTI!" Nayshila berteriak dan menambah laju larinya.


Nayshila sampai dan mengangkat tubuh mungil Danesya sebelum terjadi sesuatu karena pengemudi Gila itu.


Nayshila buru-buru berdiri dan hendak melangkah, namun dia terlambat dan mobil tersebut menghantam keras tubuhnya.


Nayshila melindungi Danesya dengan dekapannya agar gadis kecil itu tidak terbentur.


Panasnya aspal terasa di seluruh badan Nayshila yang sudah bersimbah darah. Kepalanya yang terbentur membuatnya sangat pusing.


"NAY!!! NAY BERTAHAN! KAMU HARUS TERUS SADAR NAY."


Nayshila mendengar teriakan itu, teriakan yang membuatnya menahan seluruh rasa sakit di tubuhnya.


Nayshila berusaha tetap terjaga dan tidak pingsan, rasa sakit semakin mendominasi tubuhnya.


"Da..Danesya?" Tanya Nayshila dengan terbata.


"Nesya aman, dia gak terluka sedikitpun. Sayang, kamu harus bertahan, tahan sedikit. Kita sampai."


Jordan sudah sangat ketakutan melihat darah di tubuh gadis yang dia cintai, Jordan tidak menyangka Nayshila mengalami ini karena dia tidak becus menjaga Danesya.


"Sayaang." Jordan melirih menatap wajah Shila dan mulai menitikkan air mata, Shila tampak sangat lemah.


"Dokter, saya mau ngomong sama Jordan."


"Luka kamu harus segera dibersihkan."


"Gak papa dok, lakukan saja, tapi saya mau sambil ngomong sama Jordan, boleh kan?" Dokter itu mengangguk dan memerintahkan suster menyiapkan segalanya.


Rumah sakit lain tentu melarang dengan alasan menganggu dokter, namun dokter disini tidak bisa menolak mengingat Jordan adalah anak pemilik rumah sakit ini.


"Kamu ingat pertama kali kita ketemu?" Nayshila tersenyum seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Ingat lah! Ngeselin banget kamu tumpahin cappucino di seragam aku."


"Hahaha habisnya kamu songong, mentang-mentang yang punya sekolah."


"Tapi kamu cinta kan?" Jordan menyengir lebar menggoda Shila, meski raut khawatir tidak hilang dari wajahnya.


"Apapun yang terjadi, kamu harus bahagia."


"Iya dong, kan ada kamu," ujar Jordan tersenyum manis.


"Kamu masih ada tanggung jawab 2 malaikat yang harus bahagia." Jordan mengangguk yakin dengan mempertahankan senyum manisnya.


"Janji sama aku, kamu bakal selalu bahagia."


"Iya aku janji, demi kamulah."


Nayshila tersenyum tulus karena melihat wajah Jordan yang berseri.


"Tadi rasanya sakiittt banget, tapi sekarang rasanya adem." Nayshila memandang ke atas menatap langit kamar berwarna putih.


"Aku pulang." Nayshila tersenyum tipis dengan lelehan air mata lolos dari tempatnya.


"Jangan dong, kan belum diobatin," jawab Jordan sambil tertawa, namun tawanya terdengar hambar dan penuh kesedihan.


"Kamu banyak utang janji loh, dan semua harus kamu tepati. Aku bakal ngawasin kamu terus."


Jordan mengangguk yakin dan mengecup lama kepala Nayshila yang terasa sangat dingin.


"Aku pamit, Jangan lupa bahagia."


Jordan kembali mengangguk dan tersenyum, mengiring Nayshila kedalam tidurnya yang damai.


"I Love You my World breaker, I Love you my First Love, have a sweet Dream, have a Rest in Peace, Just wait for me, I Must to make my promise come true and I'll go there with you, once again, I Love you So Much."


"Tuan muda."


Jordan menoleh dan mendapati orang suruhannya, kesalahan besar meminta  penjaganya cuti saat ini.


Pak Indra, Max, Dan Gordon orang yang paling dia percaya dimintanya cuti karena ingin menghabiskan waktu bersama Luna, Danesya dan Nayshila.


"Apa masalahnya?"


"Pengemudi itu mabuk tuan, dan sudah tewas karena mobil yang dia tumpangi menabrak pohon dengan keras."


"Mabuk? Di siang hari seperti ini?"


"Benar tuan."


"Tadi kau bilang dia sudah mati kan?"


"Benar tuan."


"Bagus, aku tak perlu membunuhnya lagi."